
Rumah megah yang tadinya ramai di penuhi oleh para pelayat kembali sepi.
Yang terlihat hanya akitivitas para pelayan dan penjaga keamanan yang sedang bersih bersih. Mereka melakukan pekerjaan tanpa semangat dan canda tawa seperti biasa.
Tak terlihat Maya dan Nesa di ruangan besar itu, mereka mengurung diri di kamar. Terdengar suara tangis Nesa dari dalam kamarnya sambil menyebut, memanggil nama Raka dengan histeris. Sementara Rizal berada dikamar Maya memberikan pertolongan karena Maya masih tidak sadarkan diri. Sam sibuk menenangkan si kembar yang menangis menanyakan terus paman mereka, Raka.
Semuanya sedih dan berduka.
Tubuh Ara semakin gemetar tak kala memasuki dalaman rumah. Dadanya kembali sesak, dia berusaha menahan tangisnya agar tidak pecah. Hanya air matanya yang terus mengalir tanpa henti.
"Kakak ipar, aku akan ke kamar." kata Ara pelan begitu mereka sampai di tangga.
"Aku akan mengantarmu. Kau tidak akan bisa ke atas dengan tubuh lemah seperti ini." ujar Rafa yang masih memapah tubuhnya.
"Kakak jangan khawatir. Aku masih kuat untuk naik." berusaha memegang railing tangga, tapi pegangannya lepas karena jemarinya terlalu lemah memegang.
"Kekuatan apa? Bahkan untuk memegang pinggiran tangga saja kau tidak berdaya." Rafa melihat tangannya yang gemetaran.
Tubuh Ara melorot kebawah dan terduduk di tangga dasar. Kakinya sangat lemas dan gemetaran, tidak mampu menopang tubuhnya. Dia kembali menangis. Air mata kembali mengalir deras di pipi.
"Ara____." Rafa berlutut di depan gadis itu. Dia kembali terenyuh melihat air mata wanita ini.
"Kakak ipar, apa yang kurasakan ini? Dadaku sangat sesak, ada batu besar di sini yang menghimpit." kata Ara menekan dadanya yang sakit.
"Aku merasakan ada yang hilang, ada yang kurang, tak lengkap. Taku merasakan kesunyian yang mendalam. Huhuuuuuu___." Ara menangis tersedu-sedu. Air matanya semakin deras mengalir. Mengingat tak ada lagi Raka di sampingnya. Rasa sunyi, kehilangan yang ia rasakan. Sungguh dia sangat rindu mengingat kebersamaan yang selalu di lakukan beberapa almarhum suaminya. Kebersamaan yang selalu ia lalui bersama suaminya setiap saat kini tak ada lagi. Kini dia sendiri, tak ada lagi sosok suami yang sangat ia cintai dan mencintai dirinya.
"Huhuuuuuu huhuuuuuu____bagaimana aku menjalani hidup ini tanpa kak Raka? Aku tidak sanggup kak! Aku tidak sanggup hidup tanpa dirinya." dia semakin menangis.
"Kamu tidak sendirian Ara, ada kami di sini bersama mu. Kamu masih punya kami sebagai keluarga mu. Aku berjanji akan menjaga mu dan tidak akan membiarkan mu hidup sendiri di dunia ini." Rafa memeluknya, dia dapat merasakan apa yang di rasakan adik iparnya, karena dia juga merasakan hal itu, Kehilangan.
Sungguh sangat sakit dan pedih kehilangan orang yang kita cintai, seakan raga terasa mati, tak ada semangat untuk hidup. Seandainya nyawa bisa di beli, dia akan memberikan semua apa yang dia miliki untuk dapat mengembalikan nafas kehidupan Raka. Nyatanya uang tak dapat bisa membeli segalanya, tak dapat menentang kehendak sang penguasa alam semesta.
"Semua sudah takdir Allah. Sabarlah, kuatkan dirimu. Kau harus kuat dan mengikhlaskan kepergiannya. Raka sudah hidup bahagia di sisi Allah." ucap Rafa membelai lembut rambut keriting gadis itu.
Para pelayan yang melihat dan mendengar tangisan Ara ikut menangis. Sungguh mereka merasa iba. Di usia Ara yang masih sangat muda, dan juga perkawinan yang masih seumur jagung sudah ditinggal pergi suami untuk selamanya.
Ara semakin tersedu-sedu.
