
Raka dan Ara berjalan bergandengan di bibir pantai menulusuri pasir putih. Kaki mereka basah dan bermandikan pasir.
Karena bertepatan dengan hari libur, banyak pengunjung yang datang berlibur ke tempat itu. Para anak kecil mengambil kesempatan mengais rezeki dengan menjajakan aneka pernik pernik, permen, kue kue, minuman pada tamu yang berjemur di pantai.
"Kakak mau beli nggak ?" seorang anak laki-laki mendekati mereka berdua yang sedang duduk di bawah payung.
Raka dan Ara menatap ke arahnya. Anak itu memegang sebuah kotak kecil di depan dada yang berisi air gelas dan permen.
"Mau kak ?" tanya nya kembali.
Ara dan raka tersenyum."Mau, kebetulan kakak juga haus....." kata Ara.
Anak laki-laki itu langsung tersenyum ceria karena senang. Dia segera meletakkan kotak jualan di depan Ara.
Ara memperhatikan jenis-jenis permen dan minuman di kotak tersebut, lalu dia memilih permen mintz dan segelas air mineral.
"Siapa namamu?" tanya Raka memasukkan permen yang sudah di buka bungkusnya ke dalam mulut.
"Edgar kak.." jawab bocah kecil itu
"Edgar duduklah dulu...."
Anak kecil yang bernama Edgar itu patuh dan segera duduk di depan mereka.
Raka mengambil minuman dan permen lalu memberikan kepadanya.
"Untukku kak ?" tanya Edgar.
Raka mengangguk.
"Kamu pasti haus kan ?" memperhatikan bibir Edgar yang kering.
Edgar mengangguk cepat.
Lalu segera meminum minuman itu sampai habis."Terimakasih kak.." Edgar menatap mereka bergantian.
"Masih mau lagi? Minumlah kembali, kakak bayar kok." kata Ara.
"Cukup kak, tenggorokanku sudah segar."
"Kamu umur berapa ?"
"9 tahun kak.."
"Sekolah ?"
Edgar mengangguk
__ADS_1
"Iya kak, kelas 4.."
"Kamu biasa jualan di sini?" Raka memperhatikan bajunya yang usang dan lusuh.
"Iya kak, dari setiap pulang sekolah dan saat libur. Aku jualan di sini sama teman teman sudah 5 tahun lalu." kata Edgar.
"Kamu masih punya orang tua?"
"Punya, dan dua orang adik perempuan."
"Rumah kamu di mana ?"
"Di daerah X kak, 2 kilo meter dari sini."
"Terus kamu kesini naik apa ?"
"Jalan kaki. Kakak berdua dari Jakarta ya ?"
Raka manggut-manggut
"Kok tau ?"
"Tahulah kak, dari logat kakak berdua bicara.
Banyak yang dari Jakarta ke sini, juga daerah lain, bahkan luar negeri. Jadi aku tahu bahasanya mereka."
"Wah pintar kamu." seru Ara kagum
"Berkunjung ya ke rumah kami jika kau ke Jakarta." sambung Raka lagi.
Edgar tersenyum menanggapi.
"Jadi kak Ara dan kak Raka suami istri?" tanyanya.
Ara mengangguk.
"Aku kira masih pacaran."
Raka dan ara tertawa kecil.
"Jadi berapa semua ?" Raka menunjuk jualan yang mereka nikmati.
Edgar nampak menghitung
"15 ribu kak.."
Raka mengeluarkan dompetnya.
__ADS_1
"Ini untuk bayar jualan kamu." menyodorkan uang 15 ribu, lalu menyusul beberapa lembar uang ratusan ribu.
Edgar terbelalak
"Ini kebanyakan kak, kan harganya hanya 15 ribu."
"Sisanya buat kamu, ayo ambil."
Edgar menatap lekat lembaran kertas yang berjumlah 10 lembar itu.
"Ayo ambilah, kami ikhlas kok, semoga bermanfaat untukmu."
"Benar kak ?" tanya Edgar kembali dengan mata berbinar "Astungkara ..." ucapnya sebagai rasa syukur.
"Sama sama. Semoga uangnya berkah untuk mu." Ara menepuk pundak bocah itu. Dari kata syukur yang di ucapkan Edgar, dia dapat mengetahui kalau bocah itu beragam Hindu.
Edgar segera memisahkan uang ratusan ribu dan 15 ribu. 10 lembar ratusan ribu pemberian Raka di gulung kecil dan di simpan pada kous kakinya. Sedangkan yang 15 ribu di isi dalam botol jualan.
Raka dan Ara memperhatikannya.
"Kenapa uangnya di selipkan ke dalam kous kaki?" tanya raka heran.
"Itu kan uang pemberian kakak pada aku, jadi harus di pisahkan dari uang jualan ini."
Dahi ara mengerut
"Artinya Ini bukan jualan kamu ?"
"Bukan kak, aku hanya ambil gaji dari menjual ini."
"Terus ini punya siapa? orang tua kamu?"
Edgar menggeleng.
"Tidak juga, tapi paman bos."
"Paman bos? siapa dia ?"
"Orang yang memberi kami pekerjaan ini. Sebagian anak anak di sini menjajakan barang barang darinya, walau hanya sedikit upah yang kami dapat, tak apa. Dari pada kami hanya duduk diam, bermain dan mengemis." edgar menjelaskan.
Raka dan Ara menelan ludah. Mereka bangga dengan cara berpikir bocah ini.
"Kamu benar nak, tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah. Rezeki sudah ada yang atur.Tinggal bagaimana cara kita mencarinya dengan halal." ucap Ara mengelus bahunya,
bangga dengan pemikiran anak kecil ini.
"Iya kak, sekali lagi terimakasih atas pemberian kakak berdua. Aku akan menggunakan untuk modal usaha ku jualan seperti ini."
__ADS_1
"Semoga saja usahamu lancar, sukses dan berkah." ucap Ara dan Raka bersamaan.
*****