
...Happy Reading...
Dion memasuki apartemen Cindy dengan berbagai pikiran yang berkecamuk di kepalanya, dia benar-benar belum bisa percaya sepenuhnya dengan apa yang sedang terjadi sekarang. Cindy yang sedang mengandung anak anaknya? apakah ini benar ? terasa seperti mimpi. Dia benar-benar tidak menyangka akan meniduri adik sepupunya sendiri hingga hamil.
Perasaan sedih, bersalah dan berdosa menyeruak di hatinya karena telah menghancurkan masa depan adik sepupunya yang sudah di anggap adik kandungnya sendiri, meski dia melakukannya dengan tidak sadar.
Perlahan dia membuka pintu kamar gadis ini. Di lihatnya Cindy sedang berbaring dengan posisi miring sambil memeluk perutnya dengan kedua lutut di tekuk. Perlahan Dion mendekat ke tempat tidur. Menatap sedih dan iba Cindy yang sedang tertidur dengan kedua ujung matanya yang basah, wajahnya pucat dan sembab. Dapat dipastikan terlalu banyak menangis. Di depannya tergeletak ponsel dan buah mangga yang sudah tergigit.
Dion mendesah sedih melihat keadaan adik sepupunya ini. Dia yang tidak peka dan curiga akan perubahan bentuk tubuh dan sikap Cindy.
Bentuk tubuh cindy yang semakin kurus dan mengecil, sikap Cindy yang suka marah marah dan ngambek hanya karena mangga muda.
Sikap Cindy yang tidak suka bau makanan dan selalu menutup mulut dan hidungnya. Sikap Cindy yang selalu mencari alasan untuk menghindar saat di ajak makan dan di ajak untuk periksa kesehatan ke dokter, serta sikap Cindy yang suka sekali memeluknya dan mencium Aroma tubuhnya.
Ternyata perubahan itu karena pengaruh dari kehamilannya dan bawaan bayi yang ada dalam kandungannya.
Dan bukan hanya Cindy yang merasakan keanehan itu, tapi dia juga, yang sama sekali tidak di sadarinya. Dia yang sangat suka dekat dengan Cindy, suka masakan Cindy, selalu menghawatirkan Cindy, suka memarahinya. Ternyata dia juga merasakan dampak dari kehamilan Cindy.
Dion kembali mendesah sedih ikut merasakan penderitaan yang di alami Cindy saat merasakan ngidam berat saat hamil muda seorang diri selama beberapa bulan. Seharusnya dia ada di samping cindy. Menemani setiap saat dan memastikan makanan dan nutrisi yang masuk ke dalam tubuhnya, juga menemaninya memeriksa ke dokter kandungan.
"Cindy, kenapa kau tidak jujur? Kakak sudah berulangkali mengatakan padamu untuk selalu terbuka dan membagi masalahmu pada kakak. Tapi kenapa kau malah menyembunyikannya dan menanggung beban kehamilan mu seorang diri ?" gumamnya sedih, menangis tertahan, menatapi tubuh kurus di depannya.
"Bahkan demi untuk menyelamatkan masa depanku dan juga perusahaan, kau memaksaku untuk menikahi Sophia, mengikhlaskan diriku menjadi suami Sophia ! Kau berkorban diri menanggung aib dan kehancuran dirimu seorang diri!" ucapnya semakin sedih. Air matanya jatuh di pipi. Dia buru buru menyapunya. Tapi mata itu basah lagi.
Dion membelai rambutnya pelan, matanya berhenti pada perut Cindy. Pelan pelan dia membalikkan badan Cindy menghadap ke atas.
Cindy tampak bergerak, tapi kemudian tertidur lagi. Dion mengangkat dress Cindy ke atas, setelah sebelumnya menutupi bagian bagian bawah tubuh gadis itu dengan selimut.
Dion menatap nanar perut yang tampak membulat menonjol ke atas, mulai terlihat jelas bentuknya. Dion tersenyum sedih, haru dan bahagia mengelus lembut perut itu. Lalu mengecupnya perlahan.
Lagi lagi dia tidak menyangka kalau adik sepupunya ini mengandung anak anaknya dan akan memberikan dia keturunan.
Ponselnya bergetar, Dion menyapu air matanya, Lalu segera menyelimuti tubuh Cindy. Perlahan dia bangkit berdiri untuk keluar dari kamar. Tapi matanya melihat dua buah koper tergeletak di bawah samping tempat tidur.
Dion mendekat dan perlahan membuka kedua benda itu. Yang satu berisi pakaian dan barang-barang cindy, dan yang satunya berisi perlengkapan bayi. Dion teringat perkataan Cindy yang akan mengunjungi kota yang menjadi tempat untuk dia kuliah S2 nya.
"Sepertinya dia akan pergi. Ternyata keinginannya untuk melanjutkan studi S2 di kota lain hanya untuk menyembunyikan kehamilannya !" gumam Dion. Dia kembali sedih.
Dion menyentuh pakaian pakaian bayi, sepatu bayi dan perlengkapan bayi lainnya. Bahkan dia melihat ada susu hamil di dalam koper.
Dion beralih meraih tas selempang Cindy di sofa dan membukanya. Beberapa macam obat dan vitamin hamil, mangga muda, tisu, tiket pesawat yang jadwal keberangkatannya malam ini, serta hasil pemeriksaan USG.
Dion tersenyum terharu menatap gambar foto janin anak anaknya. Dia menyentuh foto USG calon bayinya. Matanya kembali basah air. Dion mengecup kedua foto itu dengan lembut. Lalu segera menyimpan kembali ke dalam tas Cindy.
Ponselnya kembali bergetar. Dion segera keluar dari kamar itu karena ada hal penting yang harus dilakukan.
