Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 236


__ADS_3

Ruang kerja Presiden Direktur Utama RA Group.


Pintu di ketuk, lalu masuklah Moly.


"Malam bos, ada undangan pernikahan dari tuan Abimanyu Widjaya dan tuan Raymond Alkas !" katanya kemudian sambil meletakkan dua undangan besar, mewah dan elegan dengan bentuk yang berbeda di meja kerja bosnya.


tapi ucapannya tidak di gubris sama sekali oleh Rafa.


Rafa saat ini sedang fokus menatapi istrinya yang lagi mengajari si kembar berhitung di rumah pribadi mereka.


Senyuman bahagia tersungging di wajahnya melihat tingkah lucu tiga orang yang di kasihnya itu, belajar sambil bermain.


Tak bosan bosannya dia memandangi wajah manis istrinya melalu kamera cctv yang tersambung dengan ponsel miliknya.


"Sayang, kamu benar-benar wanita lembut, penuh kasih dan cinta !" gumamnya pelan melihat begitu sayangnya Ara pada kedua keponakannya.


Sabar mengajari anak-anak itu meski terkadang nakal dan suka jahil kepadanya, istrinya


hanya akan menghukum mereka dengan kecupan dan ciuman di pipi.


Lalu menggelitik perut mereka satu persatu di selingi dengan canda tawa.


Rafa kembali tersenyum kecil bahagia melihat keseruan mereka. Rasa lelah, capek karena seharian berkutat dengan pekerjaan langsung hilang melihat wajah wajah bahagia orang-orang yang di cintainya itu.


Moly menoleh pada Wisnu yang berdiri diam seperti patung di belakang tuannya yang siap menunggu perintah kapan saja.


Dia memberi isyarat tentang undangan itu, lalu segera keluar.


Setelah puas memandangi wajah istrinya, Rafa segera bangkit dari duduknya.


"Kita pulang Wisnu, aku sangat merindukan istriku." katanya kemudian seraya melangkah menuju pintu, padahal sejam lagi dia masih punya agenda penting.


Wisnu segera bergerak cepat mendahului tuannya dan membuka pintu.


Perjalanan ke rumah pribadi memerlukan waktu satu jam.


Rafa masuk ke dalam kamarnya, di dapatinya Ara sedang mengajari si kembar mengaji, kegiatan rutin setiap selesai melaksanakan shalat fardhu.


"Sayangku... " ucapnya pelan seraya memeluk istrinya dari belakang, lalu mengecup dan mencium kepala istrinya yang terbungkus mukena. Ara segera mencium punggung tangannya sambil tersenyum.


"Kakak sudah pulang?"


Rafa mengangguk tersenyum lalu kembali mengecup pipi istrinya.


Kemudian melanjutkan mencium kepala kedua keponakannya.


"Daddy..." seru Cia langsung naik dalam gendongannya, mengecup ngecup pipi Rafa.


"Cia turun ya, ngaji dulu sama ante Ara, daddy mau mandi dulu, daddy belum shalat isya." kata Rafa mengecup pipi bocah kecil ini yang sangat manja dengannya.


"Baik daddy !" Cia segera turun, dan kembali bergabung dengan Ara dan Cio duduk melantai di karpet sedang membaca iqro.


"Cepatlah kak, waktunya semakin habis," ujar Ara menoleh padanya sekilas.


"Iya sayang." Rafa segera masuk kamar mandi.


15 menit membersihkan diri, lalu segera melaksanakan shalat isya.


Setelah itu dia segera duduk bergabung mengaji bersama istri dan kedua ponakannya.


Ara menuntun Cio dalam bacaan iqro, dan Rafa membimbing Cia.


Cia lebih banyak menjahili Rafa dengan memainkan jari jemarinya di hidung dan mata Rafa, lalu mengecup mengecup wajah daddy nya dan duduk di pangkuannya.


Rafa gemas dan mengigit kecil jari jemari mungil itu, Cia tertawa tawa kecil.


"Cia sayang, serius dong belajar ngajinya, nanti setelah ini main sama daddy ya !" tegur Ara,


Cia bukannya nurut malah naik ke pangkuan Ara dan mengecup ngecup wajah Ara, tentu saja Ara jadi gemas dan membalas mencium pipi gadis kecil lucu dan menggemaskan ini.


