
Saat ini Ines berada di salah satu Playground outdoor. Dia bersama tantenya menemani adik sepupunya yang masih berumur 7 tahun bermain macam macam wahana permainan di tempat itu. Sudah sejam mereka berada di tempat itu.
Ines duduk beristirahat setelah gantian dengan tantenya menjaga adiknya, karena rasa lelah yang dia rasakan.
Tenggorokannya terasa kering dan haus.
Sambil duduk, dia menyerut minumannya,
Lalu melap peluh yang mengalir di pelipisnya.
Sekali kali dia mengibaskan tangan ke tubuhnya yang terasa gerah dan berkeringat.
Ponselnya berbunyi sekali, bunyi pesan masuk.
Ines segera memeriksa ponselnya.
"Ines, temani aku ke rumah Ara ya? aku mau berterima kasih padanya. Lagi lagi dia menolong aku dan kak Dion π’π. Aku udah mengirim pesan padanya. Tapi nggak cukup hanya mengucapkan lewat telepon. Aku ingin berterima kasih secara langsung padanya." pesan dari Cindy.
"Ada apaan sih?" tanya Ines sebagai balasan. Dia penasaran kebaikan apalagi yang di lakukan Ara.
Cindy segera menelpon begitu ada balasan dari Ines. Mereka terlibat pembicaraan serius, terdengar suara tangis bahagia dari Cindy menceritakan kebaikan Ara.
Ines juga jadi ikutan terharu mendengar kebaikan yang di lakukan Ara pada Dion. Lagi lagi sahabatnya itu berbuat kebaikan untuk kebahagiaan Cindy.
"Baik Cind, aku akan menemanimu. Aku ucapkan selamat ya untuk kak Dion. Aku turut bahagia dengan kebahagiaan kalian. Semoga rumah tanggamu dan juga Ara selalu di limpahi kebahagiaan. Jauh dari pelakor dan penggoda. Kalau pun ada aku siap bantu untuk membasmi...hahaha...! Selamat ya Ny Presdir Dionel Alkas. Jangan lupa traktir aku sama Ara makanan mewah dan terlezat selama seminggu," kata Ines di selingi tawa bercanda.
"Aamiin, oke deh..," Cindy ikutan tertawa, lalu panggilan di akhiri.
"AZAHRA Radya Almira.. hatimu benar benar hanya di penuhi banyak kebaikan. Bersyukur banget punya sahabat seperti dirimu. Kau memiliki segalanya tapi tetap hidup sederhana, tidak sombong, tetap rendah hati, dan Semakin gemar menolong sesama saudaramu yang membutuhkan. Tak ada yang berubah setelah kau menjadi seorang istri dari tuan Rafa yang punya segalanya. Kau malah semakin baik, rendah hati pada semua orang, semakin welas asih. Kau juga semakin menjadi sahabat terbaik buat kami. Terimakasih Ara, semoga Allah melimpahi banyak kebahagiaan dalam hidupmu bersama suamimu." guman Ines tersenyum terharu dengan kebaikan Ara.
Ara bukan hanya membuat dia di terima bekerja di perusahaan RA Group. Tapi Ara juga membantu membiayai pendidikan kuliah Pascasarjananya dan juga pendidikan kedua adiknya hingga ke jenjang yang lebih tinggi.
Selain itu, Ara juga memberi Ayahnya modal usaha secara diam-diam tanpa sepengetahuan dirinya, karena Ara menjaga perasaan dirinya.
Hal itu baru di ketahuinya setelah memaksa ayahnya untuk mengatakan dari mana sang ayah mendapatkan biaya untuk membuka sebuah toko bangunan yang selama ini ayahnya idam idamkan.
"Kakak cantik...," sebuah panggilan membuyarkan lamunan Ines.
Ines kaget, dia buru buru menyapu airmatanya. Lalu segera menoleh ke sampingnya.
Dia terkejut melihat Azham dan Azhar di depannya.
"Azham? Azhar?" sapanya menatap keduanya.
Dia segera berdiri.
Azham dan Azhar tersenyum dan langsung memegang tangannya. Keduanya tampak senang karena bertemu Ines lagi.
"Kami senang bertemu kakak lagi." kata Azham.
Ines tersenyum mendengar ucapannya
"Kakak juga senang bertemu kalian. Kalian juga ada di sini? sama siapa?" tanya Ines memegang bahu kedua anak itu.
"Sama nenek kak..," jawab Azham.
"Terus nenek mana?"
__ADS_1
"Tuh nenek...," Azhar menujuk ke belakang Ines, Ines segera berbalik ke belakang.Terlihat Rani sedang menuju ke arah mereka.
Rani tampak ngos ngosan terlihat dari nafasnya yang memburu cepat.
"Nak Ines.. nggak nyangka bisa ketemu nak Ines lagi." sapa Rani begitu tiba di hadapan mereka.
"Ya bu..," Ines segera menyalim tangannya.
Lalu dia mendudukkan Rani dan memberi air minum.
"Azham dan Azhar melihat nak Ines dari jauh. Mereka langsung berlarian meninggalkan ibu." kata Rani setelah nafasnya normal.
Ines tersenyum kecil. Dia menyapu kepala Azham dan Azhar.
"Mereka sangat senang melihat nak Ines. Sepertinya mereka sangat suka sama nak Ines. Oh ya..nak Ines juga ada di sini?" kata Rani kembali.
