
Perlahan Ara membuka sapu tangan yang mengikat rambutnya. Lalu maju melangkah mendekat untuk mengembalikannya. Dia menatap punggung kakak iparnya yang masih posisi membelakanginya dengan tangan terlipat di depan dada.
"Kak, aku....."
"Aku sudah bilang jangan bicara lagi dan kembali ke kamarmu." sentak Rafa keras seraya berbalik dengan jari menunjuk ke depan.
Sontak Ara kaget dengan suara keras itu, juga
gerakan tubuh Rafa berbalik serta menjulur kan tangan ke arahnya. Ara mengira Rafa hendak memukulnya. Ara langsung mundur sambil mengangkat kedua tangannya untuk melindungi diri pukulan Rafa. Tapi naas ke dua betisnya menabrak batas meja, dia hilang keseimbangan dan tubuhnya jatuh terjungkal kebelakang membentur meja kaca. Ara memejamkan mata membayangkan rasa sakit yang akan ia rasakan.
Tapi apa yang terjadi? Tak terdengar bunyi benturan, dan tak ada juga rasa sakit di tubuhnya. Yang terdengar hanya suara memanggil manggil pelan namanya.
"Ara, Ara....kau tidak apa-apa?" suara Rafa.
Perlahan Ara membuka mata.
Samar samar dia melihat sebuah wajah yang berjarak beberapa centi di depannya, wajah itu terlihat sangat cemas dan panik.
"Kakak ipar ?" katanya melihat wajah Rafa.
"Berarti aku tidak jatuh?" gumamnya.
"Maafkan aku Ara....maafkan aku." ucap
Rafa dengan bibir bergetar. Dia sangat menyesal dan merasa bersalah atas sikap kasarnya tadi hingga membuat Ara hampir celaka. Ara segera menyadari posisi mereka yang sangat dekat, begitu dekat hingga wajah mereka hampir saling menyentuh. Posisi Rafa saat ini sedang memeluknya.
Sala satu tangan Rafa memeluk pinggang ramping Ara, satunya lagi memegang tengkuk Ara hingga tubuh gadis itu menempel kuat di tubuhnya. Sementara ke dua tangan Ara yang gemetaran mencekal kuat kemeja Rafa di bagian dada.
Saat Ara mau jatuh terjungkal ke belakang, Rafa bergerak cepat menangkap tubuh gadis itu sebelum membentur meja kaca.
Rafa memaki dan mengumpat dirinya, akibat emosi yang menguasai dirinya membuat Ara hampir celaka. Dia mengangkat tangannya tadi hanya ingin menunjuk Ara yang tidak di ketahui sudah berada tepat di belakangnya. Karena setahunya Ara sedang duduk di sofa. Dia tidak mengetahui ternyata Ara sudah berada dekat di belakangnya.
"Kak lepas....." Ara mengisyaratkan posisi mereka yang sangat dekat, menempel tanpa celah. Rafa tersadar dan segera melepaskan pegangannya.
"Kau tidak apa apa ?" tanya Rafa lagi.
"Aku baik kak." jawab Ara pelan dan takut.
__ADS_1
"Maafkan aku Ara, aku tidak bermaksud mengangkat tanganku tadi. Ku kira kau sedang duduk dan tidak berada di belakangku." katanya dengan perasaan bersalah.
"Aku yang salah kak, berdiri di belakang kakak tanpa memberi tahu terlebih dahulu."
"Tidak Ara, bukan kau salah. Aku yang di kuasai emosi sehingga tidak menyadari situasi. Sungguh aku tidak bermaksud memukulmu tadi. Tidak mungkin aku akan melakukan hal itu padamu, tidak akan mungkin ..." ujar Rafa sedih, sangat menyesali perbuatannya.
Dia mengacak-acak rambutnya kasar bingung menjelaskan bagaimana caranya supaya Ara percaya pada ucapnya. Karena dia tahu Ara menganggap dirinya pria kasar yang suka mengangkat tangan pada perempuan setelah melihat apa yang di alami Mona dan Lisa.
"Aku tidak akan mungkin berbuat kasar padamu. Apalagi sampai mengangkat tangan. Maafkan aku, sungguh maafkan aku. Tolong jangan berpikir buruk tentang ku." ucapnya kembali terus menyalahkan diri.
"Aku akan memotong kedua tanganku ini jika berani memukul mu." ucap Rafa kembali memegang kedua tangan Ara.
Ara terbelalak.
"Apa yang kakak katakan? Jangan bicara seperti itu. Aku sudah bilang aku yang salah. Aku yang seharusnya minta maaf karena selalu membantah ucapan kakak dan membuat kakak marah." menatap wajah Rafa dengan serius, meyakinkan kakak iparnya. Dia tidak menyangka Rafa akan mengatakan hal buruk.
Ara membuka telapak tangan kanannya yang memegang erat sapu tangan sejak tadi.
"Aku ingin mengembalikan ini sebelum kembali ke kamar. Ini sapu tangan kakak! Tadi kak Raka mengambilnya di lemari pakaian kakak. Dia gunakan mengikat rambut ku. Aku pikir aku harus segera mengembalikannya, karena kak Raka tidak meminta izin pada kakak sewaktu mengambilnya." katanya pelan dengan suara rendah.
