
Dion sibuk di dapur untuk memasak makan malam. Dia membuat nasi goreng dan telur ceplok kecap manis yang selalu di buat Cindy untuknya.
Cindy sedang tidak sehat dan sementara tidur. Dion tidak tega memintanya untuk memasak.
Sejam berkutat di dapur, makanan pun matang.
Dia segera ke kamar untuk membangunkan Cindy.
"Gadis itu pasti lapar karena muntah muntah tadi. Semua makannya di perutnya di keluarkan, wajahnya juga pucat, tubuhnya lemas sudah pasti dia lapar," batin Dion.
Dion masuk dan duduk di pinggir ranjang. Dia menatap wajah cindy yang keringatan. Sebagian wajahnya tertutup rambut. Dion segera menyingkapnya dan melap keringatnya.
"Cin.. Cindy...!" memanggil pelan.
"Cindy, bangun, makan dulu." menggoyang pelan tangan Cindy.
Perlahan Cindy bergerak dan membuka mata.
"Ada apa kak?"
"Ayo bangun, makan dulu. Kamu pasti lapar ! Kakak sudah masak makanan kita. Mari kita makan sama sama."
Cindy menggeliat sambil menguap
"Aku gak lapar, kakak saja yang makan."
"Gak lapar gimana? Kamu muntah muntah tadi. Semua isi perutmu keluar dan pasti kosong. Wajahmu juga pucat, tubuhmu dingin, keringat mu mengalir terus, sudah pasti tubuhmu lemas karena lapar."
"Aku gak nafsu makan. Aku juga gak lapar ! Aku malas bangun, aku mau tidur saja." kata Cindy seraya menutup wajahnya dengan bantal.
"Kamu gak bisa tidur dengan perut kosong begitu! Ayo...!" Dion segera meraih tubuhnya dan mengangkatnya.
"Eh kak ???? " Cindy terkejut
"Kakak ngapain ? Turunin aku."
"Aku gendong ke dapur, tubuhmu pasti lemah untuk berjalan." Dion melangkah menuju meja makan tanpa menurunkan tubuhnya.
Mulut Cindy berkata tidak, tapi tubuhnya tidak menolak gendongan ini. Entah kenapa dia sangat suka dengan aroma tubuh kakak sepupunya ini. Dia diam dalam gendongan Dion, tak meminta untuk di turunkan lagi. Perlahan dia memeluk leher Dion sambil menyesap aroma wangi tubuh Dion.
Dia ingin sekali terus memeluk dan mencium aroma tubuh ini, tapi Dion segera mendudukkan bokongnya di kursi karena mereka telah sampai di meja makan.
Di atas meja sudah tertata dua piring nasi goreng, Air dan susu fulcream.
Dion Segera duduk di depannya.
Perut Cindy tiba tiba mual melihat nasi goreng yang ada di depannya. Dengan cepat dia berlari ke wastafel dan muntah. Dion terkejut dan segera mendekatinya. Dia menepuk nepuk punggung gadis itu.
Cindy terus muntah tanpa apa pun, hanya air ludah saja. Karena tidak ada lagi makanan yang ada di perutnya, lehernya terasah sangat pahit. Cindy menekan perutnya yang sakit dan terus muntah.
"Kamu kenapa Cind ?" tanya Dion kelabakan dan panik. Dia cepat mengambil air minum.
"Kamu minum dulu, ayo."
Cindy geleng kepala sambil membasuh wajahnya. Cindy tetap menundukkan wajahnya ke wastafel, satu tangannya menopang tubuhnya ke wastafel agar tidak jatuh. Nafasnya memburu cepat, keringat dingin kembali membanjiri wajah dan tubuhnya yang gemetaran.
"Minum dulu walau hanya sedikit." Dion memaksa. Dia segera mendekatkan gelas ke bibir Cindy. Cindy meneguknya. Dan baru sekali teguk dia muntah kembali. Dion kembali panik, dan menepuk nepuk punggungnya.
