Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 225


__ADS_3

Ketiganya saling berpelukan penuh keharuan, senang, gembira, juga sedih karena lama tidak bertemu.


"Kau jahat Cin, gue benci lo. Lo udah gak mau temanan sama aku dan Ara lagi? Lo udah gak sayang ama kita lagi?" Ines marah dan memukul lengannya sembari menangis seperti anak kecil.


Cindy kembali memeluknya erat. Air matanya semakin banyak mengalir. Melihat kesedihan kemarahan sahabatnya.


"Kau kemana saja Cin? Selama beberapa bulan ini kau di mana? menghilang tanpa kabar. Susah di hubungi, aku dan ines sangat khawatir padamu. Kami takut terjadi sesuatu yang buruk sama kamu." ucap Ara ikutan kesal, kedua ujung matanya juga basah.


Cindy menyapu air mata Ara dan juga Ines secara bergantian. Dia tersenyum haru.


"Maafkan aku, karena menjauh dari kalian. Maafkan aku karena menutup akses hubungan komunikasi dengan kalian! Aku punya alasannya. tyapi maaf, aku tidak bisa mengatakannya, a aku ...!"


"Udah... kamu gak perlu katakan alasannya. Yang penting kamu baik dan kita udah bertemu. Dan untuk seterusnya kita akan bersama kembali," potong Ara cepat.


Ines juga mengangguk tersenyum membenarkan perkataan Ara. Ketiganya kembali berpelukan melepaskan kerinduan.


Tak perduli tatapan bingung keheranan para pengunjung yang melewati mereka.


Untuk merayakan pertemuan mereka, Ara mengajak mereka ke sebuah restoran mewah bintang lima. Yang menyajikan menu fusion layaknya restoran mewah pada umumnya. Gabungan kreasi makanan barat dengan hidangan khas Indonesia.


Dengan sopan dan ramah sang manager melayani dan menyiapkan apa yang di minta Ara, istri bosnya. Bahkan dia menyediakan makanan khas favorit lezat dan enak yang merupakan ciri khas restoran di luar dari pesan Ara.


Suara musik mengalun indah di ruang privat mewah dan elegan itu.


"Ra, kamu pesan makanan sebanyak ini? Aku rasa kita bertiga gak akan mampu menghabiskan semua makan mewah dan mahal ini," seru Ines menatap dengan selera yang menggebu.


"Cindy dong yang akan habiskan. Apa kamu lupa kalau di ratu makanan? Doyan makan apa saja tanpa milih. Ayo makan, udah lama kita nggak makan bareng begini, aku kangen kebersamaan kita seperti dulu," ujar Ara lirih dengan wajah sedih.


Cindy dan Ines juga mengangguk-angguk sedih, ketiganya kembali saling berpegangan tangan.


"Ayo makan, aku sangat lapar." ujar Ara kembali tersenyum.


"Thanks ya ibu bosku yang baik hati dan tidak sombong," celetuk Ines tertawa kecil, lalu segera mengambil makanan dan melahapnya.


Ara mengangguk tersenyum.


Sementara Cindy mulai gelisah menatap semua makanan itu.


"Cin, makanlah," kata Ara menyuruhnya makan.


Cindy tersenyum kecut.


"Kalian saja yang makan, aku masih kenyang. Kebetulan tadi aku barusan makan." katanya berbohong.


Ara menghentikan makannya.


"Cin, apa kamu sakit ?" menatap wajah Cindy yang pucat.


"Iya Cind, kau kurusan, wajahmu pucat tuh." Timpal Ines di sela sela makannya.


"Ah.. nggak kok! Aku baik-baik saja," Cindy gugup mengelak dengan tersenyum.


"Tapi Cin, kau terlihat beda, tidak sama seperti dulu. Bentuk tubuhmu berubah drastis, kamu kurusan." Ara kembali menatapnya lekat melihat perubahan dratis pada Cindy setelah dua bulan lebih tidak bertemu.


"Enggak....aku sedang diet, makanya aku kecil dan kurus." cindy berusaha mengelak lagi sambil tertawa.


