Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 186 - Pertemuan Kembali II


__ADS_3

"Gadis? Cantik? Dan... Rambutnya sangat lurus?" Lan An agak tertarik mendengar hal itu, dia mulai membayangkan sosok gadis yang diceritakan Xin Fai.


"Tetapi kekuatannya ganas, dia memiliki bulu kaki juga.." Xin Fai hampir tertawa melihat ekspresi jijik Lan An, padahal orang yang dimaksudnya itu adalah seorang pendekar pria pimpinan kelompok Gagak Putih. Entah mengapa laki-laki berambut lurus itu harus menjadi bahan leluconnya walaupun dia sudah mati.


"Kau yakin dia seorang gadis? Kau bilang dia memiliki bulu kaki?"


"Perempuan juga memiliki bulu kaki, kan?"


"Mana aku tahu."


Keduanya tertawa, menengadahkan kepala melihat indahnya langit kota dari bawah sana. "Boleh aku bertanya sesuatu?" Xin Fai memecah suasana damai itu, Lan An memejamkan matanya karena yakin lawan bicaranya ini pasti ingin berbicara serius.


"Boleh, jika kau butuh bantuanku juga aku tidak berkeberatan."


"Akhir-akhir ini aku mendapatkan informasi tentang seorang gadis, umurnya mungkin sekitar 14 atau 15 tahun, dan mulutnya ditutupi jaring–"


Lan An memotong perkataannya. "Jaring laba-laba?"


"Kau tahu siapa dia?"


"Bagaimana aku bisa melupakannya, dulu saat penyerangan Turnamen Pendekar Muda dialah yang membuat Pendeta Tao Wei meninggal..."


Xin Fai menunggu kata-kata berikutnya keluar dari mulut pemuda itu, wajahnya berubah buruk sekali.


"Gadis yang kau maksud itu mengamuk di akhir pertempuran, dia adalah seorang Manusia Iblis buatan. Aku tidak begitu tahu tentang asal-usulnya tapi sepertinya gadis itu dikendalikan oleh sesuatu." Lan An menopang dagunya berusaha mengingat-ingat lagi apa yang dilihatnya dulu namun sayang hanya itu yang dapat dikatakannya.


Saat Lan An menatap ke samping dia bisa melihat ekspresi yang baru sekali ini terlihat di wajah Xin Fai, dia terlihat sangat putus asa.


"Hei, kenapa denganmu? Apa aku mengatakan sesuatu yang buruk?"


"Ah, tidak. Lupakan saja."

__ADS_1


"Adik kecil, aku tahu kau pasti terbebani banyak masalah. Wajahmu menunjukkan hal itu, kalau mau aku bisa mendengarkan ceritamu. Walaupun aku tidak yakin ini bisa membantumu.."


"Tidak perlu khawatir begitu, mungkin aku hanya kelelahan. Aku ingin menemui Senior Yong dulu dan mencari tempat menginap,"


"Kalau kau tidak mau menceritakannya aku akan tetap duduk di sini menunggu."


"Ayolah, kita balik saja." Paksa Xin Fai berusaha menarik lengan pemuda itu kencang.


"Salahkan dirimu sendiri, adik kecil. Kaulah yang membawaku ke tempat ini. Dan sekarang aku tidak ingin kembali sebelum kau bercerita padaku."


Xin Fai menggaruk telinganya kasar dan kembali duduk di tempatnya semula, terdengar helaan napasnya sebentar sebelum akhirnya dia angkat bicara.


"Aku tahu kau pasti akan aneh mendengar hal ini,"


"Aku belum merasa aneh."


"Karena kau belum mendengarnya, ayolah jangan jadi bodoh begitu!" kesal Xin Fai sampai ke ujung kaki. Lan An tampaknya tidak serius mendengarkannya.


"Iya, aku serius ini cepatlah bercerita."


"Orang yang kau sebut Manusia Iblis buatan itu adalah adikku yang seharusnya sudah meninggal saat di desa Peiyu."


Lan An yang sedari tadi sibuk memerhatikan lalu lalang memalingkan wajahnya ke arah Xin Fai kebingungan. Dia berusaha memercayai hal itu namun masih banyak pertanyaan berkelebat di kepalanya.


