Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 272


__ADS_3

Bela menghampiri Dion dan Cindy.


Dia tersenyum lembut menatap Dion.


"Kak Dion, aku turut senang dengan terpilihnya kakak sebagai direktur utama di perusahaan DRA Group. Selamat ya.. " ucapnya sangat manis dengan nada manja seraya menjabat tangan Dion erat.


"Terimakasih Bela." kata Dion tersenyum kecil.


Bela segera memeluk Dion setengah badan sambil cipika-cipiki. Dengan sengaja kedua gunung kembarnya di tekankan pada dada Dion dan di perlihatkan pada Cindy.


Dion segera melepaskan pelukan Bela dan manarik mundur tubuh atasnya.


"Silahkan nikmati makannya.." kata Dion.


"Aku sudah selesai makan kak." jawab Bela tersenyum manis padanya.


"Kalau begitu silahkan nikmati acaranya.


Ada tamu undangan lain yang mengantri di belakangmu..." kata Cindy mengurai senyuman dan berusaha menahan emosi. Dia tahu wanita ini sengaja memanas manasinya.


Mata Bela membulat sempurna mendengar ucapannya. Sindiran halus yang menyuruhnya segera pergi dari hadapan mereka. Dia mendengus geram dalam hati lalu segera melangkah ke sebelah dengan kesal.


Cindy tersenyum puas menatapnya.


Lalu segera beralih pada tamu di depannya yang memberi ucapan selamat.


Bela mendekati Dinda dan Raymond.


"Bela? kau juga di sini? tante kira kau tidak akan datang." sapa Dinda.


"Iya tante...aku pasti datang di acara istimewanya kak Dion. Aku udah dari tadi di sini. Oh ya tan.. boleh kah aku bersama tante? soalnya aku gak punya teman untuk di ajak ngobrol, aku bosan entah mau melakukan apa. Aku sendirian tidak ada yang aku kenal di sini." katanya pura pura.


"Tentu saja boleh. Kau bergabung bersama tante saja."


"Terimakasih tan..." Katanya tersenyum kecil, dia meremas kuat ponselnya dan melirik pada Cindy yang tampak bahagia menerima ucapan dari tamu undangan bersama Dion.


"Ara.. Ines.." seru Cindy melonjak senang melihat kedatangan kedua sahabatnya.


Ara dan Ines ikut tersenyum senang padanya. Mereka juga tersenyum pada Dion dan menyalami suami sahabatnya ini.


Cindy segera memeluk kedua sahabatnya itu secara bergantian.


"Aku menunggu kalian sejak tadi, terimakasih ya sudah datang."


"Selamat ya Ny Presdir Dionel Raymond Alkas. Kami ikut senang dan bahagia." kata Ines dan Ara bersamaan.


"Terimakasih. Khusunya padamu Ra, terimakasih ya.. semua berkat dirimu. Lagi lagi kau membantu aku dan kak Dion." Cindy kembali memeluknya dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Bela, tunggu sebentar di sini. Kami mau ke tempat Dion dan Cindy dulu." kata Dinda pada Bela yang melihat keberadaan Ara.


Bela mengangguk "Iya tante,"


Dinda dan Raymond segera mendekat pada mereka.


"Aku gak tahu gimana cara balas kebaikanmu. Kau udah terlalu sering menolong kami." kata Cindy serak menahan tangisnya.


Ara segera melepaskan pelukannya.


"Kamu kok ngomong gitu sih Cin? aku senang dapat membantu kalian. Selama aku bisa membantu, aku pasti bantu. Lagi pula kita sahabat, udah sepantasnya saling membantu. Udah jangan nangis." Ara menyapu air matanya.


"Ternyata si cupu itu sahabat si dungu juga?" guman Bela menatap kebersamaan mereka yang saling berpelukan.


Dia tersenyum tipis.


"Ny Ravendro.." sapa Dinda.


Ara segera menoleh ke arah sampingnya.


Dinda dan Raymond di lihatnya. Keduanya menunduk kepala sedikit.


Ara tersenyum lalu segera menyalami Dinda dan Raymond. Di ikuti Ines.


Dinda memperhatikan penampilan Ara yang cupu. Apa Ara masih menyembunyikan identitas dirinya sebagai istri Rafa Ravendro? ataukah ini perintah dari Ravendro untuk menutupi kecantikan istrinya agar tidak menjadi tatapan mata para lelaki?


"Apa anda datang sendiri Ny Artawijaya?" tanya Raymond.


"Tidak tuan Alkas, aku datang bersama suamiku. Kami berpisah saat di parkiran. Suamiku sedang menuju kesini. Tolong jangan memanggilku seperti itu. Om dan tante panggil saja namaku. Aku sudah katakan anggap saja diriku seperti Cindy dan Ines."


