
10 hari kemudian.
Rafa keluar dari kamar mandi mendapati Wisnu di kamarnya."Mana Ara?"
"Nona Muda sedang berada di lantai 4, bergabung bersama para pelayan di dapur. Saya sudah melarang tapi Nona bersikeras ingin membantu." Wisnu menyerahkan handuk kecil.
"Biarkan saja, selama itu membuatnya
senang." Rafa menyeka rambutnya yang basah sembari melangkah ke Walk In Closet, Wisnu mengikuti dari belakang.
"Bagaimana persiapan acara ulangtahun perusahaan?" tanyanya kembali.
"Sementara di persiapkan Tuan. Pihak EO akan datang untuk membicarakan konsep acara." kata Wisnu sambil mengambil jas dan dasi tuannya. Untuk seseorang yang sudah sangat lama mengikuti Rafa, Wisnu sudah sangat tahu segala keperluan yang akan di pergunakan oleh tuannya setiap hari.
Rafa menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya, lalu memakai bokser, celana kantor dan kemeja.
Pintu di ketuk, Ara masuk. Wisnu menunduk sesaat melihat kemunculannya. Ara tersenyum kearah Rafa. Lalu mendekat pada Rafa yang sedang mengancing kemeja.
"Kakak akan berangkat ke kantor?" tanyanya sambil mengambil alih mengancing kemeja Rafa.
"Iya sayang." jawab Rafa menautkan kedua tangannya di pinggang Ara, lalu mengecup kening istrinya lembut.
Ara mengendus aroma wangi parfum di tubuh Rafa."Wangi." ucapnya kemudian.
Rafa tersenyum melihat mata istrinya yang terpejam menikmati aroma wangi parfum di tubuhnya. Dia senang melihat wajah istrinya yang sudah nampak bersih dari memar dan juga bekas luka.
"Kak, aku ikut ya ke kantor. Sudah 10 hari aku nggak masuk kerja, aku bosan di rumah terus." kata Ara menyampaikan keinginannya yang tertunda karena Rafa baru pulang subuh tadi dari luar kota setelah dua hari berada di sana. Rafa menangkup wajah mungil istrinya, mencium keningnya, kedua pipi terakhir bibir.
Ara segera menarik wajahnya.
"Apa nggak lihat ada sekretaris Wisnu." ujar Ara seraya menoleh kebelakang ke arah Wisnu yang terlihat sibuk menyiapkan sepatu Rafa. Sekertaris itu tampak acuh dan tidak peduli dengan mereka. Dia sibuk dengan apa yang dilakukannya.
"Keluarlah Wisnu." perintah Rafa. Wisnu patuh dan segera keluar.
Ara melongo, menangkap sesuatu yang lain dari perintah itu.
"Kenapa menyuruh sekretaris Wisnu keluar? Bukan begitu maksudku." menatap ketus.
Rafa tersenyum, segera mendaratkan ciuman di bibir istrinya. Dia sangat rindu dengan benda kenyal ini, karena berhari-hari tidak bisa di sentuh dan di nikmati karena kesaktian yang di alami Ara.
Ara kembali menarik wajahnya mundur
"Kakak harus bersiap ke kantor." melanjutkan mengancing kemeja Rafa yang gak kelar kelar.
"Aku sangat rindu padamu sayang." kata Rafa menatap penuh cinta. Dia memegang tengkuk Ara. Ibu jari kanannya menyentuh lembut bibir Ara, menatap tak bergeming pada benda kenyal merah alami yang setiap saat selalu muncul di pikirannya, menggodanya, bahkan di saat dia sedang bekerja.
Rafa kembali memegang wajah Ara, lalu kembali mencium bibirnya. Menelusuri setiap sudut bibir istrinya dengan rakus.
Tak ada balasan, Ara hanya diam. Kecewa yang di rasakan Rafa. Ara tidak pernah membalas ciumannya setiap kali mereka berciuman. Karena Ara tidak punya perasaan
cinta padanya. Ara hanya diam menerima setiap sentuhan di bibirnya. Tapi Rafa tidak mau menyerah dan putus asa. Dia tetap berusaha membuat istrinya membuka hati untuk mencintainya.
Tiba tiba tangan Ara mencengkeram kemeja Rafa, saat lidah pria yang kini sudah menjadi suaminya itu masuk ke dalam mulutnya, bermain main liar di sana. Menyapu setiap inchi rongga mulutnya. Menggoda lidah Ara untuk membalas. Mata Ara terbuka saat merasakan sesuatu yang mengeras di pahanya. Dia segera manarik wajah dan tubuhnya.
"Cukup, kakak harus siap siap ke kantor."
Dadanya turun naik tak beraturan. Dia melepaskan pelukan Rafa, tapi Rafa Kembali menarik tubuhnya dengan cepat.
"Sayang, aku sangat butuh dirimu." ucap Rafa memelas, sorotan mata sangat meminta.
Ara mendesah sedih."Maaf kak__." menyentuh lembut kedua pipi suaminya.
