
...Happy Reading....
Mereka sampai pada meja makan yang besar dan mewah. D atasnya sudah tertata beberapa menu yang bergizi tinggi. Beberapa pelayan tampak juga di sana dengan kepala menunduk.
Rafa menarik kursi untuk Ara.
"Duduklah."
Ara segera menuruti perintah kakak iparnya,
mendudukkan pantatnya seraya memperhatikan makanan di hadapannya.
Steak ikan salmon lada hitam, nasi, gurame asam manis, bibimbap, bubur ayam, susu fullcream, buah, dan makanan penutup.
Rafa mengambil tempat duduk di dekatnya.
"Kau ingin makan yang mana?" tanyanya menatap Ara.
Ara terkejut dengan pertanyaan itu.
"Semua makanan ini di siapkan untukmu, kau harus menghabiskannya." kata Rafa kembali.
Ara melongo, kembali terkejut."Untuk ku? Aku tidak ingin makan. Kakak saja yang makan." ucap Ara pelan.
"Kau ingin kembali kuliah kan? Maka kau harus turuti perintah ku. Kau habiskan makanan ini." kata Rafa tegas penuh penekanan.
Tubuh Ara seketika melemah.
"Semuanya adalah makanan bergizi yang mengandung protein tinggi. Sangat cepat untuk mengembalikan tenaga dan menaikkan berat badanmu. Lihatlah tubuhmu, kau sangat kurus. Kau harus makan yang banyak." ujar Rafa kembali memperhatikan tubuhnya dari kaki hingga kepala.
Ara menelan ludah. Bagaimana mungkin bisa menghabiskan makanan sebanyak ini? Untuk menghabiskan segelas susu saja sangat sulit. Lidah dan lehernya terasa pahit tidak bisa menerima.
"Kau harus berusaha untuk makan yang banyak dan menaikkan berat badanmu. Aku beri kau waktu dalam seminggu untuk menaikkan berat badanmu. Jika dalam waktu seminggu berat badanmu tidak bertambah, maka kau tidak boleh kuliah dan tidak boleh datang ke kampus untuk selamanya." kata Rafa mengancam.
Ara terbelalak."Tapi kak__!"
"Tidak ada bantahan. Ayo cepat dimakan." Rafa meletakkan susu di depannya, lalu menuangkan bubur kedalam mangkuk.
"Kau bahkan tidak menyentuh sarapan mu. Susu setengah gelas pun tidak kau habiskan."
Ara mengeluh sedih.
"Tapi aku tidak punya selera makan."
"Kau harus memaksa menelannya." Rafa mengupas jeruk.
"Buka mulutmu, ini bagus untuk merangsang air liur mu." kata Rafa menyodorkan jeruk di depan mulut Ara.
Ara menutup mulutnya sambil geleng-geleng kepala.
Rafa membuang nafas kasar sambil meletakkan jeruk.
"Terserah padamu, aku tidak akan memaksa. Pilihan ada pada dirimu." katanya kesal.
Ara mendesah sedih. Dia menatap semua makanan itu, bingung memulai dari mana, karena semuanya tidak membuatnya berselera. Tapi kalau dia tidak makan, maka dia tidak dapat melanjutkan kuliah selamanya. Dia agak kesal, ini sebuah syarat sekaligus ancaman baginya untuk bisa masuk kuliah lagi.
Perlahan Ara meraih gelas susu, lalu meneguknya sekali sambil memejamkan mata.
Kematian Raka bukan hanya telah membuat separuh hidupnya mati, tapi juga membuat selera makannya hilang. Sejak kematian suaminya dia belum menyentuh makanan sama sekali. Selama dua bulan setelah kepergian Raka, dia hanya minum air putih. Makanan yang di antara Sam ke kamar, tidak di sentuh. Hal itu membuat tubuhnya kurus, lemas tak bertenaga. Apalagi dia juga selalu berpuasa. Membuat berat badannya turun drastis.
"Kak, aku tidak berselera untuk makan. Aku tidak mampu, sungguh kak___!" ucapnya memelas.
Rafa kesal mendengar penolakan itu.
"Wisnu, antar Nona muda mu ke rumah utama. Dan pecat koki dan pelayan yang telah menyiapkan makanan ini." lalu bangkit berdiri dari kursinya.