*****
Kehebohan terjadi di rumah utama dan rumah pribadi. Seluruh penghuni ke dua rumah megah ini tampak senang dan berbahagia, bersuka cita menyambut kehamilan nona muda mereka, istri tuan mereka yang sangat baik dan rendah hati.
Mereka datang berkumpul di rumah utama dan memberikan ucapan selamat dan juga doa terbaik untuk Ara. Ucapan dan doa kebahagiaan juga terucap dan di kirimkan dari anak-anak yayasan panti asuhan.
Penyambutan suka cita dan bahagia itu juga di lakukan oleh karyawan perusahaan. Mereka yang mengetahui lewat unggahan yang di bagikan Moly dan langsung viral di ruang lingkup perusahaan. Mereka ikut senang dan bahagia serta memberi ucapan selamat, meski mereka belum tahu dan belum melihat istri pimpinan mereka. Bahkan mereka sangat terkejut setelah mendengar kabar bahagia itu. Ternyata pimpinan mereka sudah mempunyai istri. Karena yang mereka tahu Presdir mereka itu belum menikah.
Rafa mengumumkan kehamilan istrinya setelah dokter spesialis kandungan yang bekerja di rumah sakitnya mengadakan pemeriksaan USG di pantau langsung olehnya dan Rizal menyatakan bahwa istrinya benar-benar hamil. Tiada yang dapat menandingi kebahagiaan yang dia rasakan saat ini. Sungguh dia sangat bahagia di atas bahagia. Kebahagiaan sebelumnya yang ia rasakan dalam hidupnya karena mendapat kan wanita yang sangat di cintainya menjadi teman istrinya, dan kini kebahagiaan itu bertambah dengan kehamilan wanita yang di cintainya itu. Lengkap sudah kebahagiaan dalam hidupnya. Tak henti hentinya dia mengucap bersyukur pada Allah.
Entah sudah berapa banyak ucapan rasa syukur yang dia ucapkan. Dia bahkan melakukan sujud lakukan.
Rafa seperti orang yang tidak waras. Menangis tersenyum, tertawa bahagia sambil mengecup perut Ara. Dia membacakan beberapa surah seperti surah surah pendek ke perut istrinya yang masih tertidur pingsan.
Sewaktu dari gedung pernikahan, dia menelpon Rizal untuk datang ke rumah utama guna memeriksa istrinya yang pingsan. Rizal kaget merasakan kejanggalan saat melakukan pemeriksaan pada denyut nadi adik iparnya ini.
Untuk memastikan dan meyakini agar feeling-nya tidak salah. Dia menyuruh dokter kandungan datang ke rumah utama dengan membawa semua alat-alat kesehatan pengecekan kehamilan tanpa memberitahukan dulu kepada Rafa maksud membawa alat-alat itu ke rumah.
Setelah di lakukan pemeriksaan, prediksi Rizal benar, dokter mengatakan bahwa istri bosnya benar benar hamil dan sedang mengandung bayi kembar 4 terlihat dari layar monitor ada 4 detak jantung yang tampak berdetak. Rafa pun melihat langsung pemeriksaan itu. Dia sangat terkejut saat dokter mengatakan kabar bahagia itu. Dia langsung menangis terharu, terus tertawa berteriak-teriak bahagia.
Tak tanggung-tanggung dia langsung menyuruh Wisnu membagi bagikan sedekah di berbagai tempat. Seperti Panti, tempat ibadah, orang orang miskin, dan masih banyak tempat lagi. Lebih khususnya sedekah di perbanyak untuk anak anak yatim-piatu anak anak miskin, dan juga anak anak panti Asuhan. Meski dia memang sering berbagi dan melakukan amal kebaikan ini, hanya saja kali ini di lipat gandakan sebagai rasa syukur atas kehamilan istrinya.
Tak lupa juga juga dia berbagi berbagi kepada kerabatnya, ke tetangganya dan juga ke tempat tempat yang biasa di beri sedekah oleh istrinya.
Bahkan dia menaikkan gaji semua para pekerja di rumah utama, rumah pribadi dan juga karyawan di perusahaannya sebanyak empat kaki lipat sesuai jumlah anak kembarnya. Dokter yang memeriksa kehamilan istrinya pun mendapatkan kenaikan gaji.
Semua keluarga tampak duduk berkumpul di kamar Rafa. Ada Rahmia, Maya, Nesa, Moly, Rizal dengan wajah mereka yang memancarkan kebahagiaan. Mereka menatapi Ara yang masih tertidur di atas ranjang. Rafa yang sedang menemaninya mengambil video sambil mengecup dan mengelus perut istrinya dan di bagikan ke beberapa akun sosial media miliknya.
Dia yang merupakan pribadi yang sangat tertutup dan sangat menjaga privasinya kini membagi kebahagiaannya di beberapa akun media sosialnya yang di buat Rizal dan Moly sejam lalu dan sudah di tonton oleh jutaan orang dengan ribuan komentar.
Rafa terus berada di tempat tempat tidur menemani istrinya, merangkum, memeluk, mencium, mengecup ngecup perut istrinya tanpa bosan sambil menangis bahagia, sudah hampir dua jam dia melakukan hal itu, sungguh dia sangat senang, bahagia dan bersyukur.
Dia tidak menyangka dalam perut kecil istrinya ini ada 4 nyawa bersemayam, yang kata dokter masih sebesar buah jeruk.
Rafa mengajak bicara dan terus membacakan surah surah pendek kepada empat janin bayinya itu. Karena kata dokter tadi, di usia kandungan masuk empat bulan, janin sudah dapat mendengar suara di dalam maupun dari luar.
Nesa, Moly dan Rizal mengabadikan momen kebahagiaan bos mereka ini dengan mengambil banyak foto dan video dan di bagikan, tapi tidak memperlihatkan wajah Ara, hanya wajah Rafa yang menciumi perut Ara.
