
Ara memakai dress putih selutut lengan pendek, dan tetap memakai kacamata hitam tebal, garis kening hitam tebal serta rambut keriting bergelombang dengan poni di atas kening. Dia sudah berjanji pada si kembar akan mengenakan aksesoris ke cupuannya itu di mana pun berada.
"Sayang, ayo kita ke ballroom. Kak Rafa sudah datang dan sebentar lagi dia akan turun." kata Raka begitu masuk ke kamar mereka.
"Kak, bolehkah aku gak ikut dalam acara itu?"
"Kenapa sayang, ini acara spesial kak Rafa dan juga dirimu, acara ini di buat untuk kalian berdua."
"Kami berdua? bukannya hanya untuk kakak ipar saja?"
"Manager hotel yang ngomong padaku tadi."
"Tapi kak ..."
"Sayang ... nanti kak Rafa kecewa."
"Bukannya aku tidak mau kak, aku hanya tidak ingin mempermalukan kakak dan keluarga di depan umum dengan penampilan ku ini, kakak sendiri kan tahu, banyak tamu penting kolega bisnis kak Rafa, teman mama dan kak Nesa hadir di sana, aku tidak ingin membuat kalian malu."
Raka memegang kedua pundak istrinya
"Sayang, aku gak masalah dengan penampilanmu, kak Rafa dan kak Nesa juga tidak. Kalau mama, tidak mungkin dia akan mengatakan sesuatu yang buruk padamu di depan banyak orang, mama tidak akan berani melakukan itu ada kak Rafa."
"Tidak perlu cemaskan pandangan buruk orang lain ke kamu, karena kami tahu fisik dirimu yang sesungguhnya. Nanti jika ada yang berkata buruk tentang mu..........!"
"Aku akan mengabaikannya dan pura pura tidak mendengarnya, atau aku akan menghindarinya." sambung ara segera.
Raka tersenyum menatap istrinya, lalu memeluk tubuh mungil itu.
"Sayang, kalaupun dirimu cupu seperti ini, aku akan tetap mencintaimu, memilihmu menjadi istriku. Karena yang kulihat adalah hati, kau memiliki hati yang sangat baik dan lembut."
"Tau gak saat pertama kali aku jatuh hati padamu, melihat mu menolong anak kecil di tengah jalan tanpa memperdulikan bahaya yang menimpa dirimu, aku terpana dan kagum dengan kebaikan hatimu saat itu." ucapnya
mengangkat wajah Ara menatap ke padanya .
"Kamu tetap cantik dengan penampilan mu seperti ini sayang. Lagi pula aku lebih suka melihatmu cupu kayak gini, biar gak ada mata lelaki yang memandangi mu, cukup aku seorang yang melihatnya." mengecup bibir istrinya pelan.
Ara mengangguk tersenyum.
"Kalau mereka menanyakan status ku gimana?"
"Kau istriku, aku akan mengumumkan pada mereka bahwa Azahra Radya Almira si gadis cupu cantik jelita bak bidadari yang memiliki kebaikan hati yang berlimpah ini, adalah istri si tampan Raka Rahardian Artawijaya, cinta sejatinya Raka Rahardian." ucap Raka dengan semangat sambil menepuk nepuk dan membusungkan dadanya.
Ara tertawa kecil, begitu juga dengan Raka.
__ADS_1
"Kakak nih berlebihan ah, bidadari dari
jonggol ya ?"
"Benar sayang, kau bidadari surgaku. Kalau ada yang nanya tentang dirimu katakan status mu adalah menantu Artawijaya, istri Raka Rahardian Artawijaya, adik ipar Rafa Ravendro Artawijaya dan Nesa Putri Artawijaya. Siapa pun mereka, tidak akan berani padamu sayang." kata Raka dengan wajah serius.
"Nggak ah, aku gak mau nyebut nyebut nama kak Nesa dan kakak ipar, terlalu berlebihan. Kalau ada yang nanya aku sebut saja istri kakak, tapi semoga aja gak ada yang nanya, biar gak malu malu malu'in kalian." ujar Ara.
Dahi Raka mengerut.
"Koq gitu? aku ingin mereka tau kau istriku sayang."
"Maksud aku, kalau gak ada yang nanya aku gak akan ngomong, tapi kalau ada yang nanya aku akan bilang istri kakak. Udah deh, ayo kita keluar, sebelum keburu sama kak Rafa." Ara menarik tangan suaminya.
