
...Happy Reading....
Wisnu dan Ines mengikuti keinginan Azham dan Azhar melihat film favorit mereka.
Tak lupa juga membeli cemilan dan minuman. Mereka memilih tempat duduk di tengah. Layaknya sebuah keluarga, keduanya duduk di samping Azham dan Azhar, mengapit ke dua anak itu.
Dua jam berlalu, akhirnya film lucu dan juga memberikan kesan yang mendidik itu selesai.
Setelah dari bioskop, Azham dan Azhar meminta diajak ke tempat play ground.
Menikmati beberapa wahana permainan sampai merasa lelah.
"Capek sayang?" tanya Ines seraya menyapu keringat di wajah keduanya dengan tissue.
"Iya kak..."
"Istirahat dulu." kata Ines.
Mengajak kedua anak itu duduk.
Azhar dan Azham menyeruput minuman mereka.
Sedangkan Wisnu sibuk dengan ponsel di tangannya mengecek pekerjaan yang di kirim oleh direktur kantor cabang di Amerika.
Dia yang terbiasa di sibukkan dengan pekerjaan dan tidak terbiasa dengan hal hal santai seperti ini, melupakan tujuan utama untuk menemani si kembar bersenang senang.
Di dalam bioskop pun dia sibuk melihat ponselnya. Tak mengindahkan panggilan panggilan si kembar yang menunjuk ke arah layar untuk menikmati keseruan dari film tersebut.
Dan tadi saat si kembar mengajaknya untuk ikut bermain panjat tebing hanya di tanggapi dengan kata" Ya__ya___sebentar"
Si kembar mengerti dengan kesibukan ayahnya.
Tapi Ines yang kesal. Ines menyambar ponselnya dan langsung menyimpan di dalam tasnya. Wisnu kaget menatapnya tajam.
"Apa yang kau lakukan?"
"Ingat nggak tujuan kita ke sini?" kata Ines ikut menatapnya tajam. Lalu mengalihkan pandangannya pada si kembar yang sudah kembali ke tempat wahana.
"Kembalikan ponselku." kata Wisnu kesal.
"Nggak! Katanya tadi di meja makan bagaimana? Satu hari ini ayah milik Azhar dan Azham. Lupa ngomong begitu pada anak anak?" kata Ines agak keras kembali menatapnya dengan kesal.
Wisnu mendengus pelan.
"Kembalikan___" meraih tas Ines.
"Gak akan ku beri.___" Ines menjauhkan tas selempangnya dari tangan Wisnu.
"Pekerjaan terus yang di urusin, anak anak ngajak bermain dan minta ditemani malah di abaikan." kata Ines kembali tak mau kalah. Wisnu semakin geram dan terus merebut tas Ines.
"Mereka sudah gede gak perlu di temani, cukup di awasi saja." kata Wisnu mencoba menahan diri.
"Kalau mereka kenapa kenapa gimana? Gede bukan berarti bisa menjaga diri sendiri kan? Apa susahnya ikut main bersama mereka sebentar? Anak anak ngajak anda karena mereka pengen bermain sama ayahnya. Karena selama ini mereka jarang menikmati kebersamaan bersama Anda, ayah mereka. Dan sebentar lagi mereka akan balik ke Amerika. Kesempatan untuk bersama mereka tak akan ada lagi." kata Ines tak mau kalah.
"Dengar nona Ines, yang ku lakukan juga adalah hal yang sangat penting. Aku sedang berbicara dengan direktur cabang di Amerika. Dia sedang menyampaikan sesuatu yang penting. Ini sesuatu yang mendadak. Jadi cepat kembalikan ponselku." kata Wisnu dengan suara di tekan kuat.
"Bodoh amat. Anak anak juga lebih penting dari pekerjaan itu. Aku akan mengembalikan ponsel anda nanti setelah kita sampai di rumah." kata Ines tak peduli. Dia bangkit berdiri tapi Wisnu menahan lengannya hingga dia terduduk kembali.
"Aku tidak ingin berdebat nona Ines, segera kembalikan ponselku." mulai emosi.
Dia kembali meraih tas Ines.
Ines kembali menghindar menepis tangannya dan mundur. Wisnu mendengus kesal, dia maju mengungkung tubuh Ines dari samping dan berusaha meraih tas.
Wisnu terlihat seperti memeluk Ines dari samping.
"Mereka pasangan romantis ya Pa? Mama gemas melihat mereka." kata seorang pengunjung wanita yang duduk tiga meter di depan Wisnu dan Ines. Keduanya memperhatikan perdebatan Ines dan Wisnu sejak tadi.
