
Tiga lagu berturut-turut membuat Ara capek.
Dia segera melangkah ke tempat duduknya untuk istrahat, lalu meraih air minum dan segera meneguknya.
Rafa menyapu keringat di wajah mulusnya.
Ara tersenyum dan mengucapkan terimakasih.
"Hallo tuan Ravendro.." sapa seorang dari samping mereka.
Rafa memalingkan wajahnya, dan melihat pria bule bersama dua pasangan wanitanya yang berdiri di samping kiri kanannya.
"Tuan Justine." seru Rafa tersenyum sambil bangkit berdiri dan menjabat tangan Justine . Lalu keduanya saling berpelukan setengah badan.
Justine adalah sala satu relasi bisnis Rafa dari Amerika.
"Siapa wanita cantik yang bersama anda tuan Ravendro?" menoleh pada Ara yang duduk di belakang Rafa.
"Istriku, Azahra .." kata Rafa menoleh pada Ara.
Ara memberikan senyuman tanpa berjabatan tangan, karena Rafa melarang dia dekat dan berpegangan dengan lelaki.
"Istri anda sangat cantik tuan Ravendro,
kapan kalian menikah? kenapa publik tidak mengetahui pernikahan mu? kau tidak mengundangku, mengundang kami semua teman teman mu." kata Justin Kembali.
"Kami menikah 4 bulan yang lalu, dan pernikahanya memang sengaja kami tutupi, hanya kelurga saja yang hadir, itu adalah keinginan Istriku." jawab Rafa.
Ara tersenyum pada Justine ketika pria bule itu menatap ke arahnya.
Mata Ara melihat wanita wanita di samping Justin.
Pakaian mereka yang sangat terbuka dan transparan, sebagian buahnya menonjol keluar, karena pakaiannya yang terbelah di tengah sampai perut.
Terus paha mereka yang terbuka hampir memperlihatkan cidi mereka.
Ara melihat mata mereka menatap nakal dan genit pada suaminya.
Ara merasa risih melihatnya.
Dia melihat suaminya yang secara bergantian menatap ketiga orang di depannya karena meladeni ucapan mereka.
"Apa setiap tahun dan setiap ada pertemuan kakak melihat pemandangan indah seperti ini?" batin Ara menatap tak suka. Dia mengalihkan pandangannya ke sekeliling, banyak wanita muda seumuran dirinya berpakaian seksi sangat terbuka seperti ini.
Memperlihatkan hampir semua aurat mereka.
Seharusnya suaminya harus menghindari pemandangan seperti ini dan menutup mata dari aurat wanita yang bukan mahramnya.
Tapi suaminya malah meladeni mereka.
Ara menatap sedih dan tidak suka pada suaminya.
Telponnya berdering.
"Ra..kita ngumpul yuk ..kak Dion pengen ketemu kamu." Cindy menelepon.
"Baik Cin .. " Ara langsung mengiyakan.
Dia ingin meminta izin pada suaminya, tapi di lihatnya Rafa sedang asyik membicarakan sesuatu dengan Justin.
Yang di tangkap oleh telinganya mengenai projek penting.
Ara segera mendekati tempat Moly. Dia memberikan senyuman dan menyapa teman teman Moly dan juga dokter Rizal.
"Adik iparku yang cantik, ada apa sayang?" sapa Rizal melihat Ara kurang bersemangat.
Ara hanya tersenyum meladeni ucapan Rizal .
"Kak , mana blazer ku," menoleh dan berbisik pada Moly.
Moly segera mengambil dari dalam tasnya,
lalu memakai kan pada tubuh Ara.
"Kak, aku ingin ketemu sama temanku, nanti tolong kasih tau sama kakak ipar ya ? aku gak enak menganggu, dia lagi serius bicara sama teman-temannya."
Moly dan Rizal melihat ke arah Rafa yang sedang berbicara dengan pria bule dan dua orang wanita berpakaian seksi.
"Kamu mau bertemu dengan siapa ?" tanya Moly.