"Kamu kenapa Cind? Katakan padaku kamu sakit apa?" melihat tangan dan kaki Cindy gemetaran.
Dia segera menahan tubuh gadis itu agar tidak jatuh..Cindy selesai muntah dan mengatur nafasnya perlahan lahan.
Dion memperbaiki posisi ikat rambutnya yang melorot kebawah.
Perlahan Cindy berbalik, dengan nafas memburu cepat, bibir gemetaran, juga sekujur tubuhnya. Kedua matanya basah. Dion menatapnya dengan iba, melihat wajah sangat pucat, tirus dan berantakan.
"Kamu sakit apa sebenarnya? Aku khawatir dengan keadaanmu. Katakan sesuatu biar aku bisa melakukan sesuatu untuk menghilangkan rasa sakit yang kamu rasakan. Aku bingung mau melakukan apa untukmu." kata Dion menatapnya dengan khawatir. Dia memeluk kuat pinggang Cindy agar tidak jatuh.
Cindy meletakkan kepalanya di dadanya Dion, dan memeluk.
"Bolehkah aku memeluk kakak seperti ini?
sebentar saja." ucap Cindy dengan bibir gemetar.
Dion mengusap punggungnya pelan.
"Kenapa kamu masih meminta izin? Dulu kau langsung memeluk ku saat sakit hati dan sedih karena cowok."
"Selama itu membuatmu tenang dan nyaman, Lakukan apa yang kau suka. Asal jangan muntah lagi yang membuatku cemas." sambung Dion kembali.
Cindy diam tak menjawab, dia merasa enakan kembali berada dalam pelukan ini, merasakan Aroma tubuh Dion.
Semenit berlalu, Dion merasakan gadis itu nampak telah tenang.
"Kamu sudah baikan? Kita makan ya? itu nasi goreng kesukaan mu."
Cindy cepat menggelengkan kepalanya.
"Aku gak mau makan, kakak saja, aku mau tidur."
Dion menghela nafas. Dion segera mengangkat tubuhnya dan membawa ke kamar, membaringkannya.
"Perutmu kosong, lalu kamu mau makan apa? Kalau kamu tidak makan, nanti perutmu sakit."
Cindy diam dengan mata terpejam.
"Kamu sakit apa Cin ?"
"Gak tahu kak, mungkin masuk angin."
Dion teringat dokter pribadi keluarga mereka
"Tunggu sebentar, aku mau menghubungi dokter Rido untuk memeriksa mu." Dion bangkit hendak mengambil ponselnya.
Cindy kaget langsung menahan tangan nya.
"Gak perlu kak, aku gak apa-apa. Ini hanya masuk angin saja kok."
"Tapi wajahmu sangat pucat, tubuhmu gemetaran dingin, aku khawatir kamu terserang suatu penyakit yang berbahaya."
Cindy langsung bangun. Menarik tangan Dion hingga pemuda itu terduduk.
"Jangan kak, tidak perlu, aku sudah baikan, beneran ...!" berusaha tersenyum.
"Jangan memanggil dokter, aku mohon." pintanya.
Dion menatapnya sesaat lalu bangkit melangkah keluar.
Cindy kaget, dia segera turun dari tempat tidur memeluk perut Dion.
"Aku mohon jangan kak, aku baik baik saja."
Berbalik menatap Cindy.
"Aku hanya ingin dia memeriksa mu dan meminta obat vitamin untukmu."
"Itu tidak perlu kak, sungguh, aku sudah baikan ! Kakak tidak perlu khawatir lagi. Nanti kalau leherku sudah enakan, aku akan makan."
meminta memelas. Dia kembali memeluk pinggang Dion dan menekan wajahnya di dada pria itu.
Dion terdiam.
"Kembali ke tempat tidur, berbaringlah Kembali." katanya kemudian.
"Kakak nggak akan manggil dokter kan?" Cindy memastikan.
"Baiklah." mengangguk, mengalah.
Cindy segera melepas pelukannya, lalu berbalik menuju tempat tidur dan kembali berbaring.