Bahkan mereka melakukan live yang sudah di tonton jutaan orang pengikut mereka, termasuk rekan rekan bisnis Rafa.
"Pantas saja sikapmu aneh selama beberapa bulan ini sayang, suka peluk dan nyium tubuhku, dan makan mu juga banyak. Ternyata karena kau sedang hamil." ucap Rafa mengingat sikap aneh istrinya selama beberapa bulan belakangan ini.
Tubuh Ara tampak bergerak. Dia menggeliat di tempat tidur, sambil merenggangkan kedua tangannya ke atas melemaskan otot-otot tubuhnya. Perlahan dia membuka mata dan mendapati sebuah wajah tampan tersenyum mempesona di depan wajahnya.
"Kakak ?" ucapnya pelan memperjelas penglihatannya.
"Ya sayang, sudah bangun?" ucap Rafa tersenyum, dia mengecup lembut kening dan bibir istrinya.
Ara mengangguk pelan. Dia mengelus perutnya. "Kakak, aku lapar !" katanya lemah.
"Lapar sayang?" Rafa mengelus perut istrinya dan mengecup berulang.
"Sayangku, aku sangat mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu sayang !" kembali mencium bibir istrinya dengan tangan tak berhenti mengelus lembut perut Ara.
"Ih....kakak, aku lapar. Aku mau makanan, bukan ciuman." kata Ara cemberut.
Rafa tertawa kecil, matanya berkaca-kaca.
"Baik sayang, mari kita makan ! kau harus makan yang banyak." ujar Rafa tersenyum. Rasanya dia ingin menangis lagi dan segera memberitahukan kabar bahagia ini pada istrinya. Dia segera menggendong tubuh Ara.
"Kak, aku jalan saja, gak usah di gendong." kata Ara kaget ketika tubuhnya di angkat tiba tiba.
"Tubuhmu lemah sayang, aku gak ingin terjadi sesuatu padamu!"
"Aku masih bisa jalan. Turunkan aku."
"Udah diam, jangan membantah, kalau gak aku akan cium terus."
Ara menatap kesal. Dia terkejut saat matanya melihat orang orang yang ada di dalam ruang kamar ini. Menatap kepadanya sambil tersenyum bahagia.
"Kak, turunkan aku." katanya segera merasa canggung dan malu.
"Halo adik ipar ku yang manis. Kau semakin cantik saja sayang. Aura kecantikan mu semakin bersinar." sapa Rizal tersenyum menggoda. Dokter muda itu bangkit berdiri. Di ikuti yang lain. Mereka menatap Ara masih senyuman di wajah.
"Kakak, kenapa mama dan tante Mia ada di kamar kita? Kenapa semua orang ada di sini ?" bisiknya pelan.
"Rafa, turunkan istrimu. Mama ingin memeluknya." kata Maya mendekat pada mereka. Rafa segera menurunkan istrinya.
Maya memeluk tubuh Ara.
"Sayang, terima kasih sudah memberi banyak kebahagiaan pada kami, terutama pada suamimu, Rafa." ucap Maya dengan mata berkaca-kaca. Dia mengelus perut Ara lembut,
Ara semakin bingung dan tidak mengerti.
"Ada apa ma ?"
"Jaga baik baik cucu mama ya ?" Maya mengelus perutnya lembut, lalu mengecup keningnya.
Dahi Ara mengerut mendengar ucapan ibu mertuanya, dia menoleh pada Rafa yang tampak tersenyum dengan kedua matanya yang basah. Ara semakin bingung dan tidak mengerti.
"Kakak ? ada apa?"
Bukan hanya Rafa, tapi semua wajah orang orang di sini di lihatnya bahagia, dengan mata mereka berkaca kaca. Rafa memeluknya dari belakang, dan mengelus perutnya lembut.
Mia mendekat dan memeluknya.
"Selamat ya nak atas kehamilan mu." Mia mengecup keningnya.
Hah? Ara terbelalak mendengar ucapan Mia.
"Hamil ?" ucapnya terkejut melihat pada Rafa.
"Iya sayang, kamu hamil !" ucap Rafa tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Dia mengangkat tubuh Ara, lalu mencurahi wajah itu dengan banyak ciuman.
"Terima kasih sayang, terima kasih untuk kebahagiaan ini." ucapnya dengan air mata yang mengalir.
Ara mendesah sedih, tersenyum terharu.
"Aku hamil?" ucapnya lagi seakan tak percaya.
Rafa kembali mengangguk meyakinkan dirinya. Ara tertawa kecil, kaget, sedih bahagia terharu yang dia rasakan. Dia menangis dan segera memeluk suaminya. Bibirnya tak henti mengucap syukur. Air mata bahagianya langsung jatuh membasahi pipinya.
"Selamat ya sayang." ucap Moly seraya mengecup kening Ara dan mengelus perutnya.
Nesa mendekat dengan senyum bahagia."Kamu mengalahkan kakak Ra. Kakak hanya dua, Cio dan Cia, tapi kamu empat sekaligus. Selamat ya." kata Nesa, lalu mengecup keningnya.
"Aku kan udah bilang, bahwa aku akan kasih mama cucu empat sekaligus di kehamilan Ara yang pertama." kata Rafa tersenyum senang. Mereka tertawa kecil.
Ara kembali terkejut "Empat ?"
"Iya sayang, kamu sedang mengandung bayi kembar 4." ucap Rafa tersenyum bahagia.
Ara kembali menangis bahagia dan mengelus perutnya.
"Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar !" ucapnya penuh rasa syukur akan rezeki dan amanah yang di berikan Allah kepadanya dan suaminya. Rafa mengikuti ucapannya. Keduanya saling berpelukan di selingi tangis bahagia.
