
...Happy Reading....
"Mundurkan mobil cepat." perintahnya pada karjo
"I-iya tuan." Gugup dan panik karjo segera mengikuti perintahnya. Memundurkan mobil dan berhenti pada jarak 15 meter dari pintu gerbang.
"Turun." perintah Dion kembali.
Karjo buru buru turun dan segera menjauh.
"Lepas kak." Cindy berontak. Berusaha melepaskan tangannya yang di pegang Dion.
Dion semakin mempererat pegangannya.
"Cindy, kita tidak bisa seperti ini terus. Kita harus bicara. Biar tidak ada kesalahpahaman di antara kita."
"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Foto foto itu sudah menjelaskan semuanya. Aku percaya pada foto foto itu. Aku sangat yakin itu asli bukan editan. Atau kakak ingin menyangkalnya untuk menutupi perselingkuhan kakak? Hah?" kata Cindy menatap tajam dengan air mata yang sudah jatuh.
"Tidak Cindy." Dion segera memeluknya.
Sungguh sedih dan sakit hatinya mendengar tuduhan Cindy.
"Kakak tidak mengkhianatimu. Bahkan tidak ada niat sedikit pun di hati kakak untuk mengkhianati mu. Percayalah pada kakak. Semua itu adalah jebakan Bela. Kakak tidak ada hubungan apapun dengannya. Dia menjebak kakak, lalu mengirimkannya kepadamu untuk membuat kita bertengkar seperti ini."
"Sudahlah kak. Aku capek berdebat terus seperti ini. Lepaskan aku, jangan menyentuhku. Apa kakak tidak kasihan padaku? Setelah menyentuh wanita lain di luar dan sekarang menyentuh aku lagi?" Cindy menatapnya tajam, suara rendah karena dia tidak mau lagi berteriak teriak yang akan berpengaruh pada janinnya.
"Jangan menyentuh aku. Aku mohon menjauh lah dariku." katanya semakin terisak isak terus berontak.
Bukannya melepas,. Dion malah memeluknya."Tidak Cind, kakak tidak akan melepaskanmu, kakak tidak akan menjauh dari kalian. Kakak menyayangi kalian." Dion ikut menangis.
"Percayalah pada kakak." Dion memeluk semakin erat.
"Percaya?" batin Cindy.
"Aku ingin sekali mempercayai mu kak, tapi hatiku terlalu sakit membayangkan kau di atas tubuhnya dan menindihnya. Tangannya yang menyentuh milikmu dan kau membiarkannya. Tidak mungkin kalian tidak melakukannya. Melihat pakaian dalam kalian tergeletak bersama di lantai." batinnya kembali. Membuatnya kembali menangis, airmata nya semakin deras mengalir.
"Cindy, maafkan kakak. Kakak menyesal telah membantunya semalam. Dia mabuk dan meminta bantuan kakak. Ternyata dia hanya berpura pura untuk menjebak kakak." kata Dion memegang wajahnya.
Sedih hati Dion melihat wajah pucat dengan mata bengkak di depannya ini karena ulahnya.
__ADS_1
Dion mengecup bibirnya tiba tiba, membuat Cindy kaget.
"Jangan mencium ku. Apa kakak tidak puas berciuman dengan wanita lain di luar?" Cindy menatapnya tajam menahan emosi.
"Percayalah Cind, kakak tidak melakukan apapun dengan Bela. Kakak tidak menyentuhnya."
Cindy kembali mendesah sedih seraya menyapu air matanya.
"Sudahlah. Aku tidak mau berdebat, aku capek. Kasihanilah aku dan bayiku."
Cindy menelan ludah pahitnya dan menyapu lagi air matanya yang tidak mau berhenti jatuh.
Dia menatap wajah Dion dalam.
"Kita sendiri tahu pernikahan kita hanya karena kehamilan ini. Aku sudah mengatakan pada kakak dulu. Kakak bisa meninggalkan aku jika kakak sudah menemukan cinta yang baru. Aku tidak keberatan. Jika kakak mendapatkan cinta itu pada Bela." katanya dengan suara rendah. Tenang ikhlas.