Ines dan Wisnu langsung terdiam mendengar suara itu. Pergerakan mereka terhenti. Lalu menoleh ke depan. Seorang pria dan wanita paruh baya tersenyum melihat ke pada mereka.
Wisnu segera mundur menyadari posisinya.
"Nak, kalian seperti kami waktu muda dulu. Selalu berdebat dan bertengkar tapi kemudian baikan lagi. Pertengkaran kecil yang membuat hubungan pernikahan kami kekal sampai saat ini." kata si pria menoleh pada wanita di samping yang merupakan istrinya.
"Mereka seperti kita ya Ma?" katanya pada istrinya.
Istrinya mengangguk tersenyum.
Keduanya sedang menunggui cucu mereka yang lagi bermain.
Si pria mendekat pada Wisnu.
"Hey nak, Jika kau ingin sesuatu dari istrimu, mintalah baik baik, bujuk dia, selingi dengan rayuan. Hatinya pasti langsung luluh. Aku selalu melakukan hal itu pada istriku." katanya berbisik tersenyum di depan wajah Wisnu.
Ines menutup mulutnya yang membulat mendengar ucapan pria tua itu.
"What? istri?" matanya juga membulat seketika. Bingung dan kesal melihat pada bapak tua itu.
"Maaf pak, bu! Aku dan dia bukan___" tapi ucapannya terpotong karena pria itu kembali bicara pada Wisnu.
__ADS_1
"Nak, Aku juga seperti dirimu. Menikahi Istriku saat dia masih terlalu muda. Kau juga beruntung mendapatkan istri semuda ini." kata Pria itu menatap Ines dan Wisnu bergantian.
Wajah Ines langsung memerah mendengar ucapan sang pria. Dia membuang nafas kasar. Sedangkan Wisnu berusaha menahan tawanya.
"Anda salah pak. Pria tua ini bukan suamiku, aku juga bukan istrinya. Dia Om ku." protes Ines mulai emosi.
"Bapak ngerti nak apa yang kau rasakan saat kesal pada suamimu ini. Istri bapak juga selalu ngomong begitu jika dia kesal dan marah pada bapak. Tapi pertengkaran itu membuat kami semakin dekat, semakin mesra hingga sampai setua ini. Dan kau nak, luangkan waktumu untuk anak dan istrimu, Manjakan mereka sekali kali. Lupakan ponsel, lupakan pekerjaan sejenak." kata bapak tua pada Wisnu.
"Sudah, sudah. Kami pergi dulu. Cucu kami sudah mengajak pulang. Semoga pernikahan kalian selalu bahagia dan langgeng selamanya." Keduanya segera bangkit berdiri meninggalkan Ines dan Wisnu yang terbengong-bengong.
Mereka mendekati kedua cucu mereka yang sedang melambaikan tangan.
Ines kembali melongo mendengar ucapannya. Dia menoleh tiba tiba pada Wisnu. Menatap tajam menyeringai.
Wisnu langsung membuang pandangannya
ke arah lain dengan menahan senyumnya.
"Nggak lucu." sentak Ines kesal. Bangkit berdiri meninggalkan Wisnu yang senyum senyum sendiri menatap punggungnya.
'
'
Dari wahana permainan mereka menuju sebuah cafe untuk makan siang yang sudah sangat terlambat. Karena mereka masih singgah sejenak di sebuah mesjid untuk mengerjakan shalat Dzuhur yang juga sudah terlambat waktunya.
Saat makan, ponsel Ines berdering.
"Bentar ya... kakak terima telepon dulu." Dia segera menjauh.
Wisnu melirik ke arahnya yang tampak senyum senyum senang berbicara. Raut wajahnya terlihat bahagia.
"Sudah ya... bye.. muach." ucap Ines di akhir teleponnya.
Dahi Wisnu mengernyit mendengarnya. Dengan siapa dia bicara mesra seperti itu? batinnya.
Ines segera duduk dan kembali melanjutkan makannya.
"Telepon dari siapa?" tanya Wisnu pelan menatapnya.
Ines melihat sekilas ke padanya, lalu memasukkan makanan ke mulutnya.
"Teman." jawabnya singkat. Karena masih kesal pada Wisnu dan malas untuk ngomong. "Lagi pula apa urusannya dengan siapa aku bicara di telepon." batinnya.
Wisnu ingin bertanya lagi, tapi Ines keburu bicara.
"Cukup kak."
"Azham?" bertanya pada Azham
"Cukup kak, udah kenyang."
"Kalau begitu habiskan saja eskrimnya."
Kedua bocah itu mengangguk.