"Sudah....sudah, jangan menangis, ini sesuatu yang sangat membahagiakan kenapa harus di tangisi. Seharusnya kalian tersenyum tertawa bahagia! Ayo Ara, makanlah dulu sayang, kamu sangat lapar kan? Kamu harus makan banyak karena ada empat janin yang ada dalam tubuhmu dan butuh asupan gizi lewat makanan yang kau makan." kata Maya.
Ara mengangguk angguk tersenyum dengan masih dengan matanya yang basah. Rafa segera membawa tubuh istrinya ke sofa. Sudah ada banyak makanan yang tersedia di meja. Semuanya makanan dan buah yang mengandung protein dan nutrisi tinggi untuk ibu hamil. Rafa sengaja meminta para koki menyediakan semua itu sesuai petunjuk Dokter dan Rizal.
Ara duduk dan mengambil piring, sungguh dia sangat lapar dan lemah. Setelah meminta izin pada semuanya, dia segera menyantap makanan itu dengan lahap.
"Kamu pasti sangat lapar sayang." ucap Rafa melihat istrinya makan dengan lahap. Bulir bulir keringat membasahi wajah. Rafa segera melapnya dengan tangannya.
"Pelan pelan sayang." mengelus rambut dan punggung istrinya lembut.
Selera makan Ara semakin meningkat. Ara makan dua porsi full, yang di habiskan dalam beberapa menit. Masuk ke porsi ke tiga, semua tersenyum senyum melihatnya tanpa menegur. Mereka ikut senang melihat Ara makan dengan porsi banyak.
Sesekali Ara menyuap suaminya. Makanan habis. Ara kekenyangan dan duduk tersandar di sofa sambil mengelus perutnya yang tampak buncit. Mereka yang ada di situ kembali tersenyum melihatnya.
Wisnu segera memerintahkan pak Sam membawa piring dan sisa makanan ke luar
dari kamar.
Rafa duduk bersila di kaki Ara. Dia meletakkan telinganya di perut istrinya.
"Kakak ngapain ?" Ara kaget segera memegang kepala suaminya.
__ADS_1
"Mereka lagi ngapain di dalam sayang?" tanya Rafa yang penasaran dengan calon anaknya di dalam perut Ara.
Rizal tertawa melihat tingkahnya.
"Anak anakmu kan udah makan bos? Waktunya istirahat, bobo malam. Jadi gak usah di ganggu." meledeknya.
Semuanya tertawa mendengar ucapannya.
Rafa mendesis kesal kearahnya. Dia melempar Rizal dengan bantal sofa.
"Ara sayang, kamu kok gak bisa tahu kalau dirimu hamil?" Mia menyela.
"Iyaaa.... biasanya kita bisa memprediksi kehamilan saat telat datang bulan. Terus merasakan gejala buruk hamil muda." sambung Nesa yang sudah pernah mengalami kehamilan.
"Aku gak tahu. Sewaktu SMA, aku sudah terbiasa telat datang bulan selama beberapa bulan, jadi aku gak merasa kalau diriku hamil. Aku juga gak merasakan gejala apapun di tubuhku ! Kecuali hanya ingin makan banyak dan....!" ucapan Ara terhenti mengingat sesuatu yang selalu di lakukan pada suaminya, dan itu memalukan jika di katakan.
Semua melihatnya dengan dahi mengerut menunggu kelanjutan ucapannya.
"Dan apa.....?" tanya Rizal.
"Cium cium dan peluk aku terus. Setiap saat dia selalu memperkosa bibirku ! Dia kecanduan sama bibirku." kata Rafa tertawa jahil menyambung perkataan Ara. Teringat kelakuan aneh Ara padanya.
Ara terkejut mendengar ucapannya. Wajahnya langsung merah padam. Ara menatap kesal pada suaminya. Dia segera menyembunyikan wajahnya di belakang punggung Moly yang duduk di dekatnya.
Semuanya tertawa mendengar kata-kata Rafa dan rasa malu Ara.
Rafa terkekeh dan segera memeluk istrinya.
"Sudah sudah, kau ini Rafa, suka sekali menggoda istrimu." ucap Maya.
"Tapi itu benar ma....! Bahkan beberapa kali dia bela belain datang ke kantor hanya untuk mengecup bibirku, menciumi wajahku dan....,"
ucapannya terpotong karena Ara segera membekap mulutnya. Ara semakin malu dan salah tingkah.
"Ihh kakak, udah dong...!" menatap kesal dan cemberut.
Mereka kembali tertawa terkekeh melihat tingkah mereka ini.
"Itu merupakan sifat alamiah saat hamil muda. Tapi beruntungnya istrimu tidak mengalami ngidam yang aneh aneh. Biasanya ada yang ngidam jahat, seperti mual muntah, susah makan, sakit pada tulang belakang, punggung dan pinggul." ujar Mia.
Rafa memegang dan menatap nanar perut istrinya setelah mendengar ucapan Mia.
"Hay Jagoan jagoan ayah. Dengarkan perkataan ayah baik baik. Jangan nyakitin ibumu, jangan meminta yang aneh aneh, jangan bikin susah ibu kalian. Atau kalian akan berhadapan langsung dengan ayah! Ayah sangat mencintai ibumu. Ayah menjaganya dengan segenap jiwa dan raga dari orang orang yang menyakitinya! Kalian dengar itu?" mengelus perut istrinya.
Ara kesal tapi tertawa lucu dengan tingkah suaminya yang terlalu berlebihan.
"Bukan Ara yang akan mereka susahin, tapi kamu. Lihat saja nanti." ujar Nesa tersenyum penuh arti . Dia bangkit berdiri, dan pamit keluar untuk melihat si kembar.
Wajah Rafa mengernyit mendengar perkataan kakaknya. Maya dan Mia juga tersenyum.