Rafa kembali ingin menciumnya, tapi Ara segera membalikkan tubuhnya menghindari ciumannya.
Rafa tak menyerah, dia memeluknya kuat dari belakang tak mau melepaskan. Menyingkap rambut Ara lalu mengecup dan mencium tengkuk, leher, bahu dan punggung istrinya sambil mengg*sek*n miliknya.
Tubuh Ara menegang.
"Kakak, hentikan." nafasnya semakin memburu cepat. Rafa tak mengindahkan perkataannya. Tangannya malah menjalar masuk cepat ke dalam dress dan bra, meremas lembut, memilin pucuk buah yang tampak segar dan kencang.
Lenguhan merdu keluar dari mulut Ara dengan matanya yang terpejam. Rafa semakin tak terkendali.
Ara segera membalikkan tubuhnya merasakan gesekan berulang pada bokongnya.
"Kak, maafkan aku, bisakah kau berhenti?" pinta Ara memegang wajah Rafa. Dia juga sedih melihat ketersiksaan di wajah suaminya.
"Aku tidak tahan sayang, sungguh ." Rafa meraih tangan Ara membawanya ke bawah menyentuhkan pada miliknya yang mengeras.
Ara kembali merinding, memejamkan mata.
"Sentuhlah seperti waktu itu kau melakukannya." bisik Rafa di wajahnya.
Ara terkejut mendengar permintaan itu, dia teringat kejadian di kamar mandi kantor. Wajahnya memerah merasa malu."Jangan mengungkit kejadian itu, aku malu mengingatnya." menyembunyikan wajahnya di dada Rafa.
Rafa memeluk tubuhnya, mengecup puncak kepalanya."Kenapa harus malu sayang, aku suamimu."
"Aku sangat senang dan puas saat kau melakukan hal itu padaku, kau hebat sayang." bisik Rafa dengan nada menggoda.
Wajah Ara semakin memerah."Jangan katakan itu lagi." menutup mulut Rafa dengan satu tangannya, wajahnya masih terbenam di dada suaminya, terlalu malu untuk menatap.
Rafa tertawa kecil."Kau harus tanggung jawab sayang. Kau harus segera menenangkannya." Rafa Kembali menggodanya, menyentuhkan kembali tangan Ara ke arah selatannya. Ara menarik cepat tangannya dan memeluk kuat tubuh Rafa.
Rafa tersenyum."Sayang, bantu aku menenangkannya sama seperti waktu itu." mengangkat wajah Ara yang terbenam di dadanya, menatap lekat wajah istrinya, mengecup kening, mata dan bibir.
Ara menatapnya dengan nafas memburu cepat.
"Aku ingin kau melakukannya lagi." Rafa memelas penuh harap, meminta dengan sangat. Tak ada jawaban dari Ara, Ara hanya diam menatap dengan dua hati. Karena tak ada jawaban, Rafa segera mengangkat tubuh Ara ke kamar mandi. Diamnya Ara menjawab keinginan Rafa. Tentu saja Rafa senang sekali.
30 menit berlalu, terdengar erangan keras dari mulut Rafa. Ara kembali membuatnya mencapai pelepasan. Tubuhnya melepaskan serot*n*n yang tumpah pada mulut dan wajah Ara. Dia merasa damai dan bahagia saat mencapai klima*s.
Di saat dia tengah merasa senang dan puas karena hasratnya tersalurkan meski hanya dengan permainan mulut Ara, di bawahnya Ara menangis seiring mengalirnya guyuran air shower. Rafa terkejut dan segera membawa tubuh Ara berdiri.
"Sayang, kamu kenapa menangis?" menatap lekat wajah istrinya yang basah Air mata.
"Apa kamu marah padaku karena memaksamu melakukannya?"
Ara menggeleng, air matanya semakin banyak mengalir.
"Lalu kenapa? Katakanlah, kalau kamu tidak suka. Aku tidak akan memintamu melakukan nya lagi. Maafkan aku, aku tidak akan memaksamu melakukannya lagi." Rafa memeluk tubuhnya. Merasa menyesal.
Ara sesenggukan, membuat Rafa semakin bersalah dan menyesal. Dia melepas pelukan nya, dan menangkup wajah Ara.
"Lalu kenapa kau menangis? Aku mohon jangan menangis, aku paling tidak tahan melihat air mata mu sayang, katakanlah ada apa?" menyapu lembut air mata Ara. Dia bingung penuh tanya.
Ara menatap wajah Rafa di antara keraguan dan rasa takutnya untuk menjawab.
"Katakan saja, jangan takut dan ragu." kata Rafa.
"Saat aku menenangkan milik kakak tadi, aku teringat kak Raka. Makanya aku sedih." katanya di sela isak tangisnya.
Rafa terhenyak.
"Apa? Kau mengingat Raka?" Wajah Rafa berubah datar."Jadi saat kau menenangkan milikku kau sedang mengingat Raka?" Rafa menatapnya tajam. Darahnya panas. Rahangnya mengeras menahan amarah. Suasana kamar mandi yang dingin malah terasa panas.
Ara takut melihat kemarahan itu. Dia tak menjawab.
