
Setelah di mandikan, lalu di kafani, kemudian di sholati.
Sebagian besar para pelayat menyolati.
Maya, Rafa, Rizal, wisnu, Nesa dan para pelayan pun ikut menyolati.
Ara sangat sedih karena tidak bisa ikut menyolati suaminya. Karena tubuhnya belum bersih dari uzur.
Selanjutnya mereka mengantarkan almarhum ke peristirahatannya terakhir, yang berada di taman belakang rumah. Di mana tuan besar Artawijaya di makamkan, yakni suami Maya dan ayah mereka bertiga. Dan di sebelahnya lagi suami Nesa, Revan.
Raka di kuburkan tepat di samping makam ayahnya.
Isak tangis mengiringi penghantaran Raka ke tempat peristirahatannya.
Bahkan langit pun ikut sedih. Awan biru berubah mendung tak kala jasad yang terbungkus kafan putih di masukan ke liang lahat. Setelah jasad tertimbun tanah, langit kembali cerah memperlihatkan keindahannya.
Masya Allah, Allahu Akbar.
Mereka menabur bunga di sertai ucapan doa,
berbagai doa yang baik di ucapkan dengan di pandu oleh ustadz Arif dan beberapa ustadz lainnya.
Beberapa saat kemudian acara pemakaman selesai. Para pelayat satu persatu pamit dan pulang, termasuk ustadz Arif, mbok Imah, Tito, dan beberapa anak panti. Mereka pamit untuk kembali ke panti.
Pihak keluarga yang di wakili Rizal dan Wisnu sangat berterimakasih atas kehadiran mereka semua.
Tinggallah mereka bertujuh di pemakaman.
__ADS_1
Maya, Nesa, Rafa, Ara, Rizal, Wisnu, dan pak Sam. Bersimpuh mengelilingi pemakaman Raka, mengucap doa di hati masing-masing dengan kesedihan yang mendalam.
Maya yang tak henti menangis di pelukan Rizal kembali pingsan. Sam dan Wisnu segera membopong tubuhnya ke rumah.
Nesa ikut pergi menemani mamanya.
10 menit berlalu, Rizal menyentuh pundak Rafa dan Ara.
"Kuatkan hati kalian. Sabarlah. Mari kita kembali ke rumah." ucap Rizal pelan. Dia memberi isyarat pada Rafa agar segera membawa Ara ke rumah, melihat kondisi tubuh gadis itu yang sangat lemah memprihatinkan. Lalu dia segera pergi untuk memeriksa kondisi Maya yang pingsan.
Ara menatap taburan bunga di tumpukan tanah basah yang membumbung. Tatapan kosong, air mata yang terus mengalir, tanpa ada suara tangisan yang terdengar. Hanya isak kecil sekali kali keluar dari mulutnya. Dia berusaha menahan suara tangisnya keluar. Bibirnya komat-kamit mengucap doa yang hanya bisa di dengar oleh mulutnya sendiri.
"Ara, mari kita kembali ke rumah. Kamu harus beristirahat. Walaupun sedih, kamu juga harus memikirkan dirimu." kata Rafa pelan.
"Biarkan aku di sini kak, aku ingin menemani suamiku sebentar. Kalau kita semua pergi, kasihan kak Raka akan sendirian di sini. Kakak silahkan kembali lebih dulu." jawab Ara masih terus menatap ke nisan suaminya.
"Baiklah, aku akan menemanimu." katanya kemudian.
Ara tak menjawab, dia diam terus menatap ke batu nisan suaminya dengan mulut komat kamit terus berdoa.
Ara ingat, dulu sewaktu ayahnya sudah di kuburkan, dan para pelayat semua telah kembali, tapi ibunya tetap duduk di sisi makam ayahnya meski para sanak keluarga mengajak untuk kembali.
Ibunya duduk di makam ayahnya dan hanya di temani dirinya tanpa berhenti berdoa. Setelah 30 menit berlalu, barulah ibunya bangkit dan mengajak dirinya pulang.
Dalam perjalanan pulang, ibunya berkata : "Jangan dulu kembali setelah mayit di kuburkan. Tunggulah beberapa saat, karena setelah para pelayat kembali, para malaikat akan datang memeriksa. Jika masih ada anak atau istri di atas kuburannya, maka malaikat akan bertanya dengan suara pelan meski kita tidak bisa mendengar dan mengetahui apa yang terjadi di alam kubur." kata ibunya menjelaskan.
Ara masih mengingat jelas perkataan ibunya itu, makanya dia belum mau kembali meninggalkan makam suaminya. Meski dia tahu Raka adalah orang yang baik dan sholeh, meninggal dengan keadaan Husnul khotimah, dia tetap ingin menemani suaminya. Sama seperti apa yang di lakukan ibunya pada almarhum ayahnya.
__ADS_1
30 menit berlalu, Rafa menoleh pada Ara.
Memperhatikan kedua tangan mungil yang memegangi sebongkah kecil tanah kuburan.
"Ara, kakak tahu kenapa kau masih di sini menemani Raka. Mari kita kembali, biarkan Raka beristirahat dengan tenang. Raka pasti sedang tersenyum dan bahagia di alam kubur nya, kau pun pasti tahu hal itu kan?" ujarnya dengan suara rendah.
"Kamu harus beristirahat, nanti kau sakit
Jangan biarkan Raka melihat keadaan mu seperti ini, dia pasti akan sedih. Nanti kita akan datang lagi mengunjungi Raka." kata Rafa kembali.
Ara menarik nafas pelan lalu menghembuskannya pelan. Dia meletakkan bongkahan tanah yang di bentuk bulat itu di dekat batu nisan suaminya.
"Kak, aku tahu kakak sekarang senang dan bahagia di sisi Allah. Aku pun akan berusaha untuk tegar dan kuat. Tolong hibur aku agar tidak berlarut-larut terus dalam kesedihan karena kehilanganmu. Sungguh aku lemah dan tak berdaya. Aku kehilangan separuh hidupku karena tak ada lagi kakak di sisiku, aku sangat merindukan kakak. Aku pamit dulu, nanti aku balik lagi kesini melihat kakak. Beristirahatlah dengan tenang." ucapnya pelan dan sendu seraya menyapu batu nisan suaminya.
Rafa pun ikut menyentuh batu nisan adiknya,
lalu mengangkat tubuh Ara perlahan, memapahnya berjalan. Karena tubuh itu terlalu lemah.
"Sebentar kak, kita harus mengirimkan doa untuk ayah." ucap Ara berhenti di depan makam ayah mertuanya.
Rafa mengangguk. Lalu keduanya duduk bersimpuh dan berdoa sejenak, juga mengirimkan doa buat suami Nesa. Kemudian kembali meneruskan langkah menuju rumah.
Bersambung.
Author sedih, selain kematian Raka di cerita novel, ada beberapa orang yang meninggal nyata di kampung author hari ini selain syekh Ali Jaber π’. Semoga mereka meninggal dengan keadaan Husnul khatimah, Aamiin π€²
Happy reading jangan lupa dukungannya ya
__ADS_1