Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode. 21


__ADS_3

...Happy Reading....


Setelah shalat Subuh, sebuah panggilan telepon masuk di HP Ara. Tertera nama Tito di layar ponsel.


"Siapa Yang?" tanya Raka setelah Ara selesai menerima panggilan itu


"Dari Tito," jawab Ara.


"Ada apa?"


"Tidak ada apa apa."


"Hari ini kakak akan ke bandung bersama bos kakak. Mungkin pulangnya agak telat. Nanti kakak suru sopir untuk mengantar kamu dan si kembar ke sekolah, soalnya kakak buru buru."


"Iya." kata Ara. Dia teringat Rafa." Apa Kakak sudah menelepon kak Rafa?"


"Belum, nanti kamu saja yang telpon ya? Soalnya kakak buru buru, sekalian kau juga bisa ngobrol sama kakak Rafa."


Ara terdiam.


"Kamu jangan takut, kak Rafa orang baik." kata Raka menyentuh ujung hidung istrinya.


"Turunlah ke bawah, kakak pengen makan nasi goreng enak buatan mu." kata Raka kembali.


"Siap bos ku." jawab Ara memberi hormat, lalu segera melangkah keluar di iringi senyuman suaminya.


Begitu tiba di dapur,"Selamat pagi Nona Muda." sapa pak Sam dan koki dengan sopan.


Ara tersenyum pada mereka."Selamat pagi, saya mau membuat nasi goreng untuk suami saya."


"Biar kami yang akan membuatnya Nona." kata Sam.

__ADS_1


"Tidak usah pak, biar saya saja. Kebetulan kak Raka ingin makan nasgor buatan saya. Pak Sam cukup tolong beri tau saja di mana letak bumbu sama wajannya, terus saya juga perlu sedikit nasi."


"Baik Nona." Sam segera mengambil apa yang di butuhkan Ara.


Ara segera beraksi dengan lincah. 20 menit kemudian aroma harum masakan menebar di ruangan itu. Sepiring lebih nasi goreng sudah selesai di buat dan tata di atas piring. diatasnya di beri topping telur mata sapi, sedikit kerupuk, potongan sosis dan timun, sedikit sayur pakcoy dan sawi.


Pak Sam dan koki memuji masakannya.


"Enak. Ternyata nona muda pintar


memasak." ujar mereka setelah mencicipi sedikit.


Ara tersenyum dan mengucap kan terima kasih, lalu segera meletakan makanan itu di atas meja bersama segelas teh jahe dan air jeruk. Dia segera naik ke atas untuk memanggil Raka.


Pak Sam dan para koki melanjutkan pekerjaannya.


Maya keluar dari kamar karena mencium bau masakan yang harum."Bau wangi apa ini?" gumamnya seraya mendekat ke dapur.


"Selamat pagi Nyonya?" sapa Sam.


Maya tak menggubrisnya. Dia menatap nasi goreng yang berada di meja makan.


"Itu nasi goreng buatan Nona muda untuk Tuan Raka. Ternyata Nona Ara pintar memasak. Masakannya enak dan lezat nyonya." kata Sam memuji, lalu segera meminta izin kembali ke dapur.


Maya menatap makan sederhana di depannya. "Masa sih bau harum ini berasal dari hasil tangannya?" gumamnya pelan.


Selama ini dia tidak pernah mencium aroma wangi masakan seperti ini dari para kokinya.


Maya menoleh ke kiri dan ke kanan memastikan tak ada orang yang melihat, lalu dia mengambil sedikit dan mencicipinya.


"Enak dan lezat, ternyata gadis rendah itu pintar juga membuat makanan seenak ini." batinnya mengakui kelezatan makanan itu. Lalu dia segera pergi ke taman tanpa menyadari kalau Sam memperhatikannya diam diam sambil tersenyum.

__ADS_1


Setelah sarapan, Raka langsung pamit, karena sang bos sudah berulangkali meneleponnya. Mereka akan ke bandung untuk memeriksa gudang perusahaan tempat ia bekerja yang berada di sana, karena jabatannya sebagai manajer gudang dan logistik.


Jam 8 pagi Ara sudah bersiap ke kampus dengan stelan kous dan celana jeans yang biasa ia pakai. Di ruang keluarga duduk Maya dan Nesa yang sedang menikmati kopi dengan majalah di tangan.


"Selamat pagi Ma, kak Nesa." sapanya sopan.


Tak ada yang menyahut, Nesa asyik dengan majalahnya.


"Saya pamit ke kampus." kata Ara lagi.


"Kamu mau ke kampus dengan pakaian usang dan kumal begini? Apa kamu tidak punya pakaian yang lebih bagus dari ini?" kata Maya sinis sembari menatap pakaian yang melekat ditubuh Ara.


"Pakaian ini sudah biasa saya pakai ke kampus ma, dan ini juga masih bagus kok." jawab Ara pelan dan sopan.


Nesa melempar majalah yang ia baca ke meja, lalu menatap tajam pada Ara.


"Kamu itu sekarang sudah jadi Nyonya Artawijaya. Jangan bikin malu keluarga kami. Ingat ya, kalau nanti kita bertemu di luar sana, anggap saja kita tidak saling mengenal." katanya sinis.


"Baik kak." kata Ara tetap sopan, meski dadanya sesak dengan hinaan itu.


"Raka pasti telah memberimu kartu kredit. Belilah pakaian yang bagus, jangan membuat suamimu malu." kata Nesa kembali sambil bangkit berdiri.


"Aku ke studio dulu Ma," katanya pada Maya.


Nesa adalah seorang desainer yang cukup terkenal, memiliki kantor studio sendiri.


Dia bekerja sebagai freelancer, karena tidak mau terikat dengan sebuah agensi atau perusahaan, kecuali perusahaan milik Rafa.


Dia lebih memilih bekerja sendiri di temani 8 orang stafnya.


Ara juga ikut pamit kembali meski tak ada respon dari ibu mertuanya. Taksi online yang ia pesan sudah berada di depan pintu gerbang untuk membawanya ke kampus.

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2