Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 154


__ADS_3

Kampus.


Saat ini Ines dan Cindy sedang menikmati makan siang di kantin. Mereka sedang membicarakan Ara yang belum masuk kuliah karena musibah yang menimpanya. Keduanya tak bersemangat karena tak ada Ara.


Ines dan Cindy kaget saat sebuah tangan kekar menyentuh bahu mereka. Kompak keduanya menoleh ke belakang.


"Kak Dion?" seru mereka setelah melihat pemilik tangan itu.


"Hay___" sapa Dion tersenyum.


"Hay juga kak." balas keduanya.


"Kakak udah balik dari London?" tanya Cindy.


"Iya __" Dion mengangguk.


"Kapan pulangnya?"


"Sejam yang lalu. Kakak langsung ke sini!"


Dion segera mengambil tempat duduk di depan mereka.


"Berdua aja nih, Ara mana?" tanya Dion melihat hanya mereka berdua. Tak ada Ara. Biasanya ketiganya selalu bersama.


"Ara belum datang ke kampus. Katanya hari ini akan masuk, tapi sepertinya belum lagi." kata Cindy.


"Apa dia belum sembuh?" tanya Dion. Dia tahu Ara sedang sakit.


"Sepertinya____!" timpal Ines dengan raut wajah sedih."Aku sangat kasian padanya," sambungnya.


"Kenapa? Ada apa dengan Ara?" dahi Dion


mengerut.


"Tubuhnya makin kurus." kata Ines.


"Kurus?" tanya Dion


Cindy dan Ines mengangguk.


"Dua hari lalu kami mengunjunginya. Keadaannya sangat memprihatikan. Dia belum menyentuh makanan sejak kematian su.....!" kata Ines tapi terpotong oleh Cindy.


Cindy langsung menutup mulutnya. Ines terkejut menyadari hampir saja keceplosan bicara.


"Kematian siapa?" tanya Dion menangkap kalimat terakhir yang di ucapkan Ines.


"Mmmm___itu kak, sepupunya....!" jawab Cindy segera.


"Iya.....benar. Kakak sepupunya." Ines membenarkan, keduanya senyum senyum.


"Benar Cin? Kamu nggak menyembunyikan sesuatu dari kakak kan?" Dion menatap dalam mata Cindy.


"Benar, kami gak bohong." kata mereka kembali masih senyum senyum gugup menyembunyikan kebohongan.


"Coba hubungi Ara, sambungkan ke vidio. Aku ingin lihat keadaannya." ucap Dion cemas.


Cindy menekan nomor telepon Ara lewat panggilan video, tapi tidak tersambung.


Berulangkali di coba tidak tersambung.

__ADS_1


Dion membuang nafas kecewa. Seminggu berada di Inggris di sibukkan dengan pekerjaan, tak bisa membuatnya melupakan Ara. Dia kepikiran terus pada gadis itu. Wajah Ara selalu muncul dalam benaknya. Membuat dia tak konsentrasi bekerja.


Sebelum ke Inggris dia berharap bisa bertemu dengan Ara, tapi Ara tidak masuk kuliah karena sakit seperti kata Cindy. Dan setelah pulang dari Inggris dia berharap akan melihat wajah gadis itu. Setelah pekerjaannya selesai dia langsung terbang ke Indonesia dan segera ke kampus begitu tiba di Bandara. Tapi ternyata Ara belum masuk kuliah.


Cindy dan Ines mengatakan kalau dia sakit, dan juga keluarganya meninggal.


"Sakit apa kau Ara?" gumamnya dalam hati. Semakin khawatir.


"Kak, mana oleh oleh kami dari London?" kata Cindy membuyarkan lamunannya.


"Kakak nggak sempat beli. Lupa karena sibuk banget. Nanti saja kalian beli jika Ara sudah masuk kuliah." kata Dion.


"Aku setuju. Nggak seru dan tak lengkap tak ada Ara." timpal Ines.


"Benar juga. Kita beli kalau Ara sudah kuliah. Sekalian bisa milih sesuai keinginan kita." kata Cindy.


Dion tersenyum mendengar perkataan mereka.


"Foto yuk, terus kita kirim ke Ara. Biar dia ada semangatnya untuk datang ke kampus." ujar Ines.


"Yuk..." Ines segera mengambil foto mereka berdua di setiap sudut kantin biasa mereka jadikan tempat nongkrong.


Dion tak bergabung. Tapi setengah tubuhnya tak sengaja tertangkap kamera saat dia memalingkan wajah pada kedua gadis itu.


Puas mengambil foto, Cindy mengirimkannya pada Ara.


Telepon Dion berdering. Dia melihat panggilan dari orang suruhannya.


"Cin, kakak jalan dulu. Hubungi kakak kalau sudah ada kabar dari Ara." ucapnya pada Cindy.


"Oke kak! Oh ya, terimakasih ya transferannya." kata Cindy.


"Siap bos!"


Dion segera meninggalkan kantin menuju parkiran. Dia masuk ke dalam mobil. Lalu menelpon kembali si penelepon tadi.


"Bagaimana? Sudah ada info mengenai dirinya?" tanya nya.