"Seharusnya aku mengerti kakak sedang bahagia karena sudah menemukan pengganti Ara. Seharusnya aku ikut senang dan bahagia melihat kebahagiaan kakak." Katanya berusaha tersenyum.
Perlahan dia memegang wajah kusut Dion, menatapi setiap bagian bagian wajah tampan ini. Mata yang terlihat merah, lelah dan sayu.
"Maafkan aku karena marah marah dan berteriak pada kakak semalam. Aku ikhlas jika kakak ingin bersama...."
"Jangan bicara lagi. Sudah kukatakan aku tidak ada hubungan apa apa dengan wanita rendah itu! Aku sama sekali tidak menyukainya, aku tidak punya perasaan sama sekali padanya." lanjut Dion menatap tajam.
Cindy kembali tersenyum.
"Sungguh kak, aku ikhlas melepaskan kakak bersama Bela. Aku sudah memikirkannya setelah shalat subuh tadi. Sebagai seorang adik, aku pun ingin kakakku bahagia dan......"
Ucapannya kembali terpotong karena Dion langsung membungkam mulutnya dengan ******* bibirnya karena terlalu banyak bicara.
Cindy terdiam dengan mata terpejam. Dia membiarkan apa yang di lakukan Dion tanpa merespon. Hanya airmata nya yang semakin banyak mengalir.
Beberapa detik berlalu Dion melepas pangutan bibirnya merasakan rasa asin air mata Cindy yang semakin banyak masuk ke dalam mulutnya.
Cindy menyapu airmatanya, lalu kembali memasang senyum di wajahnya.
"Anggaplah itu ciuman terakhir kita." katanya kemudian melepaskan tangan Dion.
Dion terhenyak mendengar ucapannya.
__ADS_1
"Tidak Cindy, jangan bilang begitu." Dion kembali meraih tubuhnya, tapi Cindy segera mundur.
"Sudah kak, Jangan berdebat lagi. Aku mau ke kampus. Kakak juga mau ke kantor kan? Kakak harus segera bersiap."
"Turunlah. Aku akan segera pergi. Ara dan Ines pasti sudah menungguku."
"Jangan seperti ini Cind. Kakak tidak mau berpisah darimu. Kamu harus percaya pada kakak. Beri kakak waktu untuk membuktikan kalau semua itu hanya jebakan Bela." mendekati Cindy.
Cindy mendorongnya sekuat tenaga, lalu segera turun dan cepat berlari.
Dion pun segera turun mengejarnya.
"Cindy__Cindy__jangan pergi." kata Dion berteriak mengejarnya.
Cindy semakin mempercepat larinya melihat Dion mengejarnya.
Karjo yang melihat kejar kejaran di antara mereka segera mengejar Dion.
"Tuan muda__berhenti tuan___tidak usah di kejar."
"Kenapa kau menghentikan ku? aku sedang mengejar istriku." sentak Dion keras terus berlari.
"Maafkan saya tuan muda. Jangan mengejar Non Cindy. Berlari kencang tidak baik untuk ibu hamil. Bisa menyebabkan pendarahan bahkan bisa jadi keguguran." kata Karjo kembali.
Langkah Dion langsung terhenti mendengar ucapannya.
"Benar juga. Kenapa hal itu tidak terpikirkan olehku? Apalagi kata dokter fisik dan kandungannya lemah." batin Dion.
"Berhenti Cindy. Jangan lari lagi. Aku tidak akan mengejar mu." teriak Dion keras merasa cemas.
Langkah Cindy melambat setelah melihat Dion berhenti mengejar. Nafas memburu cepat. Dia memegang perutnya yang terasa berat. Bukan hanya perut, tapi juga pinggang dan punggungnya.
"Cepat ikuti istriku kemanapun dia pergi. Ikuti kemana pun dia pergi dan laporkan kepada ku." kata Dion.
Kalau dia yang mengantar, Cindy pasti tidak mau.
"Baik tuan." Karjo segera berbalik menuju mobil yang biasa untuk mengantar Cindy.
...Bersambung....
__ADS_1