
Setelahnya pertarungan sengit dimulai, Xin Fai menahan laju serangan Huang Kun yang semakin lama semakin kuat. Bahkan dalam waktu sesingkat ini teknik pedang Huang Kun bisa berkembang dengan sangat cepat.
Bunyi pedang beradu terdengar nyaring di telinga, keduanya bertarung sangat serius namun tak berniat mencelakai sesamanya. Xin Fai sesekali mengatakan beberapa hal yang mungkin akan berguna untuk perkembangan Huang Kun.
Gerakan Huang Kun lebih leluasa dari sebelumnya setelah Xin Fai berkata bahwa saat bertarung dirinya harus bisa menyatu dengan pedang itu sendiri. Jarak serang Huang Kun semakin melebar disertai dengan kemantapan dirinya dalam mengayunkan pedang. Xin Fai merasa Huang Kun kini seperti orang yang baru saja mendapatkan pencerahan, pemuda itu tanpa lelah latihan sampai hari mulai sore seperti ini.
"Hahaha, ternyata benar. Dengan tekad yang kuat, rasa lelah pun tidak akan ada efeknya."
Huang Kun mencerna maksud perkataan Xin Fai yang kini menopang pedang menggunakan bahunya, cengirannya lebarnya sangat bersahabat.
"Benar juga. Sebelumnya aku hanya latihan beberapa jam, tapi hari ini sampai setengah hari... Ini semua berkat kalian."
"Setengah hari? Aku tidak keberatan menemanimu sampai besok pagi."
Rasanya Huang Kun kembali bersemangat mendengarkan tawaran itu, dia menyambut antusias.
"Tawaran yang bagus! Aku ingin latihan sampai besok pagi."
"E... Senior, kau serius?" Melihat Huang Kun seperti pohon yang hendak tumbang saja Xin Fai sudah yakin beberapa menit lagi dia akan pingsan.
Namun Huang Kun menahan tubuhnya dengan bertumpu pada pedang yang dia tancapkan di tanah. "Kau tahu? Saat kau latihan di pohon dekat Kuil Teratai aku selalu mengintip latihanmu.."
Huang Kun melanjutkan, bola matanya yang telah sayu akibat kelelahan kini terbias pantulan cahaya matahari sore.
"Aku ingin melampaui batasku. Yah, aku juga bermimpi menjadi orang yang lebih kuat dari yang terkuat!"
Xin Fai sebenarnya sudah tahu lebih dulu selama tiga bulan berlatih di bawah pohon setiap harinya akan ada seseorang yang mengintipnya. Dia tak mempermasalahkannya, namun tak menyangka orang tersebut adalah Huang Kun.
__ADS_1
Nama Huang Kun menjadi tak asing ditelinganya ketika pemuda itu menjadi satu dari 3 murid terkuat di Sekte Kuil Teratai. Prestasinya itu baru didapatkannya satu bulan sebelumnya. Sedangkan satu murid yang termasuk 3 besar lainnya sedang tidak ada di Kuil Teratai atas suatu misi.
Meskipun berada di posisi terakhir dari 3 murid terkuat namun Huang Kun termasuk sosok yang jenius, dia memiliki potensi besar untuk menjadi sosok hebat di masa depan meskipun dirinya yang sekarang terlihat sangat lemah.
"Berkatmu, kekuatanku bertambah pesat. Walaupun sama sekali belum bisa mengimbangi kalian berdua tapi aku sudah sangat bersyukur."
Xin Fai lagi-lagi teringat, saat mengayunkan pedangnya dulu dia dapat merasakan orang yang mengintipnya melakukan hal yang sama. Hal itu membuatnya penasaran akan sesuatu.
"Senior, kali ini jangan menahan diri. Aku ingin melihat seluruh kemampuanmu." Xin Fai berkata dengan raut wajah kaku, kali ini dia tak lagi memberikan arahan melainkan bertarung serius layaknya melawan musuh.
