
Tiga bulan lebih menjadi istri Raka, membuat Ara semakin dekat dengan Cio dan Cia, si kembar sangat menyukainya.
Ara yang selalu mengantar dan menjemput anak anak dari sekolah, menemani mereka belajar, bermain bersama di rumah di saat Nesa sibuk dan tidak punya waktu untuk mereka, setiap ada kegiatan di skolah Ara lah yang menjadi Wali mereka .
Ara selalu menyisihkan waktunya untuk anak anak itu di tengah kesibukannya sebagai seorang istri, kuliah, kerja dan mengurus panti. Dia tidak tega melihat anak anak itu kena amarah Nesa saat mereka meminta waktu Nesa untuk mereka.
Minggu depan akan ada lomba anak mewarnai yang di sponsori oleh sebuah perusahaan besar ternama untuk pembukaan hotel.
Pihak perusahaan mengadakan lomba untuk anak anak yang memiliki bakat prestasi seni melukis guna mengembangkan bakat dan kemampuan mereka dalam melukis,
dengan mengusung tema perusahaan
" Lomba anak cerdas dan kreatif "
Cio dan Cia sangat antusias menanti lomba tersebut karena hadiahnya sangat menakjubkan.
Mereka berlatih mewarnai di bimbing oleh Ara.
Ara yang kebetulan memiliki bakat melukis itu mengajari mereka.
Nesa mencarikan guru melukis tapi si kembar tidak suka, mereka sukanya Nesa yang menemani dan mengajari.
Tapi seperti biasa Nesa tidak pernah ada waktu untuk mereka, untung saja Ara sudah selesai mengikuti ujian akhir semester genap.
Cindy mengirim chat ke Ara bahwa berkas proposal untuk pembangunan yayasannya sudah di terima sala satu perusahaan cabang di kota itu.
Pihak perusahaan ingin bertemu langsung dengan pendiri yayasan untuk mengetahui visi misinya . tentu Ara sangat senang sekali . Cindy mengirimkan lokasi hotel yang menjadi pertemuan mereka.
Lomba melukis akan di adakan jam 9 pagi,
Cio dan Cia sudah tidak sabar.
Seperti biasa setelah subuh Ara turun ke dapur.
Dia mendengar saat bisik bisik para pelayan tentang Maya.
"Selamat pagi nona muda" sapa mereka sopan.
Ara tersenyum seperti biasa dan membalas sapaan mereka
"Pak Sam, ada apa dengan mama?"
"Penyakit nyonya kambuh lagi nona, saya di minta untuk membuat sarapan dan membawa ke kamar nyonya"
"Terus bagaimana keadaan mama?"
"Tadi dokter keluarga sudah datang memberi penanganan, dokter sudah memberi suntikan dan obat"
"Pak Sam, biar saya saja yang akan mengantarkan sarapan mama"
__ADS_1
"Tapi nona, nanti nona kena masalah lagi, saya tidak mau nona di marahin nyonya Maya"
"Pak Sam jangan khawatir, saya juga akan membuatkan yogurt dan jus tomat buat mama" kata Ara meyakinkan, dia tau kepala pelayan itu menghawatirkan dirinya.
30 menit berlalu.
Ara mengetuk pintu kamar Maya, di dapatinnya ibu mertuanya itu sedang berada di balkon, berbaring di kursi sofa panjang, menatap kearah luar taman.
"Selamat pagi ma" Ara mendekat menyapa sopan.
Tak ada sahutan dari Maya, pandangannya tetap fokus ke arah taman.
Ara meletakkan nampan di atas meja.
Maya yang baru sadar ada orang di dekatnya ini terkejut.
"Kamu? ngapain kau di kamarku?" menatap tidak suka pada Ara.
Ara tersenyum.
"Saya membawakan sarapan untuk mama"
"Aku meminta Sam, bukan dirimu! mana dia, apa dia sudah bosan kerja di sini?hah? Sam...Sam" Maya berteriak memanggil Sam.
"Ma, tenanglah. Ini bukan kesalahan pak Sam, saya yang menawarkan diri untuk mengantar sarapan mama, tadi pak Sam sudah melarang, tapi saya yang memaksa" Ara menjelaskan dengan suara lembut.
"Keluar kamu dari kamarku, ada banyak pelayan di sini yang mengurusku, aku tidak butuh dirimu! pergi dari sini" Maya berteriak sambil menunjuk pintu.
Kenapa mama tidak menyukaiku?
Dia kembali tersenyum, bukannya pergi dari ruangan itu, dia malah memegang tangan Maya lembut dan menciumnya.
Maya tersentak, menarik tangannya itu dari genggaman Ara.
