
...Happy Reading....
Wisnu memikirkan tentang sesuatu, mencoba mengaitkan apa yang di dengarnya barusan dari mulut Dion dengan kejadian di parkiran kampus tadi. Di mana dia melihat Ines dan Cindy berpelukan sedih. Ines seperti sedang menenangkan Cindy yang menangis.
"Tuan, sepertinya ada masalah." katanya kemudian.
Rafa menoleh sekilas padanya, lalu melangkah masuk ke dalam lift. Wisnu segera mengikutinya.
"Sepertinya ada masalah antara putra Alkas dengan istrinya." katanya kembali.
Rafa kembali menoleh kepadanya.
Wisnu segera menceritakan apa yang di lihatnya tadi di parkiran kampus.
"Maksudmu ada masalah di antara mereka berdua? Rumah tangga mereka?" tanya Rafa menyimpulkan setelah mendengarkan penjelasan Wisnu.
"Saya berpikir begitu tuan." kata Wisnu sependapat dengan pemikiran tuannya.
Rafa langsung teringat istrinya. Saat ini ketiga sahabat itu sedang bersama. Sudah pasti pasti sedang membicarakan masalah yang menimpa Cindy.
"Cepat hubungi istriku Wisnu___" katanya segera. Raut wajahnya langsung berubah tegang.
Masalah dan Kesedihan Cindy sudah pasti akan mempengaruhi Ara. Istrinya yang selalu mengutamakan kebahagiaan kedua sahabatnya.
Dulu waktu Cindy hilang tanpa kabar, Ara selalu menangis dan mencari keberadaannya ke setiap tempat. Hingga akhirnya Ara meminta bantuan kepadanya mencari sahabatnya itu.
"Ah....Brengsek kau Dionel Alkas___lagi lagi kau membuat masalah." umpatnya geram.
"Sambungkan ke video call Wisnu. Aku ingin melihat keadaan Ara, dia pasti sedang sedih."
katanya, karena dia tahu itu istrinya itu memiliki perasaan yang sangat sensitif, apalagi saat hamil begini.
Wisnu segera mengikuti perintahnya.
"Nomor Nona muda tidak aktif."
Rafa mendengus geram semakin cemas.
Wisnu menghubungi Florencia.
"Tuan, kata Florencia ponsel Nona kehabisan daya. Saat ini mereka sedang menuju kafe untuk makan siang." katanya kemudian.
"HAhh.... " Rafa membuang nafas lega.
Wisnu menyerahkan video rekaman cctv.
Rekaman video yang terjadi di ruang pribadinya di gedung Universitas.
Hatinya terenyuh melihat ketiga wanita itu menangis berpelukan setelah Cindy menceritakan masalah yang terjadi antara dirinya dan Dion. Cindy juga memperlihatkan bukti foto perselingkuhan Dion dengan Bela di kamar hotel. Membuat wanita muda itu semakin keras menangis.Tangisannya yang menyayat hati membuat Ara dan Ines juga ikut ikutan menangis.
"Sayangku, jangan menangis." Rafa tak tahan melihat airmata istrinya.
Rafa merutuk Dion. Karena semua gara gara laki laki brengsek itu. Selama ini dia selalu menjaga emosi istrinya untuk tetap stabil. Membuatnya selalu tersenyum dan bahagia, menjaga kondisi kesehatan tubuhnya, pola tidur, pola makannya, menjaga hati dan perasaannya agar tidak tersakiti dan stress.
"Selesaikan masalah ini secepatnya Wisnu.
Aku tidak ingin istriku ikut ikutan stres karena masalah Cindy dan putra Alkas."
"Dionel Alkas, manusia rendah, sampah.
Kau tega sekali menyakiti istrimu yang sedang hamil." umpatnya geram.
"Siapa wanita itu Wisnu?"
__ADS_1
"Namanya Bela tuan." kata Wisnu di sela menyetir.
