Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode. 181


__ADS_3

...Happy Reading....


Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk rumah utama. Jantung Ara berdebar kencang karena takut. Sejak meninggalkan panti tadi, hatinya tidak tenang. Rafa mengajaknya untuk pulang ke rumah utama. Sebenernya dia sudah menolak, dia ingin tinggal saja di panti, tapi Rafa tidak mengizinkannya. Rafa memaksanya untuk kembali ke rumah utama Artawijaya karena statusnya sebagai menantu Artawijaya yang selayaknya tinggal di sana.


Ara kaget saat tangan Rafa menyentuh tangannya."Mari kita turun." kata Rafa lembut.


Ara menelan ludahnya yang terasa pahit. Dia memberanikan diri menatap Rafa.


"A-aku takut kak. Aku tinggal di panti saja, aku sangat takut bertemu mama." ucapnya lirih.


Rafa memegang kedua tangannya dengan lembut. Dia mengerti apa yang di rasakan Ara.


"Kau adalah istri ku sekarang. Sudah sepantasnya kamu tinggal di rumah ku. Tidak ada yang perlu kau takutkan, tidak akan ada yang berani berlaku buruk padamu termasuk mama." meyakinkan Ara.


Ara menatapnya lekat, mencari kekuatan dari perkataan dan wajah Rafa.


"Percaya lah padaku. Kau akan aman tinggal di rumah ini. Tidak akan yang berani memperlakukan mu buruk, juga menyakiti mu termasuk mama. Aku akan menjaga dan melindungi mu." ucap Rafa kembali.


Ara menatap Rafa beberapa saat, meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja seperti perkataan Rafa.


"Ayo kita turun." ajak Rafa kembali.


Ara mengangguk lemah meski berat hatinya dan ragu.


Rafa tersenyum. Dia memperbaiki posisi kaca mata Ara, menyelipkan rambut keriting ke belakang telinga Hingga matanya menangkap beberapa tanda keunguan di area leher dan dada Ara. Tanda tanda hasil karya bibirnya dua malam kemarin yang di lakukan di kamar mandi ruang kerjanya dan di atas ranjangnya. Rafa tersenyum melihat hasil karyanya itu yang terlihat indah.


Selanjutnya dia melihat pada Wisnu.


"Panggil dua pelayan untuk membawa si kembar ke kamar mereka." perintahnya.


"Baik tuan." Wisnu segera memberi isyarat pada pak Sam untuk menyuruh dua pelayan mendekat.


Si kembar tertidur saat perjalanan pulang dari panti. Setelah selesai shalat subuh mereka pamit untuk kembali ke rumah utama.


Rafa segera keluar dari mobil. Ara juga ikut turun dengan di tuntun Rafa.


Para pelayan, sopir dan petugas keamanan nampak berjejer rapi di depan pintu masuk dengan kepala menunduk.


"Apa semua sudah berkumpul?" tanya Rafa.


"Sudah tuan." jawab Wisnu.


Yang di maksudkan Rafa adalah Maya dan Nesa.


Rafa meraih tangan Ara dan menggenggamnya erat, lalu dia segera melangkahkan masuk membawa istrinya berjalan di sampingnya.


"Selama pagi Tuan, selamat pagi Nona Muda, selamat datang." sapa para pelayan, sopir dan petugas keamanan sopan dengan kepala menunduk.


Mata mereka mencuri pandang pada genggaman tangan Rafa pada Ara saat keduanya lewat masuk ke dalam.


"Dengar kalian semua. Nona Ara sekarang sudah menjadi istri sah Tuan Rafa dan menantu Artawijaya. Nona adalah Nona muda yang sah di rumah ini. Hormati, layani dan perlakukan Nona Muda dengan baik. Jaga Nona muda seperti menjaga diri kalian, faham?" kata Wisnu menatap tajam mereka satu persatu.


"Faham sekretaris Wisnu." jawab mereka serempak di antara keterkejutannya masing masing. Tanpa di perintah pun mereka akan melayani Ara dengan baik. Karena mereka suka dan menyayangi Ara. Wajah mereka terhias senyum setelah mendengarkan status Ara yang kini menjadi istri dari Rafa.


"Kembali ke tempat tugas kalian." kata wisnu kembali, lalu segera menyusul tuannya dengan langkah cepat.


Rafa melangkah dengan tegap penuh semangat menuju ruang makan. Di sana sudah terlihat Maya dan Nesa duduk di meja makan, di temani pak Sam, para pelayan dapur dan koki.


"Selamat pagi Tuan Rafa, selamat pagi Nona Muda, selamat datang." sapa Sam dan para pelayan dan juga koki dengan sopan begitu mereka mendekati meja makan.


Ara membalas sapaan mereka dengan senyuman, lalu dia melihat pada Maya dan Nesa dengan takut.


"Selamat pagi Ma, selamat pagi kak Nesa." sapanya sopan seperti biasa, tapi ada rasa takut yang berusaha di tekan.