Rafa melihat kedua tangan itu, masih gemetaran. Dia segera mengambil kain kecil itu.
"Ara...." panggil Rafa pelan.
Ara menghentikan langkah, lalu berbalik kembali.
"Ya !" menatap wajah Rafa.
Rafa mendekat dan menatap wajah gadis ini sejenak.
"Aku akan memenuhi permintaanmu. Aku akan mengembalikan perusahaan Riz Company." katanya kemudian.
Ara terkejut, dia kembali menatap Rafa dengan mata berbinar senang.
"Benarkah?" ulangnya kembali untuk menyakinkan.
Rafa mengangguk tersenyum.
__ADS_1
Ara tertawa senang sambil menutup mulutnya.
"Terimakasih kasih kak," ucapnya sangat senang. Rafa tersenyum senang melihat wajah di depannya yang tadinya takut dan sedih, kini langsung berubah ceria di selimuti binar bahagia.
"Terimakasih kasih kak, terimakasih. Akhirnya tidak akan ada karyawan yang di PHK, tidak akan ada yang kehilangan pekerjaan, tidak akan ada anak anak yang kelaparan dan putus sekolah, tidak akan ada orang tua yang kesulitan mencari pekerjaan untuk memberi makan keluarga mereka, memberi susu untuk bayi dan anak anak kecil mereka, memberikan pendidikan yang layak untuk anak anak mereka." ucap Ara lega dengan rasa syukur.
"Terimakasih kakak ipar."
Rafa melongo dengan wajah mengernyit.
Dia tidak menyangka ternyata sampai di kesitu pemikiran Ara jika dia benar benar menghancurkan perusahaan Riz company?
Jadi yang di pikirkan adalah nasib hidup para karyawan kedepannya yang kena PHK dan tidak bekerja? Jadi karena alasan kemanusiaan tujuan ia memohon pada dirinya? dan bukan karena permintaan Mona dan Lisa yang memohon untuk menyelamatkan perusahaan ayah mereka?
Rafa tertawa tanpa suara, sambil memijit dahinya. Hanya mulutnya yang terbuka sedikit menahan tawa. Dia menatap takjub dan bangga pada adik iparnya ini, yang sangat peduli dengan kehidupan orang lain.
Di belakang pintu Wisnu juga tersenyum haru, kagum dan bangga pada nona mudanya yang selalu peduli dan memikirkan hidup orang lain meski dirinya di hina dan rendahkan.
"Sekali lagi terimakasih kak. Kau sangat baik. Semoga Allah melimpahkan kesehatan, perlindungan, rezeki yang berlimpah, serta kebaikan dunia dan akhirat untuk kakak, Aamiin. Aku permisi ke kamar. Selamat malam, selamat beristirahat, semoga tidur kakak nyenyak dan di penuhi mimpi indah." ucap Ara tanpa lepas dari senyuman dan rasa senang di wajahnya.
Rafa tersenyum tipis mendengar ucapan doa yang keluar dari mulutnya itu.
"Aku melakukan hal itu bukan karena menginginkan kebaikan dari tuhan, atau memikirkan nasib perusahaan dan karyawannya. Tapi karena aku tidak ingin dirimu celaka dan mengalami hal buruk lagi. Karena selalu saja terjadi hal buruk padamu akibat dari emosiku yang tidak terkendali." gumam Rafa dalam hati. Mengingat kejadian buruk yang di alami Ara saat jatuh dari ranjang apartemen karena memaksanya untuk meminum obat. Dan hari ini Ara hampir mengalami kejadian buruk lagi akibat dari emosi yang menguasai hati dan pikirannya.
"Terimakasih kak, terimakasih." ucap Ara membungkukkan badannya pada kakak iparnya berulangkali sambil tersenyum sumringah.
Lalu balik melangkah mendekati Wisnu yang tersenyum padanya.
Wisnu membukakan pintu untuknya, dan berjalan mengikuti langkah kaki nona mudanya dari belakang.
Rafa tersenyum menatapinya kepergiannya, lalu melangkah menuju kamarnya. Dia membuka lemari pakaiannya. Mengangkat sedikit tangan kanannya ke atas, membuka telapak tangannya yang memegang sapu tangan miliknya. Aroma wangi sampo menebar dari kain kecil berbahan lembut itu. Rafa menarik nafas lewat hidung menyesap wangi a
dari kain itu sambil memejamkan mata.
Beberapa saat kemudian, dia segera melipat kain kecil itu rapi dan menyimpannya pada kotak kecil yang berbentuk indah.
Kemudian dia membuka seluruh pakaiannya dan berendam pada bathub. Sungguh indah melihat senyuman itu. Gumamnya mengingat senyuman indah bahagia Ara tadi sebelum keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Rafa memejamkan mata, semakin merendam tubuhnya agak ke dalam. Dia selalu melakukan ini setiap malam, berendam di air yang hangat berbusa untuk merilekskan tubuh dan pikirannya agar lebih tenang setelah seharian penuh di buru deadline pekerjaan.
*****