"Jawab aku Ara!" sentak Rafa memegang bahu Ara kuat."Apa saat kau melakukannya tadi kau sedang memikirkan Raka? Kau menghayal milik Raka?"
"Ara jawab aku!" kembali menyentak keras"Kau memikirkan Raka saat menenangkan milikku? Apa kau merindukan Raka lalu melampiaskannya padaku?"
Ara tersentak dengan sentakan itu. Dia semakin ketakutan dan menangis terisak.
"Tidak kak, tidak seperti itu, kakak salah paham. Aku hanya teringat suamiku. Aku teringat padanya karena selalu melakukan hal seperti itu padanya." jawab Ara di sela tangisnya.
Wajah Rafa memerah, memendam kemarahan dan kekecewaan.
"Jadi saat kau melakukan hal itu padaku berulangkali, saat aku menyentuh mu, saat kita bercumbu, kau sedang membayangkan Raka?"
"Kau keterlaluan Ara. Kau keterlaluan." mengeram kuat menahan kemarahan.
"Kau menyakiti ku, kau menyakitiku Ara__." suara melemah, marah kecewa jadi satu, kedua matanya basah. Baginya tidak mengapa bila Ara tidak mencintainya, tidak mengapa bila Ara belum bisa menerima dan membuka hati untuknya. Karena perlu waktu dan kesabaran untuk mendapatkan hal itu, mengingat Ara sangat mencintai Raka. Tapi dia tidak bisa menerima Ara memikirkan, menghayal dan merindukan laki laki lain saat bercumbu dan bercinta dengannya, meski yang di pikirkan Ara adalah Raka, adiknya sendiri. Hatinya sangat sakit tidak bisa menerima hal itu.
Rafa menatap penuh kesedihan pada Ara yang masih menangis, tapi kini sudah terduduk di lantai memeluk kedua lututnya. Dengan memendam segala kemarahan, Rafa memakaikan handuk pada tubuh Ara, lalu mengangkatnya ke tempat tidur. Di baringkan dan di tutupi selimut. Lalu kembali ke kamar mandi, bersih-bersih, memakai pakaian dengan cepat, terus keluar tanpa kata pada Ara.
"Jaga Nona muda mu dengan baik. Pakaian kan dia pakaian. Antar sarapannya di kamar. Pastikan dia makan dan juga meminum obatnya. Jangan biarkan dia keluar rumah." pesannya pada Narsih dan Sita. Lalu segera pergi ke kantor membawa kekecewaan, kemarahan, kesedihan, dan sakit hati yang mendalam.
Di belakangnya Wisnu mengikuti dengan berbagai pertanyaan tanpa berani di ucapkan.
Narsih dan Sita saling berpandangan, sempat menangkap tatapan marah dan kesedihan di wajah tuannya saat memberikan rentetan perintah tadi. Mereka segera masuk ke kamar dan terkejut mendapati Ara menangis sesenggukan di bawah selimut.
"Apa yang terjadi? Baru sejam lalu Nona Muda tertawa ceria bercanda gurau dengan mereka di dapur." Tapi pertanyaan itu hanya sampai di tenggorokan masing-masing.
Mereka segera mengerjakan pesan sekaligus perintah tuannya.
Rafa memasuki ruang kerja tanpa semangat. Tatapannya kosong, hati dan tubuhnya lemah. Dia menopang ke-dua tangan di meja, dengan wajah menunduk ke bawah. Air matanya mengalir karena sangat terluka dan kecewa.
Tanpa sadar dia mengeram keras sambil melempar semua apa yang ada dimeja. Moly terkejut saat masuk ke ruangannya. BBegitu juga dengan Wisnu, Frans dan dua orang tamu dari pihak EO yang di undang untuk membicarakan konsep acara ulang tahun perusahaan. Moly segera memberi isyarat pada tamu EO untuk kembali nanti karena suasana hati bosnya yang tidak baik. Para tamu itu mengerti dan segera pamit. Moly dan Frans menatap pada Wisnu sebagai isyarat bertanya apa yang terjadi dengan pimpinan. Wisnu diam tak menjawab hanya mengangkat bahu. Karena dia juga tidak tahu apa yang terjadi antara Tuan dan Nona mudanya saat dia di perintahkan untuk keluar dari kamar tadi.
Moly ingin menyapa dan bertanya, tapi Wisnu melarang. Ini bukan waktu yang tepat untuk berbicara dengan Rafa karena moodnya sangat buruk.
Sementara Ara___Seharian ini Ara hanya mengurung diri dikamar, berbaring di atas tempat tidur sambil menatap foto Raka pada galeri ponselnya. Berulangkali dia menyebut dan memanggil nama almarhum suaminya sambil menangis. Hal itu membuat Rafa semakin kecewa dan sedih melihatnya dari CCTV yang terpasang di kamar.
Selesai shalat isya dan tadarus, Ara keluar kamar menuju roof top, teras yang berada di atap rumah. Dia merasa bosan di kamar.