Maya bergeming, dan melengos mengalihkan pandangan ke piring makannya di depan.


Nesa menatap ke arah mereka."Apa si kembar tidur nyenyak semalam?" bertanya. Karena mengingat Rafa dan Ara baru menikah dan sudah pasti melakukan pertama. Dan si kembar tidur bersama mereka.


Ara sedikit kaget.


"I iya kak, mereka tidur dengan pulas. Keduanya tidur bersamaku." jawabnya segera.


Rafa segera melangkah ke meja makan, berdiri di depan Maya dan Nesa sambil memegang tangan kanan Ara tanpa melepas.


"Aku ada kabar bahagia untuk kalian semua." ujar Rafa kemudian menatap mereka satu persatu, meski dia tahu mamanya sudah mengetahui kabar bahagia apa yang akan di sampaikan.


"Aku dan Ara sudah menikah kemarin di rumah orang tua Ara, tepatnya di mesjid panti asuhan Az-Zahra milik Ara. Kami sudah sah menjadi pasangan suami istri. Mulai sekarang Ara adalah menantu Artawijaya, menantu yang sah di rumah ini. Dia adalah istriku, aku sangat mencintainya, dia sangat berharga untuk ku. Kalian semua yang ada di sini dengarkan perkataan ku baik baik...termasuk juga mama." Rafa menatap datar pada Maya yang masih dengan tatapan ke piring di depannya.


"Hormati dan perlakukan istriku dengan baik. Setiap perkataan dan ucapan yang keluar dari mulutnya, adalah perintahku. Jangan sampai kalian berbuat buruk dan menyakitinya dengan kata kata dan perbuatan. Jangan sampai aku melihat dia menangis, meneteskan air mata di rumah ini. Kalian dengar itu?" kata Rafa tegas dengan nada mengandung ancaman.


"Mengerti Tuan." jawab mereka serempak.


kecuali Maya dan Nesa.


Pak Sam tersenyum senang mendengar perkataan Tuannya.


Maya menelan ludah, membawa pandangannya menatap pada genggaman tangan Rafa pada Ara. Pegangan yang menyiratkan perlindungan pada Ara.


Sedangkan Ara sedari tadi terus menunduk, menekan rasa takut dan gemetar. Untung saja Rafa memegang tangannya kuat, kalau tidak tubuhnya pasti sudah jatuh melorot kebawah. Karena kedua ruas tulang keringnya di rasa lemah sudah tidak tersambung.


"Mari kita mulai makan." lanjut Rafa kembali.


Dia menarik kursi Ara yang berada dekat dengan kursinya dan mendudukkan tubuh istrinya. Ara merasakan canggung dan tidak nyaman di perlakukan seperti ini. Lalu Rafa segera duduk di kursi kebesarannya yang sudah di tarik Wisnu.


Pak Sam dengan sigap dan penuh semangat menyiapkan makanan tuannya, senyuman bahagia tak lepas dari wajahnya. Semuanya tampak bahagia kecuali Maya.


Semuanya makan dengan tenang.


"Sayang, makanlah yang banyak." ujar Rafa seraya membawa sandwich tuna di depan Ara.


Ara tersedak, terkejut mendengar panggilan Rafa kepadanya, dia batuk-batuk.


"Sayang, pelan pelan makannya." ujar Rafa sambil menepuk punggung Ara pelan, lalu dia segera mengambil air minum.


"Minumlah." katanya dengan raut wajah cemas. Ara segera meneguknya pelan pelan.


"Udah baikan?" tanya Rafa kembali sambil menyapu lembut sisa air di seputar bibir istrinya.


Ara merasa canggung dan salah tingkah karena menjadi pusat perhatian semua orang, termasuk Maya dan Nesa.


"Aku baik." jawabnya pelan sambil menunduk menghindari tatapan mata semua orang.


Rafa segera menyentuh tangannya dibawah meja, memegangnya lembut sambil menatapnya tersenyum. Karena dia tahu apa yang di rasakan Ara saat ini.


Maya tiba tiba bangkit dari duduknya


"Mama sudah selesai." lalu beranjak menuju kamarnya. Padahal dia belum menyentuh makanan sama sekali.


Ara melihatnya dengan tatapan sendu.


"Aku juga sudah selesai." kata Nesa bangkit berdiri. Dia memang sudah selesai sarapan tapi hanya segelas susu almond.


"Ara, aku mau minta tolong padamu." katanya pada Ara.


Ara menatap kearahnya" Kak Nesa ingin minta tolong apa?"


"Aku akan memberitahukan nanti lewat pesan." kata Nesa.


"Iya kak." Ara mengangguk.


Nesa segera melangkahkan kaki untuk pergi ke tempat kerjanya.


"Kakak ipar, aku mau ke atas." kata Ara setelah selesai sarapan.


"Ayo, aku antar." Rafa bangkit.


"Nggak usah, aku sendiri saja. Kakak juga mau kekantor kan? Pergilah, aku akan meminta bantuan pak Sam." tolak Ara.