Belajar mengaji di lanjutkan kembali, hingga bu Narsih mengetuk pintu memberi tahukan makan malam telah siap.


"Ayo..kita turun makan malam," kata Rafa seraya melepas baju koko nya dan songko.


Hal yang sama di lakukan oleh Cio.


Ara dan Cia juga melepaskan mukenanya.


Lalu mereka segera keluar, si kembar minta di gendong Rafa.


Setelah berdoa mereka mulai makan dengan menu pilihan masing-masing.


Sita dengan sigap melayani si kembar. Si kembar mulai pintar mengambil makanan sendiri yang mereka mau, Sita tinggal menuntun mereka.


Ara makan dengan lahap dan berulang kali nambah, Rafa tertegun dan senyum senyum melihatnya.


Melihat makannya yang banyak seperti orang yang tidak makan selama dua hari.


Rafa mengusap ngusap belakang punggung wanita yang sangat di cintainya ini.


"Pelan pelan makannya sayang."


Ara angguk angguk sambil mengisap jari telunjuknya yang terkena saus gurame asam manis.


"Apa itu enak?" tanya Rafa.


"Enak banget kak ! coba deh kakak rasa." ucap Ara sambil menyuapkan ikan gurame asam manis di tambah sedikit nasi ke mulut suaminya menggunakan tangan.


Rafa langsung membuka mulutnya dan menerima makanan suapan Istrinya, mengunyah pelan menyesapi rasa bumbu dari makanannya.


"Enak kan kak ?" tanya Ara menatapnya lekat .


"Enak sayang, yang bikin enak dan nikmat karena pakai suapan tanganmu sayang." kata Rafa senyum senyum kecil.


"Iih kakak...!" Ara jadi malu.


Rafa kembali tersenyum lebar.


"Benar sayang, gak bohong aku." Rafa meraih tangannya dan menjilati saus yang menempel di jari jemari istrinya.


Ara kaget, semakin malu dengan wajah memerah, dia cepat menarik tangannya.


"Apaan sih kak," melirik ke arah pelayan yang menunduk diam tapi tersenyum senyum.


Rafa tertawa kecil .


"Udah, makan lagi sayang," menyapu puncak kepala istrinya lembut . Ara melanjutkan makannya.


"Daddy, Cia mau apel..." sela Cia.


Sita langsung bergerak, tapi Ara cepat memberi isyarat padanya untuk diam.


"Cia mau apel? bentar sayang, ante ambilkan," tukas Ara.


"Biar aku yang ambil sayang, lanjutkan makan mu," kata Rafa, dia segera mengambil irisan apel yang ada tepat di depan bocah kecil ini, tapi entah kenapa masih menyuruh orang lain untuk mengambilnya.


Cia turun dari kursinya, melangkah dan duduk di pangkuan daddy nya. Rafa kaget dan segera memperbaiki posisi Cia di pangkuannya.


"Aaaaa....!" Cia membuka mulutnya.


Rafa segera memasukkan irisan buah apel ke mulut kecil gadis kecil ini.


Rafa tersenyum lembut menatapi ponakan kecilnya ini, yang menganggap dirinya sebagai ayah mereka berdua, anak anak yang tidak merasakan kasih sayang ayah kandung mereka, karena ayah mereka telah lebih cepat di panggil sang kuasa saat mereka berusia dua tahun. Makanya sebisa mungkin Rafa memberikan perhatian, cinta dan kasih sayang pada kedua bocah ini layaknya seorang ayah pada anak anaknya.


Dan semua berkat kedatangan Ara di rumah ini, kehadirannya membawa keceriaan, dan kebahagiaan pada penghuni rumah utama.


Karena Ara dia kembali pulang ke tanah air hingga bisa memberikan kasih sayang secara


langsung pada kedua keponakannya ini.


"Mas Revan, anak anakmu kini sudah tumbuh menjadi anak anak yang pintar, lucu dan menggemaskan ! mereka juga rajin beribadah sama seperti dirimu," batin Rafa haru. Dia mengecup kening Cia lembut, dan menoleh pada Cio yang sangat lahap menghabiskan makanannya. Rafa kembali tersenyum haru.