__ADS_1
Karena menunggu Rafa tak kunjung datang. Biasanya jam begini Rafa sudah di rumah dan melakukan shalat magrib dan isya bersama jika dia tidak punya pekerjaan penting keluar kota atau keluar negeri.
Ara membaringkan tubuhnya setengah berbaring di atas sofa. Dia memandang ke langit yang berwarna kemerahan bertanda malam sudah tiba.
Sesekali dia melihat ponselnya. Menunggu telepon masuk dari kakak iparnya. Biasanya dalam sehari 5 sampai 6 kali Rafa menghubunginya dan juga mengirimkan beberapa pesan. Tapi sejak tadi pagi saat dia pergi sampai detik ini tak sekalipun menelepon dan mengirim pesan, begitu juga dengan Wisnu. Bahkan pesannya meminta maaf yang di kirimkan sejak tadi pun tak di balas.
Ara menanyakan pada Narsih apakah Wisnu sudah menelpon, tapi Narsih mengatakan sekertaris Wisnu belum menghubungi ke rumah sampai sekarang. Karena biasanya setiap jam lima sore Wisnu selalu mengabarkan kepada Narsih untuk menunggu kepulangan mereka. Ara mendesah sedih, dadanya sesak. Air matanya merembes jatuh di kedua ujung matanya. Dia n langit dengan tatapan kosong. Semilir angin malam berhembus menerpa tubuh dan menerbangkan sebagian rambutnya. Beberapa saat kemudian matanya terpejam, dengan kedua tangan mendekap ponsel di perutnya, dua tetes air mata kembali mengalir di kedua ujung matanya yang tertutup.
Beberapa saat berlalu, ponselnya berdering.
Dengan cepat dia meraih benda pintar itu dari perutnya berharap Rafa atau Wisnu yang menelepon. Tapi ternyata bukan. Cindy yang menelepon melalui panggilan video. Meski kecewa, dia masih bisa tersenyum karena Cindy yang menelepon. Sudah seminggu dia tidak bertemu dengan Cindy dan Ines. Terakhir saat mereka menjenguk dirinya di rumah sakit.
"Assalamualaikum Cin.." sapanya berusaha untuk tersenyum.
"Waalaikumsalam, I Miss U bebh. Gimana kabarmu?" terlihat wajah Cindy yang tersenyum ceria dari seberang memberikan kiss jauh kepadanya.
Ara tersenyum ikut memberikan ciuman kepadanya dengan mengerucutkan bibirnya ke depan "Miss U too." Tapi ternyata malah wajah Dion yang muncul mendapat kiss jauh darinya.
Ara terkejut, jadi salah tingkah.
Sementara Dion tersenyum senang dalam hati, dia berpura-pura seolah tidak tahu dengan ciuman itu setelah melihat Ara yang kelabakan dan dengan wajah memerah.
"Hallo Ra, bagaiman kabarmu?" mengalihkan pembicaraan. Dia sangat senang dapat melihat wajah manis ini lagi.
"Alhamdulillah sudah membaik, kakak lagi bersama Cindy ya?"
"lya, Cindy lagi makan." memperlihatkan Cindy yang sedang memasukkan makanan ke mulutnya.
"Ra, bentar ya, lo ngomong dulu sama kak Dion, aku habiskan makananku dulu." kata Cindy sambil menyuap kembali makanannya. Lalu menyuapkan ke mulut Dion "Kak buka mulutnya." Dion membuka mulut menerima suapan makanan dari Cindy. Lalu Cindy kembali menyuapi mulutnya dengan lahap.
Ara tersenyum melihatnya.
"Pelan pelan makannya Cin, gak ada yang rebut kok!"
Cindy dan Dion tertawa mendengar perkataannya.
"Kamu lagi ngapain Ra? Kamu lagi di roof top ya?" tanya Dion melihat latar suasana Ara yang memperlihatkan langit. Lagi lagi dia menerima suapan dari tangan Cindy.
"Iya, aku lagi menghirup udara malam sekalian melihat keindahan langit."
"Jangan kelamaan di luar, nanti kamu masuk angin," kata Dion sambil mengunyah.
"Iya kak.."
"Kamu lagi sama siapa di situ? Sendiri?"
"Iya, kakak dan Cindy lagi di mana? Sepertinya ramai tuh? Ines mana?" Dion menyerahkan ponsel pada Cindy karena dia harus menyalami beberapa tamu undangan yang menyapanya. Cindy buru buru melap bibir kakak sepupunya itu.
"Ines nggak ikut Ra, dia lagi sibuk. Kami lagi
di acara pernikahan anak teman pamanku.
Kak Dion ngajak aku sebagai partnernya. Seandainya saja kamu lagi nggak sakit, aku dan kak Dion pasti ngajak kamu. Lihat Ra, makanannya enak-enak dan mewah, aku pengen habisi semuanya." kata Cindy begitu melihat ke layar ponsel.
Ara terkekeh mendengar ucapannya.
"Semua tamu undangannya dari kalangan atas, pejabat penting, para pengusaha handal dan sukses tajir melintir. Makanya makanannya mahal dan mewah. Oh ya..aku juga melihat ada kakak ipar mu di sini." kata Cindy.
