
Bali.
Ballroom yang sangat luas dan mewah di sebuah hotel nampak mulai di penuhi oleh para undangan.
Semua tamu undangan mengenakan gaun pesta dan tuxedo yang indah.
Untuk pria mengenakan setelan tuxedo dan untuk wanita gaun pesta berwarna putih.
Para undangan di wajibkan memakai topeng sesuai tema dari acara tersebut.
Meja bundar yang di atur secara terpisah pisah, aneka ragam makanan sudah tersedia dalam bentuk prasmanan, dari kudapan kecil untuk cemilan hingga makanan berat, serta beraneka minuman.
Kue ulang tahun juga sudah tersedia dengan hiasan yang indah, dan juga lantai untuk dansa.
Maya dan Levina sudah berbaur dengan para tamu undangan, kebanyakan dari para tamu itu adalah teman teman Levina dari model, kalangan artis, serta teman teman bisnis Rafa,
dan sisanya undangan dari teman teman Maya dan Nesa.
Maya dan Levina sibuk menyambut tamu tamu undangan yang datang.
Levina mengenakan gaun yang sangat indah dan seksi, bagian belakang dan depan dada nampak terbuka, sehingga terlihat punggung, bahu dan sebagian dadanya yang putih mulus.
Teman temannya sangat terpukau dan memuji kecantikannya malam ini.
Tubuh seksinya itu tak luput dari mata nakal para lelaki yang menatap tubuhnya dari balik topeng yang mereka kenakan.
"Tante, jam berapa Rafa datang, ini sudah hampir jam 8, apa benar dia akan datang?" tanya Levina yang dari tadi cemas karena tidak melihat batang hidung Rafa yang belum juga terlihat.
"Kamu jangan khawatir, dia pasti datang,.aku tadi sudah menghubungi Moly. Rafa sudah terbang ke sini sekitar dua jam yang lalu." kata Maya.
Sambil menunggu kedatangan Rafa, para undangan di sajikan dengan berbagai cemilan serta hiburan alunan lagu yang romantis.
Para pelayan sibuk membawa minuman dan makanan ringan untuk para tamu undangan.
Raka dan Ara menempati kamar presidential suite sesuai instruksi dari Wisnu pada manajer hotel, berada satu lantai dengan kamar Rafa dan Nesa.
__ADS_1
Lantai paling atas memiliki tiga kamar suite.
Tidak berapa lama Rafa datang bersama Wisnu dengan menggunakan lift pribadi yang membawa ke kamar khusus miliknya .
begitu masuk, Rafa agak terkejut melihat adiknya ada di dalam kamar.
"Kakak." seru Raka senang melihat kedatangannya, dia langsung berdiri dari duduknya.
"Raka, kamu di sini."
"Tuan, maafkan saya. Tuan muda Raka ..." kata manajer hotel.
"Kenapa kau meminta maaf? dia adikku dan berhak untuk masuk ke kamarku kapan saja meski tanpa izin diriku." potong Rafa cepat menatapnya tajam.
"Apa kau melarangnya masuk kesini?" tanyanya kembali menatap tajam.
Manager itu langsung menundukan kepalanya, cemas dan takut.
"Tidak kak, dia hanya ingin melaksanakan pekerjaannya dengan baik tanpa melakukan kesalahan." Raka cepat menyela.
Wisnu menyuruh manajer hotel itu keluar untuk mempersiapkan semuanya karena acara akan segera di buka.
"Kenapa kau harus memaksa dan meminta kepadanya? kau adikku, kau bebas masuk atau tidur di sini tak perlu izin darinya atau dariku." Rafa menepuk pundak adiknya sambil tersenyum, lalu memeluknya dengan hangat.
Raka ikut tersenyum dan memeluk kakaknya.
"Mama menyuruhku untuk menunggu kakak di sini, aku tidak kuasa membantah keinginan mama. Mama ingin memastikan kedatangan kakak."
"Kakak akan segera turun, kakak mau mandi dulu. Oh ya, ini parfum untukmu." Rafa memberi isyarat pada Wisnu.
Sekretaris itu segera menyodorkan paper bag pada tuannya.
"Ini untukmu, dan satunya lagi buat kak Nesa." kata Rafa.
Raka membuka tutup botolnya, lalu menghirup aroma dari permukaan botol itu.
__ADS_1
"Wangi bangat kak." ucapnya menyesapi aroma wangi yang keluar dari botol kristal itu.
"Kamu suka?"
"Tentu saja, ini sangat wangi."
Raka menatap parfum yang satunya di tangan kakaknya.
"Yang itu?" tunjuk nya
"Ini punya kakak." jawab Rafa
"Boleh aku mencobanya ?"
"Tentu saja." Rafa menyodorkan parfum miliknya.
Raka menyemprotkan ke seluruh tubuhnya.
"Wangi banget parfum kakak." ucapnya.
"Kalau kau suka, kau boleh memilikinya, ambillah."
"Nggak kak, punyaku juga tak kalah wanginya, Ara pasti menyukainya, karena baunya tidak mencolok. Terimakasih ya kak, aku ke kamarku dulu menemui Ara, kami akan turun duluan." kata Raka sambil mengembalikan parfum kakaknya.
"Baiklah, nanti berikan ini juga pada kak Nesa." Rafa menyerahkan satu paper bag.
"Iya kak, kak Nesa sudah menyiapkan pakaian yang akan kakak kenakan, setelan jasnya sama seperti yang aku pakai ini, kata kak Nesa biar kita berdua kembar." celetuk Raka tertawa kecil.
"Kakak akan mengenakannya." kata Rafa kembali.
"Baik kak, aku pergi dulu."
Rafa mengangguk, dia masuk ke dalam kamar mandi setelah adiknya keluar.
*****
__ADS_1