Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode. 100


__ADS_3

...Happy Reading....


Sementara di depan terjadi keributan. Tampak seorang wanita berusaha masuk tetapi di halangi Wisnu. Dengan kasar dan kuat wanita itu mendorong Wisnu, lalu melangkah cepat masuk ke dalam.


"Halo semua, Selamat pagi." ucap wanita itu


ketika sampai di ruang makan.


"Levina?" seru Maya begitu melihat siapa yang datang. Maya segera bangkit dari duduknya menyambut wanita itu dengan senyuman yang merekah. Keduanya berpelukan dan cipika cipiki. Maya sangat menyukai wanita ini.


Rizal, Raka dan Ara ikut melihat pada Levina m Kecuali Rafa yang fokus dengan makanannya.


"Tante, aku merindukanmu." kata Levina.


"Tante juga merindukanmu. Tante pikir kau tidak akan datang kesini lagi."


"Hari ini adalah hari spesialnya Rafa. Mana mungkin aku tidak akan datang di hari spesialnya? Setelah pemotretan selesai, aku langsung terbang ke Indonesia. Aku tidak fokus bekerja karena kepikiran terus padanya." kata Levina sambil melirik manja pada Rafa yang terlihat acuh menikmati makanannya.


"Maaf baru bisa datang hari ini, aku belum terlambat kan?" sambungnya kembali.


"Tentu tidak Levina, kami bahkan belum membuat rencana apa pun. Duduklah, mari sarapan bersama kami." Maya mengajak duduk.


"Kebetulan sekali tante, aku lapar bangat. Aku belum makan apapun sejak semalam." Levina memperhatikan penghuni meja makan. Dia mencari kursi kosong yang dekat Rafa. Tapi terisi oleh Rizal dan__Siapa gadis ini? Matanya menatap Ara yang duduk di sebelah kiri Rafa.


Levina memperhatikan Ara dari bawah hingga atas. Cupu dan kampungan, dalam pandangan matanya.


"Halo Levina." seru Rizal melihat dirinya mengamati Ara.


Levina menoleh"Halo dokter tampan." sapa Levina tersenyum manis.


"Bagaimana kabarmu Ratu model?" tanya Rizal.


"Baik dokter, ternyata kau ada di sini juga." kata Levina.

__ADS_1


"Tentu saja. Aku selalu mengikuti bosku!" kata Rizal berseloroh.


Senyum Levina melebar." Sudah ku duga." katanya. Lalu dia menoleh pada Raka.


"Halo Raka, bagaimana kabar? Sudah lama ya kita tidak bertemu."


Raka tersenyum.


"Alhamdulillah baik. Kakak sudah jarang datang ke sini. Jadi kita tidak pernah lagi bertemu."


"Maaf, aku ke luar negeri karena sibuk dengan pekerjaan. Lagi pula kakakmu juga sudah tidak tinggal di sini, jadi aku gak semangat datang ke rumah ini." Levina memasang wajah sedihnya menoleh pada Rafa, lalu perlahan mendekat.


"Halo sayang, bagaimana kabarmu? Dari tadi kau hanya diam, bahkan tidak menyambut kedatanganku. Apa kau tidak merindukanku?" katanya dengan lembut sambil melingkarkan kedua tangannya di bahu Rafa.


"Jaga sikapmu Nona." sentak Wisnu keras, lalu cepat menarik kasar kedua tangan wanita ini dari bahu tuannya.


Levina meringis.


Ara jadi tidak tenang di tempat duduknya. Dia mulai meremas kedua tangannya di paha.


Rafa melirik tajam pada Wisnu melihat perubahan Ara yang tidak tenang.


"Maaf atas ketidak nyamanan ini Nona muda." ucap Wisnu pada Ara. Dia terlalu muak dengan tingkah menjijikkan Levina, sehingga menyadari perlakuan kasarnya membuat Ara takut.


"Kurang ajar kau Wisnu." ucap Levina menahan geram dan malu. Dia ingin sekali memaki dan mencakar wajah lelaki ini. Tapi harus menjaga sikapnya di hadapan Rafa dan Maya. Tapi tunggu, apa yang di ucapkan Wisnu tadi? Nona muda? batin Levina menatap Ara.


"Wisnu, jaga sikapmu. Levina adalah kekasih tuan mu, jadi perlakukan dia dengan baik." sentak Maya menatap tajam pada Wisnu. Maya selalu menjadi pembela bagi Levina.


Wisnu diam, melirik sinis pada Levina.


"Levina, kau capek kan? Katamu juga kau sangat lapar, jadi duduk dan makanlah." Rafa memberi perintah setelah dari tadi hanya diam dan tidak mendengar.


"Iya sayang, aku memang ingin duduk dari tadi. Tapi tak ada tempat yang pas untukku. Aku ingin duduk di sampingmu. Bolehkah gadis ini pindah tempat duduk di kursi yang lain?" katanya memelas seraya menoleh pada Ara.

__ADS_1


Ara tercengang mendengar kata-kata yang sengaja di tujukan kepadanya. Dia menelan ludahnya dengan kedua tangannya yang kembali saling menggenggam di atas paha.


Ara menarik nafas pelan, kemudian menoleh pada suaminya yang juga sedang melihat kepadanya. Raka menggeleng kepalanya memberi isyarat agar ia tetap duduk jangan berpindah tempat.


Ara tersenyum, yang artinya tidak apa-apa jika dia pindah ke kursi lain. Dia perlahan berdiri, Raka menahan tangannya."Kau tidak perlu pindah ke kursi lain. Tempatmu di samping ku."


"Tidak apa kak." ucap Ara tersenyum kecut. Meski dia tidak ingin pindah, karena tidak mau membuat Raka kecewa. Tapi mau bagaimana lagi? Levina adalah tamu sekaligus kekasih Rafa. Lagi pula Levina tidak terus menerus duduk di tempat duduknya. Jadi tidak ada salahnya duduk sekali ini di tempat duduknya.


"Tetaplah duduk di tempatmu, jangan pindah kemanapun." kata Rafa melihat Ara hendak keluar dari kursi makannya.


Ara terdiam, dia menatap Rafa. Lalu menoleh pada Levina yang berdiri di antara ia dan Rafa. Wanita itu sangat mengharapkan dirinya pindah. Ara dapat melihat hal itu di wajahnya.


Ara bergerak hendak melangkah.


"Tetaplah di tempatmu, ini perintah ku. Apa kau tidak dengar?" kata Rafa kembali dengan suara agak keras menatapnya tajam.


Ara tersentak. Rasa takut mulai menghinggapi dirinya. Dadanya bergemuruh kuat. Dia menunduk.


"Duduklah sayang." kata Raka seraya menarik pelan tangan istrinya, mengajak untuk duduk kembali. Ara menurut dan perlahan duduk.


Levina mendengus pelan. Maya pun menatap sinis pada Ara.


Suasana menjadi tegang dan hening. Rizal memilih cuek dan diam. Meski suasana hatinya tidak tenang.


Rafa menatap tajam pada Levina."Dan kau Levina, duduklah di tempat lain. Masih ada beberapa kursi kosong di sini, jangan berulah." sentaknya.


Levina kembali mendengus kesal. Menatap sinis pada Ara. Siapa gadis kampungan ini? Sampai Rafa membela dan lebih memilihnya untuk tetap duduk di dekatnya.


Nafas Ara memburu tak beraturan. Terus menunduk. Takut dan tidak tenang. Raka menyentuh ke dua tangannya lembut, untuk menenangkannya.


Bersambung.


Jangan lupa dukung ya

__ADS_1


__ADS_2