*****


Siang ini Ara, Cindy dan Ines janjian bertemu di kampus, mereka duduk duduk di taman kampus sambil menikmati cemilannya, kecuali Cindy yang menyibukkan diri dengan ponselnya untuk menghindar dan agar tidak terpengaruh dengan makanan di depannya.


Aneka cemilan banyak yang di belikan Ara .


"Cin, kamu kok gak makan, dari tadi hanya liatin kita makan dan liatin handphone terus ! aku sengaja beli banyak karena aku tahu kamu paling suka dengan makanan ringan ! kamu harus makan banyak biar BB mu naik lagi." ujar Ara seraya memasukkan snack dari bahan kentang ke mulutnya .


Cindy membuang nafas panjang.


"Aku gak nafsu Ra, kalian aja yang makan." katanya lemah.


"Oh ya Cin, kapan pernikahannya kak Dion?" Ines menyela sengaja mengalihkan pembicaraan agar Ara tidak memaksa Cindy untuk makan.


Cindy kembali membuang nafas berat, wajahnya langsung berubah mendung.


"Akad nikahnya besok setelah magrib, terus di lanjutkan sama acara resepsinya malam hari, keduanya akan di laksanakan di gedung X. Aku dengar untuk acaranya akan di lakukan tiga hari tiga malam, dan untuk acara hari ketiga akan di laksanakan di bali," kata Cindy lemah.


"Pasti pestanya meriah dan di hadir oleh tamu tamu penting dan pejabat penting." sela Ines.


"Itu sudah pasti ! Akhirnya kak Dion akan menikah, kita doakan semoga pernikahannya langgeng selamanya." ucap Ara antusias.


Cindy mengangguk lemah.


"Kamu kok nggak semangat gitu sih Cin ? harusnya kau senang dan bahagia kakak Dion akan menikah."


Cindy memaksakan diri untuk tersenyum.


"Tentu aku senang Ra, aku bahagia !" katanya pelan.


"Kalau aku nggak senang dan nggak suka kak Dion menikah sama nenek sihir itu, sombong, angkuh dan kasar." cibir Ines dengan wajah masam.


"Moga aja pernikahannya mereka nggak jadi." lanjutnya kembali menyumpahi sambil memegangi tangan Cindy.


"Kamu jangan doain buruk kayak gitu Nes, pernikahan mereka harus jadi, nggak boleh batal." kata Cindy menatapnya, mengingat pernikahan Dion untuk menyelamatkan perusahaan.


"Iya Nes, apa an sih kamu doanya buruk begitu, gak baik. Kak Dion sangat baik pada kita, harusnya kita doakan yang terbaik buat pernikahannya." timpal Ara.


Ines mengerucutkan bibirnya karena kesal, tapi dia juga sedih, pikirannya masih di liputi pertanyaan tentang siapa ayah bayi dalam kandungan Cindy, apakah Dion atau orang lain. Dia curiga dan berpikir kalau bayi itu adalah anak Dion, sewaktu melihat Cindy menangis ketika mendengar perdebatan Dion dengan orang tuanya kemarin mengenai pernikahannya dengan Sophia.


"Guys, setelah wisuda nanti, apa rencana kalian selanjutnya ?" Cindy memecah keheningan .

__ADS_1


"Aku mau langsung bekerja, aku sedang mencari lowongan pekerjaan sesuai passion ku di internet." jawab ines menatap mereka bergantian.


"Aku belum membicarakan tentang hal itu dengan kakak iparku, tapi sepertinya dia ingin aku melanjutkan pendidikan S2." kata Ara.


"Aku juga mau melanjutkan pendidikan S2 ku."


timpal Cindy.


"Kalau gitu kita sama sama aja Cin, kita kuliah di sini saja bareng bareng, biar kita nggak pisah, kamu juga ya Nes, kita bisa sama sama terus ! kamu bisa kerja sambil kuliah, aku gak mau pisah sama kalian," kata Ara sedih menatapi mereka bergantian.