"Teman kampus aku kak .. Cindy dan kak Dion. Aku pergi dulu." kata Ara lemah, lalu segera berbalik melangkah.
Moly terkejut mendengar nama Dion.
"Dionel Raymond Alkas ?" guman Moly menatap Rizal.
"Aduh Zal, bahaya bila bos tahu nona Ara bertemu dengan putra tuan Raymond Alkas itu."
"Lho emangnya kenapa ?" mata Rizal menyipit
"Pewaris DRA Group itu menyukai nona Ara, dia mencintai nona Ara."
Rizal tercengang karena belum tahu hal itu.
*****
Ara menelpon Cindy.
"Kalian di mana Cin ?"
"Kami di balkon luar ballroom Ra. Lo lurus aja sekitar 30 meter terus belok kanan." jawab Cindy dari seberang.
"Baiklah aku segera ke sana," Ara mematikan ponselnya dan menyimpan ke dalam tasnya.
Sebenarnya dia gak ingin bertemu dengan Dion. Karena suaminya tidak suka.
Tapi dia gak enak menolak, karena sudah beberapa kali laki laki itu menyelamatkan hidupnya. Dan lagi pula baginya Dion hanya di anggap teman dan juga sebagai kakak.
******
"Mol, apa kamu nggak merasakan sesuatu pada Ara ?" tanya Rizal yang merasakan hal aneh pada Ara.
"Apa maksudmu Zal?"
"Dia sedang nggak kesal atau marah kan pada bos kita? lihatlah Rafa, dua wanita cantik berada di depannya, super seksi seperti orang yang tidak memakai pakaian menatap Rafa genit. Rafa terlalu serius meladeni mereka sampai sampai tidak menyadari kepergian Ara hingga detik ini."
"Masa sih karena hal itu nona Ara pergi tanpa pamit dari bos? setahuku nona Ara tidak pernah menaruh rasa cemburu pada tuan Rafa."
"Apa kamu gak ingat waktu kita mau kesini tadi?, Ara menanyakan wanita wanita tak berpakaian itu, dan Rafa cepat mengalihkan ucapannya."
"Aku juga dapat merasakan kalau hati Ara lagi nggak mood, dia terlihat seperti orang yang sedih, lemah tidak bersemangat."
Moly terbelalak, dia cepat mengejar Ara, tapi Ara sudah menghilang dari pandangan mereka.
Dia cepat menelepon Wisnu.
"Cepat cari nona mudamu sampai ketemu sebelum tuanmu mengetahuinya. Dia pergi menemui Cindy dan Dionel Raymond Alkas."
Wisnu terkejut, dia cepat mengalihkan pandangannya ke sekeliling penjuru ruangan yang luas ini, sambil menghubungi anak buahnya yang tersebar di ruangan inim
Di lihatnya tuannya masih serius berbicara dengan Justin dan tidak menyadari Ara sudah tidak berada di belakangnya.
****
Ara berjalan lemah menuju balkon.
Hatinya sedikit terhibur karena akan bertemu dengan Dion dan Cindy.
Lebih baik dia berkumpul dengan kedua sahabatnya itu dari pada menemani suaminya yang asyik berbincang dengan tiga bule itu.
Ara tidak menyadari ada seorang pelayan hotel mengikutinya dari belakang.
Dia Siska, yang menabrak Cindy tadi.
Siska berpura-pura menjadi seorang karyawan hotel setelah membayar mahal seseorang yang bekerja di gedung mewah ini untuk membantunya.
Dia sudah mengikuti Dion sejak berangkat dari Indonesia. Hanya saja dia menggunakan pesawat komersial, sedangkan Dion menaiki jet pribadinya.
Siska berbelok setelah melihat Dion dan Cindy dari jauh, dia memberikan kode pada teman prianya yang berada di depannya.
Ara mendekat ke arah mereka.
Dion menyambut kedatangannya dengan perasaan yang sangat senang.
"Hay kak ..." sapa Ara tersenyum.
"Ara..." Dion langsung memegang kedua tangannya, menatap sejenak wajahnya lalu segera memeluknya.