"Maksudmu kak Rafa?" tanya Ara.
"Iya, namanya tuan Rafa Ravendro Artawijaya kan?"
"Iya, benar." Ara mengangguk.
"Dia ada di depan bersama Tuan rumah dan rekan rekan bisnisnya. Kebetulan di depan ada acara dansa, mungkin mereka lagi turun berdansa." ujar Cindy kembali.
"Cin, boleh nggak kamu arahkan kameranya pada wajah kakak ipar ku? Tapi jangan sampai ketahuan olehnya dan juga yang lainnya, tolong ya?" pintanya. Karena dia cemas, apa Rafa masih marah padanya, karena seharian ini tak menghubunginya.
"Baiklah, tunggu bentar ya, aku ke depan dulu." kata Cindy, lalu menoleh pada Dion yang sedang berbicara dengan rekan-rekan bisnisnya."Kak Dion, aku ke depan dulu sebentar. Aku mau ngambil sesuatu." katanya berbohong.
"Tunggu bentar Cindy." kata Dion seraya bangkit, lalu melap makanan yang belepotan di bibir adik sepupunya ini dengan sapu tangannya.
"Makaciwww." ucap Cindy, lalu segera melangkah menuju ke depan setelah mendapat anggukan dari Dion. Setelah sampai di lantai dansa, Cindy mengarahkan kameranya sembunyi sembunyi dari balik tas pestanya kepada pemilik RA Group itu.
"Kau sudah lihat Ra ?"
"Iya Cind.. " ucap Ara melihat ke arah Rafa.
"Kakak iparmu itu sangat tampan dan mempesona Ra. Lihat, banyak perempuan cantik dan seksi beterbangan dan hinggap di dekatnya seperti kupu kupu. Ha-ha-ha..kau melihatnya kan?" Cindy tertawa dan terpukau pada wajah tampan maskulin kakak ipar sahabatnya ini.
"Iya Cind, aku melihatnya." kata Ara menatap pada Rafa yang sedang berdiri di lantai dansa di kelilingi oleh wanita wanita cantik dengan pakaian yang super duper seksi. Termasuk primadona kampus Sherly dan Siska. Para wanita seksi itu ternyata ada di acara itu. Keduanya terlihat meminta dan mengajak Rafa untuk berdansa dan mengambil foto bersama, tapi Wisnu menghalangi mereka.
Ara merasa lega melihat wajah Rafa yang terlihat baik baik saja, tak ada kesedihan dan kemarahan. Rafa nampak menyalami mitra bisnisnya dan juga para wanita cantik yang sebagiannya adalah model dan artis cantik papan atas tanah air yang sering wara-wiri di layar televisi dengan wajah datarnya. Di antaranya juga ada Tania, wanita yang pernah di lihatnya di restoran bersama kakak iparnya.
"Syukurlah tak ada kemarahan lagi di wajahnya. Semoga saja di tidak marah lagi padaku." batinnya kembali.
"Ra, gimana? Kamu udah lihat kakak iparmu?"
"Iya Cind, udah cukup, makasih ya?"
"Iya Ra, biasa aja kali. Memang kenapa sih kamu pengen lihat wajah kakak iparmu? Kan hampir tiap hari kamu melihatnya?"
"Nggak apa-apa kok Cin__"
"Benar nih? Nggak mau cerita sama aku?"
"Pagi tadi aku melakukan kesalahan yang membuat dia sangat marah. Makanya aku mau memastikan raut wajahnya." jujur tak ingin menutupi karena Cindy sudah membantunya.
"Ohh, gue kira ada apa. Kayaknya kakak iparmu baik baik saja, lihat tuh dia tampak santai di kerumuni para kupu kupu itu, ha-ha-ha." celetuk Cindy kembali tertawa sambil melangkah mendekati Dion.
"Kamu masih ngobrol sama Ara?" Dion memperhatikan dirinya yang sedang tertawa.
"Iya kak ...."
"Sini berikan ponselmu padaku, kakak ingin bicara dengan Ara."
Cindy menyerahkan ponselnya.
"Hay Ra, kamu masih di luar? Kenapa belum masuk? Nanti masuk angin lho."
"Aku tadi masih bicara sama Cindy kak."
"Kamu lagi di rumah mana nih? Aku sama Cindy ke sana ya? Dari pada kamu sendiri di situ gak ada teman."
"Gak perlu kak, bentar lagi aku masuk. Oh ya maaf ya belum bisa memenuhi janjiku makan malam bersama kakak."
"Nggak apa-apa Ra, kamu kan lagi sakit, aku ngerti kok keadaanmu."
"Aku jadi gak enak, besok atau lusa aku akan hubungi kakak."
"Iya Ra, santai saja, kamu cepat masuk sana. Kamu kan baru saja sembuh aku nggak mau kamu sakit lagi, nanti acara dinnernya gak jadi jadi." Dion bercanda.
Ara tersenyum kecil
"Iya kak, aku tutup teleponnya, mana Cindy?"