"Benar kata kakakmu! Siapkan dirimu nak !" ucap Mia. Mama dan tantenya juga ikut pamit keluar karena Mia mau pulang.
Rafa semakin tak faham dengan perkataan mama dan tantenya.
"Sayang, nikah yuk. Aku juga kepengen punya bayi kembar." celetuk Rizal pada Moly.
Moly terkejut.
"Kamu nih gak tahu diri, ngomong sembarangan, gak lihat mama ada di sini ?" sentak Moly melototi nya. Pasalnya Mia dan Maya masih berada di depan pintu kamar, mau keluar.
"Mama mu gak dengar sayang! Tapi lebih bagus juga jika Tante Mia mendengarnya." Rizal memeluk pinggangnya dengan senyuman genitnya.
Moly mendengus kesal.
Dia segera bangkit dan mengecup kening Ara.
"Kami pulang dulu ya? jaga kesehatan."
"Ya kak, hati hati di jalan."
"Jangan lupa minum obat, vitamin dan susumu." Rizal mengingatkan seraya mengelus puncak kepala Ara.
"Iya dok, terimakasih !" Ara mengangguk tersenyum. Rizal berbisik pada Rafa." Kau harus menjaga kandungannya dengan baik. Jangan buat Ara kecapean dan lemas. Kamu ngerti ka maksud ku?" melirik tajam. Rafa mendesis kesal padanya, tapi kemudian dia senyum senyum sendiri.
Rizal dan Moly segera keluar.
Rafa kembali memeluk tubuh istrinya.
"Sayang! Aku sangat bahagia sekali! Terimakasih sayang." mengecup bahu dan leher istrinya.
"Beberapa bulan lagi kita akan menjadi orang tua sayang!" katanya lagi dengan senang.
"Aku juga sangat bahagia kak! Gak nyangka allah cepat kasih amanahnya ke kita, Bahkan Allah kasih 4 sekaligus." ucap Ara terharu.
"Itu karena Allah tahu kamu penyayang anak anak sayang, makanya Allah kasih kepercayaan ini ke kamu! Dan kita akan menjaga amanah dan titipan Allah ini dengan sebaik-baiknya." ucap Rafa tersenyum.
Ara mengangguk tersenyum terharu, Rafa kembali memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang.
Beberapa saat kemudian Ara tiba tiba teringat Cindy.
"Kakak..."
"Hmmm, ada apa sayang...!" Rafa melepas pelukannya dan menatap wajah istrinya.
"A aku....." Ara takut untuk mengatakan.
Rafa menatapnya lekat.
"Ada apa? Apa kamu butuh sesuatu ? Kamu ingin makan lagi?"
Rafa tersenyum jahil.
"Atau kau butuh bibirku?" berbisik menggoda. Lalu mengecup bibir istrinya dengan cepat.
Ara kaget tapi kemudian tersenyum malu-malu.
"Katakan kamu ingin apa sayang, aku akan memberikannya untukmu." Rafa meraba raba lembut bibir istrinya, lalu menciumnya dengan hangat.
"Katakanlah kau ingin apa." tanyanya kembali setelah puas menciumi bibir istrinya beberapa saat. Ara tersengal-sengal mengatur nafasnya yang tak beraturan. Rafa tersenyum melihatnya.
"Aku ingin bertemu Cindy kak...!" kata Ara setelah nafasnya normal.
Rafa membuang nafas berat. Wajahnya berubah datar. Ara mulai takut jika perubahan wajah dan hati suaminya seperti ini.
"Kak, Cindy hamil anak kak Dion! Kasihan dia menanggung beban kehamilannya seorang diri! Bagaimana keadaan sekarang? Aku kepikiran sama dia. Aku khawatir." ucap Ara dengan wajah sedih.
"Ini sudah malam. Kamu harus istirahat. Besok saja ketemu dengannya." Rafa menggendong tubuhnya dibawa ke tempat tidur.
Ara manyun manyun menatapnya.
"Apa kak Dion jadi menikah dengan Sophia?" tanyanya. Rafa tidak menjawab dan terus melangkah ke tempat tidur.
"Kakak, jawab dong. Aku ingin tahu apa mereka jadi menikah?"
"Kau maunya bagaimana?" balik bertanya dan duduk di bibir ranjang sambil memangku Ara. Keduanya berhadapan.
"Aku maunya pernikahan mereka batal. Karena Cindy sedang mengandung anak anak kak Dion." ucap Ara pelan menatap dengan wajah sedih.
Rafa memegang wajahnya. Wajah yang tampak khawatir memikirkan Cindy.
"Sesuai keinginanmu sayang."
Ara melongo, tersenyum senang
"Benarkah?"
Rafa mengangguk
"Udah senang?"
Ara mengangguk.
"Tentu saja. Terimakasih kak...." Mencurahi wajah Rafa dengan kecupan, lalu memeluk Rafa.
Rafa membalas pelukannya.
"Mulai sekarang kamu jangan banyak pikiran, jangan capek dan lelah! Pokoknya jangan mikir dan buat macam macam yang bikin kamu stress! Ayo sekarang tidur lagi."
"Bentar kak, Aku belum shalat isya." Ara melepaskan pelukan suaminya, turun dari ranjang.
Rafa ikutan berdiri dan menyusulnya.
"Aku temani kamu sayang." langsung mengangkat dan mengendong Ara.
"Gak usah kak, nanti macam macam lagi di dalam. Turunin aku...!"
Rafa terkekeh.
"Udah, diam! Jangan membantah !"
"Tapi jangan macem-macem."
"Kau sendiri kan tahu sayang, aku hanya melakukan satu macam selama ini." tersenyum licik
Ara kembali mendesah kesal
"Menyebalkan."
Rafa tertawa kecil, dia menciumi leher istrinya kuat. Ara mengerang keras dengan kekesalan mendalam, Rafa segera membungkam mulutnya.