Ara terbelalak mendengar perintahnya. Begitu juga dengan koki dan yang bertugas memasak. Terlihat kecemasan dan ketakutan di wajah mereka mendengar titah tuannya.
"Kakak ipar. Kenapa para pelayan di pecat? Apa kesalahan mereka? Apa hubungannya dengan mereka?"
"Mereka tidak becus memasak. Makanan yang mereka buat tidak menggugah seleramu! Wisnu, cepat keluar kan mereka dari rumah ini." sentak Rafa keras.
Koki dan pelayan yang berjumlah 5 orang itu segera berlutut.
"Tuan, jangan pecat kami, ampuni kami! Kami akan bekerja lebih baik lagi! Beri kami kesempatan sekali lagi." pinta para pelayan itu sambil memohon.
Wisnu segera bergerak mendekati para pelayan itu.
"Jangan tuan, jangan pecat kami, beri kami kesempatan sekali lagi." ucap mereka mulai dengan wajah memucat melihat kedatangan Wisnu.
Ara masih terpaku di antara keterkejutannya. Melihat mereka berlutut dan memohon seperti ini membuatnya teringat Sita yang dulu di pecat karena dirinya. Bayangan tangisan Sita melintas di matanya. Sekarang ke lima pelayan itu mengalami nasib yang sama. Dan lagi lagi karena dirinya.
Ara menatap ke 5 pelayan yang berlutut dengan tatapan memohon. Dia tidak ingin nasib mereka sama seperti Sita.
"Berdiri kalian, enyah lah dari sini cepat." bentak Wisnu, sambil menarik kasar tubuh sala satu di antara mereka.
Lamunan Ara langsung buyar.
"Sekretaris Wisnu, apa yang kau lakukan. Jangan sentuh mereka, ini bukan kesalahan mereka." kata Ara sambil menarik tangan Wisnu. Tapi tangannya terlalu lemah memegang kuat, apalagi menarik lengan Wisnu. Dia terlalu lemah tak bertenaga.
"Maaf Nona, saya hanya mengikuti perintah Tuan Rafa." ucap Wisnu. Lalu menyeret tubuh dua orang pelayan.
"Berhenti, aku mohon jangan pecat mereka!" pinta Ara setengah berteriak.
Tapi Wisnu tidak mengindahkan perkataanya.
Ara segera berlari mengejar Rafa yang sudah berjalan meninggalkan meja makan. Percuma meminta pada Wisnu karena pria itu hanya melaksanakan perintah Rafa.
"Kakak, aku mohon hentikan sekretaris Wisnu, Koki dan pelayan tidak bersalah." pintanya berdiri menghalangi jalan Rafa. Sehingga jalan Rafa terhenti.
"Jangan pecat mereka." Ara memohon sambil meletakkan kedua tangannya di depan.
Rafa menatapnya tajam.
"Menyingkir dari hadapanku." Katanya agak membentak. Tapi Ara tetap pada posisinya. Sambil geleng-geleng kepala."Jangan pecat mereka."
"Kau menghalangi jalanku. Menyingkirlah.....!" sentak Rafa. Karena Ara tetap diam, dia melangkah ke sebelah melewati Ara. Tapi Ara kembali menghalangi jalannya.
Rafa kesal.
__ADS_1
"Jangan halangi jalanku Ara. Beraninya kau" teriaknya keras tatapan tajam.
Ara menggeleng sambil terus menggerakkan kedua tangannya di depan dada."Aku yang salah.Tolong jangan pecat mereka. Hukum aku saja." pintanya mulai menangis.
"Aku akan menuruti perintah kakak, Aku akan makan. Aku akan menghabiskan semuanya. Tapi tolong jangan pecat mereka."
"Ini bukan hanya persoalan kau mau makan atau tidak. Tapi karena mereka memang tidak bisa memasak dan membuat makanan yang enak. Seorang koki yang handal dan profesional harusnya bisa menciptakan makanan yang dapat membangkitkan dan menggugah selera penikmatnya. Tapi nyatanya makanan yang mereka buat tidak dapat menggoda selera makan mu sedikit pun." ucap Rafa menatap tajam.
"Tidak ada masalah dengan makanannya. Semua makanan enak dan lezat. Tampilannya juga indah dan cantik. Mereka sudah melakukan tugasnya dengan baik. Aku yang salah karena tidak berselera untuk makan." Ara memelas kembali dengan tatapan sedih.