"Tunggu sebentar, Aku mau ngambil sesuatu di atas." Dion segera keluar, tidak lama dia kembali membawa pakaian, selimut baru dan minyak telon.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu ganti pakaian dulu. Pakaian mu sudah basah dengan keringat." meletakkan kous oblong miliknya di atas ranjang.
"Iya, aku akan pakai, kakak makan saja, nanti makanannya keburu dingin." kata Cindy.
Dion malah duduk, mengambil telon dan menumpahkan di telapak tangannya.
Satu tangannya menarik sedikit kous Cindy ke atas.
"Biar aku saja kak." Cindy kaget.
"Sudah, diam..." Dion langsung menyapukan telon ke perut Cindy dan areanya. Terus menjalar lembut sampai ke punggung bawah hingga atas, kecuali tidak bagian dada.
Jantung Cindy kembali berdetak kencang, merasakan setiap sentuhan lembut ini
Dion melepaskan mengait bra, Cindy terkejut.
"Kak...?" tidak tenang, dada naik turun tak beraturan. Menatap wajah Dion.
"Supaya nanti kamu gak kesulitan membukanya saat berganti pakaian." jawab Dion menatapnya. Dia meletakkan kedua tangannya di wajah Cindy.
"Hirup Aroma telon nya" ucapnya lagi menatap mata Cindy.
Cindy segera melakukan apa yang di katakan.
Dia menghirup aroma telon di telapak tangan Dion berulang ulang dengan mata terpejam.
Dion menyapukan kembali telon ke telapak tangan dan kaki Cindy.
"Aku mau makan dulu, kamu segera ganti pakaianmu." bangkit berdiri.
Cindy mengangguk lemah.
Dion segera keluar dan menutup pintu.
Cindy segera turun dari ranjang berlarian ke toilet dan muntah karena tidak tahan dengan aroma minyak telon. Dia berusaha menahan rasa mual nya sejak tadi di depan Dion, agar kakak sepupunya itu melihatnya baik baik saja dan tidak memanggil dokter.
Sebelum berganti pakaian, Cindy mengguyur tubuhnya yang basah oleh keringat di bawah shower untuk menyegarkan tubuhnya. Dia menatap dirinya sendiri di kaca kamar mandi sambil mengelus perutnya dengan air mata mengalir.
Air matanya tak kalah banyak membanjiri seiring tetesan Air shower. Dia menangis terisak isak merasakan kepedihan hatinya.
Flashback
Dua bulan yang lalu di sala satu kamar hotel di Paris. Pukul satu malam.
Cindy berhasil memapah dengan susah payah tubuh Dion, masuk pada kamar yang telah di pesannya dengan bantuan Dinda.
Cindy mengirim pesan pada Dinda bahwa Dion bersamanya dan barusan di hajar habis habisan oleh Rafa.
Tapi Cindy tidak mengatakan kalau Dion sedang dalam pengaruh obat perangsang. Dia takut akan semakin menambah kemurkaan pamannya, dan sudah pasti dia juga akan terseret.
Dinda langsung mengatakan padanya untuk menyembunyikan Dion sementara waktu karena tuan Alkas sedang mencarinya dengan kemarahan. Dinda segera memesan kamar untuk mereka guna menyembunyikan Dion dari api kemarahan papanya.
Dinda meminta Cindy untuk menjaga Dion dengan sebaiknya dan jangan mengatakan keberadaan mereka pada siapapun sampai
dia menjemput mereka besok pagi, untuk sementara meredakan amarah suaminya. Dinda juga memintanya untuk mematikan ponsel mereka berdua.
Cindy segera membaringkan tubuh Dion di ranjang. Tubuh Kakak sepupunya itu sangat kacau dan memprihatinkan. Wajahnya penuh memar dan lebam bahkan bengkak, hidungnya juga keluar darah.
Terdengar lenguhan dan racauan dari mulut Dion menyebut nyebut nama Ara.
