Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 68


__ADS_3

Rafa melongo, mata membulat menatap Ara.


Ara cepat menundukkan kepalanya


"Maaf kak, aku tidak bermaksud lancang. Aku hanya ingin kakak makan biar cepat sembuh." ucapnya pelan takut.


Mau tidak mau Rafa menyesap makanan itu, mengunyahnya perlahan lahan sambil terus menatap wajah di depannya yang terus menunduk dengan tangan yang gemetaran memegang mangkuk bubur. Dia sungguh tidak menyangka Ara akan memaksanya hingga sampai melakukan itu.


"Maafkan aku kakak ipar." sambung Ara lagi terus menunduk, menghindari tatapan tajam Rafa."Setidaknya sembuhlah untuk orang orang yang menyayangi kakak. Mama, kak Nesa, kak Raka, si kembar! Jika mereka tahu keadaan kakak kakak terluka parah begini, mereka pasti akan sangat sedih! Mereka juga pasti akan menyalahkan aku jika terjadi sesuatu yang tidak baik pada kakak." Ara kembali memberanikan diri bicara.


"Kakak menyembunyikan ini dari mereka bukan? Maka segeralah sembuh dan kuat saat kembali ke rumah dan bertemu dengan mereka nanti."


Ara menghentikan ucapnya. Menelan ludah pahitnya, nafas tak beraturan, takut dengan sosok didepannya ini karena terlalu banyak bicara.


"Aku minta maaf karena terlalu banyak bicara! Makan lagi ya?" menyendok bubur dan menyodorkan ke depan mulut Rafa tanpa melihat.


Rafa memperhatikan sendok makan yang bergerak gerak di depannya, karena pegangan tangan yang gemetar. Makanan yang sangat lunak itu berjatuhan di selimut tanpa di sadari Ara.


"Takut tapi berani," ucap Rafa dalam hati. Dia seraya tersenyum tipis. Rafa meluruskan punggungnya, memajukan tubuhnya. Lalu segera memegang tangan Ara yang memegang sendok. Ara kaget sontak mengangkat wajah melihatnya.


Rafa segera dimasukan sendok makan itu ke dalam mulutnya sambil menatap wajah Ara.


Keduanya saling menatap satu sama lain.


"Buka mulutmu." kata Rafa


"Untuk apa?" Ara kaget.


"Buka saja, jangan membantah." perintah Rafa kembali.


Ara menurut dan segera membuka mulutnya.


Rafa menyendok bubur dan memasukkan ke mulut Ara.


Ara terkejut dengan mata bulat.


"Kunyah dan telan." kata Rafa kembali.


Ara mengikuti ucapannya.

__ADS_1


"Kak, aku gak perlu makan. Kakak saja. Kakak lagi sakit." kata Ara setelah menelan makanan lunak itu.


"Kau juga lapar bukan?" ucap Rafa seraya memasukkan bubur ke mulutnya, kemudian bergantian menyuapi ke mulut Ara.


"Gak usah kak__" Ara geleng kepala.


"Aku tidak suka di bantah. Buka.....!" kata Rafa sedikit menyentak.


Ara segera membuka mulutnya tanpa bicara lagi. Dia takut akan membuat kemarahan Rafa lagi.


Rafa memasukan bubur ke mulut Ara bersama potongan telur rebus. Dia tersenyum melihat Ara patuh. Dia terus menyendok dan memasukkan sendok ke mulut mereka secara bergantian tanpa melepaskan tangan Ara, dan juga tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah wanita itu. Terus menyendok memasukan ke dalam mulutnya dan mulut Ara. Sampai makanan lunak itu habis keduanya masih bertatapan.


Tangan Rafa bergerak mendekati mulut Ara dan membersihkan sisa sisa bubur yang belepotan di sekitar bibir gadis itu.


Ara kembali kaget.


"Minum..." kata Rafa setelah menarik mundur tangannya.


Ara kelabakan dan menyadari keadaan, dia segera mengambil air putih dan teh. Lalu menyerahkan pada Rafa.


Rafa meminum air setengah gelas, menyisakan setengah, lalu di sodorkan di depan mulut Ara.


Ara menelan ludahnya, lalu menuruti perintahnya. Dia segera meminum sisa setengah gelas teh tersebut. Selanjutnya teh hangat, di minum oleh keduanya setengah setengah.


"Apa ada lagi yang kau inginkan untuk aku lakukan?" tanya Rafa tanpa mengalihkan tatapannya pada gadis itu.


Ara masih bengong, bingung atas apa yang Rafa lakukan.


"Segera berikan." sambung Rafa kembali.


Ara menelan ludahnya, dia senang tapi juga takut dengan perubahan pemikiran kakak iparnya ini.


"Cepat berikan, sebelum aku berubah pikiran." kata Rafa kembali.


Ara segera mengambil obat di laci dan juga air minum, dia mengeluarkan lima macam obat itu dari pembungkusnya menaruhnya di telapak tangannya.


"Kakak minum obatnya." katanya seraya


menyodorkan pada Rafa. Tapi dia terkejut melihat reaksi tubuh Rafa yang meremas rambutnya kuat, wajah gelisah dan ketakutan.

__ADS_1


"Kakak kenapa?" tanyanya bingung.


"Jauhkan itu dariku." sentak Rafa keras menunjuk obat di tangan Ara


"Ini hanya obat kak." Ara bingung melihat tingkah lakunya.


"Cepat buang, jauhkan dariku, aku tidak ingin melihatnya, apa kau tidak dengar?" sentak Rafa emosi. Dia menutup wajahnya dengan telapak tangan.


"I_iya." katanya Ara terbata bata, dia segera mundur."Padahal tinggal selangkah lagi," batinnya kecewa.


Karena takut dan tegang, dia tidak menyadari posisi bokongnya yang sudah berada di pinggiran ranjang dan terus mundur. Dia kehilangan keseimbangan dan jatuh terjungkal ke bawah. Ara memekik merasakan sakit di bokong dan punggungnya yang menempa kuat di lantai. Kepalanya juga membentur pinggiran bawah nakas.


"Ara__" teriak Rafa yang melihatnya jatuh. Secepatnya dia bangun dan turun dari ranjang tanpa memperdulikan keadaan dirinya. Dia segera mengangkat tubuh Ara dan di baringkan di tempat tidur, lalu memeriksa pinggang dan punggung Ara


"Mana yang sakit?" tanyanya panik dan cemas. Tidak ada jawaban, tapi di lihatnya tangan Ara berusaha meraih punggungnya. Dia segera memiringkan tubuh gadis itu. Lalu memijat mijat punggung Ara pelan pelan.


Ara terkejut.


"Apa yang kakak lakukan?" dia ingin bangun tapi Rafa menahan tubuhnya.


"Diamlah, jangan bergerak." sentak Rafa dengan tangan terus memijat.


"Aku tidak apa apa." kata Ara pelan.


Dia merasa risih, tidak nyaman merasakan pijatan ini.


"Aku bilang diamlah, apa kau tidak dengar?" bentak Rafa lebih keras dari sebelumnya.


Menatap tubuh di depannya ini dengan penuh khawatir bahkan takut. Takut jika ada tulang Ara yang salah dan bergeser.


Ara langsung terdiam mendengar


bentakannya.


Agak lama tangan Rafa bergerak ke sana kemari di punggung, pundak, kepala, pinggang. Bahkan pada bokong Ara. Membuat Ara kaget, risih dan tidak enakan.


...Bersambung...


Jangan lupa dukungannya ya...☺️

__ADS_1


__ADS_2