Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 171


__ADS_3

...Happy Reading....


"Giman nih Tan kalau sampai Rafa tahu?" ujar Levina khawatir.


"Dia tidak akan tahu. Aku sudah membungkam mulut semua orang di dalam rumah ini. Mereka tidak akan berani melapor pada Rafa." kata Maya.


"Tapi bagaimana jika mereka buka mulut pada Rafa? Bagaimana jika rasa takut mereka lebih besar pada Rafa ketimbang sama tante?" Levina masih tetap khawatir.


"Kamu meremehkan kekuasaan ku di rumah ini?" Maya menatap tidak senang ke arahnya.


"Bukan begitu Tan, aku tidak bermaksud begitu. Tante tau sendiri bagaimana takutnya para pelayan jika Rafa sedang marah? Aku hanya khawatir bagaimana jika rasa takut mereka lebih besar pada Rafa ketimbang pada tante?" kata Levina sedikit ciut dengan kemarahan Maya. Dia khawatir jika Rafa sampai tahu kejadian tadi, apa yang akan terjadi dengan Maya? Apa Rafa akan menghukum Maya? Dan jika Maya akan di lempar dari rumah ini, maka nasib hubungannya dengan Rafa benar benar berakhir. Dia tidak akan bisa memiliki Rafa. Karena hanya Maya penghubung dirinya dengan Rafa. Hanya Maya bisa membuatnya melenggang bebas masuk dan keluar di rumah mewah ini. Dia tidak mau berpisah dengan Rafa. Karena Rafa adalah gudang duit baginya. Dan dia juga tidak rela Ara memiliki Rafa.


"Sudah, kamu nggak usah cemas. Kita punya bukti kuat mengenai kelakuan buruk Ara di luar. Aku akan menunjukkan foto itu pada Rafa. Aku yakin, Rafa malah akan menendang perempuan rendah itu dari rumah ini."


"Yah, aku pun berharap seperti itu. Wanita sialan itu harus hengkang kaki dari rumah ini, juga dari hidup Rafa. Kembali ke tempat kumuhnya yang kotor dan menjijikkan," batin Levina sinis."Tapi bagaimana jika Ara sendiri yang mengadu pada Rafa?" ujarnya lagi kembali cemas.


Maya tersenyum menyeringai


"Wanita rendah itu tidak akan berani. Aku sangat yakin dia tidak akan melapor pada Rafa." ucapnya menatap sinis ke lantai dua, ke arah kamar Ara.


Levina mengikuti pandangan mata Maya. Berharap yang di katakan wanita paruh baya ini benar adanya.


.


.


Malam semakin larut, para penghuni bumi mulai terbuai dengan mimpi indahnya. Termasuk penghuni rumah megah Artawijaya. Kecuali Rafa dan Wisnu.


"Apa dia menangis Wisnu?" kata Rafa keras.


Wisnu terdiam. Tidak berani mengeluarkan suara.


"Wisnu, aku bertanya padamu." menarik kerah Wisnu kuat. Tapi kemudian di lepas. Keadaan Rafa tampak kacau di kuasai amarah.


"Tambah kecepatan mobilnya." katanya keras.


"Ini sudah kecepatan paling tertinggi tuan, Tolong tenangkan diri anda." ucap Wisnu di sela sela menyetir.


Rafa meninju jendela kaca mobil. Rasa sakit tidak dapat di rasakan.


"Dia pasti sedang menangis Wisnu. Ara pasti duduk menangis di sudut kamar mandi sambil menutup mulutnya untuk menekan suara tangisnya." semakin tidak tenang di tempat duduknya. Rafa yang sangat tahu keadaan Ara jika sedang sedih di tengah malam saat merindukan suaminya.


Ara akan duduk di sudut kamar mandi dan mengunci diri di dalam. Menangis di sana bahkan sampai tertidur sepanjang malam.


Kalau tidak, Ara akan menyambangi kuburan Raka dan berceloteh tak karuan mengajak Raka ngobrol. Setelah itu dia akan menangis.