"Cindy lagi di sebelah, nanti aku kasih tau ke dia. Kamu cepat tidur ya?"
"Ya kak, Assalamualaikum."
"Wassalamu'alaikum."
Telepon terputus, bersamaan dengan ponsel Ara mati karena baterai habis.
Dion tersenyum senang dan bahagia setelah melihat wajah Ara, keadaannya, dan mendengar suaranya secara langsung. Wajah dan suara yang sangat di rindukan.
Dia sangat syok, cemas, khawatir setelah mendapat informasi tentang kejadian buruk yang menimpa Ara. Dan kini dia merasa lega Ara sudah membaik.
"Hay Dion." suara di belakangnya membuyarkan lamunannya.
Lalu muncul Siska di depannya dengan wajah di penuhi senyuman manis. Tapi senyuman itu langsung redup saat matanya tidak sengaja melihat layar ponsel di tangan Dion yang menyala tertulis nama Ara dalam panggilan video.
"Ternyata dia baru saja berbicara dengan si cupu itu," batinnya kesal. Tapi dia kembali memasang wajah manisnya.
"Kamu lagi telepon sama siapa? Sepertinya orang penting, apa teman bisnismu?"
"Lebih penting dari mereka dan dari segala apa yang ada di dalam hidupku." jawab Dion tersenyum sumringah membayangkan wajah dan senyuman manis Ara.
Siska semakin mengeram kesal menahan amarah, tapi dia segera menyembunyikannya.
"Oh ya aku mencari mu dari tadi, ternyata kamu malah duduk menyendiri di sini. Kenapa kamu nggak hubungi aku, kita kan bisa sama sama kesini, telepon ku juga kau abaikan." mengalihkan pembicaraan, darahnya mendidih melihat wajah bahagia Dion yang mengkhayalkan Ara. Dia segera duduk di dekat Dion.
"Aku tidak sendiri, aku datang sama Cindy, dia partnerku." Dion sengaja mengajak Cindy karena ingin menghindari Siska yang sudah puluhan kali menghubunginya untuk menjadikannya partner undangan. Dia juga sengaja mengambil tempat di belakang dan tidak bergabung dengan ayahnya di depan untuk menghindari Siska dan juga pemilik RA Group itu, karena dia ingin menelpon Ara, melepas kerinduan pada wanita pujaan hatinya itu melalui Cindy.
"Halo Sis, kamu di sini juga?" sapa Cindy yang melihat keberadaannya, padahal dia memang tau Siska sudah lama di tempat ini mencari Dion.
"Iya, aku mencari Dion sejak tadi, ternyata dia sama kamu di sini."
Mereka berdua saling cipika cipiki dan kembali duduk di dekat Dion.
"Beberapa hari lagi aku ulang tahun, aku mengundang kalian sebagai tamu spesial ku."
"Kamu mau ulang tahun? Wah pasti pestamu sangat meriah."
__ADS_1
"Pasti dong, aku akan membuatnya sangat meriah, kamu juga datang ya Dion? aku mengundang kalian secara pribadi."
"Aku gak janji Sis.."
Siska kembali kesal, tapi dia tidak kehilangan akal untuk membuat pria tampan ini datang ke acara ulang tahunnya.
"Aku juga akan mengundang teman teman kampus. Cind, nanti ajak juga ya kedua temanmu itu ...siapa ya ? Ines dan si cupu itu, aku harap mereka datang juga."
"Ara, namanya Ara. Dia punya nama. Jaga ucapan mu kalau berbicara." sentak Dion kasar menatap tajam.
Siska terhenyak.
"Dion sayang, aku refleks aja menyebut begitu, karena aku lupa namanya, kamu kok marah banget aku menyebutnya begitu?" menatap lekat wajah Dion dengan senyum di buat buat."Sialan, dia bahkan membentak ku gara gara menyebut si janda murahan itu cupu." maki Siska dalam hati.
"Aku akan usahakan untuk datang dan mengajak Ara dan Ines, nanti kamu beritahukan waktu dan tempatnya di group, biar kita semua tahu." Cindy segera menenangkan suasana.
"Sudah pasti Cind, aku juga akan mengudang beberapa dosen, dan juga asdos." kata Siska menoleh pada Dion yang masih terlihat gusar.
"Dion sayang, bolehkah aku pulang bersama kalian? Aku kemari bersama Sherly. Tapi dia ..." ucapan Siska menggantung ketika seseorang datang membisikkan sesuatu di telinga Dion.
Dion tidak senang mendengar bisikan itu, tapi senang atau tidak dia segera bangkit.
"Cind, kamu tunggu di sini, kakak ke depan dulu bentar." sengaja tidak mengajak Cindy ke depan karena Rafa mengenali wajah Cindy sebagai teman dekat Ara.
"Baik kak...." jawab Cindy mengerti.
"Dion, kamu mau kemana? Aku ikut kamu ya?" Siska mengejar langkah Dion mengikuti asisten ayahnya.
