Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 29 - Bertemu Lan An


__ADS_3

Dua hari kemudian Xin Fai sudah bisa bergerak leluasa setelah mengonsumsi ramuan dan obat, kekuatannya bertambah banyak. Setidaknya Xin Fai bisa merasakan dirinya memiliki lebih banyak lingkaran tenaga dalam, tentu saja hal itu membuatnya senang.


"Lang, aku akan berkeliling kota sebentar. Kau mau ikut?" Tanya Xin Fai berbasa-basi meskipun tak ingin mengajak serigala itu. Kehadirannya bisa menarik perhatian.


"Grrrhhh..."


Xin Fai tersenyum canggung, jangan bilang serigala itu benar-benar ingin ikut.


"Belikan aku makanan."


Akhirnya anak itu bisa bernapas lega, "Haha iya tentu saja. Kau tidur baik-baik yah di sini, tunggu aku pulang."


"Sepertinya aku malah jadi kucing sekarang."


"Kau memang seperti kucing! Tiduuur saja kerjamu sampai kiamat, hahahah!"


Tawa Xin Fai berderai, ia berniat keluar kamar sebelum aura membunuh keluar dari siluman itu.


"Apa katamu?!"


"Ah... Tidak, maksudku cuaca hari ini sangat cerah."


Ia buru-buru keluar kamar dan berharap agar Lang tidak merobohkan penginapan ini. Sepanjang perjalanan Xin Fai bisa melihat kepadatan penduduk di kota Anguo, dia sedikit terpana karena susunan kota ini terbilang megah.


Berbeda dengan desa Peiyu yang umumnya dipenuhi oleh para nelayan karena letaknya yang di pinggir laut, kota ini begitu indah. Di antara mereka tidak ada yang mengenakan pakaian sederhana sepertinya.


Xin Fai melanjutkan perjalanan, ia begitu tertarik dengan sebuah toko yang menjual berbagai senjata untuk pendekar. Saat pandangannya teralihkan di tempat lain ia dikejutkan oleh seorang anak laki-laki seusianya yang berlari tak tentu arah. Tubuh mereka bertabrakan namun Xin Fai berusaha untuk menyeimbangkan tubuhnya.


"Apa yang terjadi dengannya?" Xin Fai memutuskan untuk mengikuti anak laki-laki yang dikejar seorang pria kekar.


Kedua orang itu berhenti di sebuah gang buntu, anak laki-laki itu terlihat ngos-ngosan sambil memasang kuda-kuda hendak menyerang.


Pria di depannya maju tanpa senjata, dia mengepalkan tangan erat sambil mengumpat. "Kembalikan perhiasan yang kau curi dari kami!"

__ADS_1


"Tidak akan! Ini adalah perhiasan ibuku yang kau curi!" Suara anak kecil berumur 10 tahun itu terdengar seperti suara bebek jantan.


"Jaga mulutmu, anak kecil! Kau tidak bisa melakukan apa-apa di sini. Aku akan membunuhmu!"


"Baiklah, tunggu sebentar lagi apa aku bisa mendengar kesombonganmu itu nanti?"


Seusai mengatakannya anak itu berlari ke tembok dan melompat dengan tubuh memutar 180 derajat, pria kekar itu ternganga sebelum sebuah tendangan mendarat mulus di kepalanya.


"Tendangan Bulan Sabit!"


"Arrghhh! Bocah nakal!" pria itu berteriak marah.


Xin Fai menatapi dengan kagum, meski tak memiliki tenaga dalam namun ilmu bela diri anak itu terbilang lumayan. Dia bisa bertarung dengan sangat lincah.


"Apakah kau tidak berniat membantu sama sekali?"


Xin Fai tertegun beberapa detik saat menyadari bocah tersebut bicara padanya, tanpa berpikir panjang dia maju dengan memusatkan tenaga dalam di tangannya.


Bughk!


"Perkenalkan, aku Lan An. Terimakasih sudah membantuku sebelumnya."