Beberapa saat kemudian Ines selesai menghabiskan makanannya.
"Bentar ya, kakak ke toilet dulu." kata Ines seraya bangkit berdiri.
Wisnu memandangi kepergiannya.
Tanpa Ines sadari, tiga orang lelaki mengikutinya dari belakang.
Ines menuju toilet wanita yang letaknya paling ujung. Dia masih menunggu sebentar karena masih ada orang di dalam. Setelah pengunjung toilet itu keluar, Ines segera masuk. Dia kebelet pipis karena tadi banyak minum air. Setelah selesai bersih bersih, dia membuka pintu hendak keluar. Tapi begitu membuka pintu, dua pria tinggi kekar menghadang jalannya dan mendorongnya dengan kasar masuk kembali ke dalam toilet.
Ines terkejut.
"Siapa kalian?" tanyanya terbata bata. Dia bergerak mundur mulai takut.
"Mau apa kalian?" sentak Ines.
Kedua pria itu menatap bengis kepadanya.
"Berikan tasmu." kata sala seorang di antara mereka. Menarik tas Ines kasar.
Ines berusaha mempertahankan miliknya. Terjadi tarik menarik di antara mereka.
"Lepaskan." kata Ines.
"Hey Nona, kalau kau ingin selamat cepat berikan semua benda berharga mu." sentak salah seorang di antara mereka.
"Nggak. Kenapa aku harus memberikannya pada kalian? Dan kenapa kalian melakukan ini padaku?" kata Ines tetap mempertahankan tasnya. Karena di dalam tas itu ada ponsel Wisnu yang berisi data data penting perusahaan dan juga hal penting lainnya. Kalau hanya ponsel miliknya akan segera di berikan. Dia tidak mau mempertaruhkan keselamatannya hanya untuk sebuah ponsel murah miliknya dan juga beberapa lembar ratusan ribu.
Kedua pria itu mulai emosi, sala seorang di antara mereka menarik paksa tali tas yang tergantung di bahu Ines. Pakaian Ines ikut tertarik dan robek pada lengan dan sebagian dada kirinya.
Ines terkejut dan segera menutup dadanya.
Dia yang mulai sadar dengan kejahatan yang terjadi pada dirinya langsung berteriak teriak keras.
__ADS_1
"Tolong___tolooong."
Sala seorang dari pria itu langsung menahan tangannya dan membekap mulutnya kuat. Hingga suaranya hilang. Ines tak hilang akal. Dia menggigit kuat tangan pria itu. Hingga bekapan terlepas.
Sang pria meringis kesakitan. Dengan kuat Ines menendang alat vitalnya. Lalu mendorong tubuhnya pada temannya yang bergerak mendekatinya.
Secepatnya Ines berlari ke arah pintu. Baru saja menarik handle pintu, Sala seorang di antara mereka berhasil meraih pakaian belakangnya, lalu menariknya kuat. Pakaian Ines robek, tubuhnya juga kembali tertarik masuk ke dalam.
Tubuh mungil Ines di lempar ke belakang membentur dinding. Ines menjerit keras merasakan sakit pada tubuhnya yang menghantam dinding. Tubuh terasa remuk redam dan lemas. Dia mulai menangis dengan tubuh gemetaran.
Keadaannya berantakan, pakaian belakangnya robek hingga membuat punggung mulusnya terekspos.
"Beraninya kamu mengigit ku." sentak sala seorang di antara mereka kasar. Dia mengangkat tubuh Ines yang tak berdaya lalu melayangkan tangan kekarnya ke Wajah Ines dengan keras.
Ines memekik. Darah mengucur dari bibirnya yang pecah. Kepalanya di rasakan pening dan berputar putar.
Sala seorang di antara mereka merobek blouse Ines, lalu di bungkam pada mulut Ines agar tidak bisa berteriak dan menimbulkan suara. Dan satunya lagi di ikatkan pada kedua tangan Ines.
Dengannya kasar dia menarik tas Ines. Mengambil semua isinya, juga Cincin serta kalung berlian Ines hadiah ulang tahun yang di berikan Ara kepadanya.
"Ayo kita pergi sebelum ada yang datang." kata teman mereka yang berada di luar sebagai penjaga. Mengetuk pintu mengingatkan kedua temannya.
"Tunggu sebentar." Kata salah seorang di antara mereka yang tergoda dengan perut ramping indah Ines yang terekspos karena pakaiannya yang terkoyak. Dia meraba raba liar perut Ines.
Ines menjerit jerit dengan air mata membanjir. Dia memberontak tapi apalah daya tangan dan mulutnya terikat untuk melakukan perlawanan.Tubuhnya juga sakit dan lemah.
