Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 90 - Latihan Huang Kun


__ADS_3

Xin Fai baru saja mengganti pakaiannya ketika sebuah ketukan di pintu terdengar pelan, Li Yong memanggilnya dari luar.


"Apa kau sudah siap? Kita harus segera berangkat meninggalkan kota ini," usul Li Yong. Xin Fai membuka pintu kamar dan terlihat penampilannya berbeda dari yang sebelumnya.


"Em... Senior, kurasa pakaian ini terlalu berlebihan." Xin Fai memberikan komplain, dia tak nyaman dengan pakaiannya yang dibelikan Li Yong ini. Sesekali Xin Fai membetulkan pakaiannya dan merasa gerah. Baju kumal rasanya jauh lebih baik daripada yang dipakainya sekarang.


Jubah merah yang memiliki tudung menjadi pakaian luar Xin Fai, sedangkan pakaian di dalamnya memiliki warna emas cerah yang membuatnya seperti seorang bangsawan karena ukiran indah di dalamnya. Penampilannya ini bukannya membuat dia lega, justru lebih mencolok dari yang lain.


"Sudahlah, jangan meragukan seleraku Fai'er. Aku yakin setelah ini kau akan menjadi sosok paling keren di dunia."


Senyum di wajah Xin Fai berubah pahit saat mendengar Li Yong menertawakannya.


Setelah berkumpul di depan penginapan rombongan kembali bergerak di bawah pimpinan Li Yong, di siang terik itu Huang Kun sama sekali tidak mengeluh lagi seperti sebelumnya karena kelelahan berlari.


Saat istirahatpun, Huang Kun menolak untuk duduk sebentar. Dia selalu mencari tempat menyendiri dan latihan selama berjam-jam.


Xin Fai sempat khawatir pada Seniornya itu, hal tersebut membuatnya segera menyusul ketika Huang Kun pergi sendirian ke dalam hutan.


Huang Kun membabatkan pedang ke pohon, dia berkonsentrasi mengumpulkan tenaga dalam dan mengalirkannya untuk menajamkan mata pedang.


Huang Kun berlatih keras, bulir keringat menetes dari dagunya namun dia sama sekali tak ingin berhenti menebas.


"Aku harus bertambah kuat!"


Pohon di depannya terpotong lagi, meskipun telah melakukannya berkali-kali namun Huang Kun sempat berpikir dirinya tak lebih dari seorang manusia biasa yang sedang menebang pohon.


"Menyedihkan... Kekuatanku sangat menyedihkan," gumam Huang Kun berhenti dengan napas terputus-putus.


Tiba-tiba terdengar suara datar menyahut dari dahan pohon di belakangnya.


"Bagaimana kau bisa menebang pohon itu, sedangkan tenaga dalam yang kau keluarkan malah terbuang sia-sia?"


Huang Kun membalikkan badannya ke belakang.

__ADS_1


"Kau?! Sedang apa di sini?" Huang Kun sejujurnya malu latihannya ditonton orang lain, apalagi oleh Shen Xuemei yang kekuatannya berada di atasnya.


"Sedang menontonmu."


Huang Kun meralat pertanyaannya. "Maksudku, kenapa kau menonton latihanku?"


"Kau menanyakanku sedangkan dia tidak." Telunjuk pemuda itu mengarah ke pohon di sebelahnya, terlihat Xin Fai tengah bergantung di sana dengan posisi terbalik.


"Fai'er? Kau juga di sini?"


Xin Fai turun dengan tenang, dia mendekati Huang Kun dengan langkah pelan.


"Senior, kau tak perlu latihan mati-matian begini untuk melindungiku dari para pembunuh bayaran," ucapnya.


Sedetik setelahnya tangan Huang Kun menggaruk telinganya, dia menyengir seperti biasanya. "Tidak apa-apa. Meskipun aku tidak bisa membantu banyak, namun setidaknya aku tidak mau jadi orang yang paling tidak berguna ketika kau kesusahan."


