
"Bawa mereka ke kantor polisi, pastikan mereka mendekam di dalam penjara selama mungkin. Sita semua aset kekayaan mereka tanpa sisa, sebarkan kejahatan yang mereka lakukan, agar tak ada satu pun tempat yang mau mempekerjakan keluarga mereka." sentak Rafa dengan suara keras menggelegar dalam ruangan. Wajahnya merah layaknya api, rahangnya bergetar, tangan di kepal kuat menahan amarah. Tatapannya tajam dan menyeramkan seakan ingin menerkam pada 4 orang yang sedang berlutut di bawah kakinya dengan wajah pucat pasi serta tubuh gemetaran.
Ruang rapat yang tadinya cool dan adem, berubah panas. Peserta rapat terdiam tanpa bergerak sedikit pun di tempat duduk dan tertunduk tidak berani menatap wajah menakutkan pimpinan mereka yang seakan ingin menerkam.
Kecurangan laporan keuangan yang dilakukan oleh pihak manajemen dengan memanipulasi data laporan keuangan perusahaan serta penggelapan dana yang menyebabkan perusahaan kehilangan uang yang cukup banyak akibat korupsi yang mereka lakukan hanya untuk kesenangan pribadi.
Pemeriksaan langsung dan mendadak juga di lakukan pada restoran dan hotel, karena ada beberapa kecurangan yang di lakukan di dua tempat usahanya itu. Pencurian uang dan stok bahan makanan. Para pihak yang terlibat dalam kecurangan yang tak lain adalah kasir dan kepala gudang bahan makanan di pecat dan di giring ke kantor polisi.
*****
"Kak, ayo kemari." seru Ara dari jauh.
Raka memberi isyarat dengan tangan kanannya untuk menunggu sebentar, karena saat itu dia sedang menerima telepon dari Rafa.
"Oke kak, by..." Raka menutup teleponnya.
Lalu segera berjalan mendekati istrinya.
"Bagus nggak kak ?" Ara memperlihatkan gambar lukisan di atas pasir hasil karya sepotong kayu dan jari telunjuknya.
Raka memperhatikan sejenak gambar lukisan sepasang manusia mirip mereka berdua yang saling menatap lekat dengan tersenyum, kedua tangan saling berpegangan. Rambut si wanita yang keriting bergelombang terurai panjang kebawah, beberapa helai menjuntai ke belakang seolah tertiup angin. Di dada mereka yang menempel ada bentuk hati yang tertulis Rβ€οΈA.
__ADS_1
"Indah sayang, kamu hebat sekali." ucap Raka kagum dan memberikan dua jempolnya. Dia tahu istrinya sangat suka melukis.
Ara tertawa kecil, senang.
Gambar lukisnya yang besar dan terlihat timbul mengundang perhatian beberapa pengunjung. Mereka berdecak kagum melihat lukisan yang detailnya menakjubkan.
Bahkan dia antara mereka meminta izin untuk Selfi di lukisan itu. Dan semakin lama orang orang mulai banyak berdatangan melihat dan tertarik kemudian mengambil foto. Bahkan ada yang mengambil foto lewat drone.
"Mbak hebat, apa mbak seorang seniman? Karya mbak sangat bagus dan menakjubkan." kata seorang pengunjung
"Ah tidak, saya hanya sekedar iseng saja membuatnya." ucap Ara salah tingkah. Dia tidak menyangka hasil jari telunjuknya itu membuat heboh dan kagum para pengunjung pantai.
"Istri saya bukan seniman, tapi dia pintar dan punya bakat yang luar biasa dalam melukis." jawab Raka bangga.
"Oh jadi ini istrinya? Bolehkah kami mengambil foto bersama anda berdua?"
Hah? Ara kaget.
Raka tertawa kecil melihat tingkah istrinya.
"Tentu boleh." katanya seraya memegang tangan Ara.
__ADS_1
"Kak... ?" mata Ara membulat. Geleng kepala
"Ayo sayang, jangan kecewakan mereka yang mengagumi hasil karyamu." Raka menarik tangannya.
Acara foto di mulai dengan mengambil gambar dari jarak yang agak jauh sesuai permintaan keduanya.
Mereka mengerumuni Raka dan Ara bergantian untuk mengabadikan moments lukisan yang indah bersama sang penciptanya.
Lalu mereka bagikan ke beberapa akun media sosial, dan tidak butuh waktu lama langsung viral karena telah di bagikan oleh ribuan pengguna sosmed.
Matahari sudah semakin tinggi dengan teriknya yang semakin membakar kulit. Bunyi alarm waktu sholat berdering di hp keduanya. Dengan menggunakan mobil pantai yang sudah di sediakan oleh orang Wisnu, mereka menuju sebuah resort mewah milik Rafa yang berada tidak jauh dari pantai. Sampai di resort pelayan menyambut mereka dan telah menyiapkan makan siang. Raka pamit untuk shalat dzuhur sebentar.
Ara belum makan, dia ingin makan bersama suaminya. Sementara menunggui suaminya shalat, Ara mengistirahatkan diri duduk di bawah pohon rindang depan resort sambil memandangi lautan lepas dan para pengunjungnya.
Dia terkejut saat dua orang wanita muncul tiba tiba dan berlutut di hadapannya memohon dengan tangan di dada.
"Kalian? Apa yang kalian lakukan? Cepat berdiri." kata Ara menatap bingung penuh tanya pada kedua wanita itu......Mona dan Lisa.
****
Selamat membaca, jangan lupa like dan komen nya ππ
__ADS_1