Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 245 - Kunci Langit


__ADS_3

"Pertanyaan keduaku belum kau jawab. Kenapa mereka membunuh teman sendiri?"


Lantas Xiu Juan menjawabnya. "Kalau aku mengatakannya apa kau akan percaya?"


Xin Fai berdeham sebentar, mengalihkan tatapannya ke sudut lain mengamati pergerakan anggota Benteng Lentera Api di depannya dan sisa pendekar aliran hitam yang terus saja secara gencar-gencaran melakukan perlawanan.


"Aku akan percaya. Kalau kau tidak mengatakannya baru aku tidak percaya."


"Begini, saat bertarung tadi salah satu dari kami melihat Manusia Darah Iblis memaksa pendekar kami untuk meminum darahnya. Dan kau tahu apa yang terjadi setelahnya? Pendekar yang terkena itu kerasukan iblis. Sulit untuk mengalahkannya, kira-kira kekuatannya bertambah lima kali lipat dari yang kutahu."


"Memaksa meminum darah mereka? Manusia Darah Iblis memang benar-benar gila..." gumamnya tak habis pikir, entah sudah berapa cara aneh yang mereka lakukan demi bisa menguasai Kekaisaran Shang. Dan itu semua cukup tidak masuk akal menurutnya.


"Ambisi mereka benar-benar besar, membuat anggotanya kehilangan akal seperti ini... Sebenarnya apa yang telah pimpinan mereka lakukan?"


Akhirnya Xiu Juan hanya bisa berharap Xin Fai memiliki jawaban untuk masalah ini. Sejak sampai di Lembah Kabut Putih dirinya sudah kewalahan meladeni musuh-musuh yang tidak terbandingi jumlahnya. Apalagi jika nanti semua orang di pihaknya berubah menjadi musuh.


Masalah seperti ini bukan perkara sulit bagi pemuda itu, dia tersenyum sinis sebentar sebelum melangkahkan kakinya lebih jauh.


Xiu Juan tidak menyangka pemuda itu akan pergi lebih cepat dari dugaannya, dia bersuara memanggilnya.


"Xin Fai, tunggu sebentar!"


"Ya?"


"Terimakasih."


Xin Fai mengerutkan alisnya dalam mencoba berpikir-pikir maksud kata terimakasih yang dia dengar barusan. Xiu Juan menunduk tidak memberitahu lebih jelas apa maksudnya berbicara demikian.

__ADS_1


"Dan maaf."


"Untuk apa?" Pemuda itu sampai membalikkan badannya tidak mengerti sama sekali, dia mendekat sebentar ke arah Xiu Juan membuat gadis itu menoleh ke arahnya.


"Hari itu saat di turnamen, aku menyadari sesuatu. Kupikir hanya aku yang merasakan kehilangan keluarga tapi... Tapi kau juga merasakan hal yang sama." Ucapnya pelan. Xiu Juan melanjutkan. "Yang berbeda hanya kau memilih tidak diam, membalas semua perbuatan mereka dan melindungi semua orang sebisa mungkin."


Sebuah senyuman tampak di wajah pemuda itu, dia menepuk pundak Xiu Juan pelan. "Orangtuamu pasti akan bangga padamu. Jangan sia-siakan nyawamu dengan segel terlarang itu lagi, dengan kau hidup ada banyak orang yang bisa kau selamatkan."


"Ya, terimakasih untuk itu semua."


Sejenak mereka terdiam, Xin Fai menunggu Xiu Juan berbicara lebih banyak tapi sepertinya gadis itu tidak mau berbicara sebelum ditanya.


"Tentang maaf itu? Untuk apa?"


Gadis itu terdiam agak lama menimbulkan suasana hening yang terasa canggung, Xin Fai menarik tangannya dari pundak gadis itu masih menunggunya berbicara.


"Maaf tentang hari itu, saat turnamen dulu aku melihatmu bertarung dengan pimpinan Manusia Darah Iblis. Tapi aku begitu takut, aku tidak bisa melakukan apa-apa selain berdiri ketakutan."


"Aku harus segera atasi di tempat lain, tempat ini tolong kau jaga jangan sampai jatuh ke tangan musuh."


Xiu Juan mengangguk kecil meskipun Xin Fai tidak menoleh lagi ke arahnya, dia mengembangkan senyumnya beberapa saat setelah itu sambil berjanji dalam hati, akan melindungi semua orang yang mengharapkan uluran tangannya.


