Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 62


__ADS_3

Meja makan.


"Ante Ara__Ante Ara." teriak Cio dan Cia berlari mendekat Ara yang sudah duduk di meja makan. Ara segera menyambut keduanya dengan pelukan dan ciuman hangat.


"Selamat pagi sayang."


Si kembar melonjak kegirangan.


"Selamat pagi Daddy." sapa mereka pada Rafa.


Rafa hanya menyapu kepala mereka sesaat.


Bahkan pada si kembar pun dia malas bicara, gumam Ara dalam hati.


"Selamat pagi paman Raka, Oma, Mama." sapa si kembar lagi pada Raka Maya dan Nesa.


"Pagi sayang." jawab Raka.


Sedangkan Maya dan Nesa hanya mengangguk tersenyum.


Ara segera menarik kursi mereka.


"Cio Cia, duduk sini sama mama." kata Nesa.


Gerakan Ara hendak menarik kursi untuk Cio terhenti mendengar ucapan Nesa.


"Kami ingin duduk dekat ante Ara." jawab Cio.


"Jangan membantah Cio, sini duduk dekat mama dan nenek." ujar Nesa lagi berusaha untuk sabar dan tersenyum.


"Gak mau, Cia mau sama ante Ara." Cia merengek sambil memeluk lengan Ara, Cio juga memegang lengan Ara yang satunya.


"Kenapa kami gak boleh duduk sama ante Ara, kami mau di suapi sama ante Ara." kata bocah itu dengan wajah sedihnya.


"Cio sayang, bukannya gak boleh, tapi mama Nesa juga ingin menyuapi kalian. Sekarang Cio dan Cia duduk di pinggir mama ya, nanti esok esok sama ante Ara lagi." kata Raka menjelaskan dengan lembut.


"Gak mau, Cia mau sama ante Ara." kata Cia tetap menolak. Dia ngambek. Cio juga ikut ikutan.


Ara jadi serba salah, dia teringat kata kata Nesa tadi pagi, makanya dia hanya diam.


Perlahan dia melirik pada Rafa yang juga sedang menatap tajam padanya, Ara cepat cepat mengalihkan pandangannya ke arah sebelumnya.

__ADS_1


"Cepat Cio Cia, Oma sama Daddy dan paman mau sarapan." sentak Nesa mulai kesal.


Si kembar ketakutan dan sedih. Rafa melototinya. Nesa jadi kesal.


Ara semakin tak tega dan ikut sedih. Perlahan dia memegang dagu ke dua anak itu, menatap tersenyum.


"Cio Cia, dengerin ya kata mama Nesa! Kalian anak baik dan pintar! Anak baik gak boleh membantah kata orang tua. Sudah lama kalian nggak duduk di dekat mama Nesa. Mama Nesa rindu ingin menyuapi kalian, makanya mama Nesa pengen kalian duduk di dekatnya, ngerti kata Ante?" ucapnya lembut membujuk dan memberi pengertian.


Nesa mendengus sinis melihat bujuk rayu Ara. Rafa kembali menatapnya tajam. Membuat wajahnya kembali normal.


"Apa benar begitu Ante?" kata Cio lemah.


"Tentu saja sayang, karena mama Nesa sayang banget sama kalian. Kalian kan anak anaknya? Nah sekarang duduklah di dekat mama Nesa. Cepat sarapan nanti kalian telat ke sekolah! Ayo Ante antar ke mama." Ara bangkit dari duduknya, memegang ke dua tangan anak anak itu melangkah mendekati Nesa. Meski tak ingin, si kembar mengikuti tarikan tangan Ara dengan wajah cemberut.


Nesa segera beralih pindah tempat, begitu juga Maya dan Raka.


Ara tersenyum senang melihat anak anak itu menurut, lalu ia segera kembali ke kursinya.


Langkahnya terhenti melihat posisi duduk yang telah berubah. Dia baru menyadarinya posisi kursinya kini dekat dengan Rafa. Kepindahan si kembar membuat posisi duduk berubah. Malah mendekatkan dirinya dengan Rafa.


Hati Ara seketika ciut dan tidak tenang.


"Sayang duduklah." kata Raka, lalu menarik tangan Ara untuk duduk.


Ara gugup. Dia segera duduk dengan pelan pelan. Meremas tangannya yang gemetaran di atas kedua pahanya. Takut, itulah yang ia rasakan saat ini. Duduk dekat dengan kakak ipar yang di anggap angkuh dan tidak punya hati. Dia melirik sekilas pada Rafa yang tampak sedang melihat ke arah si kembar.


