Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode. 123


__ADS_3

...Happy Reading...


Lagu sudah berubah. "Filling Me Softly" mengalun indah mengiringi tarian dansa mereka.


Nesa menatap wajah adiknya."Kenapa kau tidak mencari Levina? Seharusnya kau mencarinya tadi."


"Setelah acara ini selesai, kakak harus segera kembali ke Jakarta. Kau meninggalkan anak anakmu. Aku membawa jet pribadi. Aku akan menyuruh pilot untuk mengantar kakak pulang." kata Rafa mengalihkan pembicaraan alih alih menjawab pertanyaan kakak perempuannya ini.


"Apa hubungan mu dengan Levina baik baik saja? Aku melihat kejanggalan pada hubungan kalian. Kau tampak acuh bahkan tidak perduli lagi dengannya." kata Nesa mengabaikan perintah Rafa.


"Dulu kau berkata, di hari lahir mu tahun ini akan menikahinya, tapi__,"


"Aku belum ingin menikah. Jangan membahasnya lagi." Rafa memangkas ucapannya. Menatap tajam kakak perempuannya ini.


"Belum ingin menikah atau memang tidak mau menikahinya?"


Rafa tak menggubris pertanyaan itu.


"Apa kalian sudah putus?" Nesa kembali bertanya, tak menyerah. Dia ingin tahu hubungan Rafa dengan Levina.


Rafa tak menjawab. Jijik rasanya membahas tentang Levina. Dia menghindari tatapan Nesa dengan mengalihkan pandangannya ke arah Ara dan Rizal.


Sedangkan Nesa menoleh pada Kazumi."Siapa wanita Jepang itu? Kakak perhatikan kalian tampak dekat. Apa kekasih barumu?"


"Ayahnya rekan bisnisku, dia perwakilan dari ayahnya yang tidak sempat datang karena sakit. Dan kami hanya teman. Sudahlah, jangan membicarakan mereka lagi." Rafa mulai malas dan jenuh dengan pertanyaan pertanyaan yang membuat imunnya turun.

__ADS_1


Nesa memegang wajah Rafa, di bawa menghadap ke wajahnya. Dia melihat sorotan mata tajam di balik topeng ini. Gerakan dansa mereka berhenti karena Rafa tiba tiba berhenti.


"Rafa, kakak dapat merasakan kalau kau sudah tidak mencintai Levina lagi. Kakak dapat melihat perubahan sikapmu kepadanya waktu di kantor cabang milikmu di Amerika. Kau terlihat membencinya, tidak menyukai keberadaannya di sana. Kenapa Rafa? Apa yang terjadi? Apa dia menyelingkuhi mu?" tanya Nesa menatap dalam mencari jawaban di mata Rafa.


Rafa mendesah kasar, memalingkan wajahnya ke arah lain, kembali pada Rizal dan Ara. Rafa melihat keduanya tampak begitu akrab. Ara tak canggung dekat dengan Rizal.


"Dokter, boleh aku menanyakan sesuatu?" tanya Ara tersenyum.


"Tentu boleh cantik, kau ingin menanyakan apa?" kata Rizal seraya menyentuh ujung hidung Ara.


"Janji tidak akan marah atau tersinggung?"


Rizal tertawa.


"Kau ini memang gadis baik sayang. Kau selalu mengutamakan perasaan orang lain. Mana mungkin aku akan marah pada adikku yang cantik ini? Ayo katakan, apa yang kau tanyakan sayang?" kata Rizal sambil mengedipkan mata menggoda.


"Iya, kenapa?"


Ara mendekatkan mulutnya di telinga Rizal. Hembusan nafas Ara di telinga membuat Rizal geli."Hey sayang, jangan dekat dekat di telinga ku." suara Rizal agak keras tanpa sadar.


Rafa kembali menoleh ke arah mereka, dia melihat wajah Ara yang berada di dekat telinga Rizal. Adik iparnya itu semakin tak canggung sangat dekat dengan Rizal.


"Hey, sayang nafasmu, geli tahu." celetuk Rizal kembali.


Ara tertawa kecil, memukul pelan pundak Rizal."Kok sendirian ke sini? Apa dokter punya kekasih? atau jangan-jangan dokter jomblo?" tanya Ara berbisik.

__ADS_1


Hahahaha. Tawa Rizal lepas di antara musik yang menggema. Cukup menarik menarik perhatian beberapa orang. Termasuk Raka, Rafa dan Nesa. Raka menatap istrinya dengan tatapan tanya. Ara membalasnya hanya dengan senyuman dan gerakan tangan.


"Mana mungkin dokter hebat setampan aku gak ada yang suka." kata Rizal.


"Terus kemana kekasihnya dan kenapa hanya datang sendiri?"


"Ini....ada di depan! Kamu dong Ara ku sayang." celetuk Rizal kembali tertawa.


"Ih dokter, bercanda melulu! Aku serius nih." Ara mencebikkan bibirnya.


Rizal tak menjawab pertanyaannya karena sudah waktunya berganti pasangan. Dia memutar Ara.


Tubuh Ara memutar dan tanpa di sadari berhenti pada Rafa. Ara terkejut setelah melihat pasangan dansanya. Gerakan tubuhnya terhenti tak berani menyentuh kakak iparnya. Seketika dia menarik tangannya.


"Kakak ipar." batinnya. Dia terdiam di tempat sembari menatap wajah Rafa yang juga sedang menatapnya.


Agak ragu sekaligus takut untuk menari dengan kakak iparnya ini. Ara segera menjatuhkan padangan ke bawah melihat tatapan dingin Rafa.


Rafa mengerti kalau Ara takut padanya. Perlahan dia meraih tangan Ara, menautkan jari jemari mereka, di angkat ke atas. Satu tangannya memeluk punggung Ara. Ara termangu beberapa saat, di kiranya Rafa tak ingin berdansa dengannya.


Rafa mulai menggerakkan tubuhnya. Ara pun mulai ikut bergerak mengikuti gerakan tubuh Rafa dengan membawa satu tangannya ke bahu Rafa. Dia tidak berani menatap wajah Rafa. Kedua matanya menatap sejajar dasi Rafa.


Rafa merasakan kekakuan Ara dengan kedekatan ini. Tidak sama seperti bebasnya Ara dengan Rizal yang begitu dekat tanpa canggung. Bicara dan tertawa bebas.


"Kenapa kepada Rizal dia bisa akrab, bicara bebas dan tertawa lepas? Tapi kepadaku tidak," batinnya sembari menatap wajah yang sedang tertunduk.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2