Terdengar suara dari seberang. Keduanya terlibat pembicaraan serius. Lalu telepon di matikan di sertai wajah kecewa Dion.


"Baik, terimakasih." ucap Dion lalu mematikan telepon.


Dia menarik nafas berat, kecewa karena orang suruhannya tak menemukan apa yang dia perintahkan.


Dion membuka aplikasi galeri foto. Yang hanya menyimpan lima gambar foto seorang gadis cantik dan manis. Foto itu tersimpan rahasia di aplikasi itu. Foto Ara, yang di ambilnya secara sembunyi sembunyi.


"Ara ___!" ucapnya dengan bibir tersenyum. Lama dia menatap wajah Ara dengan pemikirannya sendiri. Dia sangat rindu pada gadis itu.


Kaca jendela mobil di ketuk dari luar. Dion kaget dan menoleh. Buru buru Dion mematikan layar ponsel setelah melihat siapa mengetuk. Lalu menyimpan benda tipis ke saku celana. Dia menurunkan kaca mobil.


"Hay___" sapa si pengetuk tersenyum manis. Yang tak lain adalah Siska sang primadona kampus.


"Hay juga___" balas Dion.


"Mau pulang?" tanya Siska.


"Yaa.... " jawab Dion di sertai anggukan.


"Boleh masuk?"

__ADS_1


Dion tanpa berpikir sebentar, lalu membuka kunci pintu mobilnya."Masuklah....!"


Siska segera masuk dan duduk di sampingnya.


"Lagi lihatin apa tadi?" tanya Siska yang melihat Dion sedang serius menatap layar ponsel.


Dion tersenyum.


"Oh itu? Sesuatu yang sangat penting."


"Pasti wajahnya sangat cantik mempesona!" kata Siska.


Wajah Dion mengernyit.


"Aku melihat kau sedang menatap seseorang di ponselmu. Kau sangat serius, tak bergeming menatap dengan senyuman di wajah. Jadi aku yakin dia sangat cantik hingga begitu menggoda matamu untuk melihat." kata Siska tersenyum menggoda.


Dion tertawa.


"Apa dia pacarmu?" tanya Siska kembali.


"Ada apa kamu menyambangi ku?" Dion mengalihkan pembicaraan.


"Nggak ada apa-apa! Apa kau akan pulang?"


tanya Siska.


Dion mengangguk."Iya, aku ada urusan penting."


"Kebetulan aku juga mau pulang tapi gak bawah mobil. Boleh numpang gak?"


"Kemana mobil mewah mu?" tanya Dion.


"Masuk bengkel, lecet dikit."


"Kamu gak malu naik mobil kayak gini? Masa sang primadona kampus naik mobil murahan? Apa kata dunia?" Dion meledeknya.


"Yang penting sopirnya ganteng kan?" Siska tersenyum menggoda.


Dion kembali tertawa.


"Kamu ada aja!" dia segera menyalakan mesin lalu menjalankan kendaraan roda 4 itu.


Siska memperhatikan wajah Dion secara diam-diam. Tampan, pintar dan juga sangat kaya. Tapi tidak banyak yang mengetahui. Karena Dion menutupi status dirinya dari publik. Seantero kampus hanya mengetahui dia adalah seorang mahasiswa dari kalangan biasa. Terlihat dari gaya hidup yang sederhana. Tapi yang sebenarnya dia adalah seorang Wakil Presiden Direktur dari perusahaan ayahnya. Dan sebagai ahli waris satu satunya.


Meski hanya seorang Wakil Presdir, tapi Dion yang selalu turun secara langsung menghadiri pertemuan pertemuan penting para CEO di dalam maupun luar negeri untuk mewakili ayahnya.


Siska sendiri mengetahui baru baru ini. Secara kebetulan pamannya menjadi mitra bisnis perusahaan ayah Dion. Dan dia mengetahui tentang Dion dari pamannya. Ketika pamannya menggunggah foto kebersamaan mereka di sala satu akun media sosial. Dalam unggahan tersebut wajah Dion terlihat tidak begitu jelas. Tapi karena merasa familiar Siska penasaran dan menanyakan pada pamannya. Benar, pria itu adalah Dion. Wakil presiden direktur DRA Group.


Yang membuat Siska bingung dan bertanya-tanya, untuk apa Dion kuliah lagi sementara dia sudah menyelesaikan kuliah Pascasarjana di Amerika. Apa yang di kejar nya di kampus ini? Dan siapa gadis yang ada dalam ponselnya itu. Apa gadis itu yang menjadi penyebab Dion menyamar menjadi mahasiswa di tempat ini?


Sewaktu datang tadi, dia memperhatikan dari luar. Dion menatap gadis itu tanpa berkedip, senyum sendiri terlihat bahagia. Siska tak begitu jelas melihatnya. Dia hanya dapat melihat kalau gadis itu memiliki kulit putih dan rambut panjang lurus terurai. Siapa gadis itu? Apa kekasihnya?


Siapa pun gadis itu, selama belum menjadi istri Dion, dia bertekad untuk memiliki pria


tampan ini.


...Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan ya....

__ADS_1


__ADS_2