
Saat ini, Teo dan Mael sedang menuju ibu kota. Mereka dipanggil oleh Leo untuk memulai latihan di ibu kota Braga.
Saat sedang berbincang Mael langsung memukul bagian belakang kepala Teo.
"Apa yang kau lakukan Ma.." Teo menghentikan kata katanya saat melihat seekor naga diatas ibu kota Broga.
Tanpa berfikir panjang, kedua sahabat itu menggunakan langkah kilat menuju ibu kota Braga. Saat ini Mael telah menguasai langkah kilat karena diajari oleh Teo.
Mereka berdua langsung mencabut pedang dan melompat menuju Glador yang menyemburkan api.
Tiinggggg......
Pedang Teo dan Mael patah seketika ketika menyentuk sisik Glador yang sangat kuat.
"Heeee....." Kedua sahabat itu kaget saat pedang terbaik yang mereka buat selama berbulan bulan patah karena menebas seekor naga.
Glador yang menyadari akan serangan Teo dan Mael langsung menoleh kearah mereka berdua, "Hohoho... Kalian cukup berani menyerangku tiba tiba. Siapa kalian?"
Ketika Teo dan Mael mendarat ke tanah, mereka menjawab. "Kami adalah manusia yang akan mengalahkanmu karena menyerang ibu kota."
"Hahaha... Kalian akan mengalahkanku? Cukup lucu anak manusia, siapa nama kalian? Akan ku ingat saat saat kematian kalian.
"Teo, orang yang akan membunuhmu," jawab Teo dengan santai.
Setelah Teo selesai bicara, Mael pun juga menjawab, "aku Mael, orang yang akan menguburmu."
"Kenapa kau cuma mau mengubur, kau harus membantuku Mael!!!" Teriak Teo kearah telinga Mael.
"Jika kau yang membunuhnya, harusnya ada orang yang mengubur bangkainya. Benar kan?" Jawab Mael dengan cengar-cengir.
Saat mendengar dialog kedua sahabat itu, Glador tertawa," Hahahaha.... Kalian menarik, apa permintaan kalian selain tidak kubunuh. Jarang sekali aku menawarkan permintaan."
Dengan penuh keyakinan Teo dan Mael menjawab dengan bersamaan, "kita pindah ketempat yang tidak ada orang. Agar tidak terjadi korban pertarungan kita," Teo dan Mael saling menatap dan menganggukan kepala mereka.
"Baiklah," dengan secepat kilat, Glador segera mencengkram tubuh Teo dan Mael.
Teo dan Mael mencoba melepaskan diri dari cengkraman Glador, akan tetapi sia sia.
Glador terbang begitu cepat meninggalkan ibu kota Braga. Saat sampai di wilayah yang dirasa tidak ada orang lain selain Teo dan Mael, Glador melempar mereka berdua.
Dengan sigap Teo dan Mael bertahan dari lemparan Glador. Mereka berdua menahan daya hancur dari lemparan Glador dengan kuda kuda yang diajarkan Leo.
__ADS_1
"Kuda kuda yang kuat, aku tau kalau kalian dilatih dengan sangat baik," puji Glador kepada Teo dan Mael.
Mael mengacungkan telunjuknya dan bilang, "tentu saja, kami berlatih setiap hari. Mari lanjutkan pertarungan tadi."
Dengan muka datar dan menepuk pundak Mael, "kita akan bertarung menggunakan apa?" jelas Teo.
"Aaaaa.... Aku lupa," Mael terlihat sangat panik.
Saat kedua sahabat itu bingung, tiba tiba pedang mendarat didepan mereka.
"Pakai pedang itu, aku akan menjadi wasit kalian," suara lirih dari arah belakan Teo dan Mael.
Mereka berdua menoleh dan melihat kakek yang tampak sangat tua.
"Terima kasih manusia, mereka berdua sekarang bisa bertarung. Dan kau kuperbolehkan menjadi wasit kami. Mari kita mulai pertarungannya anak manusia," jawab Glador.
Pertarungan mereka dimulai saat Teo dan Mael mulai menyerang Glador.
Pedang yang dialiri angin milik Teo dan pedang yang dialiri api milik Mael mulai mendekati tubuh Glador. Saat pedang mereka menyentuh sisik Glador, pedang mereka berhasil menggores sisik Glador.
"Pedang yang sangat kuat, beda dengan pedang yang kami buat." Batin Mael dan Teo.
Menyadari sisik Glador semakin keras, Mael dan Teo melompat kebelakang. Teo memasang kuda kuda jurus miliknya dan Mael pun juga memasang kuda kuda miliknya.