Dion menuju ke arah depan, pada sebuah meja bundar besar khusus tempat berkumpulnya para pengusaha sukses kalangan atas, di mana di situ ada ayahnya dan juga seorang pengusaha sukses termuda di antara mereka yang duduk, Rafa Ravendro Artawijaya, sebagai pendiri sekaligus pemilik dari perusahaan Raksasa, RA Group di usianya yang masih muda.
Raymond Alkas langsung berdiri ketika melihat putranya datang. Dia tersenyum, dan dengan bangga memperkenalkan putra tunggalnya kepada tuan rumah dan juga rekan bisnisnya yang belum tahu tentang putranya.
"Ini putra tunggal ku, yang nantinya akan menjadi pewaris dari perusahaan ku dan meneruskan semua bisnisku. Sebenarnya aku sudah ingin menyerahkan posisiku padanya, tapi anak ini belum bersedia. Sepertinya dia belum siap untuk terjun ke dunia bisnis mengahadapi kalian, tapi dia sangat pintar dan cerdas. Aku sangat yakin dia bisa bersaing dengan kalian dan bisa membawa DRA group lebih maju dan sukses lagi kedepannya, perkenalkan namanya Dionel Raymond Alkas."
Dion tersenyum dan menyalami mereka dengan menyatukan kedua tangannya di depan dada, matanya menelusuri satu persatu rekan bisnis ayahnya. Hingga tatapannya berhenti pada Rafa yang menatapnya tajam dan dingin.
Seketika raut wajah Dion pun langsung berubah dingin, keduanya saling bertatap tajam seakan ingin memangsa satu sama lain.
"Tuan Dionel Alkas, anda perlu belajar banyak dari tuan Ravendro Artawijaya sebagai pengusaha sukses paling muda dari kalangan atas, karena anda akan segera menggantikan tuan Raymond Alkas, maka anda pun akan menjadi pengusaha termuda." kata salah seorang di antara mereka.
Dion menanggapi dengan tersenyum.
"Tentu saja dengan senang hati saya akan belajar dari tuan Ravendro Artawijaya, jika anda tidak keberatan tuan Artawijaya." melirik tajam pada Rafa.
Rafa tersenyum menyeringai mendengar ucapannya. Kalau bukan karena ingin menghargai undangan tuan rumah yang merupakan mitra bisnisnya, dia tidak akan menginjakan kaki di tempat ini apalagi sampai bertemu dengan pewaris DRA group ini.
Wisnu mendekat dan membisikkan sesuatu di telinganya. Wajahnya langsung berubah tegang dan dingin. Dengan segera dia bangkit dari duduknya dan pamit pada tuan rumah dan juga pada mereka yang ada di situ dengan sopan. Lalu segera melangkah cepat keluar tanpa memperdulikan pertanyaan pertanyaan yang mengejar dirinya.
"Kenapa dia pergi tiba tiba seperti itu? raut wajahnya langsung berubah setelah mendapat bisikan dari asistennya, apa terjadi sesuatu lagi pada Ara?" batin Dion cemas langsung teringat pada Ara.
Dion pun segera pamit pada mereka dengan sopan, lalu segera menemui Cindy. Dia tidak perduli pada panggilan Siska yang kesal karena di acuhkan terus.
Dion segera menarik tangan Cindy yang sedang sibuk dengan dress-nya yang bermasalah.
"Ada apa kak ?" Cindy kaget tangannya di tarik Dion.
"Kita pulang sekarang, jangan bertanya lagi, nanti kakak jelaskan di mobil, ayo ..." Dion memegang tangannya menarik keluar menuju cepat ke arah mobil.
"Tunggu bentar, tolongin aku dulu." kata Cindy ketika Dion menyalakan mesin mobil.
"Ada apa?" Dion menatapnya lekat.
"Pengait bra ku lepas, tolong pasangkan kembali, aku susah menggapainya." kata Cindy menarik tali bra nya yang longgar di bahunya.
"Ya ampun Cin, cepat berbalik." perintah Dion.
Cindy segera membelakangi Dion.
Dion mendekat dan menyingkap rambut adik sepupunya ini. Lalu membuka rest dress sampai ke pinggang hingga terlihat punggung Cindy yang putih mulus dan juga bra nya yang lepas. Aroma wangi menguar dari punggung putih itu dan tercium oleh hidungnya.
"Kenapa bisa lepas begini sih?" tanyanya.
"Aku terburu-buru makainya, makanya gak terpasang bagus. Kakak sih ngajakin keluar tiba tiba."
"Apa kamu selalu begini kalau selalu terburu-buru? Siapa saja laki laki yang sudah kamu suruh memasangkan pengait bra mu jika lepas begini?"
"Sembarang aja kalau ngomong, kakak pikir aku segampang itu pada setiap lelaki? Nggak ada...baru kakak yang melakukannya.
Dan seandainya kakak bukan kakak ku, aku pasti tidak akan meminta tolong pada kakak." kata Cindy kesal.