"Aku gak punya biaya buat lanjutin pendidikan ku Ra ! orang tua ku masih harus membiayai kuliah adik keduaku dan juga sekolah adik bungsu ku," keluh Ines lemah.


"Makanya aku mencari pekerjaan setelah wisuda untuk membantu membiayai sekolah adik adikku." lanjutnya lagi muram .


"Gimana kalau aku bantu kamu Nes, aku akan meminta pada kakak iparku untuk mempekerjakan mu di perusahaannya, kamu gak usah repot-repot cari pekerjaan lagi ! terus kamu bisa lanjutin pendidikan S2 mu di kampus kita ini, aku akan ngusulin beasiswa untuk mu, jadi kamu bisa kerja sambil kuliah !"


kata Ara memberi solusi setelah teringat perusahaan suaminya.


"Benar Ra ?" seru Ines dengan ekspresi senang.


"Kamu jangan khawatir, nanti aku akan membicarakan hal ini dengan suamiku." ujar Ara mengangguk tersenyum.


Ines langsung memeluk tubuh Ara


"Ara, kamu memang orang yang sangat baik dan perduli pada orang lain ! terimakasih sayang ku.. cintaku ...!" ucapnya terharu dan bahagia, dia mengecup ngecup pipi Ara bergantian.


"Nes, kamu terlalu berlebihan deh." Ara dan Cindy terkekeh-kekeh melihat tingkahnya.


"Akhirnya masa depan ku terselamatkan,


aku gak akan jadi mahasiswi pengangguran. Kalian tahu sendiri kan zaman sekarang ini sangat sulit mencari pekerjaan hanya dengan mengandalkan Ijasah S1 ! Ara terima kasih banyak, berkat dirimu aku akan bisa membantu orang tuaku untuk menyekolahkan adik adikku." memegang kuat tangan Ara. Matanya berkaca-kaca karena terharu bahagia.


"Kau kan sudah tau kepribadian Ara, kepada orang lain yang tidak di kenalnya saja dia sangat perduli, apalagi pada kita sahabat nya." sahut Cindy ikut terharu dan memeluk Ara dari samping, mereka bertiga saling berpelukan beberapa saat.


"Kamu juga ya Cin, lanjutin S2 mu bareng kita di sini ! biar kita sama sama terus." Ajak Ines.


"Maafkan aku ya, tak bisa bergabung bersama kalian. Aku akan melanjutkan studi ku di kota lain, aku ingin berpetualang mencari pengalaman baru, suasana baru, teman baru ! tapi jangan khawatir, kalian akan tetap menjadi sahabat terbaikku, sahabat sejati ku selamanya. Kita akan tetap saling berhubungan satu sama lain, kalian juga bisa mengunjungi ku atau aku akan mengunjungi kalian di sini di saat kita punya waktu dan tidak punya kesibukan." kata Cindy sedih campur senyum, matanya berkaca-kaca, dadanya sesak menahan tangis.


"Aku tahu bukan karena itu alasanmu Cin, kau pasti ingin pergi dari kota ini untuk menyembunyikan kehamilan mu dari kami semua, sebelum perut mu membesar," batin Ines menatapnya sedih, dia tahu itu hanya alasan Cindy sajam


"Cindy...kita akan berpisah dong? aku gak akan bisa nahan rinduku padamu," ucap Ara sedih memeluk dirinya.


"Maafkan aku ...ya teman teman, aku juga sangat sedih dan tidak ingin berpisah dengan kalian, tapi ini sudah menjadi keinginan ku sejak lama ! ingin berpetualang, ingin jalan jalan, ke semua kota di seluruh Indonesia."


"Dan aku akan mengecek kampus baruku secepatnya, sekalian ingin melihat lihat keindahan alam dan kotanya, rencananya aku akan pergi setelah pernikahan kak Dion," lanjutnya kembali dengan suara serak.


Air matanya semakin banyak menggenangi pelupuk matanya, dia kembali memeluk kedua temannya, akhirnya kristal bening itu jatuh merembes di kedua pipinya.


"Kenapa kamu nggak mau jujur sama kami dan tetap menyembunyikannya Cin?" Ines ikut menangis, dia sangat tahu betapa menderitanya Cindy sekarang ini menanggung beban kehamilannya seorang diri.