"Diet? Kamu gak gendut, bentuk tubuhmu udah ideal dan indah, ngapain diet? Ayo makan, kita habiskan makanan ini, gak boleh tidak! Buka mulutmu ! Ayo, aaaaaa..." Ines bangkit hendak memasukkan makanan secara paksa ke dalam mulutnya, sambil ikut membuka mulutnya.


Ara ikut bangkit dan menahan Kedua tangan Cindy.


Cindy kelabakan berusaha menghindar dengan menutup rapat mulutnya, dia merasakan perutnya mual. Mereka berlarian di dalam ruangan private saling mengejar dan menghindar, sambil tertawa tawa senang dan gembira layaknya anak kecil.


Sementara di lapangan golf luas, yang terdapat di belakang rumah pribadi, Rafa memperhatikan keseruan mereka dengan tersenyum. Sambil melayani permainan rekan bisnisnya di sela sela membicarakan pekerjaan.


Dia merasa bahagia melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah istrinya. Bercengkrama bersenda gurau senang dengan kedua sahabatnya.


Semalam dia memergoki Ara sedang melamun kan Cindy sambil memandangi wajah temannya itu di dalam galeri foto.


Bahkan istrinya sampai menangis terisak


menatapi wajah sahabatnya itu.


"Aku udah bilang berulang kali jangan berhubungan dan berteman lagi dengannya," Rafa kembali memperingatkan dirinya karena Cindy adalah sepupu Dion.


Ara semakin terisak mendengar perkataannya. Ara segera membaringkan tubuhnya, lebih memilih tidur tanpa meladeni ucapannya.


Sebenarnya Rafa tidak tega melihat kesedihan Istrinya. Tapi dia juga tidak mau mengambil resiko yang akan berdampak buruk pada rumah tangganya. Mengingat Cindy adalah sepupu Dion yang di gunakan sebagai penghubung untuk mendekati Ara.


Setelah mengecup kening istrinya, Rafa segera ke ruang kerjanya.


Tapi saat tengah malam sedang fokusnya dia dengan pekerjaan, Ara datang ke ruang kerja dan duduk di pangkuannya. Seperti biasa dengan sikapnya yang aneh, memeluk, mengecup, menciumi wajah dan aroma tubuhnya. Dengan tangan meraba raba liar pada dada perut dan punggungnya.


Rafa membiarkan apa yang di lakukan istrinya tetap berusaha fokus dengan pekerjaannya, meski sangat tersiksa dengan bagian tubuhnya yang sudah sangat menegang. Hanya sesekali dia membalas dengan mengecup bibir Ara.


Hingga akhirnya Ara capek sendiri dengan apa yang di lakukan dan tertidur di pangkuannya.


Rafa tersenyum sambil mengelus lembut rambut dan punggung istrinya yang duduk posisi menghadap memeluknya. Hidungnya tidak lepas dari menciumi puncak kepala istrinya.


Perlahan dia mengangkat tubuh Ara dan dibaringkan pada ranjang tidur berukuran


2x2m yang ada di ruang kerjanya.


Rafa ikut membaringkan tubuhnya


di samping Istrinya, memandangi wajah istrinya dalam dalam. Semakin lama di pandangi wajah istrinya, semakin membuncah perasaan di dadanya, raut wajah istrinya saat tidur membuatnya sangat terkesima. Raut muka tanpa polesan, tanpa ekspresi, tanpa di buat buat, tanpa kepura puraan, pancaran tulus dari kalbu.


Memandanginya menyeruakkan berbagai macam perasaan. Ada rasa sayang, cinta, kasih, dan haru. Entah perasaan apalagi yang tidak bisa di gambarkan dengan kata kata.


"Sayangku, maafkan aku. Kau pasti kesal padaku kan? Aku hanya menginginkan yang terbaik buat kita berdua, terutama untuk rumah tangga kita. Aku harap kau mengerti dengan sikap kerasku. Aku sangat mencintaimu sayang, aku tidak ingin ada pengganggu dalam pernikahan kita, dan juga dalam kehidupan rumah tangga kita," ucapnya lembut seraya mengelus ngelus lembut pipi istrinya. Lalu dia segera membaringkan tubuhnya memeluk tubuh istrinya.


Hingga saat subuh datang, keduanya melaksanakan dengan khusyu. Masing masing diam dalam keheningan.