Cindy membuka kemeja Dion, banyak memar dan lebam. Cindy meringis melihatnya. Dia segera mengompres dengan air dingin untuk mengurangi pembengkakan dan peradangan. Dengan hati hati dia melakukannya dari wajah hingga kaki Dion yang banyak memar dan lebam.
Dion yang masih tidak sadar dalam pengaruh obat perangsang terus menerus memanggil Ara karena gelisah dan tidak tenang. Dion melepas celana panjangnya hingga tersisa bokser sepaha merasa gerah dan panas.
Cindy kembali terkejut melihat memar di paha kakak sepupunya. Dia dapat memastikan tanda memar ini adalah tendangan kuat dan keras dari sepatu kantor Rafa. Tanpa canggung Cindy mengompres memar dan bengkak di paha Dion.
Melihat tubuh telanjang Dion dengan hanya memakai celana bokser begini sudah biasa baginya. Saat dia apartemen, dia sering melihat Dion hanya memakai handuk dan saat mereka mandi dan berenang di kolam.
Setelah membersihkan dan mengompres tubuh Dion, Cindy segera menyelimutinya sampai dada. Selanjutnya Cindy segera memposisikan tubuhnya duduk di sofa tunggal yang di tariknya dekat tempat tidur. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Cindy sangat capek dan mengantuk, tubuhnya juga terasa pegal pegal dan sakit akibat bergulat dan berkelahi dengan Siska. Bahkan sudut bibir kirinya nyeri dan bengkak karena mendapat tamparan keras dari Siska. Cindy menoleh sebentar pada Dion yang terus meracau dengan gelisah dan tidak tenang menyebut nama Ara.
Cindy segera menyandarkan kepalanya pada sofa dan memejamkan mata.
Lalu ciuman di bibirnya. Cindy kaget dan mendorong kuat tubuh di depannya yang tenyata adalah Dion, yang terlihat frustasi dan gelisah tidak tenang wajahnya memerah di penuhi kabut gairah.
Dion Kembali memeluk kuat tubuhnya.
"Ara... Ara...Ara sayang..." desisnya mengecup bibir Cindy yang di kiranya Ara karena pengaruh dirinya masih di bawah obat perangsang.
"Aku Cindy kak, bukan Ara" jerit Cindy melepaskan pegangan Dion dan cepat bangkit berdiri. Tapi di mata Dion dia adalah Ara. Dion melihat wajahnya adalah Ara. Dion kembali memeluknya kuat, mencium bibirnya dengan rakus, tangannya menjalar ke semua area tubuh Cindy.
Cindy mulai ketakutan dan menangis.
"Ara Sayang, aku sangat mencintaimu." ucap Dion di sela sela aksinya.
"Sadar kak, aku Cindy bukan Ara." teriak Cindy keras.
Dion malah membungkam mulutnya. Pelukannya semakin kuat pada tubuh Cindy.
Sedangkan Cindy, tubuhnya tidak fit, mengantuk karena menemani dan menjaga Dion tanpa tidur, di tambah lagi dengan pergulatannya melawan Siska membuat tubuhnya lelah dan pegal pegal-pegal sakit.
Dion mengangkat tubuhnya dan menjatuhkan di atas ranjang, lalu menindihnya. Nafsu birahi menguasai dirinya, dia semakin tak terkendali.
Cindy semakin ketakutan dan mulai menangis. Dia berusaha melawan, tapi tubuh Dion besar, begtu juga kekuatannya.
"Aku Cindy kak, bukan Ara." iba Cindy di sela tangisannya.
"Sadar kak.. sadarlah...! Aku Cindy adikmu."
Ucapan Cindy malah membuat Dion semakin bergairah, dia kembali me*****i bibir Cindy yang di lihatnya adalah bibir Ara yang sedang menggoda dirinya.
Karena Cindy hanya memakai gaun dress pendek selutut membuat Dion cepat melepas bajunya dan membuat tubuhnya polos.
Dion mengunci ke dua tangannya di atas kepala. Satu tangannya berusaha melepas gaun Cindy. Kedua kakinya dia pakai melorotkan cidi Cindy.
