
Sesampai di kamar Dion.
Mata Cindy memicing melihat kamar Dion yang tampak terhias indah. Lebih tepatnya seperti kamar pengantin. Ada taburan bunga segar di atas ranjang.
"Ini kamarnya terhias begini?"
"Mungkin mama yang menyiapkan ini untuk kita. Kamu lupa kalau kita pengantin baru?" kata Dion dengan tatapan menggoda.
Cindy jadi malu, mukanya memerah seketika. Dia segera berpaling ke sebelah menghindari tatapan Dion. Mama Dinda ada ada aja, memangnya apa yang mama Dinda pikirkan? keduanya akan melakukan malam pengantin?
Cindy jadi merinding membayangkan hal itu.
"Kamu kenapa?" tanya Dion melihat eksepsinya.
"Ah, gak apa apa." Cindy melihat ada koper pakaian miliknya tergeletak di atas sofa.
"Mulai sekarang ini kamar kita. Kamar mu dan kamarku." kata Dion.
Cindy mengangguk pelan.
Dia memang sudah terbiasa masuk ke kamar ini, bahkan sampai ketiduran saat Dion memintanya datang.
"Mau langsung tidur?" tanya Dion
"Aku mau ganti pakaian dulu dan shalat dzuhur." kata Cindy seraya membuka koper bajunya, lalu mengambil sala satu dasternya.
Dion mendekat dan langsung menyingkap rambut di tengkuknya.
Cindy kaget.
"Kakak mau apa?" memegang tangan Dion.
"Mau membuka pengait dan resleting bajumu biar kamu gak repot repot membukanya."
"Biar aku saja!"
Sudah diam saja...," Dion melepas pegangan tangan Cindy.
Cindy menurut dan Diam sambil menunduk.
Dion segera melepas pengait dress dan menarik resleting hingga ke bawah.
Terpampang punggung Cindy yang putih mulus. Dion juga membuka pengait bra adiknya ini.
Tubuh Cindy bergidik merasakan sentuhan jari jemari lembut di punggungnya.
Dion menatap sejenak punggung mulus ini. Dia teringat pada obrolan mereka dulu. Saat Cindy menanyakan padanya apakah punggungnya indah? Agar nanti Cindy tidak akan malu dan merasa minder menyerahkan tubuhnya pada calon suaminya kelak dia menikah nanti.
Dan dia tidak menyangka, justru dirinya yang mendapatkan punggung indah ini. Juga merenggut ciuman pertama dan keperawanan adik sepupunya.
"Aku ke kamar mandi dulu," kata Cindy membuyarkan lamunannya.
"Tunggu sebentar," Dion membalikkan tubuh. Cindy menghadap kepadanya. Dia menurunkan dress Cindy hingga melorot
ke bawah.
"Kakak mau apa?" Cindy terkejut dan cepat menutupkan tangan di dada dan milik pribadinya.
"Apa payudaramu masih sakit?" Dion memperhatikan dada Cindy yang besar.
Lalu menarik tali bra di kedua bahu Cindy dan melepaskan penutup ke dua buah itu.
__ADS_1
Cindy langsung menyilang kan ke dua tangannya di dadan menutupi kedua buahnya.
"Kak, jangan di lihat, aku malu." menunduk.
Dion segera menurunkan tangan Cindy. Malu-malu Cindy menurunkan ke dua tangannya.
Dion memperhatikan sejenak payudara Istrinya yang tampak bengkak setelah lepas dari bra.
"Apa sakit?" katanya kemudian.
Cindy mengangguk pelan malu malu.
"Kenapa kau malu? Aku suamimu." kata Dion melihat wajahnya yang memerah.
Dion ingin menyentuh putik dan areanya yang tampak kecoklatan, tapi Cindy segera menahan tangannya.
"Jangan," jantung berdebar kencang.
Dia segera berbalik membelakangi Dion.
Dion membuang napas kasar menatap punggung. Cindy yang memunggunginya. Lalu kembali membalikkan tubuh Cindy menghadap padanya. Dia meletakkan telapak tangannya pada perut Cindy, membelai lembut bagian yang sudah menonjol itu karena ada anak anaknya di dalam sana. Tubuh Cindy jadi kaku mendapatkan elusan lembut itu. Dua kecupan lembut mendarat di perutnya, membaut tubuhnya merinding.
"Sehat sehat di sana ya anak anak papa." kata Dion berbicara pada kedua anaknya sambil menatap perut Cindy. Dia mengangkat wajahnya, menatap dada Cindy. Kemudian segera memakai kan daster ke tubuh Cindy.
"Apa kakak marah?" tanya Cindy merasa gak enak atas penolakannya saat Dion hendak menyentuh bongkahan dadanya.
Dion menatapnya sesaat. Lalu menggelengkan kepala.
"Stelah magrib kita akan ke dokter kandungan untuk memeriksakan payudaramu," katanya kemudian.
Cindy mengangguk pelan.
"Pergilah ambil air wudhu, kita shalat sama sama. Setelah itu kau makan, minum susu dan obat. Lalu istrahat."
Dion meraih ponselnya dan menelepon bik Ira untuk mengantarkan makanan dan susu Cindy ke atas. Dia membuka kemeja dan juga celana panjangnya, hingga tersiksa bokser pendek. Dia hendak menuju walk in Closet untuk mengambil baju koko dan sarung, tapi batal ketika mendengar pintu di buka. Dion menoleh ke arah pintu. Masuklah seorang wanita sambil mengangkat koper dan menutup pintu kembali.
Dion kaget melihat siapa yang masuk.
"Kau..? Kenapa masuk kesini?"
