Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 276


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 00.00.


Cindy bolak-balik di tempat tidur.


Entah kenapa dia merasakan hatinya tidak enak. Sudah hampir dua jam berbaring dan berusaha memejamkan mata tapi tidak bisa tidur.


Dia malah semakin gelisah dan tidak tenang.


Dia ingin menghubungi Dion tapi khawatir mengganggu. Karena tadi sudah mengirimkan pesan sejam lalu dan Dion membalas akan segera pulang.


Ponselnya tiba tiba berbunyi membuatnya kaget. Tapi juga senang karena mengira Dion menghubunginya. Setelah di lihat ternyata bukan telepon atau pesan dari Dion, tapi pesan masuk yang dikirim lewat WhatsApp dengan nomor baru.


"Siapa ini?"


Cindy segera membuka isi pesan itu.


Cindy terbelalak melihat isi pesan yang masuk, matanya membulat sempurna, dengan mulut ternganga melihat foto foto suaminya bersama wanita di atas ranjang.


Tangannya gemetar, Air matanya langsung mengalir seketika melihat setiap foto demi foto. Hatinya hancur berkeping keping.


Dan lebih hancur lagi setelah melihat jelas siapa wanita yang sedang berada di bawah tubuh suaminya.


Tubuh Cindy terasa lemas gemetaran.


Jantungnya berdetak cepat. Air matanya semakin banyak keluar. Hatinya benar-benar sakit dan hancur.


Cindy tak berkedip memperhatikan foto foto itu dengan tangan gemetar.


Dion dipeluk bela duduk bersama teman teman relasinya, seolah dirinya tidak punya istri. Foto suaminya di atas tubuh Bela yang setengah telanjang dengan buah dadanya yang tertekan di dada suaminya.


Berpelukan, berciuman, bercumbu di atas ranjang.


Dan lebih sakit lagi hati Cindy melihat satu tangan Bela menyentuh area milik pribadi suaminya. Ingin rasanya Cindy berteriak keras.Tapi tak ingin membuat mertuanya terbangun. Dia menangis tersedu-sedu di atas tempat tidur. Berulangkali dia melap air matanya tapi tak kunjung kering.


"Tega sekali kau melakukan ini padaku." ucapnya geram dengan bibir gemetar.


Dia memegang perutnya karena ikut bergerak akibat dari tangisnya yang kuat.


Tidak berapa lama telinganya mendengar suara mesin mobil. Cindy segera turun dari tempat tidur melangkah menuju jendela.


Di lihatnya mobil Dion.


Cindy segera naik ke tempat tidur.


Menghapus air matanya, menenangkan hati dan pikirannya. Lalu segera berbaring miring di ujung tempat tidur untuk menjauh dari Dion. Lalu menutupkan selimut ke tubuh.


Dia berusaha sekuat tenaga menahan tangisnya yang susah untuk di bendung.


Pintu kamar di buka lalu di tutup kembali.


Cindy langsung memejamkan mata dan membekap mulutnya.


Dion meletakkan ponsel dan kunci mobil di nakas sembari memperhatikan Cindy yang sedang tidur posisi miring membelakanginya.


Perlahan dia mendekati Cindy dengan


memutar tubuhnya ke tepi ranjang di mana Cindy berbaring. Maksudnya untuk menggeser tubuh Cindy ke tengah agar tidak jatuh.


Dion menatap wajah Cindy sesaat. Menatap hangat dan lembut. Terbesit rasa bersalah di hatinya mengingat kejadian di kamar hotel tadi. Seharusnya dia tidak membantu dan menuruti keinginan Bela membawanya ke kamar hotel.

__ADS_1


Dion mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Cindy lembut dengan perasaan bersalah dan menyesal.


Tubuh Cindy bergidik merasakan kecupan itu.


Hatinya semakin sakit dan perih mencium Aroma parfum lain di kemeja Dion.


Dia berusaha kuat menahan air matanya yang mau keluar. Tapi akhirnya merembes juga dan di sudut mata bawahnya.


Dion menjulurkan kedua tangannya hendak menggeser tubuh Cindy ke tengah. Tapi belum sempat tangannya menyentuh Cindy, kedua tangannya di tepis kuat oleh Cindy secara tiba-tiba.


Dion kaget. Cindy segera bangun.


Dion kembali kaget melihat wajah Cindy yang sembab basah dengan air mata.


"Jangan menyentuhku." kata Cindy menatap tajam.


"Cindy? Kamu kenapa?" Dion naik ke tempat tidur mendekati Cindy.


Cindy mundur dan segera turun dari tempat tidur.


Dion heran dan bingung dengan sikapnya.


"Ada apa Cindy? Kenapa kamu menangis? Kenapa kau bersikap begini?"


Cindy menelan ludah seraya menyapu air matanya.


"Tidak apa-apa." katanya berusaha tenang dan segera menyapu air matanya.


Dia mengambil bantal kepala dan melangkah menuju sofa.


Dion terkejut. "Apa yang kau lakukan Cindy?"


"Kenapa kau tidur di sofa?"


Cindy tak menjawab, air matanya semakin mengalir deras.


Dion segera melangkah mendekatinya.


Cindy segera bangun.