Rafa mempererat pelukannya."Kuatkan hatimu, kau harus memikirkan dirimu. Kau terlalu banyak menangis, nanti kau sakit. Raka akan sedih dan tidak tenang melihat kau terus menerus sedih begini!" sambung Rafa kembali menenangkan.
Rafa melepaskan pelukannya, memegang wajah Ara yang banjir air mata. Wajah itu terlihat pucat. Dia melepaskan kacamata yang menutupi mata gadis itu.
"Berhentilah menangis, matamu bengkak, wajahmu pucat." ujar Rafa cemas menyapu air mata yang terus membanjiri ke dua pipi Ara. Hatinya benar-benar sakit melihat air mata ini.
Ara melihat wajah kakak iparnya yang mulai menghilang dari pandangannya. Dunia terasa berputar, keadaan mulai gelap, tubuhnya semakin melemah dan perlahan terkulai tak bergerak. Dia pingsan. Tidak kuat menahan beban dan derita hidup karena kehilangan orang yang sangat di cintainya.
"Ara__Ara, kau kenapa? Ara___." panggil Rafa menepuk wajahnya, tak ada respon, mata Ara tertutup. Rafa panik.
Para pelayan terkejut dan ikut panik.
__ADS_1
"Nona muda." bergerak cepat mendekat.
Mereka ingin membantu tapi tak berani karena belum ada perintah dari Rafa.
Rafa semakin panik dan cemas.
"Wisnu, Wisnu___" teriaknya keras.
Tak ada tanda tanda kemunculan sekretaris nya itu. Wisnu sedang keluar karena menyelesaikan sesuatu yang telah di perintahkannya, tapi sepertinya dia lupa. Rafa merogoh ponsel di kantongnya.
"Kau di mana ?"
"Aku di kamar mamamu."
"Ara pingsan di tangga, cepatlah kemari."
Rizal orang yang di telepon, segera keluar dan berlari menuju tangga. Untung saja Maya sudah sadar.
Rafa segera menggendong tubuh Ara dan membawanya ke atas menuju kamar Ara dan Raka. Rizal membuka pintu kamar.
"Cepat letakan tubuhnya."
Rafa segera meletakkan dengan hati hati ke atas tempat tidur.
Rizal memeriksa denyut nadi di leher Ara.
Mendekatkan telinganya ke mulut dan hidung wanita muda itu. Dia memposisikan tubuh Ara terlentang tanpa memakai bantal, lalu meletakan kaki Ara di atas bantal agar aliran darah Ara mengalir ke otak.
"Apa yang kau lakukan?" Rafa menahan tangannya dan menatap tajam ke arahnya.
"Memangnya apa yang pikirkan? Aku sedang membuka bajunya untuk melonggarkan pakaiannya, biar dia leluasa bernafas. Lepaskan tanganku." kata Rizal sambil menarik tangannya. Lalu dia segera membuka resleting atasan baju Ara.
"Denyut nadinya tidak terdeteksi, aku akan memberinya nafas buatan dan melakukan CPR secepatnya."
Rafa terkejut.
"Nafas buatan dan CPR ?" tanyanya kembali menatap tajam.
"Ya iya, apa kau ingin dia mati? Lihat, Ara tidak bernafas. Aku tidak merasakan denyut nadinya dan juga hembusan nafas yang keluar dari hidung dan mulutnya." kata Rizal segera memposisikan tubuhnya di dekat Ara siap melakukan CPR.
"Minggir kau, biar aku yang melakukannya." Rafa mendorong tubuhnya keras, hingga Rizal jatuh terjungkal ke belakang.
Rizal meringis kesakitan memegang bokong dan punggungnya yang sakti. Dia mengumpat dan memaki Rafa.
Rafa tidak perduli dengan umpatan dan makiannya. Dia segera berlutut di antara bahu dan leher Ara dengan cemas. Lalu meletakkan satu telapak tangan di atas dada bagian tengah Ara, lalu di susun dengan telapak tangan yang satunya, dan mulai menekan nekan sedalam 5 cm berulang kali setiap detik satu tekanan. Dia tahu langkah langkah pemberian nafas buatan dan CPR pada orang yang pingsan.
Rizal segera mendekat memperhatikan apa yang dia lakukan.
"Gunakan kekuatan bagian tubuh atas mu, jangan hanya menggunakan kekuatan lengan." ujar Rizal.
__ADS_1
"Jangan cuma bicara dan memberi perintah. Cepat cek apa Ara sudah menunjukkan tanda-tanda bernafas atau belum." sentak Rafa keras sambil terus menekan cepat.