Teman Siska langsung mengabadikan momen pertemuan itu dengan beberapa kali cekrekan.
Dion memeluk Ara sangat erat tak ingin melepaskan, tak ingin melepaskan wanita pujaannya ini pada orang lain termasuk Ravendro.
Dia berharap apa yang di lihat di lantai dansa tadi hanya sebuah acting yang di lakukan Ravendro.
Meski hatinya sangat sakit, kecewa, sedih, marah campur jadi satu melihat Ara berpelukan dan berciuman dengan Ravendro, tapi semua itu hilang dengan melihat Ara di depannya sekarang dan dalam pelukannya.
Ara berusaha melepaskan pelukannya.
"Kak.. sudah dong, kan kemaren baru ketemu. Lagi pula gak baik meluk meluk istri orang. Lepas ah, aku sesak nafas nih."
Dion tersenyum mendengar ucapannya.
Dulu Ara juga berkata seperti itu, saat dia berstatus Istri Raka.
Dia menganggap perkataan Ara itu karena Ara adalah istri Raka.
Dia nggak tahu kalau Ara sekarang adalah istri Ravendro.
Dion mengecup puncak kepalanya berulang kali, lalu segera melepaskan pelukannya setelah mendapat isyarat dari Cindy.
Ketiganya segera duduk di sofa.
__ADS_1
Dion terus menatapnya tanpa bergeming,
Dia masih melihat ada cincin pernikahan di jari manis Ara, cincin yang sama. Artinya Ara masih tetap Istri Raka, bukan milik orang Ravendro atau orang lain.
Pesan masuk di ponsel Moly dan Wisnu membuat keduanya terbelalak.
Pesan itu juga masuk di ponsel Rafa, tapi dia masih terlibat pembicaraan serius dengan Justin.
Wisnu dan Moly ketakutan setelah melihat kiriman foto foto itu. Rizal juga sangat panik.
Foto Ara sedang di pelukan Dion, Dion mencium puncak kepalanya, memegang kedua tangan Ara dan menatap mesra, keduanya sedang tersenyum.
"Cepat hubungi Ara Moly." kata Rizal setengah berteriak.
"Aku sudah mencobanya tapi gak di angkat," tangan moly gemetaran memegang ponsel.
Wisnu juga berlarian kesana kemari dengan ponsel di telinganya.
"Nona muda, tolong angkat telepon mu, angkat telepon mu nona. tanda di mana sekarang." Wisnu berteriak memaki dirinya karena merasa lalai melaksanakan tugas menjaga istri tuannya.
Dan hingga detik ini belum ada kabar dari anak buahnya.
Dia melihat ke tempat duduk Raymond Alkas, tidak ada Dion di sana.
"Brengsek , kemana bajingan itu membawa nona mudaku ?"
****
Seorang pelayan laki laki datang membawa minuman untuk mereka.
"Permisi ..." katanya sopan
Dion Ara dan Cindy menoleh padanya.
"Saya kesini membawakan minuman untuk anda bertiga."
Ketiganya saling berpandangan karena merasa tidak memesan minuman.
"Maaf kami tidak memesan minuman apa pun." kata Dion menatapnya.
Pelayan itu kembali tersenyum.
"Maksud saya, saya di perintahkan oleh seorang untuk mengantarkan minuman ini pada nona Ara. Dia menyebut namanya Moly," kata pelayan yang merupakan teman Siska.
Ara langsung menggerakkan tubuhnya.
"Oh ... dia teman aku, jadi kak Moly yang nyuruh kau kesini?"
"Iya nona.."
"Letakkan di meja."
Pelayan segera meletakkan minuman di depan Raka, Ara dan Cindy sesuai selera masing-masing.
Siska sudah menelusuri minuman favorit mereka, dan minuman itu sudah di beri obat perangsang, terkecuali minuman Cindy.
"Silahkan ! saya permisi dulu,"
Lalu segera berbalik melangkah pergi,
menemui siska.
"Gimana Bob ?" tanya Siska.