"Aku Xin Fai, tidak perlu sungkan padaku." Xin Fai menarik senyum. "Maaf, tadi aku mendengar sedikit pembicaraanmu. Apa mereka benar-benar mencuri benda itu darimu?"


Lan An mengamati sebuah mustika di tangannya.


"Iya, belakangan ini kota Anguo kedatangan orang-orang misterius seperti mereka. Sudah banyak yang kehilangan barang berharganya secara tiba-tiba."


Sambil berjalan Lan An menceritakan tentang sebuah kelompok bernama Kemangi Lima Daun yang datang ke tempat mereka, kelompok aliran sesat ini menjual belikan barang-barang bernilai tinggi untuk dijual namun dalam 6 bukan belakangan terdapat hal ganjil yang terjadi.


Beberapa penduduk telah kehilangan sebagian barang berharga mereka dan tiba-tiba saja barang mereka sudah ada di tangan orang lain yang mengaku membelinya dari Kemangi Lima Daun.


Xin Fai menopang dagunya sambil berpikir keras, dia merasa tak harus ikut campur sebenarnya. Karena tidak ada sangkut pautnya dengan Manusia Darah Iblis.

__ADS_1


"Karena sudah membantuku, boleh aku membalas kebaikanmu? Mungkin ibuku bisa memasak makanan enak di rumah, kuharap kau tidak menolak tawaranku ini."


"Dengan senang hati, eh... Tapi aku boleh meminta sesuatu padamu?"


Lan An berhenti berjalan, ia mengerutkan dahi sambil meremas mustika di tangannya. Mustika milik ibunya, melihat hal itu Xin Fai menggaruk leher canggung.


"Tenang, aku tidak meminta mustika itu. Aku hanya ingin belajar darimu tentang ilmu bela diri, kau tahu, gerakanmu tadi sangat keren!" Xin Fai menggebu-gebu, nyatanya Lan An sudah sedikit menginspirasi dirinya untuk menjadi lebih kuat.


"Ahaha aku salah paham, maafkan aku..."


Lan An memasang senyuman khasnya, ia menuntun Xin Fai ke jalanan yang lebih sempit. Di sana terlihat sebuah rumah sederhana tempat tinggal Lan An.


Lan An tertawa kecil. "Meskipun rumahku tidak besar kuharap kau bisa senang ke sini. Yang terpenting adalah tulus tidaknya, bukan? Hahaha." Lan An mencoba mencairkan suasana ketika Xin Fai menatapi rumahnya.


"Tidak, rumahmu bahkan lebih bagus dari rumahku dulu."


"Benarkah?" Lan An nampak tak percaya. "Kupikit kau dari keturunan orang kaya seperti mereka."


Xin Fai menggelengkan kepala. "Meskipun dari keluarga miskin aku tidak pernah menyesal dibesarkan oleh kedua orangtuaku. Mereka sangat baik, dari mereka aku belajar banyak hal."


"Yah, kita bisa bahagia dari kesederhanaan. Beda dengan para orang di luaran sana yang pusing siang malam memperebutkan harta dan tahta."


Semakin banyak obrolan di antara mereka membuat keduanya begitu akrab, Xin Fai tak pernah menduga Lan An memiliki pemikiran yang sama dengannya tentang para bangsawan.


Bagi mereka yang berada di status sosial terendah tak aneh bila banyak ketidakadilan yang mereka rasakan. Hingga Lan An mulai terbuka tentang dirinya sendiri.


"Kau pasti membenciku setelah tahu hal ini."


"Apanya?" Xin Fai berusaha setenang mungkin. Lan An menggelengkan kepala hendak berbicara.


"Sebenarnya aku berasal dari keluarga bangsawan juga." Sesaat Xin Fai mencoba mencerna perkataan anak itu.


"Lalu kenapa kau seperti diasingkan begini?"

__ADS_1


"Ceritanya panjang..."


***


__ADS_2