Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 93


__ADS_3

...Happy Reading....


Rafa masih berdiri di depan pintu kamarnya, menatap ke arah kamar Raka dan Ara. Dia menarik nafas dan membuangnya pelan. Berharap semua baik baik saja. Rafa mendorong daun pintu yang sudah terbuka sedikit. Dia masuk dan menutup pintu kembali. Begitu berbalik, dia kaget melihat sinar seberkas cahaya tidak jauh di depannya. Keadaan kamar yang gelap, membuatnya tidak begitu melihat jelas cahaya apa itu. Rafa langsung waspada.


Cahaya itu mendekat ke arahnya. Rafa bergerak mundur."Siapa di sana?" tanyanya sedikit keras. Dia mulai waspada. Kali saja ada penyusup. Cahaya itu terus maju mendekatinya dan berhenti tepat di jarak 1 meter.


Sekarang Rafa dapat melihat kalau cahaya itu merupakan lilin kecil itu tertanam pada sebuah kue tart yang di pegang seseorang.


Orang tersebut mengangkat kue tart sedikit keatas sejajar dengan dadanya, sehingga wajahnya terlihat dari pancaran sinar cahaya lilin.


"Selamat ulang tahun kakak ipar." ucap si pemegang kue ulang tahun, yang tak lain adalah Ara.


Rafa tercengang mendengar kata-kata itu. Dia kenal suara itu. Rafa mengamati wajah di depannya."Ara?" ucapnya menatap wajah cantik di depannya. Wajah itu sedang tersenyum manis menatapnya. Hatinya bergetar, Jantung Rafa berdetak kencang. Matanya tak bergeming menatap wajah Ara.


Dia tidak menyangka Ara berada di kamarnya dan memberi kejutan kue ulang tahunnya.


Dia merasa lega melihat langsung keadaan wanita ini baik baik saja.


"Selamat ulang tahun kak." ucap Ara kembali.


Rafa tersadar mendengar ucapan itu. Dia tersenyum. Rafa hendak berkata, tapi sebuah sebuah sentuhan tangan pada bahunya menghentikan gerakan bibirnya.


"Selamat ulang tahun kakak." ucap Raka menyentuh bahunya. Raka berada di belakangnya dan memeluknya.


Rafa terkejut. Dia gugup mengetahui ada Raka di belakangnya. Dia segera berbalik dan membalas pelukan adiknya.


"Semoga kakak selalu di limpahi kesehatan dan kebahagiaan." ucap Raka kembali.


"Kamu juga, semoga kau selalu sehat dan selalu bahagia dalam hidupmu." Rafa memeluk tubuh adik bungsunya itu dengan erat.


Lampu kamar tiba-tiba menyala. Rafa kembali tercengang setelah melihat di sekelilingnya. Bukan hanya ada Ara dan Raka ruangan ini, tapi juga ada Maya, Nesa, dan Rizal. Rafa menatap mereka satu persatu dengan bingung. Mereka menatap sambil tersenyum.


"Surprise__" ucap mereka kompak.


Rafa tersenyum lebar. Seharusnya dari awal dia curiga dengan keadaan kamar yang gelap tidak seperti biasanya. Tapi tak ada firasat apapun yang ia rasakan karena terlalu cemas memikirkan__ Ara.


Rafa melirik sekilas adik iparnya itu yang kini


dapat di lihat jelas secara keseluruhan wajah dan penampilannya. Membuat jantungnya kembali berdebar kencang. Wanita muda itu masih menatapnya dengan senyuman manis.

__ADS_1


"Selamat ulang tahun nak. Semua doa terbaik untukmu." Maya memeluknya dan mencium keningnya.


Nesa juga mendekat dan memeluknya.


"Happy birthday," ucapnya, lalu melepas pelukannya. Mencium kening Rafa."Kenapa sih kau pulang hampir pagi begini? Tahukah kau kalau kami sudah berjam jam menunggu kepulangan mu? Aku dan mama bahkan sudah tertidur di tempat tidurmu." kata Nesa menatap kesal.


"Ayo segera tiup lilinnya, aku ngantuk banget nih." sambungnya kembali sambil menguap.


Semuanya tersenyum melihat tingkah dan perkataannya.


Pintu terbuka, masuklah Wisnu. Sekretaris itu terkejut melihat situasi kamar tuannya. Dia melirik pada Rizal.


Dokter itu tampak menatapnya, dan memberikan senyuman manis. Wisnu mendengus kesal.


"Selamat ulang tahun bos." ucap Rizal seraya mendekati Rafa. Tak perduli tatapan sinis Wisnu.