"Mereka menerima minuman itu setelah ku katakan dari Moly. Sekarang kita tunggu mereka meminumnya, dan reaksinya sekitar 15-20 menit. Sebaiknya kau ganti pakaian saja." kata Boby, laki laki itu.
Siska segera menuju toilet.
"Ra m, apa buk Moly mengetahui kau menemui kami?" tanya Cindy.
"Iya, aku tadi pamit sama dia dan juga dokter Rizal. Mungkin karena itu dia mengirim minuman pada kita."
"Cin, maaf ya ..aku gak bisa temani kamu untuk jalan jalan ke tempat wisata yang ada di kota ini, soalnya kami akan balik malam ini ke Jakarta." sambungnya kembali.
"Gak apa-apa Ra...," Cindy menyentuh tangan Ara.
Mereka terus berbincang santai, sesekali terdengar tawa mereka.
Tidak berapa lama Dion segera meneguk minumannya tanpa curiga.
*****
Jangan di tanya lagi bagaimana marahnya Rafa setelah tahu Ara pergi bertemu Dion dan juga melihat kiriman foto-foto mesra pertemuan mereka.
Dia segera keluar dari ruang ballroom .
Darahnya terasa sangat mendidih mencapai di ubun ubunnya.
Tak elak lagi wisnu dan Rizal menjadi pelampiasan amarahnya. Dia melayangkan pukulan dan tendangan ke tubuh mereka berdua karena tidak becus menjaga istrinya.
Moly menjerit-jerit ketakutan dengan tubuh gemetar.
Ponselnya berulang kali jatuh saat menghubungi Ara. Tapi Ara tidak kunjung mengangkatnya hingga detik ini.
Darahnya semakin menjalar panas dan mendidih.
Dia segera masuk ke dalam ballroom, melangkah cepat ke tempat Raymond Alkas.
Moly cepat menghalangi jalannya.
"Rafa, berhenti. Jangan membuat keributan. Hampir semua orang orang di sini adalah tamu penting. Ini akan berdampak buruk pada citra perusahaan mu, semua usaha bisnismu dan juga hubungan kerja samamu dengan mereka."
"Istriku di bawah pergi oleh si bedebah itu dan kamu malah menyuruh aku tenang ?"
"Aku tidak perduli dengan semua itu, aku hanya ingin istriku kembali saat ini juga." mencekal lengan Moly kuat, membuat Moly menjerit kesakitan.
"Jangan berbuat kasar padanya Rafa, kau boleh memukul ku sesuka hatimu , tapi jangan sakiti Moly." sentak Rizal.
"Semua ini juga salahmu, kau mengabaikannya dan hanya asyik bersama dan berbincang dengan....!"
"Cukup Rizal .." potong Moly cepat.
"Wisnu, cepat ajak tuan Raymond Alkas ke ruang sebelah, bagaimana pun caranya." katanya pada Wisnu segera.
Wisnu segera bergerak cepat.
Rafa meninggalkan mereka dengan tatapan sadis.
"Ara sayang, aku mohon angkat teleponmu, angkat... angkat ..angkat...," ucap Moly penuh pengharapan dengan telpon di telinganya.
sambil mengikuti langkah Rafa.
Entah apa yang di bisikan Wisnu membuat Raymond Alkas langsung bangkit berdiri dan mengikuti langkahnya tanpa banyak bicara.
Dinda yang melihat rasa keterkejutan di wajah suaminya, ikut berdiri dan mengikuti langkah mereka. Dia merasakan ada sesuatu yang buruk telah terjadi.
******
Ara hendak meraih minumannya, tapi dengan cepat Dion menyingkirkan gelas itu hingga jatuh pecah ke lantai. Bukan hanya milik Ara tapi juga minuman Cindy.
Ara dan Cindy terkejut.
Mereka menatap Dion yang terlihat tidak tenang.
Dion bangkit dari duduknya, dia merasa panas dan gerah, resah, kepalanya pusing.
"Kak Dion kenapa ?" tanya Cindy.
Dion tidak menjawab, kepalanya terasa pusing.
