
Wisnu yang saat itu sedang mengikuti meeting bersama para CEO pengusaha tanah air, untuk mewakili tuannya sebagai CEO RA Group,
sangat terkejut begitu mendapat telepon dari Rizal.
Dia segera pamit dari ruangan itu dan melarikan mobil dengan kecepatan tinggi.
Dia mengutuk dirinya karena telah meninggalkan tuannya.
Dia mengira tuannya baik baik saja karena tadi tuannya mengirimnya pesan memberi perintah menghubungi anak buahnya yang berada di pangkalan ojek depan pintu gerbang apartemen untuk menyampaikan pesan Ara kepada mang Saleh supaya tidak menunggunya lagi.
Pak Sam juga mengatakan kepadanya kalau Ara berada di apartemen Rafa untuk menggantikan dirinya mengantar makanan siang tuannya.
Dan Wisnu merasa tenang.
Dalam perjalanan Wisnu segera mengubungi anak buahnya yang mangkal di pangkalan ojek, pos ronda dan warung makan untuk menyiapkan diri.
Sebenarnya mereka bukan masyarakat sekitar yang mencari rezeki, tapi mereka adalah anak buah Wisnu yang melakukan penjagaan di apartemen Rafa dengan berpura pura menyamar menjadi tukang ojek, penjaga pos ronda, dan warung makan.
Mereka adalah orang-orang pilihan yang di tugaskan menjaga keamanan dan keselamatan tuannya, jumlah mereka mencapai 100 orang yang tersebar di sekitar apartemen tuannya secara terpencar, sebagian dari mereka adalah anggota topeng hitam.
Mereka memberi tahu Wisnu ketika melihat Ara datang tadi dan memasuki lorong rahasia dengan menenteng rantang makanan, Setelah mendapat informasi dari Wisnu mereka membiarkan Ara masuk.
******
Rizal tiba dengan cepat, dia membawa mobil MPV untuk membawa Rafa ke rumah sakit, di dalamnya sudah terdapat alat alat kesehatan penting seperti yang terdapat di mobil ambulans, di temani dua dokter kepercayaan yang bekerja di rumah sakit Rafa dan juga anggota topeng hitam.
Rizal mendapati Ara yang menangis di pinggir tubuh Rafa yang terbaring di tutupi selimut sampai dada.
Gadis itu menangis sambil memegangi sala satu tangan Rafa.
"Dokter..." teriak Ara begitu melihat Rizal datang, dia langsung menghambur memeluk Rizal.
__ADS_1
"Kakak ipar dok .."
Rizal balas memeluk dan menenangkannya .
"Ara tenanglah, aku akan memeriksa kakak ipar mu, jangan menangis lagi oke ?" menyapu air mata Ara.
"Biar ku periksa dulu."
Ara melepaskan pelukannya, Rizal segera mendekati tubuh Rafa, memeriksa denyut nadinya, sesaat kemudian dia tersenyum.
Dia memberi isyarat kepada dua dokter untuk segera membawa tubuh Rafa ke mobil.
Mobil keluar dari lorong apartemen itu dengan Aman seolah tidak terjadi sesuatu.
Para anak buah Wisnu menundukkan kepala ketika mobil itu lewat.
Sebagian tetap berjaga, sebagian lagi mengikuti mobil yang di bawa Rizal dari jauh sesuai perintah dari Wisnu yang masih dalam perjalanan.
Mobil memasuki parkiran rumah sakit yang besar di kota itu, Rumah sakit " AZ'FA Harapan Mulia "
"Tunggulah sebentar di sini." kata Rizal pada Ara sebelum masuk ruang operasi
"Apa kakak ipar baik baik saja ?"
"Jangan khawatir, berdoa saja." kata Rizal tersenyum.
"Iya dokter, tolong selamatkan kakak ipar." pinta Ara penuh kekhawatiran.
Rizal segera masuk, waktu menunjukkan setengah tiga sore.
Tidak lama kemudian Wisnu datang .
__ADS_1
"Nona muda." dia menundukkan kepalanya .
"Sekretaris Wisnu, akhirnya anda datang." Ara bangkit berdiri menyambutnya, dia senang melihat kedatangan sekretaris pribadi kakak iparnya ini.
"Bagaimana keadaan tuan nona?" Wisnu melihat ke pintu ruang operasi yang tertutup. Dia juga sangat khawatir dengan keadaan tuannya.
"Dokter Rizal sedang menanganinya di dalam." jawab Ara.
"Syukurlah, maaf saya baru bisa datang, saya di perintah kan oleh tuan untuk mewakili dirinya menghadiri rapat penting."
"Sekretaris Wisnu.. kenapa anda tidak membawanya kakak ipar ke rumah sakit? luka lukanya sangat parah dan sudah terinfeksi."
"Maaf nona, saya hanya mengikuti perintah tuan."
Ara mengernyit, dia mendesah kasar.
"Aku tidak tahu alasannya kenapa, tapi setidaknya jangan meninggalkan kak Rafa sendirian dengan kondisi seperti itu."
Wisnu hanya menundukkan kepalanya.
"Maaf nona."
"Apa sebaiknya kita harus kasih tau ke orang rumah tentang keadaan kakak ipar?"
"Sebaiknya jangan nona, tuan Rafa menyembunyikan ini dari mereka, dan ini perintah yang harus di ikuti, jadi anda jangan memberi tahu pada mereka." jawab Wisnu segera.
"Tapi bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada kakak? apa kita juga harus tetap menyembunyikan dari mama kak Raka dan kak Nesa ?" Ara menatap Wisnu tajam.
"Tidak kah kau tahu sekretaris Wisnu, betapa aku sangat ketakutan melihat tubuh kakak ipar terbujur kaku, memutih dan membiru di hadapanku, dengan darah yang keluar tanpa henti dari lukanya, juga merasakan denyut jantungnya yang berhenti ! sementara aku di depannya tidak bisa melakukan apa untuk menolongnya...aku sangat takut." Ara terisak menutup wajahnya dengan ke dua tangan.
Wisnu menelan ludahnya, terenyuh ikut sedih melihat nona mudanya, tapi tidak bisa berkata apa-apa.
__ADS_1
"Aku tidak mendengar jantung kakak ipar berdetak lagi, aku merasakan dia tidak bernafas lagi, aku mengira kakak ipar sudah mati ! aku sangat takut sekretaris Wisnu." sambung Ara menangis sesegukan.
******