Xin Fai bertolak pinggang sambil berseru. "Kalau begitu, ayo latihan! Kita harus menjadi kuat dari yang terkuat!"


"Yosh!"


"Ayo bertarung denganku, Huang Kun."


Huang Kun sempat berpikir sebentar, dia menerimanya penuh sukacita. Dengan melakukan hal yang sama Huang Kun kini telah berdiri tak jauh dari hadapan Shen Xuemei dengan sebilah pedang di tangannya.


"Aku tidak akan menahan diriku."


Sehabis mengatakannya Huang Kun segera menyerang Shen Xuemei, dia mengandalkan segala cara untuk menunjukkan kebolehannya.


"Bukan, bukan seperti itu. Seharusnya senior membaca situasi dulu sebelum menyerang..."


Xin Fai bergumam di samping dengan menopang dagu mengunakan tangan. Dirinya berpikir Huang Kun telah mengambil langkah gegabah dan dengan mudah juga Shen Xuemei berhasil membuat serangan.


Huang Kun melompat mundur sebelum Shen Xuemei sepenuhnya bergerak, dia menatapi Xin Fai beberapa saat.

__ADS_1


"Aku akan menerima semua saran dari kalian, mohon bantuannya!"


Shen Xuemei mengangguk pelan diikuti dengan Xin Fai yang berteriak menyemangatinya. "Baiklah, semangat senior Huang! Setelah ini akan banyak nenek-nenek reot yang jatuh cinta padamu!"


Terdengar tawaan meledak yang ditujukan padanya. Xin Fai tertawa sampai perutnya terasa berputar-putar.


"Fai'er, jangan meledekku! Tunggu saja pembalasanku!" geram Huang Kun kembali serius menghadapi Shen Xuemei.


Shen Xuemei berperan dalam menyambut pergerakan Huang Kun dan untuk masalah teknik berpedang Xin Fai yang akan memberikan arahannya.


Bagi Huang Kun sendiri dia tidak keberatan diajarkan oleh orang yang lebih muda darinya, dirinya sebelum itu juga pernah latih tanding dengan Xin Fai dan kalah darinya. Lagipula, dengan ini dia yakin kekuatannya akan berkembang.


"Konsentrasimu masih sering terpecah, Senior. Hal itulah yang membuat pedang di tanganmu tak begitu tajam, ketika mengalirkan tenaga dalam ke pedangmu, justru tenaga dalam itu terpecah dan tidak terfokus di satu titik."


Huang Kun menganggukkan kepalanya, dia kembali menghadapi Shen Xuemei.


Kali ini Shen Xuemei berbicara. "Jangan menatapi bagian yang selanjutnya akan kau serang, orang akan mudah membaca pergerakanmu itu."


Huang Kun mengangguk lagi, dia mengayunkan pedang dengan lebih gesit. Kali ini tempo yang dimainkannya sangat cepat dan tak mudah ditebak.


Namun Shen Xuemei masih tetap tak kalah darinya, pedang milik Huang Kun terjatuh ketika ditangkis dengan sangat kuat.


Di saat itu juga Li Yong datang.


"Ah, sedang latihan ya? Apa aku mengganggu kalian?" Ucap Li Yong ramah seperti biasanya.


Ketiganya berhenti sebentar kemudian memberi hormat. "Tidak Senior."


"Baiklah, aku akan menemani latihan kalian di sini untuk berjaga-jaga." Li Yong duduk di atas rerumputan setelahnya, sedang Huang Kun kembali mengawasi Shen Xuemei.


"Aih, aku ingin duduk juga. Kau latihan saja dengan Xin Fai."


Huang Kun membuka mulutnya, dia tak menyangka pemuda itu akan meninggalkannya di tengah-tengah latihan seperti ini. Padahal Shen Xuemei lah yang tadi lebih dulu mengajaknya bertarung. Shen Xuemei memang manusia tanpa hati.

__ADS_1


"Oh, oke. Fai'er apa kau tak keberatan?"


"Dengan senang hati, Senior."


__ADS_2