"Parfum kakak wangi banget." Ara mengenduskan hidungnya pada suaminya.
"Ini parfum kak Rafa, dia juga memberikan untuk kita, ini salah satu jenis parfum yang di luncurkan tadi."
"Wangi..." Ara menempelkan hidungnya di pipi suaminya.
"Sayang, jangan menggodaku." Raka menarik tubuh Ara ke pelukan nya yang sedang berusaha keluar dari pintu.
"Gak kok, aku hanya mau wangi parfumnya saja." celetuk Ara menghindar sambil tertawa.
Raka meraihnya dan menggendongnya saat Ara membuka pintu, lalu langsung menyerang bibir istrinya tak perduli kalau saat ini mereka sudah berada di luar kamar hotel.
Ara menautkan kedua kakinya ke pinggang Raka dan mulai membalas ciuman suaminya.
Ciuman panjang terjadi, saling memangut, ******* hangat.
"Kakak, cukup. Nanti di lihat orang." kata Ara di sela sela ciuman Raka.
"Nggak akan ada yang lihat sayang." Raka terus menciumi bibir istrinya.
"Udah ah kakak, aku malu nanti di lihat orang, di sini bukan hanya ada kamar kita tapi juga kamar kak Nesa dan kak Rafa, bagaimana bila mereka muncul tiba-tiba." Ara memegangi kepala suaminya yang sedang menciumi lehernya.
"Awww... " Ara menjerit tertahan merasakan sakit di lehernya karena gigitan kecil dan kecupan kuat suaminya yang meninggalkan tanda merah.
"Aduh.... kakak sakit, jangan meninggal kan tanda di leherku, aku malu nanti di lihat orang, cukup dong kak aku mohon."
"Aku janji deh, habis acara aku bakal layani ciuman kakak sampai pagi, tapi sekarang lepasin dong, aku malu jika ada yang lihat." bujuk Ara kembali berusaha mendorong tubuh suaminya.
"Kak Nesa udah di bawah sayang, kak Rafa pasti masih bersiap siap sekarang." ujar Raka dengan nafas memburu cepat.
__ADS_1
Selesai dia ngomong, kembali menyerang bibir istrinya, menjalar ke telinga, turun ke leher dan tengkuk istrinya.
"Kakak udah dong, aku khawatir kakak ipar dan sekretaris Wisnu akan muncul."
"Kakak ku sayang, suamiku tercinta, pujaan hatiku, paling manis, paling tampan sedunia tiada tandingannya, suamiku ter ter ter luv yuuu dan paling sholeh...cukup yaaa sayang? sudah yaaa ?" bujuk Ara kembali merayu.
Bukannya berhenti, Raka malah semakin gencar menyerang.
Ara mulai panik tidak tenang bagaimana jika Rafa dan Wisnu muncul ? karena kata Raka tadi, kakak iparnya itu akan segera menuju ballroom. Dia mencari akal untuk menghentikan suaminya.
"Aduh kakak, perut ku sakit ....aduh." jeritnya tiba tiba sambil memegangi perutnya.
"Aduh kakak sakit."
Raka terkejut dan segera menghentikan cumbuan nya.
"Kenapa sayang?"
"Perutku sakit kak, aku lupa minum obat tadi. Tolong turunkan aku." pinta Ara kembali sambil meringis.
Raka segera menurunkan tubuh istrinya .
dia memegangi perut Ara dengan cemas.
"Maafkan aku sayang, sakit banget yaa ?"
Ara mengangguk ikut memegangi perutnya.
"Iya kak, sakit ...sakit banget." katanya pelan seraya mundur sedikit.
"Tapi bo'ong." sambungnya kembali agak keras dan segera berlari sambil tertawa kecil, meninggalkan suaminya yang saat itu sedang posisi berlutut.
Raka terbelalak baru menyadari kena tipu .
"Sayaaaang ...awas kau yaaa." segera bangkit dan mengejar istrinya.
Ara melihatnya dari jauh sambil terus
tertawa kecil.
"Maafkan aku kak, maaf." teriaknya sambil belari dan tertawa.
"Berhenti sayang, jangan lari lari, nanti kau jatuh." teriak Raka mengejar cepat.
__ADS_1
******
Happy reading π