Sementara Xin Fai bergerak ke arah depan gadis itu pergi ke arah berlawanan di mana Benteng Lentera Api tengah berjuang habis-habisan. Beberapa anggota yang telah terkena darah musuh memilih mengakhiri nyawa dengan bunuh diri.


Di pihaknya sendiri korban ikut berjatuhan meskipun musuh telah lebih dulu tumbang, Xiu Juan melayangkan tatapan teduhnya pada satu titik di mana dia bisa melihat seorang pemuda lainnya berlari sambil memutarkan pandangan ke seluruh arah.


"Lan An?" Ucapnya berhenti membuat Lan An pun ikut menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Apa kau melihat Xin Fai? Ke mana anak itu pergi?"


"Dia baru saja pergi ke depan sana."


"Anak itu, kebiasaan bergerak lebih dulu dibandingkan aku. Kalau begitu aku pergi dulu." Setelah mengatakannya Lan An bergerak langsung ke arah yang ditunjukkan Xiu Juan. Dia tidak memedulikan musuh yang mencoba menghalanginya sepanjang jalan dan tidak melakukan perlawanan apapun.


Tak begitu jauh di hadapannya Lan An akhirnya bisa menemukan Xin Fai, dia tercengang beberapa saat melihat pemuda itu tengah dikeroyok musuh yang jumlahnya hampir dua puluhan orang sedangkan tidak ada pendekar pun yang bisa melindunginya saat itu.


Lan An segera mengangkat senjata, merasa dirinya akan sangat berguna melindungi adik kecilnya itu. Setidaknya selama beberapa detik dia mendekat dengan gagah berani ke medan tempur sebelum satu serangan mematikan muncul secara tiba-tiba di dalam pusaran musuh.


Lima pendekar terpental saat energi dahsyat keluar dari pimpinan Aliansi Pedang Suci, aura merah darah mengerubungi mereka bersama hawa kegelapan yang terasa sangat mengecam.


Xin Fai menaikkan pedangnya sejajar dengan kepala, memutar langkah kakinya hingga membentuk sebuah bulatan kemudian di detik berikutnya pedang miliknya bersinar bersama dengan sebuah mantra yang terbentuk di tanah memunculkan reaksi yang sama.


Lan An membuka matanya lebar, dia merasa jurus itu tidak asing di matanya. Apalagi kalau bukan berasal dari kitab kuno yaitu Kitab Tujuh Kunci yang selama bertahun-tahun dia hanya bisa membuka dua kunci yaitu kunci bulan dan kunci roh. Tetapi yang kali ini dilihatnya bukan berasal dari dua kunci tersebut melainkan jurus yang berada satu tingkat di atasnya, yakni kunci langit.


"Fai'er... Dia sudah membuka gerbang kedua Kitab Tujuh Kunci? Bisa jadi dia juga sudah membuka gerbang ketiga... Kekuatannya semakin hari semakin tidak tertebak, dia berkembang jauh lebih pesat dibandingkan aku." Lan An mencengkram pedang di tangannya erat.


Selama berada di sekte Pasukan Seribu Kaki dirinya tidak pernah menyia-nyiakan waktu dalam berlatih, satu hari pun tidak pernah dilewatkannya tanpa menggenggam pedang.


Selama bertahun-tahun juga dia terus berlatih menempa kekuatan, menajamkan pedang agar bisa membalaskan kematian ibunya.


Hari ini pemuda itu dapat melihat orang yang berusaha jauh lebih keras darinya. Lan An tersenyum pahit ketika melihat pedang Xin Fai mengeluarkan asap hitam yang dalam sekejap mata memotong lawan seperti kertas.


Di sisi lain energi roh mulai terasa di sekitarnya, dia masih begitu kenal dengan energi ini karena sebelumnya pernah memiliki Kitab Tujuh Kunci dan saat itu selama bertahun-tahun tak pernah membuka kunci langit seperti yang Xin Fai lakukan saat ini.


Melihat betapa kuatnya jurus tersebut dia semakin kagum, memang sepertinya Kitab Tujuh Kunci hanya bisa digunakan oleh pemilik tubuh Manusia Iblis.

__ADS_1


"Sepertinya dia bisa menanganinya sendiri," ujarnya pelan. Lan An berniat membalikkan badan. Secara mendadak dia dapat merasakan sebuah kapak besar tangah mengincar belakang kepalanya. Lan An belum sempat menarik pedangnya untuk bisa menyelamatkan diri dan kini ujung kapak tersebut telah berada tepat di depan mukanya.


***


__ADS_2