"Kakak nggak mikir buruk pada kamu Cind, kakak hanya nggak ingin punggung indah kamu ini di lihat dan sentuh oleh sembarang lelaki. Awas ya kalau kamu melakukan hal hal bebas di luar. Kerja kamu tuh hanya kuliah dan belajar biar nanti jadi orang sukses dan membanggakan orang tua. Kakak nggak melarang kamu pacaran, tapi ingat batasan dan aturan." kata Dion kembali seraya menautkan pengait bra satu persatu.
"Nggak ada kak, aku tahu kok itu. Baru kakak yang ngelihat punggungku. Dan aku juga hanya akan memperlihatkannya pada suamiku nanti." ujar Cindy.
Dion segera mengunci kembali dress adiknya dan memperbaiki rambut di belakang punggung.
"Terimakasih kak."
Dion kembali menyalakan mesin.
Cindy melirik Diom diam diam.
"Kamu kenapa lirik lirik begitu?" tanya Dion merasa aneh.
"Apa benar yang kakak katakan tadi?" tanya Cindy malu malu kucing.
"Apa?" menoleh dengan dahi mengernyit dan segera menjalankan kendaraan.
"Apa benar punggung ku putih dan mulus?" tanya Cindy kembali pelan pelan melirik Dion.
Dion tersenyum heran mendengar pertanyaan adiknya ini.
"Jawab dong kak, jangan hanya senyum gitu, aku malu tahu. Dan kakak jawabnya harus jujur ya jangan bohong dan hanya sekedar nyenangin hati aku doang."
Dion tertawa kecil."Kenapa kamu nanya hal itu?" Dion balik bertanya.
"Kakak kan seorang laki laki. Aku ingin kakak menilai diri aku, maksud ku tubuh aku, apa tubuhku indah seperti yang kakak katakan tadi? Biar nanti aku nggak akan malu sama calon suamiku. Aku ingin dia bangga dengan tubuh indah ku dan nggak merasa menyesal memilih aku sebagai istrinya." kata Cindy tersenyum malu-malu.
Dion tertawa lepas.
"Kok malah tertawa sih?" Cindy menatapnya cemberut.
Dion segera menepikan mobilnya. Dia menghadap pada Cindy dan memegang kedua tangan Cindy.
"Cindy adikku sayang, mau dengar jawaban jujur dari kakak?"
Cindy mengangguk cepat.
"Jangan bohong ya?" katanya menyusul.
Dion tersenyum, memegang wajah Cindy lembut dan menatapnya dalam. Mengamati setiap bagian wajah Cindy sesaat.
"Kamu tuh cantik dan manis, tubuhmu putih dan mulus, juga Wangi. Bentuk tubuh kamu indah dan ideal. Jadi kamu nggak perlu minder atau merasa nggak yakin pada tubuhmu. Kakak berharap kamu akan mendapatkan suami yang baik, bertanggung jawab dan mencintai bukan hanya kelebihan yang kamu miliki, tapi juga segala kekuranganmu. Tapi dari pandangan kakak, kamu nggak punya kekurangan apapun."
Ujar Dion.
Cindy kembali senyum senyum."Benar ya kakak nggak bohong?"
"Kenapa sih kamu seperti ini? apa kamu sudah punya calon suami? ingat ya, kasih kakak ipar yang baik." Dion mencubit hidungnya.
"Nggak ada kak, calon apa an... pacar saja nggak punya." jawab Cindy masam.
"Masa sih? Bukannya kamu lagi pacaran sama Marko? katamu hubungan kalian udah dua bulan."
Cindy mendesis kesal."Aku udah putusin dia."
"Lho kenapa? katanya kamu cinta sama dia."
"Dia Kurangajar, baru dua bulan pacaran udah nuntut macam macam. Kakak tahu nggak, dia mau nyium aku, pake maksa lagi. Jadi ku tampar dan ku putuskan aja sekalian."
Dion tertawa. Dan kembali melarikan mobil mewahnya.
"Enak aja dia mau nyium bibirku, aku susah payah menjaganya selama ini."
Dion kembali terkekeh.
"Jadi selama ini kamu pacaran dan gonta ganti cowok belum pernah ciuman di bibir?" tanyanya seraya memegang satu tangan adiknya yang terlihat kesal.
"Belum dong kak, aku nggak mau. Bibirku nih masih perawan. Aku hanya akan memberikan ciuman pertamaku pada calon suamiku yang benar-benar serius nikahin aku dan bukan hanya sekedar main-main."
"Bagus Cin kalau kamu punya pemikiran seperti itu, kakak bangga sama kamu. Kakak doakan kamu dapat suami yang baik dan benar benar serius sama kamu. Sekarang kamu pakai sabuk mu, kakak mau ngebut nih....."
"Emang kita mau kemana sih kak?" tanya Cindy seraya memasang sabuk pengaman.
"Ke rumah Ara, kakak cemas padanya. Sepertinya terjadi sesuatu lagi padanya." kata Dion seraya menambah laju kecepatan mobilnya.
Cindy kaget.
"Apa yang terjadi pada Ara kak?" merasa cemas.
Bersambung.
Terimakasih yang selalu setia mampir π jangan lupa dukungannya
__ADS_1