Dia merasakan gairah seksnya meningkat, dia mulai menyadari setelah merasakan gejala gejala ini, sepertinya minumannya telah di beri obat perangsang.
"Siapa yang melakukan ini? apa Moly? tidak mungkin. asti ada seseorang yang ingin menjahati kami." guman Dion.
Perlahan Dion melangkah meninggalkan mereka, sambil membuka jas dan beberapa kancing kemeja depannya karena kepanasan,
dia tidak ingin Ara dan Cindy melihat keadaan tubuhnya seperti ini.
"Kak Dion Kenapa Cin ?"
"Aku juga nggak ngerti Ra ! ayo kita susul dia. Aku khawatir terjadi sesuatu yang buruk padanya."
Mereka segera menyusul Dion.
Siska yang sudah memperkirakan kedatangan Dion, cepat mendekati Dion. Dia sudah berganti memakai pakaian seksi.
"Hey Dion,"
Dion memperhatikan wajah orang yang memanggilnya dengan jelas .
"Kau? siska ?"
"Iya ini aku Siska. Sepertinya kau sedang tidak enak badan, kau kenapa ?" tanya Siska pura pura. Siska memegang lengan Dion, tapi Dion menepisnya kuat .
Siska mendengus kesal .
Cindy dan Ara melihat dion dari jauh.
"Itu kak dion Ra ! dia sedang bersama siapa ?"
"Bukannya itu Siska?"
"Iya kau benar Ra, ayo cepat."
Siska yang menyadari kedatangan Cindy dan Ara, Segera menarik paksa tubuh Dion masuk ke kamar yang telah dia sediakan untuk menjebak Dion. Dia mendengus geram karena Ara tidak meminum minumannya, dia ingin menjebak Ara dengan Boby.
"Berhenti Sis, kau mau bawa kak Dion kemana? Siskaa...," teriak Cindy . semakin cepat berlari.
****
Rafa segera menuju ruangan di mana Raymond Alkas menunggu dirinya.
__ADS_1
Dia mendorong pintu dengan kuat membuat pasangan suami istri itu terkejut?
"Tuan Ravendro ..." seru Raymond Alkas terkejut melihat kemarahan yang terpancar dari wajah Rafa .
"Apa aku telah membuat kesalahan ?"
Rafa menatap mereka dengan tajam penuh kemarahan .
"Anakmu telah membawa istriku, anakmu telah menyembunyikan Istri ku !" teriak Rafa keras .
"Hubungi dia dan katakan kepadanya untuk mengembalikan Ara ku."
Raymond Alkas tercengang." Apa maksud anda? Istri apa? aku tidak tahu dan tidak mengerti tuan Ravendro."
Rafa mendengus kasar menatap sinis pada Raymond Alkas.
"Anakmu mencintai istriku dan dia telah membawa serta menyembunyikannya."
Rafa memperlihatkan foto foto tadi.
Raymond Alkas dan Dinda Kembali terkejut.
"Wanita yang di peluknya itu adalah istriku." kata Rafa kembali dengan keras.
"Omong kosong ..." Pungkas Dinda.
Rafa menatapnya tajam seakan menerkam.
"Apa kata anda barusan?" menatap menyeringai dengan tajam.
"Aku tahu itu hanya akal akalanmu saja tuan Ravendro. Ara bukan istrimu, dia hanyalah boneka mainanmu. Ini semua hanya acting dan sandiwara mu ! kau pikir aku percaya dengan kau mengatakan Ara adalah istrimu? selama ini kau selalu menekan dan mengendalikan hidupnya di bawah ancaman mu, dia sangat takut padamu sehingga menuruti apa pun yang kau lakukan padanya, yang kau inginkan dan apa pun yang kau perintah kan."
"Kenapa kau tidak melepaskan Ara dari keluargamu? biarkan dia mencari kebahagiaan dalam hidupnya. Kenapa kau melarang dia berteman dengan Dion? kenapa kau menghalangi dion untuk dekat dan mencintainya ? biarkan Ara mencari dan menikmati kebahagiaan hidupnya, dia perlu bahagia setelah kehilangan suaminya."