"Tu-tunggu," tahannya. "Bukannya kau Manusia Iblis? Senior Yong bilang seperti itu padaku."


"Benar, dan hari ini setelah mendengarkan ceritamu aku bisa memastikan adikku adalah Manusia Iblis buatan."


Pemuda itu membuka mulutnya sulit percaya, dia tahu benar apa yang sedang dirasakan Xin Fai. Semuanya bercampur aduk, antara marah, khawatir, sedih dan menyesali.


"Para bedebah itu... Kenapa mereka terus mengusik hidupmu..." Geram Lan An emosi, kilat matanya berbinar tajam dengan aura membunuh. Xin Fai terkejut melihat wajah sangar itu, siapapun yang melihatnya pasti akan bergidik ngeri dan memilih pergi secepatnya sebelum dia mengamuk.

__ADS_1


"Ini tidak bisa dibiarkan, aku akan segera bergerak untuk mencari informasi tentang adikmu itu. Kebetulan besok kami akan bergerak ke markas mereka di sekitar sini," ucapnya sambil mencengkram bahu Xin Fai. "Aku berjanji akan membantu mendapatkan adikmu kembali."


"Terimakasih, kau memang saudara terbaikku."


"Jadi sekarang baru kau menganggapku saudaramu?" Lan An menjadi sentimental. "Kejam sekali!" tandasnya.


"Hahahaha!"


Tawaan meledak dari mulut Xin Fai, sebenarnya Lan An masih tidak menerima kenyataan adik Xin Fai adalah seorang Manusia Iblis buatan. Entah kenapa hatinya yang terasa sakit, sejak awal Xin Fai telah kehilangan segalanya karena Manusia Darah Iblis. Keluarganya, tempat tinggal maupun orang-orang yang dia kenal.


Lan An menatap Xin Fai, mata teduhnya mengamati lamat-lamat. Di saat seperti ini Xin Fai masih bisa tertawa, entah dia harusnya menganggapnya sosok yang tegar atau terlalu bodoh.


"Ayo kembali, Senior Yong sudah menunggu kita."


Lan An berdiri menyusulnya dari belakang hingga akhirnya mereka kembali ke kedai arak dan menemukan Yong Tao sedang berpesta di sana bersama pendekar lain. Pria itu tak menggubrisnya ketika Xin Fai bertanya.


"Senior, Senior Yong! Aih, lebih baik aku pergi duluan saja," gerutunya agak kesal sedari tadi berbicara seperti orang kesetanan dan tidak diindahkan oleh pria itu. Lagipula keramaian tempat ini membuat suaranya tenggelam dan hanya bisa terdengar samar-samar.


Lan An mengikuti Xin Fai yang telah hengkang dari tempat itu, dia segera menyusul langkah kakinya hingga sejajar. "Kenapa buru-buru pergi?"


Xin Fai memutar pandangannya ke belakang dan mendapati Lan An yang berbicara padanya. Dia menjawab pelan.


"Aku hanya kelelahan, apa kau tahu tempat penginapan di sekitar sini?"


"Seingatku hanya ada satu, aku dan Pasukan Seribu Kaki menginap di tempat itu juga, tapi entah kamarnya masih ada atau sudah penuh..."


Lan An memasuki sebuah penginapan dan menanyakan kamar yang tersisa. Untungnya masih ada dan Xin Fai bisa segera tidur nyenyak malam ini. Saat tiba di depan kamar yang telah disewa Lan An berkata.


"Nah, ini kamarmu. Istirahatlah besok masih ada banyak pekerjaan yang harus kau selesaikan."


Lan An mendorongnya masuk ke kamarnya, Xin Fai membuang napas lega saat dirinya bisa bergerak leluasa di tempat ini. Dia segera mengunci pintu kamar dan memastikan tidak ada lagi yang akan masuk dan segera melibas tangannya.

__ADS_1


Kitab Terlarang terpampang nyata di hadapannya, kitab tersebut mengeluarkan aura mistik yang begitu kuat serta mengancam. Ketakutan akan kematian sepintas terasa saat dirinya memegang kitab tersebut. Baru saja tangannya memegang kitab tersebut sebuah bunyi terdengar di atap penginapan.


***


__ADS_2