Setelah zikir dan berdoa, tiba tiba Ara langsung memeluknya dari depan. Ara menangis memeluknya, membuatnya terkejut.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Kakak, aku ingin ketemu Cindy. Izinkan aku ketemu dengannya. Aku rindu padanya, aku khawatir dengannya. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk padanya. Huhuuuuuu...! sejak dari Paris dia tidak bisa di hubungi," ucap Ara sambil menangis.


Rafa terhenyak, Cindy lagi Cindy lagi.


"Aku dan Ines sudah lama mencarinya tapi tidak ketemu ketemu. Aku mohon kak, carikan Cindy untukku," ucapnya tanpa jeda di sela tangisnya.


Rafa membuang nafas berat, kesal.


Ara menatap sendu wajah suaminya.


"Kak, Cindy dan Ines ....hanya mereka berdua sahabat ku di dunia ini, hanya mereka yang sangat perduli padaku. Mereka berdua tempat aku mencurahkan segala keluh kesahku tanpa bosan mendengar. Mereka tempat aku berbagi beban, kekuranganku, kesedihanku. Aku merasa tidak sendiri hidup di dunia ini karena support dan motivasi mereka,"


Rafa menelan ludahnya. Dia juga sudah menelusuri identitas Ines dan Cindy serta kebersamaan persahabatan yang terjalin di antara mereka. Persahabatan tulus tanpa ada motif apapun, saling menerima apa adanya, selalu bersama dalam susah maupun senang, saling menyemangati dan saling mendukung, saling menjaga satu sama lain, saling memperingatkan bila melakukan hal salah. Tertawa bersama, sedih bersama, menangis bersama, dan merasakan sakit bersama.


"Hanya mereka sahabat, sekaligus saudara yang menyayangiku dengan tulus sebelum aku bertemu kak Raka, dan juga bertemu kakak," ucap Ara kembali dengan air mata semakin banyak mengalir.


Perasaan Rafa membuncah menyeruak kesedihan. Dia menyapu air mata istrinya.


Pikirannya juga ikut membayangkan bagaimana nasib kehidupan istrinya tanpa kedua gadis itu. Bertahan hidup di kota besar dan kejam kerasnya kehidupan seorang diri tanpa orang tua dan kerabat. Dan sangat sulit menemukan sahabat yang benar-benar tulus menerima apa adanya seperti Ines dan Cindy.


Ara duduk di pangkuannya dan menangkup wajahnya.


"Kak, Cindy dan Ines tidak mengetahui pernikahan kita. Mereka mengira aku masih sendiri sejak kepergian kak Raka. Mereka tidak tahu kalau aku sudah menikah lagi dengan kakak. Mereka hanya menginginkan yang terbaik untukku, tanpa tahu status diriku yang sebenarnya. Mereka tidak bersalah, ini salahku, seharusnya dari awal aku jujur sama mereka tentang pernikahan kita," semakin keras menangis dan terisak-isak.


"Jangan jauhkan aku dari mereka kak," Ara memeluk leher suaminya.

__ADS_1


Rafa ikut terenyuh mendesah merasakan kesedihan istrinya.


"Kak..!" kata Ara kembali menatap wajah Rafa.


Rafa Menatap wajah yang hanya berjarak setengah jengkal dari wajahnya. Wajah yang basah karena bermandikan air mata.


" A aku, a aku.... tidak punya perasaan apapun sama kak Dion," mengecup cepat bibir Rafa, takut suaminya akan marah mendengar nama Dion.


Rafa terkesiap.


"Aku hanya menganggapnya seorang teman dan sekaligus kakak sama seperti Cindy dan Ines. Kak Dion hanyalah kakak bagi kami. Sungguh kak, aku tidak bohong," ujarnya lagi takut takut menyebut nama Dion yang akan membuat Rafa marah. Lalu Kembali mengecup bibir suaminya agar tidak marah.


Rafa menelan salivanya.


Ara memegang ke dua tangan suaminya dan di letakkan di dadanya. Melihat suaminya yang hanya diam.