Rafa mendekat dan menatap dinda dengan tatapan kuat dan semakin tajam . rahangnya mengeras dan bergetar.
"Ara adalah istri ku nyonya Raymond Alkas.
Aku telah menikahinya empat bulan yang lalu, dia bukan seorang janda, dia Istriku.
Istri Rafa Ravendro Artawijaya." kata Rafa keras dengan
"Ini cincin pernikahan kami." memperlihatkan jari manisnya di depan mata Dinda dan tuan Alkas, lalu membuka galeri foto pada ponselnya dan di perlihatkan pada mereka berdua dari jarak sangat dekat, tepat di depan mata suami istri itu.
"Dan ini, lihatlah baik baik tuan dan nyonya Alkas ..." menyorot tajam.
Dinda Dan tuan Alkas terbelalak melihat foto foto pernikahan mereka, dan juga buku nikah mereka yang tercatat 4 bulan yang lalu. Seketika tubuh Dinda bergetar, tubuhnya lemah dan gemetaran. Dia jatuh terduduk di lantai setelah melihat bukti pernikahan mereka.
"Suru anakmu mengembalikan istriku dan katakan padanya untuk menjauhi istriku ! kalau tidak aku akan membunuhnya." teriak Rafa keras sambil menendang kursi lainnya.
"Dan jika terjadi sesuatu yang buruk pada istriku , akan ku habisi kalian semua." kembali menekan kata katanya sambil menujuk kuat pada tuan Alkas dan dinda bergantian.
Lalu dia segera keluar , di ikuti wisnu .
tubuh Raymond Alkas langsung terjatuh lemah di samping istrinya.
Nafasnya memburu cepat tak beraturan, dia menatap tajam pada istrinya.
"Apa yang kau lakukan Dinda? apa yang kalian lakukan bersama Dion yang tidak ku ketahui? Kalian telah melempar kotoran di wajahku. Beraninya kau mendukung putramu mencintai istri orang? kalian benar-benar sangat memalukan dan rendah. Seharusnya kau selidiki dulu gadis itu."
"Maafkan mama pa ... maafkan kami," ucap Dinda terbata bata di sela airmata nya yang mengalir.
Tuan Alkas langsung bangkit dan meninggalkannya, dia segera meraih ponselnya dan menelpon Dion, tapi tidak di angkat.
***
Siska berusaha memasukkan Dion ke kamar yang telah di sediakan, tapi Cindy dan Ara menghalanginya.
Keadaan Dion semakin memprihatinkan akibat obat perangsang yang kelebihan dosisnya, dia semakin tidak sadar diri, berulang kali menyebut nama Ara.
Bukan hanya obat perangsang yang di masukkan siska, tapi juga obat kuat lainnya.
Ara merasakan getaran pada pada tasnya.
Dia segera mengambil ponselnya melihat nama Moly di layar, Ara segera mengangkatnya .
"Halo ..
"Beraninya kau menemui laki laki brengsek itu lagi Ara." teriak Rafa dari seberang.
Ara tersentak, ketakutan langsung menghinggapi tubuhnya mendengar teriakkan keras bercampur amarah.
"Kau menemuinya tanpa sepengetahuanku,
kau bahkan tidak izin dariku padahal aku ada di dekatmu." teriak Rafa lagi.
"Sudah berulang kali aku katakan, jauhi bajingan itu, jangan berhubungan lagi dengannya. Tapi sepertinya kau terlalu berani padaku Ara." teriak Rafa keras.
"Katakan ada hubungan apa di antara kalian? hah? katakan Ara...katakan." teriak Rafa kembali .
Ara kembali tersentak, tubuhnya gemetaran .
"Ti tidak ada kak, a aku tidak ada hubungan apapun dengan kak Dion. Dia hanya temanku."
"Pembohong, kau pembohong Ara." teriakan bercampur kesedihan .
"Su sungguh kak, aku tidak berbohong." ucap Ara terbata bata semakin takut.