Huang Kun menarik pedang sangat percaya diri.
Dalam beberapa pertukaran serangan Xin Fai dapat merasakan teknik yang dipakai Huang Kun agak mirip dengannya meskipun masih dominan dengan teknik milik Huang Kun sendiri.
Huang Kun memiliki pola serangan yang bertenaga serta gerakan lincah, Xin Fai akui Huang Kun sangat hebat dalam hal menyudutkan musuhnya ketika bertarung.
Setelah melihat dan mempraktekkan pola gerakan Xin Fai secara diam-diam, dirinya melatih diri setiap hari dengan giat. Hasilnya tak lama setelah itu dirinya dimasukan dalam satu dari tiga murid jenius di sektenya.
Pencapaian luar biasa Huang Kun sama sekali tidak istimewa di antara Shen Xuemei maupun Xin Fai membuatnya terlihat lemah dan selalu berkecil hati.
Xin Fai berhenti dan menyarungkan pedang setelah melihat seluruh kekuatan Huang Kun.
"Teknik pedangmu hebat, Senior." puji Xin Fai tulus.
"Hahaha... Maaf, aku tidak bermaksud mencohtohmu, hanya saja aku merasa tarian pedangmu sangat indah dan aku ingin memilikinya juga."
"Tarian pedang?"
__ADS_1
"Gerakanmu itu memiliki pola gerakan tak terputus-putus layaknya tarian yang menggunakan pedang. Gerakan yang indah namun mematikan, seperti itulah menurutku."
Xin Fai terkekeh kecil, dia merasa pujian Seniornya terlalu berlebihan. "Hahaha jangan terlalu memujiku, sebenarnya aku saja mencontoh gerakan ini dari Lan An."
Seperti biasanya ketika orang bertanya tentang Lan An, Xin Fai akan menceritakannya sosok pemuda seperti preman itu dengan semangat. Dia masih sangat mengingat Lan An, Tendangan Bulan Sabit milik pemuda itu sangat indah dan masih terbayang-bayang di kepalanya sampai detik ini.
"Lan An, ya... Rasanya aku ingin bertemu dengannya."
Setelah beristirahat sambil berbincang-bincang sebentar latihan kembali dilanjutkan, Huang Kun menganggap latihan ini untuk melanjutkan latih tanding mereka di Kuil Teratai dulu.
Xin Fai sama sekali tak menurunkan konsentrasinya, dia tak membuka celah sedikitpun karena serius dalam bertarung. Setelah setengah jam melakukan pertukaran serangan akhirnya Huang Kun yang sudah kelelahan menyerah.
"Sepertinya belum waktunya aku mengalahkanmu," kata Huang Kun dengan menumpu kedua tangan di lutut, napasnya tak beraturan dengan wajah kelelahan. Dia duduk bersila sebentar diikuti oleh Xin Fai. Malam telah pergi, cahaya tipis matahari mulai terlihat di ufuk timur.
"Setelah ini persiapkan dirimu, Senior. Kita akan berlatih Langkah Cahaya untuk menuju Kota berikutnya."
Huang Kun yang sedang minum sampai memuncratkan air dari mulutnya.
"Hei, aku belum tidur semalaman dan kau memaksaku latihan berat lagi!"
"Istirahatlah sekarang, nanti pagi kita latihannya. Hahaha,"
Xin Fai berjalan dengan gaya yang sangat menjengkelkan, di sisi lain Huang Kun hanya bisa tersenyum. Meskipun tidak mengatakannya secara langsung, namun selama ini dia termotivasi menjadi kuat oleh Xin Fai. Awalnya dia merasa Xin Fai adalah sosok asing yang datang ke Kuil Teratai, namun setelah mengenalnya lebih jauh ternyata sifat mereka berdua sangat cocok.
"Kuharap aku bisa melindungimu saat para pembunuh bayaran itu datang." Setelah mengatakannya Huang Kun hanya bisa membuang napas sembari menenggak air putih.
***
__ADS_1