"Aku bersumpah atas nama Allah aku tidak punya perasaan apapun padanya atau pun pada laki laki lain. Aku hanya mencintai kak Raka dan juga kakak. Tidak ada lelaki lain di hatiku hanya kalian berdua. Kalian berdua adalah suamiku, aku hanya mencintai kalian berdua. Sungguh kak...," menatap suaminya dalam dalam dengan linangan air mata.


Rafa terperanjat mendengar perkataannya. Perkataan perwakilan dari ucapan cinta yang dikatakan istrinya.Terlukis senyuman di Rafa.


Dia ingin berkata untuk memastikan perkataan istrinya, tapi terputus karena Ara kembali mengecup bibirnya.


"Jangan libatkan Cindy Karena kecemburuan kakak pada kak Dion. Dia sama sekali tidak pernah mendekatkan dan memaksa aku dengan kak Dion. Cindy sangat menghargai aku, sungguh kak ... ,"


"Kenapa kakak selalu cemburu pada kak Dion dan terus menerus memendam amarah padanya? Kak Dion orang baik, dia juga mengira aku belum menikah setelah kepergian kak Raka."


Ara memeluk tubuh suaminya.


"Kenapa kakak tidak percaya padaku? A aku hanya mencintai kakak. Aku hanya menyayangi kakak bukan dia. Aku sama sekali tidak punya perasaan apapun padanya. Hatiku sakit saat kakak menuduh aku punya hubungan dengan kak Dion dan melakukan hal yang buruk dengannya. Hatiku sangat sakit dan terluka." suara serak dan jatuh lagi air matanya.


Rafa terperanjat. Mendengar pernyataan cinta dari bibir yang di ucapkan secara langsung. Entah sadar atau tidak Ara mengatakan hal itu, tapi dia yakin itu ungkapan hati sebenarnya.


Rafa segera melepaskan pelukan Ara,


Menatap dalam-dalam netra istrinya.


"Ngomong apa barusa? Hanya apa mencintai siapa?" Rafa mengulangi perkataan Ara.


"Ulangi apa yang kau katakan tadi! Kau hanya mencintai siapa?"


Ara kaget dan gugup. Baru menyadari apa yang di katakan barusan, tentang perasaan cintanya. Ara segera menunduk menghindari tatapan Rafa.


Rafa tersenyum kecil, lalu mengangkat dagu Ara. "Ulangi perkataan mu tadi. Hanya siapa yang kau cintai?"


Ara semakin gugup dan salah tingkah. Wajah merona karena malu. Dia kembali menunduk menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.


Rafa melepaskan mukena istrinya, juga melepaskan songko, sarung dan baju


kokonya. Lalu mengangkat tubuh Ara dan didudukkan ke tempat tidur.


Ara mulai tidak tenang karena sudah dapat memastikan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Kakak mau apa?"


"Mau merayakan pengakuan cintamu sayang," bisiknya jahil dengan senyuman menggoda. Lalu merebahkan tubuhnya.


"Sini...." menepuk tempat tidur di sebelahnya.


"Enggak...," Ara geleng kepala.


"Aku tidak suka di bantah," berkata agak keras.


Dengan gerakan cepat Ara segera mendekat dan berbaring di atas lengan suaminya.


Keduanya saling berhadapan.


"Ini sudah pagi kak, ngapain tidur lagi. Kakak harus siap siap ke kantor," kata Ara merasakan tangan suaminya sudah menyentuh di bagian kesukaannya.


Rafa menciumi semua bagian wajahnya dan berakhir dengan ciuman panjang di bibir hingga keduanya berhenti saat Ara mulai tersengal sengal.


Ara Kembali terdiam, malu, tak menjawab.


Kecupan mendarat di lehernya.


"Sejak kapan?"menatap lekat tangan tak berhenti bergerak menjamah.


"A aku ...!" Ara memejamkan mata merasakan sentuhan nakal itu.


Rafa tersenyum tipis, semakin meliarkan sentuhannya" Sejak kapan?" kembali ******* bibir Ara "Mau ngomong apa nggak?"


"A aku lupa ...!" kata Ara sedikit gagap.


"Coba ingat lah baik baik. Kalau nggak kita akan habiskan waktu seharian di sini, mau?"


Ara menggeleng cepat dan langsung menatap wajah suaminya.