"Keputusan ku telah berubah. Kau tidak bisa kuliah dan tidak akan pernah ke kampus lagi. Koki dan pelayan itu tetap akan di pecat." kata Rafa dengan tegas."Sekarang minggir, jangan halangi jalanku."
Ara terkejut dengan keputusan itu. Dia geleng geleng kepala sambil terus memelas."Jangan pecat mereka."
Rafa mendengus kesal karena Ara tidak menyingkir dari hadapannya. Dia segera melangkah melewati sampingnya.
Ara langsung menjatuhkan tubuh dan memeluk kuat sala satu kaki Rafa.
Rafa terkejut.
"Apa yang kau lakukan? Berdiri kau."
Ara geleng geleng kepala.
"Mereka tidak bersalah. Tidak apa jika kakak tidak mengizinkan aku kuliah lagi. Tapi jangan pecat mereka."
Rafa melongo mendengar perkataan itu. Ara lebih memilih tidak melanjutkan kuliah demi koki dan para pelayan.
"Aku selalu melakukan kesalahan yang membuat orang lain susah. Dulu aku telah membuat mbak Sita di pecat, sampai saat ini aku terus di bayangi rasa bersalah padanya! Dan sekarang mereka pun mendapat masalah gara gara aku! Aku janji akan melakukan apapun keinginan kakak. Aku akan nurut apa pun yang kakak katakan. Tapi tolong jangan pecat mereka." ucap Ara di sela isak tangisnya.
Rafa menghela nafas kasar.
"Berdiri___!"
Ara semakin erat memeluk kaki Rafa.
"Aku bilang berdiri Ara, kenapa kau selalu berlutut seperti ini untuk menyelamatkan orang lain?" sentak Rafa semakin keras.
Wisnu, kepala pelayan berdiri diam mematung di tempat. Tak berani buka suara untuk membantu.
"Cepat berdiri." bentak Rafa kembali.
"Gak mau." Ara bersikeras tak mau berdiri, semakin erat memeluk kaki Rafa. Dia akan melakukan apapun untuk menyelamatkan nasib para pelayan itu.
Rafa tidak tahu harus melakukan apa lagi. Dia menengkus kesal."Lepaskan kakiku Ara, kakiku keram."
Ara geleng geleng tak mau melepas. Dia menganggap itu hanya alasan Rafa.
"Kenapa kau keras kepala dan suka sekali membangkang ucapan ku?" Rafa mulai emosi. Melihat ke bawah, menatapi tubuh yang tidak menyerah meminta pengampunan.
Ara terisak-isak. Dia beralih memegang tangan kanan Rafa dengan ke dua tangan. Mendongak ke atas melihat wajah Rafa yang melihat kepadanya."Aku akan melakukan apapun yang kakak inginkan. Keputusan kakak untuk berhenti kuliah pun akan ku turuti. Aku juga akan makan yang banyak, aku akan makan semua makanan itu. Aku janji dalam tiga hari akan membuat berat badanku naik 10 kg. Tapi aku mohon, jangan pecat mereka." pintanya tersedu sedu.
Rafa melongo mendengar perkataan itu.
10 kilo dalam tiga hari? Sebanyak apa nanti makanan yang akan di makan dalam sehari?
Rafa tersenyum membayangkan hal itu.
Lagi lagi demi menyelamatkan nasib hidup orang lain, adik iparnya ini akan melakukan apapun.
Dia melihat air mata yang terus mengalir, pegangan tangan Ara yang gemetar. Sudah dapat di pastikan karena lemah dan lapar.Air mata yang terus mengalir membasahi pipi. Hatinya meleleh dan terenyuh. Sesungguhnya dia pun tidak serius dengan ancaman dan perintah itu."Baik. Aku akan memberi kesempatan pada mereka sekali lagi." ucapnya kemudian.
"Wisnu, pekerjakan mereka kembali. Dan peringatan kan pada mereka jika melakukan kesalahan sekali lagi, segera tendang mereka dari sini." perintahnya pada wisnu.
"Baik tuan." ucap Wisnu patuh.
Wisnu segera melakukan perintah tuannya. Dia memberi isyarat pada kepala pelayan, untuk membawa koki dan pelayan yang di pecat kembali ke ruang makan.