Rizal melihat keadaan Rafa yang hanya mengenakan bokser pendek ketat."Hey bos lihat dirimu. Apa yang membuatmu pulang terburu buru hingga tidak menyadari apa yang kau kenakan?" katanya melihat ke celana bokser Rafa. Di ikuti tatapan yang lainnya,. kecuali Ara. Rafa melirik ke bawah tubuhnya, wajahnya mengernyit melihat pakaian bawahnya. Dia baru menyadari hal itu. Karena terlalu cemas dengan Ara membuatnya lupa hanya memakai dalam dan tidak sempat memakai celana lapisan.


Wisnu yang juga baru sadar dengan pakaian tuannya bergerak cepat menuju kamar ganti dan mengambil jubah tidur tuannya. Dia menyenggol kuat lengan kanan Rizal dari belakang saat melewati dokter itu. Di sertai lirikan tajam. Rizal tersenyum mengejeknya.


"Ayo tiup lilinnya, kasihan tuh adik ipar mu yang cantik. Sudah terlalu lama ia memegang kue ulang tahunmu. Tangannya nanti keram dan sakit perutnya kambuh lagi." kata Rizal setelah Rafa memakai jubah tidurnya.


Raka mendampinginya.


"Ayo kak, tiup lilinnya." ucap Raka.


"Ayo tiup lilinnya. Tiup lilinnya." ucap yang lainnya. Keadaan menjadi riuh dengan nyanyian lagu ulang tahun dan tepukan tangan.


Rafa menatap kue di tangan Ara.


Nesa, Maya, Rizal dan Wisnu mendekat.


Ara menyodorkan kue berbentuk hati itu pada lebih dekat pada Rafa.


"Semoga kakak ipar selalu di limpahi nikmat kesehatan, di beri umur yang panjang, semakin bertambah rasa sayang terhadap keluarga, selalu bersyukur dengan apa yang telah diberi oleh sang pencipta, semoga selalu dalam lindungan Allah SWT di manapun kaki kakak melangkah, dan semoga di jauhkan dari segala keburukan, Aamiin." ucapnya memberikan doa terbaik.


"Aamiin." ucap Raka menyambung doa istrinya, di ikuti oleh yang lainnya.


"Ucapkan doa dan keinginan kakak, setelah itu tiup lilinnya."kata Raka.

__ADS_1


Rafa merangkul pundak adiknya, dan menatap wajah yang hampir sama dengan wajahnya ini, lalu menatap pada Ara. Menatap pasangan suami istri ini bergantian.


"Doa dan harapan kakak, kau sehat terus dan bahagia selamanya bersama istrimu." katanya tersenyum.


"Aamiin." ucap Ara terharu. Raka juga mengaminkan. Dia kembali memeluk kakaknya."Aku menyayangi Kakak. Terima kasih atas doanya. Seharusnya kakak juga harus berdoa untuk harapan dan keinginan kakak di hari esok."


"Doa yang di ucapkan oleh istrimu sudah lebih dari cukup mewakili doa dan harapan kakak." kata Rafa menoleh kembali pada Ara.


"Dan doa kakak tahun ini __ semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya." melihat satu persatu wajah wajah di depannya.


"Aamiin ___!" jawabnya mereka.


Rafa mendekat kan wajahnya ke kue tart. Melihat sekilas pada Ara, memejamkan mata sejenak, kemudian membukanya lalu meniup lilin dengan pelan.


Suara tepukan tangan mengiringi padamnya lilin. Raka kembali memeluk kakaknya, begitu juga Nesa, Maya, Rizal __mereka saling berpelukan bersama penuh rasa haru kebahagiaan. Mereka saling menyuapi kue dengan riang gembira. Raka juga menyuapi kue pada istrinya di sertai kecupan di bibir.


Ada kerinduan yang muncul di hati mereka,


kerinduan akan momen kebersamaan seperti ini yang dulu selalu mereka lakukan bersama.


Ara tersenyum haru, melihat orang tua dan anak kembali bersama dan bersatu dalam kebahagiaan. Sungguh suatu pemandangan yang indah di lihatnya.


"Ya Allah, jagalah keluarga ini untuk tetap terus bersama seperti ini dalam senyuman. Jangan pisahkan mereka lagi, berkahilah mereka dengan banyak kebahagiaan." ucapnya tersenyum bahagia.


"Aamiin." ucap seseorang dari belakangnya.


"Dokter__" Ara melihat pada Rizal.


Rizal mengangguk tersenyum, dia merangkul pundak wanita muda itu


"Semoga hidup mu juga, selalu di penuhi banyak kebahagiaan." ucap Rizal.


Ara tersenyum menatap dokter muda Itu


"Doa yang sama juga buat dokter."


"Terima kasih." ucap Rizal tersenyum.


Rizal mengambil kue tart di tangan Ara, lalu mengajak Ara duduk di sofa yang ada di dalam kamar mewah dan luas itu.

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2