"Nanti siang aku ke kantor. Aku juga mau mandi," Rafa menarik tangannya untuk berdiri.


Ara bangkit dari duduknya, mengikuti tarikan tangan Rafa. Mereka berjalan menaiki tangga.


Saat tiba di atas Rafa menarik tangannya yang hendak berbelok menuju kamar Raka.


"Mulai sekarang kamu akan tidur di kamarku." kata Rafa.


Ara terhenyak.


"Semua pakaian dan barang mu sudah di pindahkan ke kamarku." kata Rafa kembali.


Ara geleng geleng kepala.


"Nggak, aku mau tidur di kamarku." kata Ara sedih, dia segera berbalik dan berlari ke arah kamarnya dengan Raka.


"Ara..." seru Rafa segera menyusul istrinya.


Ara berlari cepat. Dia langsung membuka pintu kamarnya, tapi pintu itu tidak bisa di buka karena terkunci. Ara kembali memutar handle pintu tapi tetap tidak terbuka. Dia mulai terisak.


"Kenapa pintunya nggak bisa di buka? Siapa yang menguncinya?" ujarnya panik.


Ara segera mengambil ponselnya menghubungi Pak sam, kali aja pak Sam yang menguncinya.


"Ara ...." ucap Rafa begitu tiba di dekatnya.


"Kak, pintunya terkunci. Nggak bisa di buka." ucapnya terbata bata dengan air mata yang sudah jatuh.


"Pak Sam?"


"Ya Nona." sedang berada di dapur.


"Kunci kamarku di mana? Apa sama bapak? Tolong di antar ke atas ya? Aku mau masuk tapi pintunya terkunci."


Rafa segera mengambil ponsel Ara setelah wanita itu mematikan telepon.


"Ara, aku yang menyuruh pak Sam mengunci kamar mu dan kamar Raka. Kau sekarang adalah istriku, sudah sepantasnya tidur di kamarku."


Ara geleng geleng kepala."Nggak, aku nggak mau. Aku mau tidur di kamarku. Kamarku dan kak Raka. Aku tidak mau pindah ke kamar yang lain. Tolong buka kamarku." ujarnya mulai menangis


"Aku nggak mau meninggalkan kamar itu.


Di dalam kamar itu banyak kenangan ku bersama suamiku." terisak, sesegukan.


"Ara ..." ucap Rafa sendu, sakit, sedih, dia tidak menyangka begitu dalamnya cinta Ara pada Raka, bahkan tidak perduli dengan perasaan dirinya yang sekarang adalah suaminya. Sengaja dia mengunci pintu kamar itu agar Ara bisa melupakan segala kenangan bersama Raka dan tidak berlarut-larut terus dalam kesedihan.


Tubuh Ara melemah melorot ke bawah. Dia terduduk di depan pintu, sesekali tangannya mengetuk daun pintu, sambil terus menangis.


"Buka kakak, aku mohon. Aku sudah mengikuti keinginan kakak untuk menikah. Kakak juga sudah berjanji tidak akan melarang ku untuk terus mencintai kak Raka, tapi kenapa kakak malah ingin memisahkan aku dari segala kenangan ku bersamanya? Aku sudah kehilangan dirinya, aku sangat kehilangan dan menderita. Jangan lagi mengambil segala kenangan dirinya bersamaku. Huhuuuuuu huhuuuuuu...," kata Ara di sela isak tangisnya.


Rafa membuang nafas berat, hatinya sesak dan sakit. Tapi hatinya lebih sakit melihat air mata Ara yang terus mengalir. Dia yang memberi perintah dan ancaman kepada semua orang rumah untuk tidak membuat Ara mengeluarkan air mata, tapi malah dirinya yang membuat Ara menangis. Perlahan dia membungkukkan tubuhnya dan memegang bahu Ara untuk berdiri.


"Berdirilah, pintu kamarmu akan segera dibuka." ucapnya lirih.


Secercah senyuman langsung menghiasai wajah sedih Ara.


"Benarkah kakak akan membukanya?"


Rafa mengangguk tersenyum sekilas.


Wajah sedih Ara berubah menjadi cerah.


"Terima kasih kakak ipar." ucapnya senang sambil menggenggam tangan Rafa.


Kembali Rafa menelan ludah pahitnya, menelan kesedihan mendengar panggilan Ara pada dirinya."Kakak ipar? Aku sekarang suamimu." tapi kata kata itu hanya sampai di tenggorokannya.


Sam segera mendekat setelah mendapat isyarat dari Wisnu. Dia langsung membuka pintu kamar Nona mudanya.


"Terimakasih pak Sam." ucap Ara tersenyum sumringah.