Teo dengan cepat menggabungkan jurusnya dengan langkah kilat. Sedangkan Mael mengeluarkan serangan jarak jauh miliknya.
Serangan Mael mengenai pedang Teo. Teo yang sudah berlatih lama dengan Mael tanpa ragu mengayunkan pedangnya hingga menciptakan ledakan api yang sangat besar.
Setelah serangan itu Teo Terlempar kearah belakang dan dengan sigap Mael menangkap sahabatnya itu.
"Apa serangan kita berhasil?" Tanya Mael kepada Teo. "Aku tidak tau, tapi serangan gabungan kita begitu dahsyat. Dan sangat berbeda saat kita berlatih.
Dari kobaran api itu terdengar suara tertawa, " Hahahaha... kalian hebat. Aku tidak pernah bermandikan kecuali saat aku berendam dalam magma digunung Greya."
Teo dan Mael sangat kaget dan tertegun melihat kepulan api yang mulai padam.
"Terima kasih, aku memang belum mandi dari kemarin. Cepat hibur aku selagi kalian bisa!!!" jelas Grador.
"Sekarang giliranku Teo," Mael menatap Teo dan berlari menuju Glador.
Teo yang melihat sahabatnya akan menggunakan serangan pamungkasnya langsung menggunakan langkah kilat melewati Mael dan meloncat. Dengan serangan bertubi tubi Teo menyerang wajah Glador.
__ADS_1
Mael mengalirkan energi alam yang ia serap menggunakan tangan kirinya ke bilah pedang yang ia gunakan.
"Pedang tanpa suara...." teriak mael.
Mendengar sahabatnya telah mengucapkan nama jurusnya, Teo melompat menjauh dari jangkauan pedang Mael.
Tanpa suara salah satu sisik dari Glador tertebas hingga melukai kulit bagian dalamnya.
"Manusia, aku tidak akan bermain main lagi kali ini!" Teriak Glador yang sangat marah akibat tebasan Mael.
Sangat cepat hingga menimbulkan angin besar, cakar Glador mengarah kekepala Teo. Teo segera menggunakan langkah kilat, tetapi cakar Glador berhasil menggores pipi sebelah kiri Teo.
Glador tidak membuang waktu dan menyemburkan api kearah Mael. Api yang sangat besar mengarah padanya, segera ia menggunakan jurus perisai api miliknya.
Api yang sangat besar ditahan oleh Mael dan ia ttidak kuat hingga terlempar sangat kuat.
Glador dengan cepat terbang kebelakang Mael dan memukul punggung mael.
Karena pukulan telak yang diterima Mael, ia muntah darah hingga darah juga keluar dari hidung dan telinganya. Seketika Mael tergeletak ditanah tanpa bergerak sedikit pun.
"Maeeeellllll....." Teo seakan tidak percaya sahabatnya akan tumbang dihadapannya.
Teo berlari menjatuhkan pedangnya mendekati Mael dan mendekap sahabatnya itu.
Hujan tiba tiba turun dan tidak terasa air mata Teo jatuh. Teo terus berusaha membangunkan Mael. Menggoyang tubuh Mael dan berucap, "Mael, kau pernah berjanji akan menemaniku untuk bertemu ayahku. Jadi cepatlah bangun dan bantu aku mencari ayahku!!!"
"Sekarang giliranmu Teo, Mael telah ma..." Sebelum menyelesaikan kata katanya, kepala Glador mengarah kelangit.
Saat Glador melihat ke arah Mael tergeletak. Ia kaget karena Teo dan Mael sudah tidak ada ditempat. Segera setelah itu terdengar suara dari Teo.
"Berisik... Biarkan Mael tidur, ia tidak suka dibangunkan dari tidurnya," ucap Teo yang dipenuhi oleh aura iblis.
"Hahahaha... Akhirnya kau menggunakan kekuatanku," ucap iblis yang selama ini berada dalam tubuh Teo.
"Saat aku terjatuh dari langit karena pertapa agung itu, secara tidak sengaja aku masuk dan terjebak dalam tubuhmu. Jadi berterima kasihlah padaku Teo!!!" bisik iblis yang berada dalam tubuh Teo.
JANGAN LUPA LIKE KALAU SUKA!!!
LIKE MEMBERI PENULIS SEMANGAT DAN IDE BARU.
KOMEN JUGA BISA, AGAR PENULIS BISA BELAJAR DAN MENGEMBANGKAN JALAN CERITA!!!
__ADS_1