Kepala pelayan mulai menaruh makanan di piring Rafa, lalu di ikuti oleh yang lainnya. Nesa nampak kewalahan melayani si kembar. Kekesalan terpancar di wajahnya. Kemarin dia sangat santai menikmati makanannya. Kini ribet mengurus si kembar.


Ara menarik nafas, menguatkan hati untuk tenang. Lalu mulai mengambil makanan dengan pelan. Bukan pelan lagi tapi sangat hati hati, takut membuat kesalahan yang akan mengundang kemarahan Rafa.


Ingin sekali dia meminta Raka untuk menukar tempat duduk, tapi merasa tidak enak hati. Nanti malah akan membuat Rafa tersinggung dan marah.


Ara mulai makan tanpa menoleh ke sana kemari dan sangat berharap sarapan pagi ini segera berakhir dengan cepat.


"Ponakan paman memang pintar, makan yang banyak biar cepat ge'de." kata Raka di sela makannya. Melihat si kembar yang sedang lahap menyantap makanan.


"Kalian berdua jangan hanya sibuk mengurusi si kembar. Sudah 4 bulan kalian menikah, segeralah punya anak." sela Maya


Ara tersedak, batuk batuk kecil mendengar perkataannya. Rafa yang dekat dengannya reflek megambil gelas minumannya yang belum di sentuh dan menyodorkan pada Ara. Tanpa sadar Ara pun langsung menerima dan segera meminumnya beberapa teguk, lalu memukul mukul dadanya pelan.


"Sayang, kamu gak apa apa?" Raka menepuk pelan punggung Ara. Dia mengambil tisu dan di lap pada sekitar bibir Ara.

__ADS_1


Ara mengatur nafasnya.


"Aku baik. Lanjutkan makan kakak." jawabnya pelan meski masih batuk batuk kecil.


Raka kembali ke piring makannya melihat Ara sudah tenang."Insyaallah Ma, Kami sedang berusaha." kata Raka menjawab perkataan Maya tadi.


"Konsultasi lah ke dokter kandungan untuk melakukan program hamil." kata Maya kembali.


"Iya Ma, nanti kami akan ke rumah sakit!" kata Raka dan segera melanjutkan kembali makannya.


Rafa meraih gelasnya kembali, meminum air yang masih tersisa banyak bekas dari Ara.


Ara melongo melihat apa yang di lakukan Rafa. Baru menyadari kalau gelas yang di pakainya minum tadi adalah milik Rafa."Jadi air yang ku minum tadi adalah punya kakak ipar? Kenapa aku tidak menyadarinya?" batinnya. Dia melihat gelas minumnya tergeletak di dekat gelas Raka.


"Seharusnya kakak ipar bisa meminta gelas yang baru, kenapa masih meminum di gelas bekas dari bibirku?" batinnya lagi.


Ara melirik pria itu sekilas, sibuk menghabiskan sepotong roti bakar. Seperti tak berselera makan. Wajahnya terlihat pucat.


Ara memilih diam, dan kembali dengan makanannya.


Tidak berapa lama Rafa berdiri dan beranjak dari kursinya.


"Aku ke kantor dulu." pamitnya pada Maya.


"Jangan lupa obatnya di minum ya? Mama mohon, wajahmu sangat pucat." kata Maya.


Rafa hanya diam.


"Da_da Daddy." seru Cio dan Cia melambaikan tangan.


Rafa tersenyum sekilas, senyum di paksakan. Lalu melangkah pergi di ikuti Wisnu.


"Hati hati mengemudi sekretaris Wisnu, jaga ayahku dengan baik." teriak Raka dari jauh. Dia biasa memanggil Rafa dengan sebutan ayah. Karena Rafa seperti seorang ayah baginya.


Wisnu berhenti dan menundukkan kepalanya sejenak, lalu segera melanjutkan langkahnya mengikuti tuannya menuju mobil.


Tidak berapa lama Raka segera pamit ke kantor. Nesa pamit mengantar si kembar ke sekolah sekaligus ke tempat kerjanya.


Ara lega tidak ada drama masalah lagi pagi ini. Dia masih naik ke atas karena jadwal kuliahnya nanti jam 10. Sedangkan Maya keluar untuk bertemu dengan temen temen sosialitanya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2