Air matanya terus mengalir. Dia menggeleng memohon kepada pria itu untuk tidak menyentuhnya.
Kedua pria itu malah tertawa dan menatap liar penuh nafsu pada dada dan perut Ines yang mengundang hasrat dan birahi mereka.
"Cepat selesaikan." kata Pria yang satunya.
Si pria berjaket mendekati Ines yang tersandar pada dinding tembok. Dia membuka kunci celananya dan menarik rets kebawah.
Air mata Ines semakin banyak mengalir.
Dia berteriak teriak keras tapi suara tertahan.
"Jangan sentuh aku. Bajingan kalian." tapi suara itu hanya terputus pada tenggorokannya.
Ines semakin ketakutan saat pria itu menekan tubuhnya ke tubuhnya.
"Sekretaris Wisnuuu, tolong aku! Sekretaris Wisnuuu." teriaknya keras keras dalam hati.
memanggil Wisnu. Tiba tiba saj dia teringat pria itu.
Gerakan pria berjaket terhenti oleh ketukan yang berulang. Dan kawannya juga berhenti tertawa.
"Ada apa Jhon?" tanya mereka geram pada temannya yang berada di luar karena menggangu kesenangan mereka.
Tak ada suara dari luar.
Keduanya saling berpandangan. Sala seorang di antara mereka segera membuka pintu dengan kesal. Saat pintu terbuka, satu bogem mentah melayang keras pada wajahnya. Tubuhnya terhuyung kebelakang menubruk kawannya.
Lalu masuklah Wisnu. Dia terkejut melihat keadaan Ines yang memprihatinkan dengan pakaiannya yang terkoyak hampir tak menutupi tubuh atasnya.
Wisnu mengeram keras. Dia segera mengunci pintu kembali. Kemudian mendekati Ines, memakaikan jaketnya ketubuh Ines. Mengunci celana dan rets jeans Ines. Lalu menatapi wajah Ines yang lebam dan biru.
Ines semakin menangis menatap wajahnya.
Air matanya semakin banyak mengalir. Wisnu terenyuh dan iba. Dia segera memeluk tubuh lemah itu. Rahangnya mengeras dan bergetar. Menahan luapan kemarahan yang menjalar memenuhi aliran darahnya.
Dia segera melepaskan ikatan kain pada tangan dan mulut Ines. Lalu menyapu air mata gadis itu. Kemudian membalikkan tubuh Ines ke tembok.
"Tetaplah seperti ini. Tutup mata dan telingamu. Jangan bergerak dan bersuara apa pun yang akan kau dengar nanti. Mengerti?" perintah Wisnu kepadanya.
Ines mengangguk di antara ketakutan dan air matanya yang berderai. Dia sangat senang Wisnu datang tepat Ines segera memejamkan mata dan menutup telinganya dengan kedua tangan mengikuti perintah Wisnu.
Beberapa saat kemudian terdengar suara gaduh di selingi suara suara pekikan yang tertahan. Ines semakin menekan kuat telinganya. Entah apa yang terjadi di belakangnya, dia tetap diam tak bergerak dan menahan mulutnya untuk tidak mengeluarkan suara.
2 menit berlalu. Keadaan sudah tenang. Tak ada lagi suara apapun yang terdengar. Hingga sebuah sentuhan pada bahunya mengagetkan dirinya.
"Kita akan keluar." suara Wisnu terdengar membuatnya lega dan melancarkan jalan pernafasannya yang sejak tadi tercekik, takut dan cemas terjadi sesuatu yang buruk pada Wisnu.
Wisnu segera mengangkat tubuhnya. Ines kaget tapi membiarkan apa yang di lakukan pria ini. Karena tubuhnya terasa lemas dan gemetar sulit untuk berjalan.
Saat keluar, tanpa sengaja mata Ines melihat ke arah lantai. Dia terkejut melihat tubuh tiga pria tergeletak tanpa bergerak dengan mulut tersumpal kain. Sala seorang di antara mereka terdiam dengan mata terbuka dan wajah membiru.
Ines segera menekan wajahnya di dada Wisnu karena takut.
"Apa mereka mati?" batinnya.
Ines teringat kejadian dulu saat Wisnu memberi hukuman pada Sophia dan Abimanyu.
"Apa dia membunuh mereka?" batinnya kembali. Ines semakin takut membayangkan sesuatu yang buruk di lakukan Wisnu pada ketiga pria itu. Takut jika ketiga pria itu benar-benar mati di bunuh nya.
Bersambung.
Tinggalkan jejak ya π
__ADS_1