"Siapa dia? Apa kau mengenalnya?"
"Tidak tuan, saya bertemu tidak sengaja dengannya saat menjemput ibu Azham dan Azhar di bandara. Wanita itu menyukai putra Alkas. Saya sempat melihat dia mengagumi putra Alkas pada layar ponselnya. Dan sepertinya wanita itu mempunyai niat yang tidak baik pada Nona Cindy."
Rafa melihatnya pada kaca tengah mobil.
"Maksudmu?"
"Wanita itu membenci Nona Cindy karena dia menyukai putra Alkas. Dan dia berniat menghancurkan rumah tangga mereka untuk memiliki putra Alkas."
"Cih....." umpat Rafa.
"Anda pernah melihatnya tuan, di acara semalam."
Rafa kembali melihat ke arahnya. Mengingat acara semalam.
"Wanita yang menabrak anda dengan sengaja." kata Wisnu.
Dahi Rafa mengerut mengingat kejadian semalam.
"Wanita menjijikkan itu?" tanyanya setelah teringat seorang wanita menabraknya dengan sengaja.
"Benar tuan."
"Cih...." lagi lagi Rafa kembali mengumpat.
"Kenapa putra Alkas berhubungan dengan wanita rendah seperti itu? Cepat selesaikan masalah ini. Aku tidak mau Ara ikut sedih dan stres karena masalah mereka. Ara pasti tidak akan tenang sebelum Cindy tenang dan bahagia."
"Dengan senang hati tuan." jawab Wisnu dengan senyuman menyeringai. Dia mendapat laporan Florencia semalam.
Di mana Nona mudanya hampir saja celaka akibat perbuatan Bela yang sengaja ingin mencelakai Ines, tapi malah Nona mudanya yang kena. Meski Florencia tidak melihat dengan pasti dia pelakunya, tapi Florencia yakin bela memang sengaja ingin mencelakai Nona mudanya dan Ines.
Dan untuk mengetahui siapa Bela, dia akan mencari tahu pada Ines. Karena sepertinya wanita yang di sukai oleh kedua anaknya itu tahu tentang Bela.
.
.
Ara mengajak kedua sahabatnya ke mall untuk menghibur hati Cindy.
"Ra___ngapain kita ke sini?" tanya Cindy.
"Ya belanja dong Cin. Aku pengen belanja perlengkapan bayiku. Kamu juga Cind...kita sama sama belanja keperluan bayi yuuk? Kau juga Nes. Pilih aja apa yang kau suka. Ambil aja apa yang kalian suka aku yang bayar.
Pokoknya hari ini kita bebas belanja." kata Ara seraya mengedipkan sebelah matanya pada Ines.
"Benar nih Ra? bebas milih apa saja? wah... senang banget ada yang traktir. Ayo Cind, buruan, tunggu apalagi, mumpung gratis." celetuk Ines tertawa senang seraya menarik tangan Cindy.
"Lihat Cin.... lucu banget..." kata Ines gemas memperlihatkan set kaus kaki, sarung tangan, topi bayi.
"Wah__ lucu dan cantik. Bayi kita pasti akan tambah kiyut memakai ini Cin! Nah...itu tuh yang biru ambilkan Nes, berikan pada Cindy. Dia suka banget sama warna biru." timpal Ara.
Ines mengambil apa yang di tunjuk Ara. Mengambil dua pasang dan di perlihatkan pada Cindy.
"Ara benar Cin, ini manis banget. Coba deh kamu pegang, lembuuut banget. Sangat pas dengan kulit bayimu yang lembut dan halus."
Ara meraba raba perut Cindy.
"Helow baby boy. Ponakan ante yang cakap. Kalian lagi ngapain nih?"
"Lagi bobo ante__" jawab Ines menirukan suara anak kecil.
__ADS_1
"Oh bobo? Maaf ya ante ganggu tidur kalian."