__ADS_1


Ara segera masuk dengan langkah penuh semangat, tapi begitu tiba di dalam wajahnya berubah mendung, sedih kembali. Kamar ini terlihat sepi menyedihkan karena tak ada lagi sosok Raka yang dijumpainya. Ara menuju ruang walk in closet. Ruangan yang di khususkan untuk lemari pakaian dan lainnya. Dia membuka lemari pakaian. Maksud hati ingin mengambil pakaian Raka untuk di peluk di cium untuk menghilangkan rasa rindu. Dia terkejut melihat tak ada lagi pakaian. Hanya tersisa pakaian Raka, wajahnya berubah sedih. Ara teringat kata kata Rafa tadi, yang mana pakaiannya telah di pindahkan ke kamar Rafa.Dia meraih kaus almarhum lalu di ciumnya dengan perasaan yang sangat dalam, di peluknya dengan penuh kasih sayang.


Dia juga mengecup gambar foto wajah Raka yang terdapat di meja ruang itu.


"Kakak akan selamanya di hatiku." gumamnya sambil tersenyum bahagia.


Rafa tak bergeming melihatnya. Satu tetes air mata mengalir di ujung mata kirinya, cepat dia berbalik dan menyapunya.


"Ara, aku ke kamarku dulu." ujarnya langsung melangkah pergi tanpa mendengar lagi balasan suara Ara.


Dia harus lebih keras lagi mencari cara agar Ara mau membuka hati untuknya dan melupakan Raka.


Ara tersenyum lega saat melihat sebuah dress rumahan miliknya yang dulu di belikan suaminya terselip di atara baju baju suaminya. Dia segera mengambil baju itu lalu mengganti pakaiannya. Sesaat dia berdiri memperhatikan baju selutut berlengan pendek mempunyai banyak kancing di depan.


Ingatannya melayang ke beberapa waktu yang lalu saat mereka pergi ke pasar murah.


Murah tapi terlihat imut sangat cocok di tubuh ramping dan kulit putih istrinya, membuat Raka jatuh hati dan membeli dress rumahan itu di samakan dengan kous coklatnya.


Ara tersenyum terharu mengingat masa itu,


di berputar putar di depan cermin kayak penari balet.


.


.


Di sebuah apartemen.


"Datanglah, ada yang ingin ku bicarakan denganmu." kata Levina pada orang yang di seberang.


"Kalau mengenai bayi kita, aku tetap pada pendirian ku." kata Alex.


"Alex sayang, ini tentang masa depan bayi itu, ayo datang." ujar Levina merayu.


"Aku juga sangat merindukanmu sayang. Lagi pula kita sekarang adalah suami istri, seharusnya kita tinggal bersama dengan anak kita. Sungguh aku menyesal, walau bagaimana pun aku hanyalah manusia biasa yang tidak lepas dari khilaf. Cepatlah datang, aku menunggumu." kata Levina. Lalu mematikan telepon.


LEVINA meremas kuat ponselnya.


"Kau berani mengkhianati ku Alex." menekan amarahnya. Dia sangat yakin Alex akan datang, karena laki laki itu sangat mencintai dirinya dan juga tubuhnya. Dia sudah menyiapkan satu rencana jahat untuk Alex.


.


.


Di rumah utama. Pintu kamar di ketuk 4 kali.


"Masuklah." terdengar suara dari dalam kamar.


Ara membuka pintu."Kakak ipar." ujar Ara.


Dia terkejut melihat keadaan Rafa yang hanya memakai handuk menutupi bagian pribadi saja. Sepertinya kakak iparnya itu baru selesai mandi.


"Ada apa?" Rafa menoleh kearahnya sambil menyeka rambutnya dengan handuk kecil.


"Nanti aja kak aku kesini." kata Ara merasa canggung dengan keadaan tubuh Rafa.


Dia segera berbalik dan melangkah.


"Ada apa?" tanya Rafa kembali membuat langkahnya terhenti.


Ara kembali berbalik.


"Aku ingin mengambil pakaian ku."


Mata Ara teralihkan pada taburan bunga mawar merah segar yang berada di atas ranjang yang berbentuk hati. Ruang kamar ini terhias indah layaknya kamar pengantin.


"Masuklah. Bantu aku untuk bersiap ke


kantor." kata Rafa.


Ara melongo, mata bulat.


"Aku?"


"Iya, kamu kan istriku. Bukankah itu sala satu tugas dan kewajiban mu sebagai istri?" Rafa berjalan mendekatinya yang diam terpaku di pintu. Rafa Menarik tubuhnya kedalam, lalu mengunci pintu.


Ara terkejut dan tersadar setelah berada di dalam.


"Sudah seharusnya kamu menyiapkan segala keperluanku dan juga..." Rafa mendekatkan wajahnya di depan wajah Ara.


"Melayani semua kebutuhan ku....." bisiknya sambil tersenyum menggoda.


Mata Ara membulat, menangkap maksud lain dari perkataan Rafa. Dia mundur selangkah, lalu segera berbalik. Jari jemarinya menekan tombol angka untuk membuka pintu depan cepat. Pintu terbuka, tapi sebelum ia sempat keluar, Rafa segera menyergap tubuhnya dari belakang. Lalu mengunci pintu kembali. Kemudian dia mengendong tubuh Ara di atas pundaknya dan di letakkan di atas meja rias.