"Tapi itu tidak mungkin Ny Artawijaya.." kata Raymond.


"Tentu saja bisa Om. Aku tidak apa-apa. Aku lebih nyaman jika kalian memanggil namaku saja." kata Ara tersenyum.


"Pa, ma... Ara berpenampilan seperti ini, karena dia masih menyembunyikan status dirinya sebagai istri tuan Rafa. Ara lebih nyaman dengan jati dirinya seperti sekarang ini." sela Cindy.


"Aku berharap om dan tante tidak keberatan aku panggil dengan sebutan om dan tante. Aku sudah mengganggap kalian keluarga. Aku juga sudah memanggap kak Dion sebagai kakak, sama seperti Cindy dan Ines. Bisakah kita menjadi satu keluarga?"


Dinda tersenyum lebar, dia benar-benar kagum dengan pemikiran wanita muda ini.


"Tentu saja kau boleh menganggap kami sebagai keluarga. Kami malah senang sekali. Kemarilah sayang, tante ingin sekali memelukmu.." katanya seraya melebarkan kedua tangannya pada Ara.


Ara tersenyum senang.


Dia segera masuk ke dalam pelukan Dinda. Menyesap bau wanginya seorang ibu.


"Kau benar benar anak yang sangat baik dan renda hati." Ucap Dinda seraya mengecup puncak kepala Ara dan membelai rambutnya.

__ADS_1


Mereka yang melihat ikut tersenyum terharu.


"Ayo Cindy, Ines.. Kemarilah.. peluk mama sayang.." Dinda memajukan satu tangannya pada Cindy dan Ines.


Kedua wanita itu langsung memeluk Dinda dengan perasaan senang dan haru.


"Pa...aku merasa seperti punya tiga orang putri." kata Dinda pada Ray sambil tertawa kecil penuh haru. Ray tersenyum lebar dan mengangguk.


"Dan kau Dion... kau pun punya tiga adik perempuan sekarang." kata Dinda kembali melihat pada Dion.


Dion tertawa kecil, dia sangat terharu dan bahagia. Bahkan kedua matanya sudah basah.


Dia menyapu kepala ketiga wanita itu bergantian.


Dinda segera melepaskan pelukannya.


Masing masing menyapu mata mereka yang basah.


"Tante baru tahu dari Cindy, kalau kau adalah pemilik dari Yayasan Panti Asuhan AZAHRA. Kau benar-benar wanita berhati mulia nak.


Di usiamu yang masih sangat muda, kau sudah menjadi pendiri dan ibu asuh dari begitu banyak anak anak yang hidupnya kurang beruntung. Tante benar benar bangga padamu. Kau hebat dan luar biasa."


"Terimakasih tante." kata Ara tersenyum.


"Ara sayang, tante sangat berterimakasih karena kau telah memilih Dion dalam rapat umum pemegang saham." Dinda memegang kedua tangannya.


"Aku melakukannya demi melihat Cindy bahagia tante. Aku melihat wajahnya yang tegang dan gelisah di ruang rapat. Aku juga yakin kak Dion bisa membawa DRA Group lebih maju lagi, berdiri kembali dari keterpurukan dan dapat membawa keuntungan bagi perusahaan." kata Ara tersenyum.


"Ara... terimakasih. Aku menyayangimu... sangat menyayangimu." ucap Cindy terharu dan kembali memeluknya.


Dion mendekat dan memeluk mereka berdua.


"Aku menyayangi kalian. Ara... mulai sekarang anggap aku kakakmu." katanya menyapu kepala ke duanya.


Di tempat Bela.


"Bel, siapa si cupu itu? sepertinya orang tua Dion mengenalnya. Dan lihat.. mereka begitu menghargainya. Ny Alkas Alkas bahkan memeluknya. Cindy dan Dion juga memeluknya sampai sedih begitu." kata Kyla melihat ke tempat Dion.


Sejak tadi mereka memperhatikan kebersamaan Dari keluarga itu.


"Mungkin saja si cupu itu sepupu si dungu dan kak Dion yang baru datang dari kampung. Mereka mungkin berpelukan seperti itu untuk melepas rindu." kata Bela tak berkedip melihat ke arah mereka.


Dia juga merasa heran melihat Dinda begitu menghargai Ara yang di matanya jelek dan kampungan.


Bukan hanya Dinda tapi juga Ray.


*****

__ADS_1


Dukung author ya, πŸ™


Terima kasih bagi yang sudah mampir 😘


__ADS_2