
Ara maju dua langkah lebih dekat kepada Rafa. Dia menatap sedih kakak iparnya ini. Kelopak matanya yang sudah tergenangi oleh air mata yang mau tumpah.
"Kakak terlalu berlebihan menghukum mereka!" katanya serak.
"Ara....!" sentak Rafa mulai emosi.
"Kakak kejam! Kakak kejam." kata Ara kembali dengan bibir bergetar, seiring air mata yang jatuh.
Rafa kembali terhenyak. Dia diam terpaku mendengar ucapan itu. Kata kata itu sangat menusuk hatinya. Matanya menatap tajam kedua mata sayu yang basah, merah memancarkan kesedihan.
"Nona muda, Tuan tidak seperti itu." kata Wisnu dari belakang. Dia sendiri sangat terkejut dengan penilaian Ara pada tuannya.
"Nona, Tuan memberi hukuman atas kesombongan orang orang yang berani menghinamu, merendahkan mu. Mereka pantas mendapatkan hukuman seperti itu, bahkan lebih dari itu," kata Wisnu kembali tapi hanya sampai di tenggorokannya. Dia tidak berani mengatakan karena takut pada tuannya.
Tadi, saat acara berlangsung.
Wisnu memperlihatkan rekaman CCTV yang membuat amarah Rafa meluap. Video perlakuan buruk yang di lakukan sekolompok gadis gadis sosialita pada Ara di ballroom. Di hina, di rendahkan, di fitnah dengan tuduhan buruk, lalu di tertawai di depan banyak orang. Sementara Ara hanya diam dan tetap tersenyum.
Perlakuan buruk itu di lihat oleh orang orang Wisnu yang tersebar di ballroom, yang di tugaskan mengawasi dan menjaga keamanan secara diam-diam.
Selama ini, Rafa bekerja sangat keras untuk menaikkan status dan derajatnya di mata masyarakat, rekan rekan dan para pesaing bisnisnya agar tidak di hina dan rendahkan.
Makanya dia sangat marah ketika anggota keluarganya di rendahkan, di hina.
Wisnu segera menyeret kedua gadis yang bernama Mona dan Lisa itu ke ruangan tertutup, di sekap sampai acara selesai. Tak tanggung-tanggung Wisnu menyuruh anak buahnya melakukan kekerasan pada mereka.
Tapi sepertinya hukuman itu tidak berarti apa-apa buat mereka, keduanya malah tertawa dan terus menghina Ara. Hal itu semakin membuat amarah Rafa semakin meluap, darahnya mendidih. Rafa menghancurkan perusahaan kedua orang tua gadis itu dalam sekejap. Dan Wisnu memberi hukuman berat dengan menyiksa keduanya. Meski kedua wanita itu memohon pengampunan, Wisnu tidak berhenti menyiksa. Penyiksaan itu berhenti setelah Ara datang memergoki mereka.
Rafa sendiri marah pada Wisnu akibat kelalaian dan kecerobohan Wisnu yang lupa mengunci pintu sehingga Ara melihat penyiksaan itu. Dia melampiaskan kemarahannya itu dengan menghajar Wisnu karena membuat Ara melihat kejadian itu dan ketakutan. Itulah kenapa wajah Wisnu bengkak dan lebam.
__ADS_1
"Apa kakak puas setelah menyiksa mereka? Apa kakak senang?" kata Ara kembali menatap sedih."Sepertinya aku tidak akan ke tempat ini lagi. Aku terlalu takut jika nanti melihat kejadian buruk seperti itu lagi." kata Ara kembali dengan suara serak.
Rafa terkesiap mendengar ucapannya.
Keduanya saling menatap dengan emosi masing-masing. Beberpa saat kemudian Ara segera membalikkan tubuh dan melangkah. Semakin cepat melangkah sambil menyapu air mata yang kembali jatuh. Wisnu segera mengikutinya begitu mendapat isyarat dari tuannya.
Rafa meninju keras batas railing balkon yang terbuat dari besi tak perduli rasa sakit. Begitu kuatnya tinju itu hingga membuat tangannya lecet dan berdarah. Dadanya bergemuruh naik turun menahan emosi.