"Aku tidak tahu kak, tapi aku merasakan sakit di sini ...!" menekan dadanya.


"Hatimu?"


Ara mengangguk pelan.


"Sakit kenapa? Kenapa kau merasakan sakit?"


Rafa tersenyum kecil. Tahu s


penyebab sakitnya hati Ara.


"Aku nggak tahu apa yang kurasakan. Tapi aku tidak suka saat kakak dekat, berbicara dan menatapi wanita wanita yang....." ucapan Ara terhenti. Dia mengalihkan tatapan dari wajah Rafa.


Dahi Rafa mengerut.


"Kenapa berhenti? Wanita yang mana?" mengangkat dagu Ara hingga kembali melihat kepadanya.


Raut wajah Ara berubah sedih.


"Saat kakak menatapi wanita wanita yang memakai pakaian terbuka, memperlihatkan aurat mereka," ucapnya pelan dengan nada sendu, lalu kembali menunduk.


Rafa terkesiap. Kemudian tersenyum. Dia mengerti wanita wanita yang di maksud Ara.


"Aku gak suka kakak dekat dekat dan menatap tubuh mereka yang hampir telanjang," lanjut Ara sendu bercampur emosi.


Rafa Kembali terperangah dan kaget melihat kemarahan di wajah istrinya. Dia senyum senyum.


Ara kesal melihat senyuman itu.


"Katanya kakak sangat mencintaiku. Tubuhku juga sangat indah. Tapi kenapa masih suka ngelihat tubuh wanita lain yang bukan mahramnya di luar sana?" terisak.


Rafa tertawa kecil.


"Apakah istriku sedang cemburu sekarang ? ha-ha-ha! takhirnya dia mencintaiku dengan kecemburuannya itu?" batinnya senang. Ingin sekali dia berteriak menyerukan kebahagiaannya, tapi segera di tahan.


Tapi wanita wanita mana yang di maksud istrinya? Wanita mana yang telah membuatnya cemburu? Aku akan berterima kasih padanya. tkarena berkat dirinya, Ara bisa cemburu dan mencintaiku, batinnya. Bagi dirinya, tidak ada satupun wanita yang mampu membuatnya tergoda, tertarik dan membuat hatinya bergetar, meski mereka telanjang bulat di depannya.


Kecuali hanya tubuh indah Ara, yang membuatnya bergairah, mabuk kepayang, membuatnya tergila-gila dan membuatnya tak tahan ingin terus melahapnya tanpa merasa bosan. Hanya dengan menghayalkannya saja langsung membuat miliknya menegang.


Pukulan di dadanya membuat dirinya sadar dari lamunannya. Ara memukul mukul dadanya keras.


"Kakak pasti sedang menghayal tubuh indah mereka kan?" menatap cemberut dengan kesal.


Rafa tertawa keras dan membiarkan apa yang dilakukannya, hingga akhirnya dia menahan kedua tangan Ara karena melihat kristal bening yang jatuh di kedua pipi mulus istrinya itu, dia segera memeluk tubuh Ara yang sudah terisak.

__ADS_1


"Aku gak nyangka kalau kau bisa cemburu padaku," menciumi leher dan telinga Ara.


"Wanita mana yang bisa membuatmu cemburu? Hah? Katakan, siapa dia?" menatap tersenyum jahil.


"Ngapain lagi di tanya ? Udah tau kan?" jawab Ara ketus.


Rafa kembali tertawa.


"Aku ingin tahu sayang, karena selama ini banyak wanita yang dekat dan mengagumi ketampanan ku, ingin sekali menyentuh tubuhku dan memiliki ku. Aku ingin tahu wanita mana yang kau maksud di antara mereka?"


"Ooh..... gitu ya! Berarti banyak tubuh wanita telanjang yang udah kakak lihat? Dan kakak senang, bangga kan mencuci mata dengan melihat keindahan tubuh mereka?" kata Ara keras. Dia mengigit dada Rafa melampiaskan kekesalannya.


Rafa menjerit kesakitan sambil tertawa terpingkal.