Ara terhenyak dalam duduknya, nyalinya seketika menciut. Rafa mendekat kan tubuhnya dan mengurung tubuh Ara dengan kedua tangannya.


Ara menarik tubuhnya kebelakang, tapi malah mentok tersandar di kaca.


"Kakak ipar .." ujarnya panik.


Cup... Rafa mengecup bibirnya mendengar dua kata itu.


Ara terkejut.


"Kakak mau apa?" ucapnya gugup


"Kau pasti sudah tau apa yang aku mau


sayang." bisik Rafa kembali menatap kedua matanya dengan menyiratkan arti.


Ara jadi tidak tenang, dadanya turun naik dengan nafas memburu tak beraturan.


"Kenapa? Kamu takut?" ujar Rafa kembali dan mengecup bibirnya.


"Apa yang kamu takutkan? Bukannya kau sering melihat tubuhku telanjang seperti ini? Baru kemarin malam kau melihatnya dengan sangat dekat dan kamu masih takut juga?" Rafa memegang kedua tangan Ara yang gemetaran, membuka telapak tangan nya dan di usapkan lembut pada dadanya. Ara menarik tangannya tapi Rafa menahannya.


"Kakak ipar, jangan seperti ini, kau membuatku takut."


"Takut?" Rafa menyentuh bibirnya yang merah merekah karena kena gigitan.


"Aku suamimu sayang, bukan lagi kakak iparmu, kenapa kau takut? Kita sudah menikah, kita sah menjadi suami istri. Apa yang kau takutkan." ucap Rafa kembali terus menyentuh bibirnya.


Ara geleng geleng kepala. Dia mendorong tubuh Rafa sekuat tenaganya.


"Jangan sentuh aku." mulai gelisah.


"Kenapa? Aku suamimu, aku berhak melakukan apapun padamu." Rafa membuka paksa kedua kaki Ara dan memasukkan tubuhnya di antara kedua paha itu. Karena sejak tadi kedua paha itu digunakan Ara membatasi tubuh mereka.


Ara terperangah, dan semakin takut.


"Kemarin aku tidak menyentuhmu, aku tidak melakukan apa-apa padamu selain mencium tubuhmu karena aku tidak tega melihat ketakutan dan kesedihan di matamu. Aku berusaha memendam hasrat ku. Tapi sekarang kau adalah istriku, aku berhak menyentuh mu, melakukan apapun padamu. Aku pria normal, aku tidak bisa menahan hasrat ku kepada mu."


"Jangan kak, aku belum siap." kata Ara dengan wajah memelas.


"Lepaskan aku." Dia kembali mendorong tubuh Rafa, tapi jangan kan mundur, tubuh Rafa bahkan tak bergerak sedikitpun.


Ara kembali mencari cara lain dengan agar bisa lepas dari kurungan tubuh Rafa dengan mengangkat salah satu kakinya menyamping. Tapi Rafa menahan kakinya.


Pergerakan kakinya membuat pahanya terekspos, bahkan cdnya sampai kelihatan.


Rafa menatap paha putih itu sambil menelan saliva. Tanpa sadar dia menyentuh sala satu paha.


Ara tersentak, segera menahan tanga Rafa


Lalu kembali mendorong tubuh Rafa.


Sentuhan tangan Ara di dadanya malah membuat tubuhnya bergetar merasakan sensasi indah. Dia mengangkat dagu Ara ke atas sejajar wajahnya. Menatap kedua pupil mata Ara lekat. Tatapannya turun ke bibir Ara.


Ara yang dapat membaca arti tatapan itu segera menutup mulutnya dengan kedua tangan. Rafa mendengus kesal, dia memegang kedua tangan dan menurunkannya paksa dan menahannya kuat.


Lalu segera meraup bibir Ara, menyesap kuat rasa manis di sana.


Rafa semakin menekan tubuhnya ke tubuh Ara. Membuat Ara semakin sulit bergerak .


Rafa kembali melu**t bibir Ara , meng*s*p bibir bawah dan atas Ara bergantian. Sala satu tangannya di gunakan meraba raba paha Ara.


Ara berontak berusaha melawan.


Tapi pegangan Rafa semakin kuat di tangannya.


Tenaganya tidak sebanding dengan kekuatan Rafa yang bertubuh tegap tinggi 185cm. Bahunya kokoh dengan dada bidangnya yang putih bersih berotot kini sudah terpampang terbuka di mata Ara.


Lidah Rafa mulai masuk mengeksplor mulut Ara sepenuhnya. Menyesap manisnya mulut Ara. Tangannya mulai bergerilya dari paha menuju bokong tanpa menghentikan ciumannya.


Bahkan dia mulai membuka kancing baju Ara satu persatu.


Dia tidak perduli dengan tangisan Ara dan pukulan pukulan tangan Ara di dadanya .


Hasrat dan nafsu birahinya semakin kuat tak bisa di kontrol.


Dia kembali melanjutkan membuka kancing baju Ara hingga terbuka lebar.