Cindy semakin berteriak keras melihat keadaan dirinya yang sudah telanjang bulat.
"Jangan kak...aku Cindy bukan Ara."
Dion melorotkan sedikit boksernya. Hentakan pertama gagal karena Cindy berusaha keras menggerakkan pinggulnya. Hentakan kedua, ketiga gagal karena sempitnya tubuh bawah sendiri sulit untuk di terobos.
Dion menekan kuat perut Cindy dengan satu tangannya, dengan gerakan cepat dia kembali menghentak dengan kuat hingga berhasil menguasai tubuh cindy.
Cindy menjerit kesakitan mencekal kuat sprei.
Dion malah kembali menerkam mulutnya dan mulai memacu sambil mendesah dan mengerang pelan.
Tubuh Cindy melemah, tenaganya tak sebanding dengan Dion, tiada guna dia melawan. Kakak sepupunya sudah berhasil merenggut kehormatan dan menguasai dirinya.
Sementara Dion terus meracau menyebut nyebut nama Ara sambil sesekali menciumi bibir cindy, leher dan melahap bagian dadanya.
Dia tidak perduli dengan jeritan dan tangisan Cindy. Mata dan telinganya sudah tertutup oleh nafsu birahi yang harus segera tersalurkan akibat dorongan dari obat perangsang yang menguasai dirinya. Dia semakin mendorong dan menghentak hentak kuat miliknya membuat Cindy kesakitan, menggigit bibirnya hingga berdarah.
Cindy semakin menjerit dan menangis kuat meratapi dan menyesali kehancuran dirinya akibat perbuatan kakak sepupunya sendiri.
Dia ternoda oleh Dion, laki laki yang sudah di anggap kakak kandungnya sendiri dan juga menganggapnya dirinya sebagai adik sendiri.
Di akhir permainan Dion mulai bermain lembut tidak kasar dan sebrutal sebelumnya. Cindy memejamkan matanya merasakan sesuatu sambil memegang kuat kanan kiri bantal kepalanya, dengan nafas memburu cepat tak beraturan.
Dion mencapai batasnya, dia mengerang keras lalu memeluk kuat tubuh Cindy sambil memanggil nama Ara. Air mata Cindy semakin deras mengalir mendengarnya. Beberapa saat Dion masih di atas tubuhnya, mengecup kening dan bibirnya.
"Kenapa kakak lakukan ini padaku? Aku adikmu !" ucap Cindy sendu terisak-isak menatap wajah Dion yang nampak puas dan bahagia. Dia berharap kakaknya ini sudah sadar.
"Aku mencintaimu sayang, sangat mencintaimu. Kau milikku, bukan milik bajingan Ravendro, kamu hanya milikku." kata Dion, dan mengecup keningnya kembali.
Cindy semakin sedih mendengarnya, dia mendorong kuat tubuh Dion hingga terjatuh berbaring di sampingnya, percuma berbicara dengan orang yang tidak sadar.
Cindy segera turun dari ranjang lalu berjalan tertatih tatih menuju kamar mandi, mengunci diri di sana tidak perduli rasa sakit pada miliknya. Dia menangis meratapi kehancuran dirinya di antara turunnya air shower. Beberapa saat tubuhnya jatuh melorot ke bawah. Dia duduk meringkuk di lantai sambil menyapu kuat seluruh bagian tubuhnya. Menyapu beberapa tanda merah di beberapa bagian tubuhnya.
Lama dia berkutat dengan pikirannya, hingga akhirnya dia mengambil keputusan untuk menyembunyikan dan menutupi kejadian ini seorang diri. Toh Dion tidak mengenali dirinya saat melakukannya.
Dia tidak ingin akan ada masalah yang terjadi kedepannya di antara keluarga yang nantinya akan membuat malu dan aib. Dia juga pasti akan ikut di salahkan dan di anggap bodoh dan ceroboh karena mengurung diri bersama dengan orang yang sedang berada dalam pengaruh obat.