"Sakit sayang ..awas kamu ya? Mulai berani kurangajar padaku,"


"Kakak sudah terbiasa melihat lihat tubuh indah mereka kan? Pasti pikiran kakak sekarang sedang berimajinasi membayangkan tubuh telanjang mereka satu persatu kan?" kata Ara menatap tajam semakin kesal dengan raut wajah menahan emosi.


Rafa semakin keras tertawa mendengar perkataannya, menahan emosi yang bercampur cemburu.


Dia sudah sangat yakin kalau istrinya memang benar-benar telah jatuh cinta padanya.


Dia mengecup bibir istrinya dengan cepat.


"Kamu asal nuduh sembarangan, pikiranmu kotor lagi padaku. Aku bertanya karena ingin berterima kasih pada mereka. Karena berkat mereka kamu cemburu dan bisa mencintaiku."


"Katakan sayang, siapa saja wanita itu? Aku akan memberi mereka uang yang banyak, rumah yang megah, kendaraan mewah dan....,"


Tapi ucapannya terpotong. Karena Ara menggigit bibirnya karena banyak ngomong.


"Menyebalkan," ucap Ara menatap tajam.


Ara semakin bertambah kesal, dia kembali menggigit dada Rafa di beberapa tempat hingga tanpa sengaja mengigit p****g Rafa.


Rafa mengaduh kesakitan, tapi juga merasakan gairah yang menjalar di sekujur tubuhnya. Dengan segera dia menindih tubuh istrinya karena tidak tahan lagi. Dia membalas perbuatan istrinya dengan memberi gigitan demi gigitan di bagian dada dengan sedikit kasar, berlanjut ke leher jenjang, terus keseluruhan tubuh atas sampai bawah tak ada yang di lewati.


Gigitan yang bukan membuat Ara menjerit kesakitan, tapi membuatnya mendesah desah menggelinjang dan mengerang hebat, hingga tidak menyadari kalau tubuhnya telah telanjang polos.


Keduanya tersengal dengan nafas memburu cepat.


Rafa menyapu peluh di wajah istrinya. Tak ada yang mampu melukiskan kebahagiaan saat ini. Sungguh dia sangat teramat bahagia mengetahui istrinya sudah mencintainya.


Berulangkali dia mengecup kening dan bibir istrinya lembut, menatap dengan binar bahagia.


"Kakak, aku ingin bertemu Cindy," keluh Ara kembali teringat sahabatnya itu.


Rafa meraba raba lembut bibir istrinya yang merah merekah alami.


"Kau ingin bertemu Cindy?"


Ara mengangguk cepat


"Aku mohon kak, tolong carikan dia untukku. Aku sudah berusaha mencarinya tapi tidak ketemu, aku sangat khawatir padanya takut terjadi sesuatu yang buruk,"memelas penuh harap.


Rafa bukannya tidak tahu pergerakan Istrinya yang mencari keberadaan Cindy secara diam-diam. Dia malah sangat tahu dengan laporan yang selalu di berikan oleh anak buahnya.


"Baiklah," ucap Rafa beberapa saat kemudian setelah berpikir.


"Benarkah?" Ara tersenyum dengan ekspresi senang.


"Tapi ada syaratnya," Rafa mengecup bibirnya sesaat. Lalu segera merebahkan tubuhnya di samping Ara.


"Syarat?" dahi Ara mengerut.


Ara meraba raba selimut dan pakaiannya di sekitar nya tapi hilang entah kemana? Dia segera meraih bantalnya dan menutupi bagian pribadinya yang terbuka polos.


"Baiklah, katakan apa syaratnya. Tapi jangan aneh aneh," katanya kemudian.


Rafa tersenyum tipis, dia menarik lengan Ara untuk bangun.


"Naiklah, duduk di sini." menepuk perutnya.


Ara terkejut.


"Ta-tapi aku tidak memakai apapun kak,"


Rafa semakin kuat menarik lengannya kanannya. Ara ragu tapi segera mengikuti tarikan tangan suaminya duduk di atas perut suaminya. Dia merasa risih dan canggung saat miliknya yang polos menyentuh perut Rafa tanpa penghalang.


Ke-dua tangannya segera di tutupkn pada kedua buahnya. Tubuhnya bergidik saat merasakan sesuatu yang mengeras di bawah sana.