Rafa melihat kedua benda kenyal yang menyembul setengah masih di tutupi bra.


Dia menatap tak bergeming.


Ara sesegukan sambil geleng-geleng kepala.


tubuhnya lemah karena sejak tadi melakukan perlawanan yang tak berarti.


"Ara, aku tidak tahan lagi." menatap lekat dengan nafas memburu cepat.


"Jangan kak, aku mohon jangan." pintanya sendu dan suara lemah.


Rafa perlahan mendekati wajahnya, mengecup keningnya lembut, lalu kembali mel**at bibirnya. Tangan kanannya melepaskan


pakaian Ara dan membuangnya asal ke bawah, hingga tinggal tersisa bra dan CD.


Ara mengumpulkan sisa kekuatannya melawan, tapi percuma. Rafa semakin menahannya kuat, tanpa berhenti menciumi bibirnya.


Bahkan kini ciuman itu sudah merambah ke lehernya. Mengecup dan mencium dengan penuh birahi.


Lidahnya bergerilya memenuhi leher putih yang masih berbekas tanda merah hasil lukisannya kemarin malam.


Ara mendesah tertahan.


Akal sehat Rafa benar benar sudah hilang .


Tangannya meraba-raba bagian punggung Ara, mencari pengait bra lalu melepaskan.


Bra langsung jatuh melorot ke bawah karena tidak memiliki tali, membuat kedua PD Ara langsung terlihat terpampang di depan matanya.


Rafa tak bergeming menatap benda indah yang bulat, kencang, putih dengan pucuknya berwarna merah muda.


Rafa dapat memperkirakan kedua buah itu sangat pas dalam genggaman tangannya.


Berulangkali dia menelan salivanya, bagian bawahnya semakin menegang.


Kedua buah itu seakan menantangnya.


Nafsu birahi sudah menguasai dirinya.


Tanpa mengindahkan tangisan Ara, dia langsung membenamkan wajahnya di kedua buah itu, mengecup lembut memainkan ujung l*dahnya pada nipel, tangannya memegang lembut buah yang satunya , merangkum mer**as memilin nipel Ara.


Ara mendesah sambil meremas kuat rambut Rafa yang basah, memejamkan mata sambil menggigit kuat bibir bawahnya. Dia memeluk kepala Rafa kuat di dadanya, nafasnya memburu cepat.


Lama Rafa bermain di area dada.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya dalam hidupnya menyentuh dan menikmati dua buah benda kenyal indah ini.


Kemarin malam di bawah guyuran air shower ruang kerjanya, dia tidak sampai melakukan hal ini pada Ara. Dia mencium dan memberi bekas tanda di tubuh Ara yang tidak tertutup pakaiannya.


Saat melepaskan pakaian Ara secara paksa, Ara langsung duduk jongkok meringkuk memegang kedua lututnya menutupi kedua buah D, hingga Rafa tidak sempat melihat kedua PD Ara.


Ara yang terus menangis dan memohon membuat luluh hati Rafa.


Dia segera memakaikan handuknya ke tubuh Ara. Lalu menggendongnya ke kamar.


Sampai di kamar dia masih terus melanjutkan cumbuan tanpa menyentuh kedua bagian penting milik Ara.


Karena dia tahu Ara seorang wanita yang rajin beribadah, takut akan zinah dan dosa.


Dan sekarang dia dapat melihat dan menikmati keindahan milik Ara dengan puasnya.


Dia sangat suka dengan bentuk indah kedua PD istrinya ini. Dia terus membenamkan Wajahnya dan bermain lembut dan kadang kasar pada dada Ara.


Ara semakin mendesah meremas rambutnya


"Kakak cukup." pintanya memelas.


Tiba tiba saja Rafa mengangkat tubuh Ara dan dibawah ke ranjang dengan mulutnya tak di biarkan diam, terus ******* bibir istrinya.


Dia hendak melepaskan tubuh Ara ke ranjang, tapi Ara memeluknya kuat tak mau melepaskan pelukannya pada Rafa.


Karena Ara sudah tau apa yang akan di lakukan Rafa kepadanya di atas ranjang.


"Aku nggak mau kak, hentikan. Jangan lagi." pintanya kembali sambil menangis.


"Lakukan saja apa yang kakak mau tapi jangan menyentuh milikku." sela Ara di antara tangisnya.


Bagaimana mungkin, justru bagian penting dari milikmu yang sangat ku butuhkan.


Milikku sudah menegang saat melihatmu masuk tadi, dan sekarang semakin menegang keras dan butuh pelepasan, batin Rafa


"Aku butuh pelepasan sayang."


"Nggak, aku nggak mau." semakin kuat memeluk leher Rafa.


Rafa melepaskan handuknya, lalu menekan kan milik pribadi yang men*gang keras ke tubuh Ara.


Ara merinding merasakannya, pasalnya milik Rafa langsung menghujam mengenai area sens*tifnya, karena saat ini kedua kakinya terbuka melingkar di perut Rafa.