"Gak pa pa ante___"
"Coba lihat nih, mama kalian pengen beli baju baru buat kalian. Tapi mama Cindy bingung, kalian sukanya warna apa?"
"Mmmm__Blue ante___"
Cindy tersenyum melihat tingkah lucu mereka.
"Oke deh, yang ini? Bagus kan? Apa kalian suka?"
"Cuka banget ante. Aku Juga cuka yang ini...ini..ini..ini..ini dan ini___." kata Ines seraya mengambil beberapa perlengkapan bayi dan juga beberapa boneka di letakkan di depan Cindy.
Cindy kembali tersenyum lebar. Ara dan Ines ikut tersenyum lega melihatnya yang sudah tersenyum.
"Cind, ini bagus nggak?" seru Ara memperlihatkan stroller baby berwarna biru pada Cindy. Cindy mendekatinya. Mengamati kereta dorong bayi tersebut.
"Iya Ra bagus banget dan cantik."
"Mbak, yang warna ini dua ya! Terus abu tua empat." kata Ara pada pelayan.
Dua untuk calon bayi Cindy, dan empat untuk calon bayinya.
Mereka memilih milih perlengkapan bayi sampai di rasa cukup.
Ara dan Ines sangat senang melihat Cindy tersenyum melupakan kesedihannya.
Sebenarnya belum waktunya bagi Ara untuk membeli perlengkapan bayinya.
Tapi demi untuk menghibur sahabatnya setidaknya walau untuk beberapa jam.
Selanjutnya Ara mengajak mereka naik ke lantai tiga. Di mana terdapat beberapa toko yang di gunakan menjual beberapa produk branded nya. Dia bukan pemilik mall ini, tapi dia menyewa beberapa toko yang di gunakan untuk menjual beberapa produknya.
Cindy dan Ines langsung tahu kalau ini tokonya dengan melihat tulisan AZAHRA berlogo AZ'FA untuk membedakan nama tokonya dengan nama toko Azahra lainnya.
Mata Ines jelalatan melihat semua macam
macam produk yang terlihat indah mewah dan elegan. Dengan harganya yang fantastis membuatnya melongo. Tas, sepatu, pakaian keluaran terbaru.
"Benar nih Ra...bebas milih apa saja?" tanyanya melihat harga pada label yang mencapai ratusan juta hingga miliaran
"Aku udah bilang kan tadi? Ambillah apa yang kalian suka." kata Ara tersenyum.
"Lo gak takut rugi?"
"Kok rugi sih. Kalian sahabat ku. Masa sama sahabat sendiri bisa rugi....?"
"Udah Nes, sebelum dia berubah pikiran, Ayoo.. kesempatan langka seperti ini gak akan datang dua kali." potong Cindy cepat, seraya menarik tangan Ines.
Ines terkekeh.
Ara tersenyum senang melihat terutama pada Cindy. Dia dapat merasakan betapa hancur, sakit dan terlukanya hati sahabatnya itu.
Ara berpikir untuk meminta bantuan suaminya untuk menyelesaikan masalah yang terjadi pada rumah tangga Cindy.
Tapi dia takut nanti suaminya akan marah jika ikut campur dalam masalah rumah tangga orang lain. Tapi dia juga gak tega melihat Cindy sedih dan banyak menangis, apalagi dia sedang hamil begini.
Ara melangkah masuk kedalam. Dia langsung di sambut oleh sang manager dengan sopan.
"Pak, tolong layani kedua sahabatku dengan baik. Dan tolong berikan tempat duduk pada wanita yang memakai dress coklat, dia sedang hamil." kata Ara menunjuk Cindy dan Ines yang tengah memilih pakaian dan tas.
"Baik Nona." jawab manager sopan.
__ADS_1
Dia segera memberi isyarat pada dua pelayan untuk melayani kedua sahabat bosnya ini. Sementara Ara, duduk sebentar untuk istirahat.
...Bersambung....