__ADS_1
Cindy semakin menjerit jerit histeris meratapi kecerobohannya.
Cepat dia membersihkan dirinya, lalu segera keluar, di dapatnya Dion sudah tertidur pulas.
Setelah mengenakan dress nya kembali, Cindy segera memperbaiki tempat tidur yang acak-acakan dengan hati hati.
Lalu membersihkan cairan pada milik Dion dan pahanya sambil memalingkan wajahnya ke samping. Dia sempat melihat ada darah perawannya yang melekat di bagian itu. Air mata Cindy kembali jatuh.
Setelah itu dia memakaikan pakaian Dion serta menutupi dengan selimut. Lalu dia segera mengeringkan rambutnya, kemudian memposisikan tubuhnya tidur di sofa hingga pagi datang dan ketukan pintu yang terdengar. Di mana Dinda datang menjemput mereka tanpa curiga apa pun.
Hanya sebelum pergi dari ruangan itu, Dion sempat melihat ada darah segar dan terang menempel pada sprei di tempat tidur. Cindy jadi khawatir melihatnya memperhatikan darah itu. Dia takut dion akan curiga.
Dia cepat mengatakan kalau itu darah dari luka Dion yang menetes.
Mereka segera melangkah pergi.
Hari itu juga Cindy balik ke Jakarta bersama paman dan tantenya. Tapi sebelumnya tuan Alkas mengadili Dion dengan kemurkaannya.
Dion memilih untuk menetap di London setelah tahu status Ara sebagai istri Ravendro.
Setelah pulang ke Indonesia, Cindy menjadi seorang pendiam dan pemurung. Dia lebih suka menyendiri, dan menjauh dari teman temannya termasuk Ara dan Ines. Untuk menghindari panggilan dan pesan masuk, Cindy mengganti nomor teleponnya, dan menjalani hari seperti biasa.
Sebulan lebih seminggu berlalu, Cindy mulai merasakan keanehan pada dirinya. Dia mulai sering merasakan demam, pusing dan mual. Terkadang muntah di sertai keringat dingin. Cindy sudah meminum obat yang di belinya di apotik tapi tak kunjung sembuh malah semakin parah.
Karena merasa khawatir dengan penyakitnya yang tidak kunjung sembuh, Cindy melakukan pencarian di google mengenai penyakit yang di deritanya untuk mencari obat apa sebagai penyembuhannya.
Dia terkejut melihat jawaban dari om google. Penyakit seperti itu adalah tanda-tanda orang yang sedang hamil muda.
Cindy sangat shock, dia langsung teringat kejadian yang menimpanya malam itu di Paris.
Dia langsung menjerit jerit menangis.
"Nggak...nggak mungkin aku hamil." ucapnya ketakutan seorang diri di apartemennya,
Dia segera menghitung hari terakhir haidnya di kalender. Dan benar saja, dia sudah telat seminggu. Cindy semakin ketakutan dan cemas.
Dengan diam diam dia membeli alat tespek kehamilan di apotek untuk mengetes informasi yang di dapatnya dari internet.
Esok paginya setelah mengambil urine dan mencelupkan alat itu beberapa menit.
Menunggu dengan deg degan...dan hasilnya ?
"Aku hamil ?" ucapnya terperangah saat menatap tespack alat uji kehamilannya. Seakan-akan dunia runtuh dan jatuh di kepalanya melihat dua garis merah tertera di benda itu, yang membuktikan kalau dia benar-benar hamil.
"Aaaaaaaa..." Cindy menjerit-jerit histeris sambil memukul-mukul perutnya.
"Gak mungkin...ini gak mungkin." tidak mau menerima kenyataan kalau dirinya memang hamil. Selama tiga hari tiga malam dia menangis memikirkan keadaan dirinya, memikirkan nasib kuliahnya, masa depannya, keluarganya dan juga keluarga Dion yang bukan orang sembarangan.
