
Dada Ara bergemuruh kuat, raut wajahnya berubah mendung mendengar ucapan Rafa yang mengusirnya.
"Hey bos, apa kau sedang mengusir Ara?" kata Rizal tidak senang mendengar perkataan Rafa.
"Kau benar-benar tidak berperasaan bos, Ara sudah membuatkan kue untukmu, menyiapkan kejutan untukmu, dan kau malah mengusirnya?" sentak Rizal kembali.
Dada Ara di rasakan sesak. Dia tidak mengerti kesalahan apa yang telah di perbuat, di suru keluar dari kamarnya secara langsung dan di depan banyak orang membuat Ara sedih dan sedikit terluka.
"Kak, aku keluar dulu." bisiknya pada suaminya.
"Sayang." Raka menahan tangannya merasa tidak enak pada istrinya, tapi dia juga tidak bisa membantah perintah kakaknya.
"Gak apa apa kak." kata Ara tersenyum pada suaminya, lalu bangkit berdiri.
"Ma, kak Nesa, aku ke kamar dulu." ucapnya pelan pada Maya dan Nesa bergantian.
Kedua wanita itu juga heran dengan sikap Rafa yang menyuruh Ara keluar dari kamarnya tanpa sebab.
"Kak Rafa kakak kenapa? Apa Ara membuat kesalahan?" Raka menatap Rafa.
"Katakan Kak.." kata Raka kembali.
Rafa membuang nafasnya gusar, dia menatap punggung Ara yang berjalan menuju pintu. Sebenarnya dia tidak bermaksud mengusir gadis itu, kata kata itu langsung keluar saja dari mulutnya tanpa di sengaja, karena dia tidak tahan berhadapan terus menatap wajah gadis itu.
"Bukan hanya Ara, keluarlah kalian semua, aku mau tidur." katanya sambil bangkit dari duduknya.
Raka segera bangkit berjalan cepat pada istrinya, lalu menahan tubuh istrinya saat
hendak keluar dari pintu.
"Sayang, kak Rafa tidak bermaksud begitu ke padamu. Dia hanya capek dan ingin istirahat, Kak Rafa ingin kita semua keluar, bukan hanya kau saja." katanya merasa tidak enak pada Ara.
__ADS_1
"Cepat keluarlah kalian semua, aku mau istirahat. Mama juga istirahat lah Ini sudah mau pagi." kata Rafa kembali menatap Ara yang menahan tangisnya dalam pelukan Raka.
Dia merutuki dirinya dalam hati. Merasa bersalah.
"Hey bos tunggu dulu, masih ada satu yang terlewatkan." Rizal menarik tangan Ara dan menariknya kembali di hadapan mereka.
Ara ikut menarik tangan suaminya. Raka langsung mengikuti.
"Hari ini bukan hanya kau saja yang berulang tahun, tapi Ara juga. Aku gak menyangka ternyata kalian berdua lahir di tanggal dan bulan yang sama. Apa kau sudah memberinya ucapan dan doa?" Rizal melanjutkan perkataannya.
Rafa terdiam, dia menoleh pada Ara yang berada dalam pelukan Raka.
Nesa yang sedari tadi hanya diam, bangkit dari duduknya, dia menyerahkan secarik kertas pada Rafa.
"Ini permintaanku untukmu, dan untuk Ara nanti aku pikirkan, sebentar pagi baru ku beritahu."
"Ayo Ma, kita turun. Aku sangat mengantuk. Cepat berikan kertas permintaan mama pada mereka berdua." lanjut Nesa.
"Mama juga mau ke kamar, kamu juga harus segera istirahat."
Dia mendekat pada Ara
"Ini kertas permintaan mama padamu." meletakkan kertas di genggaman tangan Ara.
"Kertas permintaan?" Ara mengulangnya tidak mengerti"Kertas permintaan apa ini?" batinnya bingung.
"Sayang nanti aku akan jelaskan padamu." kata Raka melihat kebingungan di wajah istrinya.
Nesa mengapit tangan mamanya berjalan keluar.
Wisnu mendekat begitu melihat isyarat dari tuannya, dia segera mengambil kertas dari tangan Rafa.
__ADS_1
Rizal mendekatinya
"Ini untukku." bisiknya tepat di telinga Wisnu,
dia memasukkan kertasnya di saku celana Wisnu.
Wisnu mendengus kesal, dan Rizal hanya tersenyum mengejek.
Lalu mendekat pada Raka dan Ara
"Adik ipar ku yang cantik, ini permintaanku untukmu, semuanya telah ku tulis dengan indah di sini." katanya tersenyum seraya menyentuh hidung Ara, dia menyerahkan kertasnya, Ara menerimanya meski tidak mengerti.
"Raka, betapa cantiknya istrimu dengan gaun ini, aku sampai pangling melihatnya. Setiap hari kecantikannya makin bertambah. cantik alami tanpa polesan makeup. Aku sangat suka melihatnya, hatinya juga sangat baik dan lembut, betapa beruntungnya dirimu memilikinya. Apa masih adakah stok gadis seperti istrimu ini di bumi ini? Aku akan mencarinya meski harus sampai ke ujung dunia." kata Rizal romantis menyentuh hati.
Sebuah benda melayang di wajahnya, untung saja empuk, kalau tidak wajah tampannya bisa itu hancur lebur.
Bantal sofa yang di lempar Rafa.
Raka terkekeh mendengar ucapannya.
"Hey bos, kenapa kau melempar ku? Kau sengaja ya ingin merusak wajah tampanku?" teriak Rizal kesal.
Wisnu segera menarik paksa tubuhnya keluar .
"Apa apaan kau Wisnu, lepas." sentaknya keras.
Wisnu tidak perduli.
"Aku ada urusan dengan mu dokter." katanya penuh tekanan di telinga Rizal dan semakin kuat menyeret tubuh dokter muda itu keluar.
*****
__ADS_1