Rafa tersenyum melihat wajahnya yang tegang dan tidak tenang. Perlahan dia bangun duduk dan memeluk istrinya, merebahkan wajahnya di antara leher dan telinga istrinya, mencium dan menjilati. Dengan kedua tangan merangkum lembut kedua benda favoritnya yang kencang dan sesekali menikmatinya.


"Kak..." Ara mendesah tertahan.


Rafa melepaskan ciumannya.


"Kau mau tahu syaratnya?"


Ara mengangguk.


"Puaskan aku," bisik Rafa pelan di telinga nya sambil tersenyum jahil. Sekaligus mengecup kuat leher istrinya, menjilati cupingnya, lalu segera membaringkan tubuhnya kembali.


Ara tercengang.


"A-Apa ?" menatap melotot pada Rafa.


"Ta tapi aku tidak tahu kak, bagaimana caranya?" gelisah di atas tubuh suaminya.


Karena selama mereka melakukan hubungan intim hanya Rafa yang selalu memegang kendali permainan, Rafa yang terus menyerang dirinya.


"Cari sendiri bagaimana caranya, tapi aku tidak akan memaksamu, terserah kau,"


kata Rafa kembali menahan tawanya. Cukup lucu melihat wajah istrinya yang nampak cemberut, kesal, bingung, gelisah.


Ara mendengus kesal.


"Tolong ambilkan ponselku," katanya kemudian setelah berpikir keras bagaimana caranya memuaskan suaminya, dia menyerah dan ingin meminta bantuan google. Karena besarnya keinginannya untuk bertemu Cindy dia akan mencari tahu caranya. Dan dia juga ingin mencoba melayani dan memuaskan suaminya di atas ranjang.


"Buat apa?" tanya Rafa dengan dahi mengerut.


"Aku tidak tahu caranya untuk memuaskan kakak, makanya aku ingin meminta bantuan tante google. Kakak sih mintanya yang aneh aneh," katanya semakin kesal, mencubit perut Rafa melampiaskan kekesalannya.


Rafa meringis kesakitan dan Kembali


tertawa kecil mendengar kalimat jujur polosnya membalutnya semakin gemas. Dengan cepat dia bangun dan melahap dada istrinya beberapa saat. Lalu segera meraih ponsel Ara di atas nakas dan menyerahkannya. Dia juga mengambil ponselnya dan menuliskan pesan pada wisnu untuk mencari keberadaan Cindy secepatnya.


Dan juga meminta untuk memundurkan jadwal agendanya pagi ini untuk tiga jam kedepan. Setelah Itu dia kembali memperhatikan wajah istrinya yang nampak serius melakukan pencarian di iringi suara bantuan jawaban tante google, satu tangannya sibuk dengan ponsel, satunya lagi di gunakan menutupi dadanya.


Rafa tertawa kecil di dalam hati melihat usaha istrinya untuk memuaskan dirinya.


"Sayangku, kau benar-benar sangat menggemaskan, aku sudah tidak sabar ingin merasakan permainan ranjang mu," katanya tertawa terpingkal penuh kemenangan dengan kedipan mata menggoda.


Kedua tangannya meraba raba lembut paha, bokong, perut, pinggul, dada Ara untuk menggoda.


Ara mendengus kesal semakin cemberut karena gelisah dengan sentuhan itu. Hingga beberapa Saat kemudian dia mulai bereaksi di atas tubuh Rafa, mempraktekkan apa yang di lihatnya di kolom pencarian. Sungguh dia sangat malu. Tapi harus di lakukan. Perlahan lahan di awali dengan menciumi bagian bagian atas tubuh suaminya sesuai petunjuk tante google, terus berlanjut ke bagi leher dada, perut dan terakhir bagian paling sensitif milik suaminya.


( Untuk selanjutnya readers bayangkan saja ya langkah selanjutnya yang di lakukan Ara untuk memuaskan Rafa di atas ranjang )🀭


******


Maaf baru bisa up karena masih ada urusan yang sangat penting πŸ™

__ADS_1


terimakasih yang masih setia dan menunggu dengan sabar kelanjutan karya author πŸ™πŸ˜˜


Jangan lupa like dan votenya yaa πŸ™β˜ΊοΈ


__ADS_2