Saat itu Rafa sedang melakukan perjalanan bisnis di kota X. Membuka cabang perusahaan industri otomotif miliknya yang akan di laksanakan besok hari. Sebuah pesan masuk membuat amarah meluap dan langsung terbang kembali ke jakarta dengan menggunakan sala satu tunggangan pribadinya. Kegelisahan, kekhawatiran dan kemarahan campur aduk dalam hati dan pikirannya mendapat informasi perlakuan buruk Maya dan Levina pada Ara.


Mobil berhenti di depan pintu masuk.


Rafa langsung turun sebelum Wisnu turun membukakan pintu untuknya. Karena itu kelamaan baginya.


Pak Sam sudah menunggu di depan pintu masuk bersama para pelayan, karena wisnu memberitahukan kepulangan mereka yang mendadak. Keadaan rumah nampak hening.


Ingin sekali Rafa menendang pintu yang di tempati Levina dan mamanya, tapi masih lebih penting melihat keadaan Ara di bandingkan mengurusi dan membuat perhitungan dengan mereka.


Dengan cepat Rafa lari ke lantai dua. Pak Sam ikut berlari mengikuti dari belakang.


"Di mana Ara?"


"Nona muda di kamarnya tuan."


Rafa segera mengetuk pintu, kemudian langsung membukanya dan masuk. Ruang itu kosong, begitu juga tempat tidurnya.

__ADS_1


Mungkinkah Ara kamar mandi? batinnya.


Rafa mengetuk pintu, tak ada jawaban.


"Apa dia sengaja menyembunyikan kesedihannya di dalam sana dan tak ingin di ganggu?" batin Rafa kembali.


Rafa tidak mau berpikir panjang untuk keselamatan Ara. Dia langsung membuka pintu. Wisnu dan pak Sam langsung membalikkan tubuh begitu tuannya membuka pintu kamar mandi.


Kosong. Rafa kelabakan dan semakin cemas.


Dia langsung keluar.


"Di mana Ara pak Sam? Kata anda dia berada di kamar? Ara bahkan tak ada di kamar mandi!" menatap tajam Sam.


"Benar tuan, Nona memang berada di kamarnya tadi." kata Sam takut melihat kemarahan di mata tuannya.


"Terus mana dia? Begitu banyaknya kalian di sini tapi tidak satupun tau keberadaannya?" Rafa mencengkeram pundak pak Sam kuat.


"Maafkan saya tuan, tidak bisa menjaga Nona dengan baik. Maafkan saya karena tidak dapat menjalankan perintah anda dengan baik, maafkan saya karena telah membuat anda kecewa." Sam menundukkan kepalanya dengan penuh penyesalan dan rasa bersalah.


Rafa menendang keras sembarang. Dia mengacak rambutnya kasar.


"Wisnu, cari Ara di makam tuan mudamu." perintahnya.


Wisnu segera berlari keluar, sambil menelpon tukang bersih-bersih kebun belakang dan pekuburan untuk menanyakan keberadaan Ara di sana. Dia juga sangat khawatir dengan keberadaan nona mudanya yang entah di mana.


Rafa mengambil ponselnya dan menelpon nomor Ara. Terdengar bunyi panggilan dari laci nakas. Rafa mengeram keras. Dia melempar ponselnya sembarang. Ke khawatirannya semakin menjadi.


"Pak Sam, apa dia menangis?"


Sam semakin menundukkan kepalanya dengan wajah sedih. Rafa kembali meninju tembok melihat raut wajah sedih pelayan tua itu.


"Mama, Levina." mengeram kasar menahan Amarah.


"Cepat cari di semua tempat, kerahkan pelayan dan penjaga keamanan." titah Rafa keras.


Rafa semakin panik dan cemas, setelah Wisnu memberi informasi kalau Ara tidak berada di makam Raka.


"Ara, kau di mana sayang." merintih pelan. Dia segera berlari keluar dari kamar.


Tiba tiba langkahnya terhenti di depan pintu perpustakaan. Filingnya merasakan sesuatu.


Perlahan dia membuka pintu, dan masuk ke dalam. Mengamati setiap rak perpustakaan. Hingga langkahnya berhenti pada bagian paling belakang ruangan itu. Dia melihat sosok tubuh ramping Ara yang sedang berbaring di sofa bed dekat balkon ruang baca sekaligus ruang kerjanya Ini.