Rizal mendengus kesal.
"Kau ini selalu marah marah, berikan ia napas buatan." ujar dengan mencibirkan bibirnya.
Rafa menghentikan tekanan lalu menjepit hidung Ara sambil menempatkan mulutnya ke mulut Ara dan memberikan nafasnya sebanyak dua kali. Rizal memperhatikan dada Ara yang belum terangkat, artinya dia belum bernafas.
Dia memperbaiki posisi leher Ara dan memeriksa jalan nafas Ara terdapat sumbatan atau tidak.
"Kompresi kembali dan beri napas buatan, cepat." perintahnya pada Rafa.
Rafa mengikuti instruksinya, menekan nekan cepat dan memberikan napasnya. Saat ini dia sangat khawatir dan takut terjadi sesuatu yang buruk pada Ara. Sampai tekanan ke 100 dan pemberian nafas buatan ke ketiga akhirnya Ara batuk kecil.
"Ara____Alhamdulillah." Rafa langsung tersenyum senang. Mereka segera membantu mendudukkan Ara. Rizal segera memeriksa denyut nadi Ara.
Dua menit kemudian, Ara sudah menunjukkan kesadarannya.
Rafa menarik nafas lega. Dia terduduk lemas dengan nafas yang memburu cepat. Peluh membasahi wajah dan lengannya.
"Syukurlah kau sudah sadar." ujar Rizal ikut lega. Ara mengamati sekelilingnya, melihat dua pria di depannya.
"Kak Raka." ucapnya lirih tak melihat wajah suaminya. Dia menatap Rafa dan Rizal bergantian. Raut wajahnya langsung berubah sendu setelah tau siapa yang berada di dekatnya. Bukan suaminya. Ara kembali menangis.
Rafa dan Rizal saling berpandangan mendengar tangisannya.
"Ara, tenangkan dirimu, kau baru saja sadar dari pingsan mu. Berusahalah untuk tabah dan kuat. Jangan berlarut terus dalam kesedihan, nanti kamu pingsan lagi." Rizal berusaha menenangkan dengan lembut.
Memperbaiki rambut Ara yang berantakan
"Raka pasti sedih melihatmu seperti ini, dia tidak akan bisa tenang dan ikut menderita melihat kau menderita. Ikhlaskan kepergiannya. Raka sudah bahagia di tempatnya yang baru." mengusap air mata di kedua pipi gadis itu.
"A_aku sudah mengikhlaskannya dok, tapi aku tidak bisa melupakan kenangan kenangan bersamanya. Kak Raka pergi secara tiba-tiba meninggalkanku. Baru beberapa jam yang lalu dia bersamaku, memelukku, mencium ku, tertawa bercanda bersama ku sambil mengucapkan kata kata indah dan romantis. Baru beberapa jam yang lalu kami membaca ayat suci Alquran bersama, menyuapiku, menidurkan ku dalam pangkuannya. Baru beberapa jam yang lalu dia meminta ku untuk menunggu shalat. Tapi telah pergi selamanya meninggalkan ku! Huhuuuuuu," Ara kembali menangis pilu mengingat kenangan yang di lakukan Raka kepadanya di saat saat terakhir kepergiannya.
Rizal langsung menarik tubuhnya ke dalam pelukannya.
Rafa langsung berbalik sambil mendongak membuang nafas berulang-ulang untuk menahan air matanya supaya tidak jatuh, tapi akhirnya tetep jatuh juga membanjir ke dua pipinya, dadanya sesak dan bergemuruh kuat.
Sungguh pilu terasa mendengar pertanyaan dan tangisan yang menyayat hati itu.
"Raka___" panggilnya sendu, menatap foto Raka dan Ara dimeja kecil.
"Datanglah walau hanya sesaat untuk menghibur Ara. Lihatlah keadaannya, hanya kau yang bisa menenangkan hatinya dan menghilangkan segala kesedihannya."
Dia menoleh kembali pada Ara yang masih menangis dalam pelukan Rizal. Seandainya ada cara yang bisa di lakukan untuk menghilangkan kesedihan wanita ini, Apa pun itu akan di lakukan. Karena hatinya sungguh sakit teriris mendengar tangisan dan melihat banjiran air mata adik iparnya ini.
Beberapa menit kemudian, Rafa segera keluar dari kamar itu sambil menyapu air matanya
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like, rate bintang lima, hadiah dan vote nya yaa ๐โบ๏ธ