Ara menarik nafas lega mendengar perintah Rafa pada Wisnu. Dia segera melepaskan tangan Rafa. Peluh bercampur air mata membasahi wajah dan tubuhnya yang gemetar. Entah pengaruh emosinya yang tidak stabil atau karena dia lemah dan lapar.
"Kau sudah puas dan senang kan? Sekarang berdiri dan kembali ke meja makan." kata Rafa.
Ara mengangguk lemah, dadanya turun naik akibat nafasnya yang tak beraturan. Dia menyapu butiran peluh di wajah. Bahkan untuk berdiri pun dia tidak mampu.
Rafa menurunkan badannya, lalu segera mengangkat tubuh Ara dan membawa menuju ke meja makan.
Ara terkejut.
"Apa yang kakak lakukan? Turunkan aku."
"Bahkan untuk bangkit berdiri saja kau tidak mampu. Diam dan jangan bicara apapun." kata Rafa menatapnya. Dia dapat mengetahui betapa lemahnya Ara saat ini.
Perlahan Rafa mendudukkan tubuh Ara.
Mengambil tisu, lalu menyapu peluh di wajah dan lengan Ara.
Ara kembali kaget. Tak menyangka Rafa akan melakukan ini.
"Kakak tidak perlu melakukannya, biar aku saja." katanya canggung.
"Apa kau sudah lupa dengan janji yang kau ucapkan barusan? Bahwa kau akan diam dengan apa yang kulakukan dan menurut apapun ku perintahkan."
Ara terdiam.
Rafa melanjutkan melap pergelangan tangannya seraya melihat gadis itu. Wajah tirus, mata yang bengkak, tubuh kurus.
"Berhentilah menyiksa dirimu, berhentilah menangis dan meratapi kematian Raka."
Rafa mengambil air minum.
"Minumlah pelan pelan." meletakkan gelas pada genggaman tangan Ara.
Ara segera meneguknya perlahan.
Rafa menuangkan bubur ayam yang baru ke mangkuk. Di tambah telur dan sayur. Dia meniup berlahan untuk mendinginkannya.
Dia mengambil se ruas jeruk.
"Hisap Airnya saja, untuk memancing reaksi air liur mu."
__ADS_1
Ara menerimanya tak membantah, lalu memasukkan perlahan kedalam mulutnya. Wajahnya berubah kecut tak kala merasakan manis asam air jeruk di dalam mulutnya. Kedua matanya terpejam.
"Airnya saja yang di telan, keluarkan ampasnya." ucap Rafa memperhatikan mimik wajahnya yang kecut keasinan.
Ara mengeluarkan ampas ruas jeruk yang langsung di terima Rafa di telapak tangannya. Rafa kembali memberi air minum. Rafa beralih mengaduk bubur kembali, meniupnya berulang.
"Buka mulutmu." katanya menyuapi.
Ara terdiam, dia memperhatikan sekelilingnya. Dia merasa canggung dan tidak enak dengan apa yang di lakukan Rafa.
"Kak, biar aku saja, kakak tidak perlu menyuapiku," kata Ara pelan merasa tidak enak.
"Kalau begitu aku mengeluarkan mereka dari ruangan ini, biar kamu tidak canggung lagi." ujar Rafa menoleh pada para pelayan yang berdiri diam mematung dengan pandangan menunduk.
"Wisnu, keluar kan mereka dari ruang ini."
Ara terbelalak.
"Bu-bukan begitu maksud ku. Kakak jangan salah faham." Ara mengeluh pelan. Dia tidak melanjutkan kalimatnya. Yang takutnya akan berujung buruk lagi pada pelayan.
"Makanya diam saja jangan bicara. Buka mulutmu." kata Rafa kembali.
Ara menuruti ucapnya, membuka mulutnya dengan wajah cemberut. Rafa segera menyuapinya sambil tersenyum tipis. Dia dapat membaca kalau saat ini Ara kesal padanya.
Ara mengunyah makanan perlahan. Terasa pahit dan tidak mengenakan di tenggorokan. Rasanya dia ingin muntah
"Langsung di telan saja kalau tidak enak di tenggorokan. Doronglah pakai ini." Rafa menyodorkan susu.
Beberapa saat kemudian, dengan susah payah ludes juga bubur semangkuk dengan di dorong segelas susu dan air.
Wisnu, koki dan pelayan tersenyum lega melihat Nona muda mereka yang berhasil menghabiskan satu mangkuk bubur. Terutama seseorang yang berada di antara barisan para pelayan itu.