Rafa manarik nafas lega.


"Akhirnya aku menemukanmu." gumamnya senang. Rafa melangkah semakin dekat. Di perhatikan tak ada pergerakan dari tubuh Ara.


Rafa melihat kedua mata Ara terpejam. Dia mendekat perlahan. Hawa dingin angin malam yang berhembus masuk menerpa tubuhnya yang hanya mengenakan daster tank top selutut.


Rambutnya yang panjang tergerai menutupi sebagian wajahnya yang berbaring miring.


Kedua tangannya mendekap di dada. Di depannya tergeletak ponsel Raka


Perlahan Rafa berlutut, memperhatikan wajahnya. Menyingkap pelan rambut yang menutupi wajah Ara, lalu menyelipkan di belakang telinga. Sudut matanya terlihat basah, Rafa menyapu lembut lelehan bening kristal itu dengan sedih.


"Kau pasti banyak menangis." ucapnya pelan sembari membelai lembut wajah Ara.


Suara Alunan musik terdengar dari headset yang terpasang pada telinga Ara. Perlahan Rafa melepaskan yang satunya dan di sumbat kan pada lubang telinganya.


Lagu dari Tommy j pisa (lagu jadul)


"Biarkan Aku Menangis" mengalun indah.

__ADS_1


Kemarin kau masih bersamaku.


Bercumbu dan merayu.


Adakah hari esok untuk kita bercinta.


Seperti yang telah kita lewati.


Mengapa terlalu cepat kau pergi.


Tinggalkan batu nisan.


Kenyataan ini begitu memilukan.


Ingin ku rasa turut serta.


Tiada guna aku hidup begini.


Tanpa belaian kekasih yang sangat ku sayangi.


kepedihan yang kini kurasakan.


Darimu yang mencintai aku.


Biarlah ku relakan kau pergi.


Tinggalkan derita bersamaku.


Ku doakan kau bahagia di sisinya.


Sementara biarkan aku menangis.


Rafa membuang nafas sedih. Dadanya terasa sesak mendengar lagu sangat menyentuh dan menyayat hatinya.


"Sampai kapan kau akan terus meratapi kepergian Raka? Ini sudah setahun kepergiannya, tapi kau masih tetap menangisi kepergiannya." ujarnya pelan.


Rafa kembali menyentuh lembut wajah Ara dengan ujung jari telunjuknya. Dari mata, hidung, pipi, bibir, dagu.


Tangan kanan Ara tiba tiba bergerak memegangi tangannya.


"Kak Raka, jangan pergi." mengigau dalam tidur. Buliran air mata mengalir di sudut matanya yang terpejam. Dia membawa tangan Rafa ke wajahnya, lalu diciumnya.


"Jangan tinggalkan aku! Aku tak sanggup hidup sendiri tanpa mu. Aku sangat merindukan mu!" ucap Ara sendu.


Dada Rafa bergemuruh kuat menahan kesedihan. Hatinya sungguh pilu.


"Sampai kapan kau akan begini terus Ara.


Kapan kau bisa melupakan Raka. Mengapa begitu sulit menghilangkan Raka dari hati dan pikiranmu." gumamnya lirih.


Mata Ara tiba tiba terbuka, menatap wajah di depannya dengan samar tak jelas.


"Kak Raka__!" panggil nya pelan melihat wajah Raka di depannya. Ara bangun dan memeluk Rafa."Aku merindukanmu, jangan pergi Hiks__hiks!"


Rafa terkejut. Dia menahan kekuatan kakinya yang menumpu agar tidak jatuh.


Sesaat berlalu dia merasakan ada yang basah di dadanya. Dia meraba dadanya, ternyata kemejanya yang basah oleh air mata Ara.


"Ara, apa kau sesedih itu? Kau sedih merindukan Raka atau karena perlakuan dan perkataan buruk mama dan Levina?" ucap Rafa.


Dia mengangkat pelan wajah Ara ke atas.


"Ara, Ara__sadarlah." mengusap wajah Ara pelan, menyapu air mata yang membasahi kedua pipinya.

__ADS_1


"Ara...ini aku.... Rafa!" katanya kembali.


Bersambung.


__ADS_2