Apa yang harus di lakukan? berbagai pikiran buruk menari nari di pikirannya. Ingin menggugurkan kandungannya, tapi takut dosa dan tidak tega membunuh calon bayi yang tidak berdosa.
Tapi jika tidak, akan banyak orang yang merasakan dampak buruk dari kehamilannya ini. Belum lagi membuat aib bagi orang tua dan keluarganya. Dan sudah pasti mereka akan marah, mencaci maki dan membenci
dirinya membawa aib keluarga.
Dia juga tidak ingin karir dan citra baik Dion tercoreng oleh aib yang terjadi di antara mereka.
Cindy memendam sendiri kepedihan dan kehancuran dirinya. Dia terlalu takut dan malu membagi beban kesedihan pada Ara dan Ines. Dia lebih memilih diam dan menyendiri serta menutup akses hubungan dari semua orang termasuk orang tuanya.
Setiap hari setiap minggu dia merasakan perubahan pada dirinya. Hidup tersiksa dan menderita dengan kehamilan mudanya.
Susah makan, minum, tidur tak nyenyak, tersiksa dengan bau bauan makanan, pusing, mual, muntah dan terkadang demam. Dia menanggungnya sendiri tanpa mau berbagi pada orang tua dan temannya.
Bahkan tidak terpikir di kepalanya bayangan ayah dari anak ini, Dion. Sedikit pun dia tidak berpikir untuk memberitahukan kehamilannya pada Dion. Dia tidak ingin Dion tahu dan tidak akan membebani Dion. Karena yang terjadi pada mereka malam itu adalah sebuah kesalahan dan kecelakaan, bukan kesengajaan dan kemauan dari mereka berdua.
Dia bakan menanggung beban hidupnya sendiri.
Cindy mulai berpikir nasib dirinya dan juga calon anaknya nanti. Cindy mulai menghemat uang simpanannya untuk digunakan saat persalinan nanti. Dia hanya membeli mangga muda sebagai makanannya sehari-hari, karena hanya buah itu yang bisa masuk ke dalam tenggorokannya, dan pada akhirnya akan di muntah kan kembali.
Cindy semakin sedih dan menangisi hidupnya.
Tubuhnya semakin kurus dan tak terawat. Dan setelah bertarung dengan hatinya, dia memilih untuk tidak menggugurkan kandungannya. Sebagai orang yang di tanamkan ilmu agama dan pendidikan sejak kecil membuatnya berpikir jernih. Dia sudah melakukan dosa zina, tidak mau lagi menambahnya dengan membunuh nyawa yang tidak berdosa pemberian dari tuhan, apalagi nyawa anaknya sendiri.
Cindy memantapkan hati untuk menunda wisudanya yang tinggal beberapa bulan lagi dan berniat pergi sementara sampai dia melahirkan bayinya. Dia akan pergi ke kota lain dan mencari pekerjaan di sana untuk menambah biaya persalinan nanti dan juga untuk biaya hidupnya sehari-hari.
Dan supaya tidak kosong saat di tinggalkan, Cindy mencari penyewa apartemennya selama setahun.
Dan sekarang dia tinggal di kost kostan ilegal yang tidak mempertanyakan status anak kost, dengan harga 500/ bulan untuk menyembunyikan kehamilannya dan menghindar dari Ines dan Ara yang selalu mencarinya. Kost kostan yang berjarak 22km dari apartemennya.
Dan malam ini dia keluar pergi ke minimarket yang berada di sekitar kostnya karena stok mangga dan air mineralnya sudah habis.
Dia tidak menyangka malah bertemu Dion yang sudah balik dari London.
Dia mengira Dion akan tinggal selamanya di london dan tidak akan balik lagi ke Indonesia setelah kekecewaannya pada Ara.
Dan sekarang dia berada di kediaman ayah dari calon bayinya.
Cindy terus mengelus perutnya masih dengan air mata yang mengalir di bawah guyuran air shower.
"Aku hamil kak, Aku hamil anakmu." gumamnya sendu dengan deraian air mata.