Tapi untungnya saat ini dia masih memakai CD.


Rafa meraba raba punggungnya lembut, mengecup kedua bahunya bergantian. Mengecup daun telinga dan leher Ara bergantian .


"Kau merasakannya sayang? aku sudah gak tahan, aku butuh milikmu. Sekali saja sayang, tolonglah. Aku janji hanya sekali dan nggak akan lama." bisik Rafa lembut di telinganya .


"Aku juga janji akan bermain lembut." sambungnya kembali sambil menyusupkan tangannya masuk memilin nipel Ara yang menempel pada dadanya, lalu mer*mas lembut dengan bibirnya yang terus ******* bibir Ara.


Ara kembali mendesah tertahan sambil meremas rambutnya kuat.


"Kakak ...."


Dia kembali geleng geleng kepala dan semakin menambah pelukannya tak mau turun ke ranjang.


Dia berusaha menaikkan tubuhnya ke atas menghindari milik Rafa dari area miliknya.


Dia sangat merasakan tonjolan itu karena Rafa tidak memakai CD atau boxer, tubuhnya telanjang polos.


Naiknya tubuh Ara ke atas tanpa di sadari membuat dadanya menempel di wajah Rafa, dan tanpa pikir panjang Rafa Kembali melahap dadanya


"Akh Kakak.." Ara mengerang tertahan, tubuhnya menegang.


Dia menggigit bibir bawahnya, meremas kepala Rafa kuat, membenamkan wajahnya di leher Rafa, membuat Rafa geli dan semakin gencar melahap dadanya.


Rafa semakin tidak bisa menahan hasratnya.


Dia butuh milik istrinya sekarang untuk menyalurkan hasrat birahinya yang sudah tidak bisa di tahan lagi.


"Sayang, aku tidak tahan lagi. Kau tentukan saja kita akan main di mana? atau kau mau posisi gaya yang bagaimana? kau lebih suka gaya seperti apa? kau tidak mau main di atas ranjang? atau kita berdiri saja? katakan sayang . aku akan menurutimu, tapi jangan memintaku untuk berhenti, aku tidak kuat lagi. Aku sangat butuh mil*kmu." ujar Rafa kembali dengan lembut.


Dia berpikir mungkin saja Ara punya posisi gaya bercinta yang di sukainya saat melakukannya dulu bersama Raka.


Ara kembali geleng geleng kepala.


"Aku nggak mau melakukannya, aku mau ke kamarku. Kalau kakak masih tetap ingin melakukannya, kakak hubungi saja sala satu wanita kakak diluar sana dan suru kemari." ujar Ara tanpa sadar.


Rafa tersentak mendengar ucapannya. Rahangnya mengeras menatap tajam.


"Araaa ....!" Rafa mengeram marah, darahnya langung mendidih mendengar perkataan istrinya itu.


"Kamu bilang apa? beraninya kau berkata seperti itu padaku suamimu sendiri ? hah..." Rafa menarik kuat kepalanya kasar.


"Kau pikir aku laki laki rendah? aku meminta hak ku tapi kau malah menyuruhku ku memanggil wanita lain datang ke kamar kita untuk melayaniku? keterlaluan kamu Ara."


Dengan sekali tarikan kuat dia melepaskan melepas tubuh Ara yang memeluknya dan di lemparkan kasar ke ranjang.


Ara menjerit keras sambil menutup ke dua matanya saat melihat milik Rafa yang menegang keras di depannya.


Hati Rafa kini di kuasai emosi. Sorotan kemarahan dan pancaran api gairah mencampur jadi satu. Tanpa mengindahkan jeritan dan tangisan Ara , dia langsung menerkam tubuh Ara. Dia kembali menciumi bibir Ara tapi tidak selembut tadi . Ciuman kasar penuh kemarahan.


Bibir dan lidahnya menjelajah menyapu setiap sudut tubuh Ara dengan kasar, tangannya mulai berusaha melepas kan CD Ara.


Ara semakin menjerit histeris .


Ciuman Rafa mulai merambah ke paha mengecup ngecup menciumi hingga ke ujung kakinya.


Rafa kembali merangkak ke atas perut Ara .


Menciumi bagian ramping tubuh istrinya kasar,


tangannya bergerak melucuti paksa CD istrinya.


"Kakak jangan...." Ara berteriak histeris


"Jangan sentuh milikku, aku nggak mau." merasakan CD nya telah lepas.


Dia menutupi bagian miliknya dengan kedua tangannya, tapi Rafa menyingkirkannya dengan kasar.


Ciuman Rafa turun ke bawah, dia membuka paksa kedua paha Ara lalu secepatnya membenamkan wajahnya di sana, mempermainkan mulutnya di sana tanpa rasa Jijik.


Ara kembali menjerit, mendesah, mengerang, tubuh menggelinjang, tangan meremas rambut Rafa kuat, dan menggigit bibir bawahnya kuat .


Air matanya semakin membanjiri wajahnya.