*****
Cindy terbangun dari tidurnya mendengar bunyi alarm yang telah di pasangnya. Perlahan dia bangun dan duduk di ranjang sambil mengucek matanya, dengan kaki menjuntai ke bawah.
Setelah sadar seutuhnya dari alam tidurnya, pikirannya kembali melayang pada pernikahan Dion.
"Ijab kabulnya pasti sudah selesai, kak Dion sekarang sudah sah menjadi suami Sophia." gumamnya pelan. Wajahnya kembali mendung dan matanya berair.
"Selamat menempuh hidup baru kak. Semoga rumah tangga kalian akan di limpahi banyak kebahagiaan. Aku turut senang dan bahagia." ucapnya lirih bersamaan dengan jatuhnya air mata. Dia memegang perutnya.
Ponselnya berdering, bunyi pesan masuk.
dari Kak Dion. Cindy segera menyapu air matanya. Lalu segera membaca pesan yang masuk.
"Kamu di mana Cind ?"pesan dari Dion.
Cindy kembali menghapus air matanya yang jatuh. Dia menatap sesaat pesan itu.
"Apa kamu baik baik saja?" pesan berikutnya.
Cindy memikirkan apa yang hendak di tulis.
"Aku baik baik saja. Aku... aku duduk di meja belakang bersama Ines. Kami sedang menikmati makanan. Aku melihat kakak dari sini. Kakak sangat tampan dan gagah, Sophia juga sangat cantik dengan gaun pengantinnya. Kalian benar benar pasangan serasi dan sempurna. The best pokoknya. Nanti setelah makan aku dan Ines akan ke depan! Udah ya kak, ponselku mau mati, baterai nya tinggal 1%." tulisnya dengan tangan gemetaran, lalu di kirim.
__ADS_1
Setelah itu dia menelpon seseorang.
"Pak, tolong pesankan saya taksi untuk ke bandara, setengah jam lagi saya akan turun, terimakasih." setelah itu dia menonaktifkan ponselnya, dan di letakkan asal.
Cindy kembali menangis terisak isak sambil memeluk perutnya, air matanya semakin banyak mengalir membasahi pipi.
"Maaf kak, telah membohongimu." ucapnya sendu di sela sela tangisnya. Dia mengelus perutnya berulangkali.
Banyak menangis membuat kepalanya pusing, dan perutnya mual. Cindy menekan nekan perutnya dan tidak dapat menahan diri lagi. Akhirnya......Uweeek, Uweeek, Uweeek!
Segera dia meraih tissue di nakas, di tutup kan ke mulutnya. Dia kembali muntah tanpa makanan, hanya ludah saja yang tertampung
pada tisu. Cindy berusaha bangkit berdiri dengan kakinya yang lemah dan gemetar untuk berjalan menuju kamar mandi. Baru dua langkah berjalan, tubuhnya tiba-tiba di angkat seseorang. Cindy terkejut, di antara rasa pusing dan mual, dia melihat siapa orang yang menggendongnya. Cindy kembali terkejut melihat wajah Dion. Tapi rasa mual lebih mendominasi dirinya sehingga keberadaan Dion terabaikan. Dia kembali muntah muntah dalam gendongan Dion. Dion cepat membawanya masuk ke kamar mandi.
Dion yang memang berada di dalam kamar sejak tadi memperhatikan Cindy sedang tidur, tapi Cindy tidak menyadari keberadaannya.
Karena dia berada di belakang Cindy saat Cindy bangun tadi. Dan posisi tidur yang miring membelakanginya. Saat bangun, Cindy tidak melihat arah belakangnya. Makanya Cindy tidak mengetahui keberadaaan dirinya. dia Saat mengirim pesan tadi, dia menghilangkan bunyi nada pesan dan panggilan.
Dion menurunkan tubuh Cindy di depan wastafel. Lalu menepuk punggung Cindy pelan pelan. Beberapa saat setelah rasa mual dan muntahnya mereda, Cindy segera membasuh wajahnya yang mandi keringat bercampur air mata. Dion segera membalikkan tubuhnya, menghadap kepadanya.
Cindy menelan ludah pahitnya yang terasa pahit.
"Kakak bisa ada di sini?" tanyanya dengan suara lemah. Menatap Dion dengan tatapan sayu.
"Bukannya kakak berada di gedung pernikahan?" tanyanya kembali. Menarik dan mengeluarkan nafasnya yang tampak berat dan tak beraturan.
Wajahnya tiba tiba terkejut."Jadi saat mengirim pesan tadi kak Dion berada di dalam kamar ?" tanyanya menatap wajah Dion dengan lekat.
Dion tak menjawab, hanya menatapnya.
Tangannya sibuk bergerak mengatur rambut Cindy dan mengikatnya agak ke atas.
Cindy segera mengalihkan pandangannya ke samping, menghindari tatapan tajam Dion yang menatapnya dingin. Cindy kembali terkejut karena Dion kembali mengangkat tubuhnya dan di bawahnya ke kamar. Lalu di dudukan di meja rias. Cindy segera berdiri dan memberanikan diri menatapnya.
"Kak, kenapa kakak bisa ada di sini ? Bukankah harusnya kakak berada di gedung pernikahan?"
Dion lagi lagi diam, dan tak menjawab.
Dia berjalan menuju koper Cindy.
Cindy terkejut dan segera melangkah cepat menyusul Dion. Dia menahan tangan Dion yang hendak membuka kopernya. Dia khawatir Dion akan mengetahui isi di dalam sana yang berisi perlengkapan bayi.
"Kakak mau apa ?"
Dion tak menggubris.
"Kakak mau ngambil apa di dalam koperku? katakan saja biar nanti aku yang ngambil." tanya Cindy lagi.