"Iya bu, kebetulan adik sepupu saya meminta untuk di ajak ke wahana permainan. Makanya saya mengajak kesini."
"Terus adiknya mana?"
"Tuh di sana..sama tante saya." tunjuk Ines pada sebuah permainan yang di naiki adiknya.
"Azham dan Azhar juga meminta di ajak ke tempat permainan. Anak ibu mengantar kami ke sini. Nggak nyangka bertemu nak Ines lagi di sini. Azham dan Azhar senang sekali."
"Udah lama di sini ya bu?"
"Lumayan, sudah dua jam nak. Azham dan Azhar sudah mencoba beberapa permainan di sebelah sana. Aduh nak, capek juga ngawasin dan menemani mereka. Kaki ibu pegal-pegal kesana kemari, mereka tidak bisa diam." keluh Rani.
Ines tersenyum kecil.
"Azham Azhar...jangan bikin kak Ines repot." tegur Rani pada Azham dan Azhar.
"Nggak apa-apa bu, biar saya temani mereka. Ibu istrahat saja dulu." kata Ines.
Ketiganya segera berlalu dari hadapan Rani.
Azham dan Azhar segera menaiki perosotan yang tingginya hanya 5 meter dan panjang 15 meter. Ines hanya menemani dan mengawasi dari bawah.
"Hati hati Azham.. Azhar." teriak Ines agak keras dari bawah.
Kedua anak itu meluncur dari atas ke bawah.
Ines menyambut mereka di bawah.
Azham Azhar terus naik dan meluncur lagi sampai mereka puas.
Kemudian mereka pindah lagi ke wahana yang satu terus ke wahana lain hingga mereka capek.
Dua jam Ines menemani mereka. Hingga waktunya dia pulang karena tantenya mengajak untuk kembali.
Ines masih membelikan kedua anak itu eskrim karena permintaan mereka.
"Kakak pulang dulu ya.. Azham dan Azhar jangan naik wahana lagi. Kasihan nenek gak kuat lagi untuk kesana kemari. Azham dan Azhar tunggu ayah saja dulu." kata Ines pada mereka.
Azham dan Azhar memeluk lengannya sebelah menyeblah seakan tak mengizinkan Ines pulang.
"Apa Azhar akan ketemu kakak lagi kan?" kata Azhar.
__ADS_1
"Tentu sayang. Kalau Azhar dan Azham ingin ketemu kakak, hubungi kakak saja. Nenek kan pernah menghubungi nomor kakak pada ayah kalian, cek saja nomor kakak pada ponsel ayah."
"Azham Azhar...kak Ines punya urusan dan kesibukan, kalian tidak boleh mengganggunya."
kata Rani.
"Maaf ya telah merepotkan nak Ines."
"Tidak apa-apa bu. Azham Azhar, kakak pergi dulu."
"Sebentar lagi anak ibu akan segera tiba, kami juga akan pulang." kata Rani.
"Azham dan Azhar tetap di sini ya, jangan kemana-mana sampai ayah datang,"
"Baik kak..,"
Ines mengusap ngusap kepala mereka yang masih memeluknya.
"Sudah jangan sedih gitu, biarkan kak Ines pergi, mari sini duduk sama nenek." Rani segera menarik tangan kedua cucunya.
"Kita pasti akan bertemu lagi... seperti hari ini. Azham dan Azhar percaya kan sama kakak?" kata Ines tersenyum meyakinkan mereka.
Kedua anak itu mengangguk. Ines tersenyum menatap mereka. Dia tidak menyangka kedua anak ini menyukainya.
"Permisi buk..," pamitnya pada Rani, Rani mengangguk tersenyum.
Ines segera melangkah mengikuti tantenya.
Azham dan Azhar melambaikan tangan kepdanya dengan wajah sedih. Ines membalasnya sambil terus melangkah.
Baru 20 meter dia berjalan, Wisnu datang.
"Ayah..kakak cantik baru saja pergi." kata Azhar la mungsung memberi laporan padanya.
"Kami bertemu kakak cantik lagi ayah. Kami senang sekali bisa bertemu dengan kakak cantik lagi." sambung Azham antusias.
"Kakak cantik menemani kami naik permainan dan juga membelikan kami Eskrim. Kakak cantik baik deh ayah.. Azham suka...,"
"Azhar juga suka sama kakak cantik. Kapan ya Azhar bisa ketemu kakak cantik lagi?" timpal Azhar dengan wajah sedih.
Rani menatap pada Wisnu penuh arti.
Sebenarnya Wisnu masih sempat melihat kedua anaknya memeluk Ines. Dia melihatnya dari jauh, hingga Ines melangkah pergi bersama tantenya.
Setelah rapat umum pemegang saham selesai, dia masih datang ke perusahaan untuk menemui tuannya, setelah itu baru kesini.
Beberapa saat kemudian, mereka meninggalkan tempat itu untuk pulang.
Dalam perjalanan.
"Baru dua kali bertemu, tapi anak anak sudah sangat menyukai gadis itu. Untuk pertama kalinya mereka menyukai dan cepat dekat dengan seorang wanita dewasa. Ibu tidak menyangka kalau mereka sangat menyukai Ines." kata Rani menatap Wisnu dari samping.
Wisnu menghela nafas dan mengalihkan pandangannya ke arah lain mendengar ucapan ibunya.
Sedangkan Azhar dan Azham sudah tertidur di kursi belakang karena kelelahan.
*****
__ADS_1