"Hentikan kak, cukup..." mendorong kebawah kepala Rafa, tapi Rafa malah semakin menekan wajahnya, dan semakin liar memainkan bibir dan lidahnya.


Ara semakin mengerang dan menggelinjang di antara tangisannya.


Mungkin Ara tak mau melakukannya, tapi tubuhnya tidak bisa menolak.


Rafa dapat merasakan itu saat menyentuh milik istrinya yang basah.


Tapi dia bingung dan merasa heran, kenapa


Ara tidak mau melakukannya ?


Padahal sudah sangat lama dia tidak bercinta melakukan hubungan intim setelah kepergian Raka hampir setahun lalu.


Rafa juga merasakan ada kejanggalan saat menyentuh milik istrinya ini.


Sangat sempit di dalam sana.


Rafa menarik wajahnya dan segera memposisikan tubuhnya, berlutut di antara kedua paha Ara, dan kembali membuka kedua paha istrinya.


Matanya kembali memandang takjub melihat jelas milik pribadi istrinya yang terlihat indah putih dan berwarna merah muda, tertutup rapat seperti belum di jamah sama sekali .


Dia menelan salivanya, birahinya semakin menggebu-gebu tak dapat di tahan lagi.


"Kakak jangan, aku memohon dengan sangat . jangan sentuh milikku. Maafkan atas perkataan ku tadi, maafkan aku." Ara meminta menghiba melihat kemarahan di mata Rafa yang menakutkan.


Dia meletakkan kedua tangannya di depan dada memohon dengan derai air mata.


"Aku mohon jangan....


Sungguh sakit yang di rasakan Rafa mendengar penolakan ini. Dia kembali mengeram keras dan membuka paha Ara paksa dan perlahan mulai memajukan miliknya menyentuh milik Ara.


Ara menjerit-jerit keras saat merasakan ujung milik suaminya menyentuh permukaan miliknya yang hendak di dorong masuk.


"Tidak jangan kakak, jangan aku mohon!jangaaaan." menangis keras.


Rafa tak perduli dengan jeritannya. Dia mendengus kasar.


"Kak Raka, kak Rakaaa...tolong aku.


Tolong aku kaaaak....kak Rakaaa ." jeritnya keras memanggil nama almarhum suaminya.


Rafa tersentak.


Dia langsung menghentikan aksinya, menatap pada Ara yang menangis histeris ketakutan sambil menyebut terus nama Raka .


Rafa kembali mengeram kuat penuh amarah.


Segera dia bangkit dan memakai handuknya, lalu meraih selimut dan menutupi tubuh Ara. Kemudian segera menuju kamar mandi.


Hatinya sangat sakit, dadanya sesak bergemuruh kuat, rahangnya mengeras menahan kemarahannya.


Tanpa sadar dia meninju ninju kuat cermin di depannya hingga retak dan pecah berjatuhan. Tak dipedulikan kepalan tangannya yang luka dan mengeluarkan darah banyak dan kemasukan serpihan kaca. Dia terus meninju dan memukul apa yang di depannya.


Ara menutup kedua telinganya saat mendengar bunyi pecah di dalam sana dan juga suara geraman Rafa yang keras.


Tubuhnya meringkuk di bawah selimut, dia menangis sesegukan sambil terus menyebut nama Raka .


Tapi tidak lama kemudian dia segera bangun dari ranjang, memungut dan segera memakai pakaiannya. Kemudian dia mengambil beberapa pakaiannya di lemari Rafa.


Lalu segera keluar berlari ke kamarnya, mengunci pintu dan bersembunyi di dalam selimut sambil menangis ketakutan.


Setelah selama sejam merendam diri dan juga meredam kemarahannya di dalam bathtub, Rafa segera mengguyur tubuhnya, lalu segera keluar. Di dapatinya ranjang telah kosong.


Ara tak ada lagi, dia mendesah sedih.


"Kenapa kau tidak bisa membuka sedikit saja hatimu untukku?" desisnya lirih.


Lalu mengambil ponsel menekan sesuatu.


Dua menit kemudian masuklah Wisnu.


Wisnu terkejut melihat darah yang mengalir di ruas jari tangan tuannya, dan jatuh menetes berceceran di lantai .


Wisnu segera mengambil kotak obat, lalu segera berlutut di hadapan tuannya yang duduk di sofa.


Wisnu melihat sekilas wajah tuannya yang di penuhi kemarahan tapi juga kesedihan yang mendalam.


"Di mana Ara ?"


"Tadi saya melihat nona muda berlari ke kamarnya sambil membawa beberapa pakaian nya." jawab Wisnu sambil membersihkan luka tuannya dari beling beling kaca yang menempel di daging tangannya.


"Apa dia menangis ?"


Wisnu menjawab dengan menundukkan kepalanya sesaat.


Rafa membuang nafasnya kasar lalu menyandarkan kepalanya di sofa sembari memejamkan matanya.


*******

__ADS_1


Terimakasih yang masih setia dengan karya author πŸ™πŸ™ jangan lupa like komen dan votenya yaa πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2