"Aku hanya ingin melakukan kewajiban sebagai seorang anak ma, tolong jangan menyuruhku keluar"
"Kamu bukan anakku, kamu itu hanya seorang menantu yang tak ku anggap" sentak Maya keras.
"Tak apa bila mama belum menganggapku menantu! tidak masalah buat aku! aku berharap suatu saat mama akan menerimaku sebagai menantu mama" ucap Ara tetap sabar.
Maya membuang mukanya ke samping.
dia malas meladeni nanti penyakitnya kambuh lagi. Belum lagi mengingat peringatan Wisnu untuk memperlakukan Ara dengan baik di rumah ini sesuai perintah dari Rafa.
"Mama makan yaa, aku buatkan yogurt dan jus tomat untuk membantu menetralisir darah mama. Ini sangat bagus menurunkan tekanan darah tinggi, mama coba yaa?"
Tapi Maya tetap menoleh ke samping.
"Ini terbuat dari kacang kacangan dan buah-buahan, tak ada pemanis! bagus untuk menurunkan kolesterol dan darah tinggi mama"
__ADS_1
Tak ada respon
Ara bangkit dan beralih tempat di kaki Maya, dia memijit pergelangan kaki wanita itu. Maya kembali tersentak.
"Jangan sentuh tubuhku oleh tangan kotormu itu" menarik kakinya, tapi Ara menahannya
"Kau?" mata Maya melotot ke arahnya.
"Mama pasti merasakan kesemutan kan?" Ara memijit mijit dan menekan tidak terlalu keras kaki ibu mertuanya. Dari jari jemari, punggung kaki, telapak, tumit , sampai betis.
Di akui Maya memang benar yang di katakan Ara, dia juga merasa pijatan anak ini terasa enak, dia menikmatinya tapi tetap memasang wajah judes.
Ara berlanjut ke tangan Maya.
Dia agak lega Maya tidak menolak pijatannya.
"Mama masih marah sama aku ya ?
tentang masalah aku sama tukang ojol
langganan ku itu?" Ara memecah kesunyian
Maya mendengus sinis .
"Ma..tukang ojol itu namanya mang Saleh, dia sudah jadi langganan aku sejak aku masuk kuliah. Orangnya baik dan jujur, umur mang saleh itu sudah hampir 50 tahun, dia sudah seperti ayah bagiku. Mang Saleh selalu menasehati dan mengingatkan aku tentang hal yang baik." Ara menjelaskan.
"Aku gak akan mungkin menghianati kak Raka ma, aku sangat mencintainya, tak ada niat sedikit pun di hati dan pikiran ku untuk menghianati suamiku! mama tolong percaya sama aku ya?" Ara memelas agar Maya percaya dengan ucapannya.
Ara memegang tangan Maya, menatapnya lembut dan sendu.
"Tolong jangan benci aku ma .. aku sudah tak punya orang tua, aku tidak punya siapa siapa lagi selain kak Raka dan keluarga ini"
Maya kembali mendengus sinis.
Ara menghembuskan nafas ringan
lalu berdiri di belakang Maya, memijat mijat tengkuk dan pundak ibu mertuanya itu.
"Meski mama tak suka apa yang aku lakukan, aku tetap akan melakukannya, karena pijatan kecil ini bisa merefleksi urat mama yang kaku, dan akan membuat sedikit rasa enak tubuh mama. Dulu saya sering melakukan ini pada ayah dan ibu saya dan mereka sangat senang menikmatinya" katanya lagi tersenyum mengingat kenangan bersama orangtuanya dulu, ada kesedihan menyeruak di hatinya.
10 menit kemudian Ara menghentikan pijatannya, dia mengambil yogurt dari atas meja.
"Sekarang mama makan ya, ini terbuat dari berbagai buah-buahan tanpa pemanis! mama pasti suka " Ara menyuapkan, tapi Maya tidak membuka mulutnya, dia kembali mengalihkan pandangannya ke taman.
"Ya sudah kalau mama tidak mau aku suapin, tapi tolong nanti di makan ya, ini sangat baik untuk kesehatan mama" Ara bangkit.
"Sebenarnya aku masih ingin menemani mama, tapi aku masih harus mengurus kak Raka ke kantor, dan juga mau menemani si kembar, karena pagi ini mereka akan mengikuti lomba melukis anak berprestasi. Kak Nesa menyuruh aku menemani mereka, mama tolong doakan ya biar mereka bisa melakukannya dengan baik " kata Ara tersenyum menyentuh pergelangan tangan Maya, Maya tetap diam.
Ara segera keluar setelah pamit, dia memanggil pelayan untuk menggantikan dirinya.
__ADS_1
*****