Ara terus melangkah cepat menuju kamarnya. Hatinya tidak tenang karena memikirkan Mona dan Lisa. Entah bagaimana keadaan ke dua gadis itu. Dia memang sempat sakit hati dengan penghinaan yang di lakukan oleh ke dua wanita itu, tapi dia telah melupakan perlakuan buruk itu bahkan telah memaafkan Mona dan Lisa.
Ara menyapu sisa sisa air matanya begitu sampai di depan pintu kamarnya.
"Nona Muda..." panggil Wisnu pelan.
"Kembalilah sekretaris Wisnu, jangan bicara apa pun lagi."
"Nona, anda salah menilai Tuan Rafa. Beliau bukan orang tidak seperti itu. Tuan orang baik meski terlihat dingin, kaku dan pemarah. Saya sudah lama mengikutinya, bersamanya, mendampinginya kemanapun. Jadi saya sangat tahu sifat dan karakter Tuan Rafa." kata Wisnu berusaha menjelaskan agar Ara tidak menilai buruk Rafa.
"Sekretaris Wisnu, sebaik apa pun seorang laki-laki, akan tetap buruk jika mengangkat tangan pada wanita! Sekecil dan seburuk apapun kesalahan yang di lakukan oleh wanita, jangan sampai pria memakai kekerasan untuk menghukumnya. Aku sungguh tidak menyangka kakak ipar bisa setega itu pada perempuan." katanya lirih.
"Nona ....!" kata Wisnu.
Sedangkan Rafa yang mengikuti mereka dan berada di belakang tiang tembok mengepal tangannya kuat mendengar kata kata itu. Rahangnya mengeras menahan amarah. Dia menyusul Ara karena ingin menjelaskan semuanya pada Ara tapi langkahnya terhenti mendengar perkataan Ara yang menilainya buruk dan menyakiti hatinya.
"Tolong katakan, di mana kedua gadis itu? Apa kalian masih menyekap dan menyiksa mereka? Tolong bebaskan mereka." pinta Ara.
Wisnu menelan ludahnya.
"Sudahlah, tidak usah di jawab kalau anda takut pada Kakak ipar. Aku juga tidak ingin anda mendapat masalah karena diriku." sambung Ara melihat reaksi Wisnu yang hanya diam menatapnya.
__ADS_1
Wisnu kaget mendengar ucapan itu.
"Mereka sudah di bebaskan setelah kejadian anda melihatnya. Tuan Rafa sudah memberi perintah untuk membebaskan dan menyuruh mereka pulang." jawab Wisnu segera.
Ara mengangguk sambil membasahi bibirnya yang kering dan menyapu kembali air matanya.
"Syukurlah kalau begitu. Aku berharap kata kata anda benar. Sekarang kembalilah pada kakak ipar, aku mau masuk. Terimakasih sudah mengantarku." kata Ara sedikit lega mendengar penuturan Wisnu.
"Baik Nona." Wisnu menundukkan kepalanya. Hendak berbalik tapi suara Ara menghentikan gerakan tubuhnya.
"Sekretaris Wisnu....." panggil Ara.
"Ya nona...." Wisnu kembali membalikkan tubuhnya menatap pada Ara.
"Jangan katakan pada kak Rafa mengenai pertanyaan ku tadi. Aku tidak ingin kau di hukum dan di pecat olehnya. Aku tidak ingin anda mendapat masalah karena aku." kata Ara, lalu segera melangkah masuk
Wisnu diam terpaku mendengar perkataan itu sambil menatap daun pintu yang sudah tertutup rapat.
"Nona muda, sampai segitu kah anda menilai buruk tuan Rafa? Tuan hanya ingin menjaga dan melindungi anda." gumamnya pelan.
Wisnu membuang nafas berat, lalu berbalik.
Betapa terkejutnya dia melihat Rafa berdiri di depannya, dengan tatapan menyorot tajam penuh kemarahan.
"Tuan...." ucapnya gugup.
Apa tuan mendengar ucapan terakhir Nona Muda? gumamnya dalam hati.
Semoga saja tidak.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa dukung ya.... tinggal kan jejak