
Maya melepaskan pelukannya pada anak anaknya
"Ayo nak, potong kuenya." ucap wanita paruh baya itu.
"Ayo kak, aku sudah tidak sabar ingin mencicipinya." seru Raka menarik tangan kakaknya ke depan kue.
Ara berdiri memberi tempat duduk pada ibu mertuanya, dan ke dua kakak iparnya.
Ketiganya segera duduk di sofa, Rafa duduk di tengah di antara mama dan kakaknya.
Raka duduk di bawah depan mereka di batasi meja.
Rafa meraih pisau dan piring kecil, kemudian segera memotong kue dan meletakkan di atas piring, dia menoleh pada Maya.
"Semoga mama sehat terus, jaga kesehatan." ucapnya seraya menyuapi mamanya .
"Iya nak." Maya menyapu kepala anaknya, lalu balik menyuapi Rafa.
Rafa menggigitnya sedikit karena dia tidak suka kue.
Maya juga menyuapi Nesa dan Raka.
"Bos aku juga mau dong kuenya." seru Rizal
"Ambil sendiri, punya tangan kan ?"
"Hey bos, aku juga mau di suapin olehmu." celetuk Rizal kembali.
Rafa melemparkan bantal sofa kearahnya
"Nih ambil dan makanlah." tersenyum sinis.
Rizal segera menangkapnya dengan kesal.
Ara tersenyum melihat ulah keduanya,
__ADS_1
dia mengambil sedikit kue dan memberikannya pada Rizal.
"Terima kasih Ara ku yang cantik jelita harum mewangi sepanjang hari, hanya kau yang baik dan mengerti aku di rumah ini." ucap dokter itu sambil menatap mesra pada Ara, dia mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum.
Ara tertawa kecil dengan godaan dokter muda ini. Raka yang mengerti akan sifat dokter itu hanya tersenyum.
"Wah kuenya enak bangat." ucap Rizal begitu mencicipinya.
Ara juga memberikan kue pada Wisnu yang sejak tadi berdiri terus.
Raka memperhatikan kakaknya yang terus mencicipi kue ulang tahunnya.
"Kakak suka?" karena dia tahu Rafa tidak suka kue.
Rafa mengangguk
"Enak."
"Benarkah?"
"Kau belinya di mana?"
Raka tersenyum
"Aku tidak membelinya, aku punya koki profesional yang membuatnya."
"Oh ya? Siapa?" Maya ikut bertanya penasaran, karena dia juga menyukai rasa dari kue ini.
Raka menoleh pada Ara yang sibuk mengobrol dengan Rizal.
"Sayang, kemari lah."
Ara bangkit setelah pamit pada Rizal.
"Duduklah di sampingku." Raka menepuk tempat kosong di sampingnya, Ara mengikuti perintah suaminya, duduk di lantai beralaskan karpet.
__ADS_1
Karena saling berhadapan, matanya menatap ketiga orang yang duduk di depannya secara bergantian.
"Kakak, inilah chef profesional yang telah membuat kue ulang tahunmu." kata Raka dengan senyuman merekah.
Ketiganya menatap Ara.
Maya dan Nesa tidak begitu terkejut, mereka memang tahu Ara pintar memasak karena dulu ia pernah bekerja di sebuah kafe, tapi mereka tidak menyangka kalau gadis ini bisa juga membuat kue selezat ini.
"Kakak berlebihan." bisik Ara pelan.
Dia menunduk karena menjadi pusat perhatian ke tiga orang di di depannya, terutama Rafa yang sejak tadi menatapnya dengan mulut yang tanpa berhenti mengunyah.
"Sayang, kak Rafa sangat menyukai kue buatan mu, aku meminta padamu untuk kedepannya setiap kali kakak ulang tahun buatlah kue untuknya. Kau tahu? dia tidak pernah mencicipi kue ulang tahunnya setiap kali berulang tahun, jadi aku minta kau harus membuatnya yah ? ayo sayang berjanjilah." pinta Raka.
Apa iya kuenya se enak itu? batinnya.
Dulu waktu kerja di cafe, manajer dan rekan kerjanya juga mengatakan kalau kue buatannya sangat enak dan di sukai pelanggan.
Ara menggigit bibir bawahnya sesaat, lalu perlahan mengangkat wajahnya menatap Rafa yang juga sedang menatapnya.
Ia melepaskan gigitan di bibirnya.
"Kalau kakak ipar menginginkannya, aku akan membuatnya." katanya kemudian.
"Sudah pasti kakak mau sayang, lihat tuh kue mu hampir habis di lahapnya." Raka menunjuk tempat kue tart yang tinggal tersisa hiasannya saja. Ara melihatnya memang telah ludes.
Dia mengalihkan tatapannya ke arah Rafa, meminta persetujuannya .
"Keluarlah .." ucap Rafa menatapnya.
Ara kaget dengan dengan mata membulat .
"Apa dia menyuruhku keluar? emangnya apa lagi salahku?" batin Ara.
********
__ADS_1
ππππ