"Jangan mendekat, menjauh lah dariku." katanya agak keras menahan emosi.


Dion terhenyak.


"Cindy, ada apa denganmu? apa yang membuatmu marah?" semakin bingung dengan sikap Cindy. Dion tetap berjalan mendekati Cindy. Menyentuh tubuh Cindy tetapi Cindy kembali menepis tangannya kasar.


"Sudah ku bilang jangan menyentuhku." jawab Cindy dengan nada tinggi tatapan tajam.


"Pergi, menjauh dariku. Aku mau tidur. Jangan menggangguku." teriak Cindy kembali.


Dion tercengang.


"Kalau kau ingin tidur. Tidurlah di ranjang, jangan di sofa. Nanti kau jatuh."


"Tidak usah perduli padaku." jawab Cindy ketus.


Dion kesal mendengar ucapannya.


"Kau sedang hamil Cindy. Aku tidak ingin terjadi apa-apa pada dirimu dan kandungan mu." suara mulai meninggi.

__ADS_1


"Tidak perlu khawatir, aku tahu apa yang aku lakukan." jawab Cindy menatap sinis.


Dion berusaha menenangkan emosi yang mulai menguasai hati dan pikirannya.


"Cindy, dengarkan kakak. Kakak perduli padamu karena kau istriku, dan kau sedang hamil. Kakak tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada kalian." berbicara lembut.


"Istri?? cihhh___!" umpat Cindy tersenyum sinis.


"Cindy ," Sentak Dion terkejut dengan umpatan itu.


"Jangan meneriaki ku." Cindy balas membentak.


"Sebaiknya kakak mandi dan bersihkan tubuh kakak yang kotor itu. Bersihkan kotoran kotoran yang menempel di tubuh kakak." katanya kembali menatap Leher Dion yang hampir dipenuhi tanda bibir berwarna merah.


Bukan hanya di leher tapi juga di kerah kemeja.


Cindy kembali menangis terisak dengan air mata semakin deras. Hatinya semakin sakit dan hancur. Dia berbaring dan menutup tubuhnya di dengan selimut.


Dion terkejut mendengar ucapannya.


Segera dia meraba raba lehernya. Dion terkejut melihat warna merah di telapak tangannya. Dion melangkah ke cermin. Matanya terbelalak melihat banyak tanda bibir berwarna merah menempel di lehernya. Bukan hanya di leher tapi juga kemeja atasnya.


Diom teringat kejadian yang terjadi di hotel.


Dia tidak menyadari Bela memberi tanda ini. Dan dia sama sekali tidak mengetahuinya.


Dion merutuk dirinya. Mengumpat dan memaki Bela. Apa Cindy tahu kejadian yang terjadi di hotel antara dirinya dengan Bela? hingga membuatnya marah seperti ini?


Dion segera berbalik mendekati Cindy.


"Cindy. Kakak bisa jelasin semuanya. Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Kamu salah paham." Memeluk Cindy dari belakang. Cindy mendorong tubuhnya. Lalu segera segera bangun dan duduk.


"Salah paham?" menatap sinis. "Begitu banyaknya tanda itu dan kakak mengatakan itu hanya salah paham? Bukannya kakak yang menyuruhnya untuk membuatnya?"


"Dan ya.... sepertinya kakak sangat senang dan suka dengan karya itu hingga membiarkannya terus menempel di tubuh kakak dan membawanya pulang ke rumah." kata Cindy kembali tersenyum sinis.


Dion mendesah sedih. Dia merasa sangat bersalah setelah tahu penyebab kemarahan dan sikap buruk istrinya ini. Semua memang kesalahannya.


"Tidak Cindy. Itu tidak benar, percayalah pada kakak. Kakak tidak tahu tentang tanda itu."


"Pembohong.. membiarkan bibir wanita mengecup berulangkali dan kakak


mengatakan tidak tahu? hah? sepertinya kakak sangat menikmati setiap sentuhannya sehingga tidak sadar diri dengan apa yang dia lakukan. Dan kakak juga begitu sangat terbuai hingga lupa punya istri di rumah yang sedang mengandung." Kata Cindy berderai air mata.


Dion menggeleng kepalanya. Dia kembali mendesah sedih. Hendak meraih Cindy tapi Cindy menjauh.


"Itu tidak benar Cindy, Kakak tidak berbohong. Percayalah pada kakak sayang." kata Dion memelas dengan sungguh sungguh.


Dia berusaha meraih tubuh Cindy untuk memeluk dan memberi ketenangan kepadanya yang terus menangis dengan air mata yang semakin banyak mengalir.


Cindy mundur dan kembali menepis tangannya.


Dion segera menangkap tangannya dan segera menarik tubuhnya ke dalam pelukannya. Dipeluknya kuat, tidak perduli dengan pukulan pukulan Cindy di punggungnya.


"Percayalah pada kakak Cindy. Kamu salah paham. Kamu salah paham. Kejadian yang sebenarnya tidak seperti yang kamu pikirkan. Tidak terjadi apa apa di antara kami!"


"Lepas, jangan sentuh aku dan bayiku dengan tubuh kotor kakak." teriak Cindy keras.


Hati Dion semakin sedih terenyuh dan sakit mendengar perkataan Cindy.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2