
...Happy Reading....
"Kenapa nggak besok pagi aja sih? Aku ngantuk bangat." Nesa mengumpat kesal.
Di bangunkan tengah malam saat tertidur nyenyak."Besok aku ada janji sama teman-teman desainer. Kalian saja yang pergi, lusa aku menyusul."
"Ini perintah tuan Rafa, anda harus segera bersiap." jawab Wisnu tetap sopan meski kena makian. Nesa semakin marah dan melempar Wisnu dengan bantal tidurnya.
Raka dan Ara juga di bangunkan.
"Pulang di jam begini?" Ara melihat jam di ponselnya, sudah jam satu dini hari.
"Memangnya ada pesawat ke jakarta di jam begini?" Berbagai pertanyaan yang timbul di kepalanya. Dengan mata yang masih berat dia segera beranjak dari tempat tidur untuk mengatur barang barang mereka. Mau tidak mau mereka harus mengikuti perintah Rafa.
Dengan menggunakan lift pribadi mereka segera turun ke bawah. Sebuah mobil sudah menunggu kedatangan mereka di depan hotel yang siap membawa mereka ke bandara yang langsung di kemudikan Wisnu. Rafa duduk di depan, dekat dengan Wisnu.
Selama perjalanan Nesa mengumpat terus pada Rafa. Tapi Rafa tidak memperdulikan umpatan kakaknya, matanya terus fokus melihat ke gadget yang ada di tangannya. Entah apa yang di lihat pada benda pintar itu, yang pasti tentang bisnis.
__ADS_1
Raka menarik pelan kepala kakak perempuannya itu dan menaruh bahunya.
"Tidurlah, Nanti aku bangunin kalau sudah tiba di bandara. Kakak juga bisa melanjutkan tidur di pesawat." katanya melihat Nesa yang berulang kali menguap. Dia memegang tangan Nesa dengan satu tangannya, dan yang satunya memegang tangan Ara. Dia duduk di tengah antara Ara dan Nesa.
Meski kesal Nesa mengikuti ucapan Raka. Dia segera menutup matanya.
Alasan Rafa tiba tiba mengajak mereka pulang tiba-tiba begini, karena ada pertemuan bisnis penting dengan CEO dari Dubai jam 8 pagi. Dan ada pertemuan dengan relasi bisnisnya yang berasal dari Amerika di jet pesawat pribadinya. Alasan berikut karena cuaca sangat bagus untuk melakukan penerbangan saat ini, baik di bandara tempat burung besi mewahnya terparkir dan juga di bandara HPK tempat mendarat nanti. Dan untuk alasan lainnya dia was was meninggalkan mereka di Bali meskipun banyak orang orangnya di daerah itu yang mengawasi dan melindungi.
Selama perjalanan Ara hanya diam dan lebih memilih menatap pemandangan malam dari kaca mobil. Tak berapa lama dia pun tertidur dengan kepala tersandar di kaca mobil. Raka segera memindahkan kepala istrinya pelan pelan pada bahunya yang satu.
Di belakang mobil mereka, ada 4 buah mobil beriringan mengikuti mereka dari jarak 20m. Mereka adalah anak buah Wisnu yang mengantar sekaligus menjaga keamanan perjalanan bos besar mereka, Rafa ke bandara.
Beberapa orang termasuk para teknisi sudah menunggu kedatangan mereka. Wisnu segera turun dan membukakan pintu untuk tuannya.
Raka membangunkan Nesa dan Ara. Nesa segera masuk dan memilih tempat yang ternyaman untuk melanjutkan tidurnya.
"Kak, kita akan naik pesawat ini?" tanya Ara dengan bingung karena melihat Nesa yang sembarang masuk kedalam. Karena setahunya ada prosedur yang harus di miliki serta di ikuti oleh penumpang untuk melakukan perjalanan menggunakan pesawat terbang.
__ADS_1
"Iya sayang, ayo." Raka menarik tangan istrinya menaiki tangga pesawat. Sekilas matanya menangkap logo dari pesawat kakaknya ini. Dulu tertulis RRA, Kini berganti AZ'FA RA. Sepertinya kakaknya telah mengganti nama logo pesawat.
"Silahkan Nona Muda." Wisnu mengiring langkah tuan dan nona mudanya dari belakang.
Raka melanjutkan langkah seraya menarik tangan istrinya. Begitu sampai di pintu pesawat, mereka di sambut oleh seorang pramugari cantik. Pramugari itu tersenyum ramah dan sopan pada mereka.
Sebenarnya Rafa lebih suka memakai jasa pramugara untuk melayani segala keperluan perjalanan bisnisnya ketimbang pramugari.
Karena para pramugari lebih fokus mencari perhatian darinya ketimbang pekerjaan mereka.
Tapi karena saat ini ada Nesa, Ara dan tamu relasi bisnisnya, maka dia memakai jasa pramugari.
Saat masuk kedalam, Ara sangat terpukau dengan desain interiornya yang mewah dan elegan, dengan interior dominan warna putih dan coklat, kabinnya yang luas dan langit langit yang tinggi. Raka mengajak Ara duduk di dekat jendela sisi kiri pesawat bagian tengah.
Ara melihat tiga orang sedang duduk bersama kakak iparnya di kursi yang berbentuk L, berada di dekat jendela sisi kanan tengah pesawat.
Tidak berapa lama burung besi mewah itu bergerak dan melaju terbang ke angkasa dengan gagahnya.
__ADS_1
Bersambung.