"Biar aku yang ngambil, kamu duduk saja. Kamu sedang tidak baik." Dion menyingkirkan tangannya dan meraih koper. Tapi tangannya ditahan Cindy. Dion menatapnya tajam.
"Di dalam ada barang barang pribadiku. kakak mau ngambil apa? katakan saja."
"Memangnya kenapa? Aku sudah terbiasa melihat barang barang pribadi mu kan? Minggir, biar aku saja." Dion segera mendorong tubuhnya pelan ke samping, lalu meraih koper yang berisi pakaian Cindy dan membukanya. Dia tahu Cindy menyembunyikan perlengkapan bayi darinya agar tidak di ketahui oleh olehnya.
Dion mengambil satu pakaiannya yang berwarna putih gading. Cindy merasa lega karena Dion tidak membuka koper yang berisi perlengkapan bayi.
"Ganti pakaian mu dengan ini." Dion meletakkan dress ke tangan cindy.
"Untuk apa?" wajah Cindy mengernyit.
"Pakaianmu sudah basah. Nanti kau masuk dingin, cepatlah jangan membantah. Aku tunggu tiga menit dari sekarang." berkata tegas dan menekan.
Cindy kelabakan, dia segera melangkah menuju kamar mandi dengan terburu-buru. Bingung untuk apa memakai dress ini.
Lima menit dia segera keluar dengan mandi keringat. Dion menatapnya yang tampak memegang tengkuknya. Dion mendekatinya, lalu mengunci pengait bagian punggung Cindy yang susah di kunci sehingga membuat istri sekaligus adiknya ini terlambat dua menit. Dion mengatur rambut Cindy, di ikat dan di sanggul dengan rapi. Lalu memberi wajah tirus itu bedak dan sedikit lipstik.
"Kak...!" merasa canggung dan tidak mengerti dengan apa yang di lakukan Dion.
"Kita keluar." Dion memegang satu tangannya dan menariknya.
"Mau kemana?" Cindy kaget.
Dion tak menjawab, terus melangkah menarik tangan Cindy, dan keluar dari kamar. Mereka berjalan menuruni tangga.
"Kita mau kemana kak? Jawab dulu pertanyaan ku, jangan diam terus." mengikuti langkah Dion.
Tak ada jawaban, terus menuruni tangga.
"Kenapa kakak bisa ada di sini? Seharusnya kakak berada di gedung pernikahan, tapi kenapa malah di sini ? Apa pestanya sudah selesai?" Cindy menahan tangan Dion kuat hingga langkahnya berhenti.
Dion menoleh dan menatapnya. Tak menjawab.
"Diam lagi ? tak di jawab?" Cindy mulai kesal.
"Sebaiknya kakak kembali ke gedung pernikahan. kalau paman Ray dan tante Dinda tahu kakak sembunyi lagi di sini, mereka bisa marah! Ayo, aku akan antar kakak!" Menarik tangan Dion untuk turun. Tapi Dion menahan tubuhnya kuat.
Cindy semakin kesal menatapnya."Kenapa keras kepala sekali sih? Sekali saja turutin kemauan paman Ray untuk menikahi Sophia! Aduh kak, kenap kayak anak kecil sih? Susah banget di bilangin." Cindy semakin gusar.
"Atau jangan jangan kakak lari dari pernikahan dan meninggalkan Sophia? Apa benar seperti itu?" menatap tajam wajah Dion.
"Ya ampun, kakak tega banget membuat malu paman Ray dan keluarga kita? Kakak juga gak mikir bagaimana malunya Sophia sama orang tuannya? Kakak juga nggak mikir bagaimana nanti nasib perusahaan paman Ray jika pernikahan ini sampai batal? Kakak benar benar keterlaluan dan menyebalkan!" Cindy menatapnya kesal."Sekarang kita ke gedung pernikahan. Pokoknya Kakak harus menikah dengan Sophia." kata Cindy tegas.
Dion mendesah sedih mendengar ucapannya. Matanya sudah berkaca-kaca.
"Kakakmu akan menikah. Pernikahan sebentar lagi akan di mulai." terdengar suara dari depan mereka.
Cindy segera memalingkan wajah ke datangnya suara. Cindy terkejut melihat orang orang yang berada di ruang tengah apartemennya. Duduk di lantai beralaskan karpet yang di gelar di lantai. Papa mamanya, Raymon, Dinda, dan dua orang laki laki yang tidak di ketahui entah siapa. Mereka memakai pakaian rapi dan formal.
Di depan mereka tergeletak sebuah meja setinggi perut. Di atasnya tergeletak Al-Qur'an dan yang lainnya tidak dapat di lihat jelas oleh mata Cindy.
Ada juga Toni dan Ines. Sahabatnya itu tampak tersenyum manis padanya.
"Kemari lah kalian berdua." ajak Raymond Alkas.
Cindy menoleh pada Dion.
"Kak, mama papa sama paman dan tante kok bisa ada di sini?" bisiknya pelan.
"Dan.....mereka sama siapa? Siapa kedua bapak bapak itu?"
"Kemari nak." ajak Dinda memanggil mereka. Wanita cantik anggun itu tersenyum pada mereka. Begitu juga dengan Rani, mama Cindy tersenyum dengan binar bahagia memandang mereka.
"Ayo...!" ajak Dion, menarik tangan Cindy untuk turun.
Cindy memegang lengannya kuat.
"Ada apa ini kak? Jangan diam terus. Tolong jawab pertanyaan ku," gelisah dan cemas.
Dion menoleh padanya.
"Gak ada apa apa, kamu gak usah cemas! ayo...!"
"Tapi aku takut kak ...!" semakin kuat memegang lengan Dion.