Bela, wanita itu kaget mendengar suara dan segera berbalik.
"Kak Dion?" bela terperangah melihat Dion.
Dia meletakkan kopernya dan melangkah perlahan mendekati Dion, bukannya segera keluar. Dia menatap tak bergeming tubuh Dion dari atas hingga bawah. Menatap memindai dari wajahnya yang tampan, bahunya yang kokoh, dada bidangnya yang lebar, otot bisepnya, perutnya yang sixpack, dan bokongnya yang penuh terlihat dari boxernya yang pendek dan agak ketat.
Bela terpukau dan meneguk ludahnya
Sementara Dion segera mengambil celana panjangnya di lantai"Ada apa kamu ke sini?" kata Dion agak keras menatap tajam. Buru buru memakai celana. Bertepatan dengan Cindy yang keluar dari kamar ganti dengan memakai mukena. Cindy kaget melihat Bela ada di kamar ini, dan juga melihat Dion yang sedang memakai celana dengan tubuh atasnya terbuka tanpa memakai kemeja.
Dion juga kaget melihat Cindy yang sudah masuk ke kamar.
Bela pura pura kelabakan dan gugup melihat keduanya bergantian.
"Aku, mau ke kamarku. Sepertinya aku salah masuk kamar. Aku pikir ini kamarku yang di sediakan pelayan. Maaf kak Dion, Cindy." katanya terbata bata dan gugup
"Maaf...permisi." ucapnya lagi dan segera berbalik. Kemudian mengangkat koper dan keluar dari kamar ini, menutup pintu dari luar.
Nafasnya memburu cepat tak beraturan.
Dia menormalkan jantungnya yang tak karuan..Bukan karena takut, tapi karena melihat tubuh kekar berotot milik Dion.
__ADS_1
Bela kembali meneguk air liurnya sambil tersenyum manis dengan khayalan indahnya.
"Bel, kamu kok di sini. Aku mencari mu. Aku kan bilang kamar kita di ujung sana, kamu kenapa malah berdiri di depan kamar kak Dion dan Cindy?" suara Dwi membuyarkan lamunan indahnya tentang Dion.
Dwi mendekat.
Bela pura pura gugup dan celingukan.
"Aku bingung Wi, aku lupa sama perkataan pelayan. Soalnya banyak ruang di atas sini.
Ayo kita ke kamar kita, aku sangat capek dan ingin tidur." Bela menarik kopernya segera sebelum Dwi bertanya lebih.
Di kamar.
Dion menatap Cindy yang memperbaiki mukenanya..Tidak terlihat ekspresi apapun dari wajah istrinya setelah Bela keluar.
Cindy sibuk dengan mukenanya di depan cermin dengan tatapan datar. Lalu segera menggelar karpet di lantai. Kemudian meletakkan dua sajadah.
Dion memperhatikan apa yang dia lakukan. Menunggu pertanyaan dari Cindy tentang keberadaan Bela yang sudah berada di kamar mereka. Tapi tak ada tanda Cindy bertanya atau mempermasalahkan keberadaan Bela.
Cindy terlihat biasa. Hanya tatapannya yang terlihat tidak bersahabat.
Dion menghela nafas, lalu segera melangkah masuk kamar mandi untuk berwudhu.
Cindy mendesah sedih, dia langsung terduduk di pinggir ranjang, kedua kakinya terasa lemah. Dadanya sesak, nafasnya memburu cepat tak beraturan.
Sejak tadi dia menahan segala emosinya untuk tidak mencari tahu dan berpura-pura tidak perduli dengan keberadaan Bela di kamar mereka, berdiri dekat di depan suaminya yang sudah melepas pakaiannya.
Cindy kembali mendesah mengeluarkan kesedihan di hatinya. Kedua matanya sudah basah. Dia menekan dadanya yang terasa sesak dan sakit.
Sesaat kemudian dia teringat janin dalam kandungannya. Yang kata dokter sedang dalam pertumbuhan yang tidak baik.
Cindy segera menenangkan hati, meredam kesedihannya dan menghilangkan semua emosi yang tidak menyenangkan hatinya, agar tidak semakin memperburuk pertumbuhan calon bayinya.
Cindy menarik dan menguarkan nafasnya secara beraturan.
Hingga kemudian Dion masuk dan mereka mengerjakan shalat bersama tanpa kata dengan diam seribu bahasa.
Setelah itu Cindy makan, minum susu dengan susah payah. Setelah memastikan Cindy makan dan minum susu dan vitamin, Dion Dion pamit untuk pergi ke kantor.
"Kakak ke kantor dulu. Setelah magrib Nanti kita akan ke dokter spesialis kandungan. Kamu istrahat saja." kata Dion.
Tak ada balasan dari Cindy, dia diam seraya mengatur bantal untuk dia tiduri.
"Cindy....!" panggil Dion karena tak ada reaksi dari Cindy.
"Hmmm__!"
"Ada apa?" tanya Dion melihat diamnya Cindy. Meski dia tahu penyebab diamnya istrinya ini.
"Tidak ada apa apa, pergilah, aku mau tidur!" kata Cindy.
Dion mendekatinya, mengecup puncak kepala Cindy dan berlanjut ke perut."Tidurlah!" Dion segera keluar
Cindy segera tidur setelah suaminya pergi.
Dari balkon kamar sebelah, sepasang mata dengan senyuman manis memperhatikan Dion yang melangkah dengan gagahnya ke parkiran dan masuk ke dalam mobil.
Matanya terus memperhatikan mobil Dion hingga kendaraan itulah bergerak keluar menuju jalan raya dan hilang dari pandangannya.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like hadiah dan votenya ya π