"Wisnu, ambilkan suplemen ku." kata Rafa.
Wisnu segera mendekat dan memberikan apa yang di minta tuannya. Rafa membuka tutup botol vitaminnya, mengambil dua butir.
"Buka mulutmu" menatap Ara.
"Apa ini?" Ara menatap suplemen itu.
"Vitamin, kau tidak meminum vitamin yang aku berikan tadi di meja makan."
Ara segera membuka mulutnya tanpa
bertanya lagi.
Rafa segera memasukkan 2 butir vitamin kedalam mulut Ara, lalu menyusul air minum.
Rafa menyapu sisa air minum di sekitar bibir adik iparnya ini. Dia lega dan senang Ara sudah makan. Dia tidak ingin memaksa lagi, takutnya Ara akan muntah. Yang penting baginya sudah ada makanan yang masuk dalam perut Ara.
Ara memperhatikan gurame asam manis. Dia berpikir harus menghabiskan makanan ini sesuai perintah Rafa. Tapi melihatnya saja dia ingin muntah.
"Bukankah ini makanan favorit mu?" Rafa memperhatikannya.
"Iya, aku akan memakan itu duluan, selanjutnya yang lain."
"Apa kau masih mampu untuk makan?"
"Aku harus melakukannya bukan? Aku sudah berjanji akan menghabiskan semua ini." ucap Ara dengan raut wajah sedih kesal dan terpaksa.
Rafa tersenyum melihat wajahnya yang menggemaskan dengan bibir yang mengerucut kesal. Padahal dia tidak serius memaksa Ara untuk menghabiskan semua makanan ini. Orang sehat dan lapar pun sudah pasti tidak akan mampu menghabiskan.
"Ya, kau harus memakannya, karena ini adalah hasil kerja keras seseorang yang menyayangimu. Seseorang telah membuat ini untukmu dengan kesungguhan hati dengan harapan kau akan makan yang banyak. Karena dia tahu kau sangat suka dengan gurame." kata Rafa.
Dahi Ara mengernyit.
"Seseorang?"
"Iya." Rafa mengangguk
"Siapa?" tanya Ara dengan dahi mengerut.
"Nona muda." terdengar suara sopan dari barisan para pelayan.
Ara segera memalingkan wajahnya ke asal suara. Sesaat suara itu di dengar tidak asing di telinganya. Dia seperti mengenalnya. Ara memperhatikan jelas wajah para
pelayan itu. Sala satu dari mereka mengangkat wajah dan melihatnya.
"Nona Muda." kata pelayan itu sambil tersenyum ke arahnya. Dia maju selangkah setelah mendapat isyarat dari Wisnu.
Wajah Ara seketika berubah cerah setelah melihat siapa yang telah memanggilnya.
"Mbak Sita?" ucapnya seakan tak percaya.
Dia tersenyum. Haru dan senang.
Sita kembali tersenyum."Nona muda."
Ara menoleh pada Rafa.
"Jadi selama ini mbak Sita kerja di sini? Kakak mempekerjakan mbak Sita di sini?" tanyanya. Dia sangat senang. Beban di hatinya hilang seketika.
Rafa diam tak menjawab hanya menatapnya.
Hatinya ikut senang melihat senyuman yang menghiasi wajah yang di liputi kesedihan selama dua bulan terakhir ini. Dia sangat senang melihat binar bahagia di wajah itu.
Ara bangkit dari duduknya, ingin mendekati Sita, tapi tiba-tiba kepalanya pusing. Dia memegang kepalanya. Ruangan serasa berputar, pandangannya semakin kabur melihat ke arah Sita. Dan selanjutnya dia jatuh terkulai tak sadarkan diri dalam pelukan Rafa yang langsung menangkap tubuhnya sebelum jatuh ke bawah.
Para pelayan kaget dan panik, terutama Sita
"Nona Muda."
Wisnu segera memenangkan mereka, dan menyuruh diam.
Rafa segera mengangkat tubuh Ara. Di bawa ke kamarnya yang berasal di lantai 5.
...Bersambung....
Mohon kirimkan doa dan bantuan seadanya buat saudara saudara kita yang sedang terkena musibah. Duka mereka adalah duka kita semua. Semoga mereka selalu dalam lindungan Allah SWT π€²π€²π€²π
__ADS_1