Dion menghadap padanya."Apa yang kamu takutkan? mereka orang tua kita." menatap wajah Cindy yang pucat dan keringatan. Dion segera menyapu bulir bulir keringat itu dengan telapak tangannya. Hatinya iba dan terenyuh melihat kondisi adik sepupunya ini. Dia dapat merasakan betapa menderitanya Cindy mengalami beban penderitaan kehamilannya ini. Bahkan di rasakan nya tangan Cindy gemetaran memegang lengannya. Sudah dapat di pastikan adiknya ini lemah dan lapar, tapi tidak berselera untuk makan.
Dion segera mengulas senyum. Memegang lembut wajah Cindy."Semuanya baik baik saja. Percayalah pada kakak! Sekarang mari kita turun!" katanya lagi. Lalu memegang tangan Kanan Cindy dan menariknya untuk turun. Dia melangkah dengan pelan dan memegang tangan Cindy dengan kuat karena menjaga Cindy yang sedang hamil.
Cindy mengikuti langkah dan tarikan tangan kakaknya menuruni tangga yang tersisa 8 kotak. Mereka mendekat ke pada orang tua mereka.
Dinda dan Rani bergantian memeluk Cindy. Ekspresi kesedihan di wajah mereka, tapi juga ada senyum kebahagiaan.
Cindy semakin tidak mengerti, dia juga ikut sedih dengan mata berkaca-kaca.
"Bisa kita mulai ijab kabulnya pak?" tanya salah seorang tamu pria.
"Tentu saja pak, silahkan, lebih cepat lebih baik." kata Raymond Alkas.
Dion segera duduk di depan ayah Cindy dan kepala KUA. Lebih tepatnya Dion duduk di depan papa Cindy yang akan menjadi wali nikah Cindy.
"Ada apa ini ?" Cindy terkejut mendengar ucapan kepala KUA tadi. Lebih lagi melihat Dion duduk di depan papanya.
"Si-siapa yang akan menikah ?" tidak tenang dan gelisah, kesedihan menyeruak di dadanya yang bergemuruh kuat.
Rani mendesah sedih, kedua matanya basah. Dinda juga menitikkan air mata.
"Kau dan Dion akan menikah nak. Kedua bapak itu adalah petugas dari kantor KUA yang akan menjadi saksi pernikahan kalian!" ucap Dinda.
Cindy terbelalak, matanya membulat sempurna.
"Aku sama kak Dion?" seakan tak percaya.
"Iya nak. Kau dan kakakmu akan menikah." ujar Rani membenarkan perkataan Dinda
"Sekarang duduklah di samping kakakmu."
Cindy menatap mereka satu persatu dengan gelembung air mata yang siap tumpah. "Bagaimana bisa kalian menikah kan kami Bukannya kakak sudah menikah dengan Sophia?"
"Pernikahan mereka di batalkan." kata Dinda
Cindy Kembali kaget. Tapi kemudian dia menyadari sesuatu. Penyebab dari gagalnya pernikahan itu sudah pasti Dion tidak mencintai Sophia. Dan kakaknya ini pasti telah berbuat ulah lagi."Kenapa kalian mau menikahkan aku dan kak Dion? Apa untuk untuk melepaskan diri dari pernikahan dengan Sophia?" menatap mereka.
"Kakak pasti berulah lagi kan? Kenapa kakak egois terus dan hanya mementingkan diri sendiri?" Cindy berkata dengan emosi menatap tajam pada Dion." Aku sudah katakan, cinta akan datang belakangan jika kalian sudah hidup bersama." katanya lagi.
"Cindy, dengar kan dulu!" Dion segera bicara.
Tapi Cindy memotong ucapannya.
"Gak, aku gak mau menikah dengan kakak. Pokoknya kakak harus menikah dengan Sophia. Bagaimana nasib perusahaan jika kalian batal menikah?" Cindy geleng geleng kepala dengan air matanya yang telah jatuh membasahi pipi.
Mereka mendesah sedih mendengar ucapannya.
Dion bangkit dari duduknya dan mendekati Cindy. Dia langsung memegang perut Cindy.
"Apa kamu ingin mereka lahir sebagai anak anak haram? Apa kamu ingin mereka lahir tanpa seorang ayah." bisik Dion menatapnya dalam dalam.
Cindy terkejut, matanya membulat menatap Dion, dadanya semakin bergemuruh kuat. Dia mendesah sedih. Air matanya kembali tumpah ruah membasahi wajahnya. Jadi mereka sudah tahu tentang kehamilannya. Keduanya saling menatap lekat dengan mata di liputi kesedihan yang mendalam.
Cindy tidak dapat membendung tangisnya. Dia menangis terisak isak.
Dion segera memeluknya.
"Maafkan kakak Cind, maafkan kakak telah merenggut kehormatan mu. Telah merusak masa depan mu dan membuat mu menderita dengan kehamilan ini." katanya sendu merasa sangat berdosa. Dia membelai punggung Cindy lembut.
Cindy semakin terisak isak. Bahunya sampai terguncang.
"Cindy, Tante dan paman juga minta maaf karena telah membuat dirimu menderita, dan masa depan mu hancur. Tolong biarkan kami menebus dan memperbaiki kesalahan kami sayang!" kata Dinda sedih merasa bersalah.
Untuk beberapa saat suasana di liputi kesedihan dan keharuan.
Setelah itu petugas KUA memberi isyarat untuk segera melaksanakan prosesi ijab Kabul.
Meski berbaur kesedihan, prosesi ijab kabul berjalan lancar penuh hikmah dan saklar. Dengan mahar seperangkat alat shalat dan cincin kawin di bayar tunai, Dion dan Cindy SAH menjadi pasangan suami istri di mata hukum dan agama. Tapi kata petugas KUA, Dion dan Cindy harus melakukan menikah kembali setelah anak mereka lahir.
__ADS_1
******
☺️☺️