"Kau memang seorang pembohong, kau pikir aku percaya padamu? kau berpelukan dengannya, dan dia menciummu."
Ara terbelalak
"Berpelukan dan berciuman?"
"Sekarang katakan di mana kalian?"
" Aaku akan segera ke sana kak, kakak tidak perlu kemari."
"Kenapa? kau ingin melindunginya? hahaha..
bagus sekali Ara ...kau takut aku akan membunuhnya? ternyata kau sangat perduli padanya kan ?"
"Tidak seperti itu kak, Sungguh...,"
"Cepat katakan dirimu, jangan banyak bicara." kembali berteriak keras.
Ara Segera menyebutkan keberadaan mereka
dengan ketakutan yang semakin bertambah.
Dia khawatir bagaimana jika suaminya akan melakukan hal buruk pada Dion dan Cindy .
"Aauww ..." terdengar jeritan Cindy.
Ara terkejut dan segera masuk ke dalam kamar. Dia melihat Cindy jatuh di lantai sambil memegang punggungnya, akibat dorongan keras Sisk.
"Cindy..." jeritnya keras, dia segera mendekat.
"Jangan pedulikan aku Ra, selamatkan kak Dion dari Siska, cepat ambil kak Dion darinya. Dia telah memberikan obat perangsang pada kak Dion, aku khawatir dia akan menjebak kak Dion, karena dia menyukai kak Dion."
Hah? Ara terbelalak.
"Cepat Ra " teriak Cindy kembali melihat siska hampir mencapai pintu.
Ara cepat berlari dan menarik rambut Siska keras. Siska menjerit kesakitan.
Ara segera menarik kuat tubuh Dion yang memeluk Siska sambil memanggil namanya,
Dion mengira Siska adalah dirinya.
Pelukan Dion terlepas.
Terjadi adu otot di antara mereka memperebutkan Dion.
Cindy segera mendekat memberi bantuan
"Kau memang wanita murahan Siska, kau wanita rendah. Kau melakukan cara kotor ini untuk memiliki kak Dion? Aku tidak akan membiarkan mu menjebak kak Dion dengan permainan kotormu." teriak Cindy keras sambil menampar kuat Siska. Lalu mencekal erat tangan Siska.
"Cepat singkirkan kak Dion darinya Ara. Bawah kak Dion ke dalam, aku akan menyeret wanita rendah Ini keluar." teriak Cindy Kembali.
Ara Segera menangkap tubuh Dion. Dan membawanya masuk ke dalam untuk di jauhkan dari Cindy dan Siska yang saling serang menyerang di depan pintu.
Cindy menendang tulang kering siska dengan kuat. Siska menjerit-jerit kesakitan
Cindy menendang kaki yang satunya lagi.
Siska kembali menjerit dan jatuh terduduk di lantai sambil memegang kakinya.
Cindy segera menarik tangannya kuat keluar dari pintu kamar, lalu menutup pintu kamar dari luar.
Dia segera menyeret tubuh Siska menuju balkon tadi.
Di kamar, Ara segera memapah tubuh Dion untuk di baringkan ke atas ranjang.
"Ara... Ara...," ucap Dion di antara ketidak sadarannya.
"Sebaiknya kakak berbaring saja."
Dion semakin merasakan gairah seksualnya meningkat, dia semakin tidak sadar dengan keadaan dirinya.
Dia memeluk tubuh Ara tiba tiba hingga keduanya jatuh dia atas tempat tidur, dengan posisi tubuh Dion di atas menimpa tubuh Ara yang berada di bawahnya.
"Ara.. " Dion mencium bibir Ara.
Ara terkejut dan segera memalingkan wajahnya menghindari ciuman.
Dia berusaha mendorong tubuh Dion dari atasnya, bertepatan pintu kamar di buka dengan keras.
Masuklah Rafa, Moly, Rizal dan Wisnu.
Melihat mereka berdua di atas ranjang saling tindih.
__ADS_1
*****
Terimakasih yang sudah mampir ππ