****
Dion membuka pintu kamar Cindy perlahan lahan. Tangannya memegang sebuah botol air mineral dan tas kresek yang berisi buah mangga muda yang di pesannya lewat online dan baru saja di antar grab.
Dion melihatnya Cindy sedang tertidur pulas dengan tubuh miring, tertutup selimut hingga ke lengannya.
"Tubuhnya sedang hangat, kenapa dia malah mandi malam?" gumamnya melihat rambut Cindy yang nampak setengah basah.
Dion menarik selimut yang menutupi tubuh Cindy. Posisi tidurnya yang meringkuk menyamping dengan perut dan lutut yang tertekuk, kedua tangannya memeluk perutnya.
Karena Cindy hanya memakai kous oblong miliknya, membuat paha mulus, cidi dan bokong gadis itu terlihat. Ini bukan pertama kalinya bagi Dion melihat Cindy seperti ini.
Dion segera memakaikan selimut ke tubuh gadis itu. Lalu dia duduk di pinggir ranjang dan meraba keningnya, Hangat.
"Kamu sakit apa Cin? tubuhmu kurus dan mengecil. Apa ada yang kau sembunyikan dariku?" gumamnya pelan saat melihat paha dan bokong Cindy yang mengecil. Tidak kencang dan berisi seperti biasanya.
Beberapa saat Dion bangkit berdiri. Dia
Menyelipkan kamera cctv di antara bunga. Dia ingin memantau keadaan Cindy dari kamarnya karena merasa khawatir dengan kondisi Cindy. Dia khawatir terjadi sesuatu pada Cindy.
Setelah itu dia keluar dan melangkah menuju kamarnya yang berada di lantai atas.
Sembari menunggu rasa kantuk menyerang, Dion menyelesaikan pekerjaan kantor ayahnya yang di kirim Toni, sekretarisnya sambil sesekali memeriksa kamar Cindy lewat ponselnya. Gadis itu masih tidur hanya posisi tubuhnya yang berubah-ubah. 30 menit berlalu, terdengar suara ponselnya yang satu berbunyi.
Pesan masuk dari ayahnya, yang berisi bahwa dia akan makan siang bersama Sophia besok sekaligus perkenalan dengan gadis itu, tidak ada bantahan dan penolakan.
Dion mendengus kesal dan membuang ponsel asal. Dia mengusap wajahnya kasar.
Beberapa saat saat kemudian Dion mendengar suara bunyi kresek dari ponselnya. Segera dia melihat video yang sementara berlangsung dari kamar Cindy. Do lihatnya gadis itu nampak duduk di atas ranjang sambil memakan buah mangga dengan lahap. Terlihat senyuman senang di wajahnya kurus itu. Sesekali Cindy tampak memegang perutnya.
Dion tersenyum melihatnya.
"Sejak kapan dia menyukai mangga muda?
Baru dua bulan tidak bertemu sudah banyak perubahan yang terjadi pada dirinya." gumamnya terus menatap Cindy.
Pergerakan yang asal asalan dari tubuh Cindy membuat tubuh bagian bawahnya terlihat.
Dion kembali melihat pada berkasnya, meneruskan pekerjaannya.Tapi sesekali tetap melihat apa yang di lakukan Cindy.
Hingga akhirnya setelah satu jam berlalu dia turun ke bawah dan masuk ke dalam kamar Cindy, menutupkan selimut ke tubuh gadis itu karena dia sudah tertidur kembali tanpa memakai selimut.
Dion mengecup keningnya sesaat, lalu segera keluar dan naik kembali ke kamarnya. Dia juga segera merebahkan tubuhnya karena matanya sudah meminta haknya untuk istirahat.
Sesaat pikirannya teringat pada Ara.
Keberadaan Cindy membuatnya lupa pada wanita yang di cintainya itu. Karena rasa kantuk yang menyerang, akhirnya dia tertidur.
*****
Happy reading jangan lupa like dan votenya yaa ππ terimakasih yang sudah mampir π
__ADS_1