"Kenapa secepat itu Cind? sepertinya kamu udah kepengen pergi cepat cepat dari sini, dan meninggalkan kita berdua," ujar Ara terkejut seraya melepaskan pelukannya.


Cindy segera menghapus air matanya, dia terisak-isak kecil.


"Aku masih punya urusan lain yang harus ku kerjakan di sana, menyiapkan ini dan itu biar gak ribet nanti setelah aku pindah nanti."


"Tapi kamu sedang tak sehat Cin, tubuhmu lemah. Bagaimana kalau aku sama Ines temani kau pergi? kita juga lagi santai kan sekarang ? nggak ada lagi kesibukan kampus selain nunggu hari wisuda ! aku akan minta izin sama kak Rafa selama tiga hari." kata Ara.


"Aku setuju, aku juga gak tega ngebiarin kamu pergi sendiri dengan kondisi tubuhmu seperti ini. Kau semakin lurus dan lemah tak bertenaga Cin !" Ines ikut menyetujui dan membenarkan perkataan Ara.


"Kalian memang terbaiikkk....! beruntung banget punya sahabat seperti kalian, terimakasih ya ..! tapi nggak usah deh, lain kali aja kalian ikut aku, aku gak mau ngerepotin kalian. Terutama lo Ra, aku gak enak sama suamimu, aku yakin dia pasti nggak akan ngizinin kamu," kata Cindy gugup tidak tenang mendengar keinginan kedua temannya ini.


Ara ingin berkata, tapi batal karena ponselnya berdering.


Ara segera mengambil dan mengangkat teleponnya yang berasal dari Nesa.


"Bentar ya, kak Nesa telepon," katanya pada kedua temannya.


Cindy dan Ines mengangguk.


"Assalamualaikum kak Nesa." sapa Ara.


"Waalaikumsalam." jawab Nesa dari seberang.


"Kamu di mana Ra?"


"Aku lagi di kampus kak, sama teman-teman ku di taman, ada apa kak ?"


Nesa menyampaikan sesuatu yang membuat Ara tersenyum lebar karena gembira.


"Alhamdulillah, akhirnya, terimakasih ya kak ! assalamualaikum." ucap Ara senang, dia tertawa tawa kecil.


Dia mengecek pesan masuk dalam ponsel, ada notifikasi pemberitahuan uang masuk ke rekeningnya.


"Akhirnya aku bisa membayar hutang ku pada kakak ipar." gumannya pelan dengan gembira .


dia melonjak lonjak.


Cindy dan Ines saling berpandangan.


"Ada apa Ra, kok senang amat ?" tanya Cindy penasaran.


"Ada deh, nanti aku ceritakan ! boleh aku pamit pulang duluan? soalnya aku ada keperluan yang sangat penting, aku tidak tahan untuk menundanya ! atau kalian ikut aku saja dari pada hanya duduk diam di sini, ayo....!" Ara menarik tangan keduanya untuk berdiri.


Ara langsung mencegat taksi dengan terburu-buru, mereka menuju kantor suaminya.


Dia sudah tidak sabar ingin bertemu suaminya. Berulang kali dia memperbaiki kacamata tebalnya dan rambut keriting nya yang terurai hingga menutupi sebagian wajahnya.


Ines dan Cindy semakin penasaran dan heran menatapnya.


Cindy lebih memilih diam karena dia merasa pusing dan menjaga perutnya untuk tidak mual.


Beberapa saat taksi langsung tiba di depan gedung kantor RA Group.


Ara segera turun terburu-buru.


Mereka langsung bisa masuk dengan mudah karena beberapa penjaga keamanan mengenali Ara, mereka menuju dan masuk lift khusus para direktur, dengan di antar langsung oleh penjaga keamanan.


"Pak, Jangan beritahu pada siapapun tentang kedatangan saya kesini, terutama pada pimpinan perusahaan ini dan sekretaris Wisnu !" kata Ara pada penjaga keamanan sebelum pintu lift tertutup.


"Baik nona muda." jawab penjaga keamanan sopan seraya menundukkan kepalanya sampai pintu lift tertutup.


"Kenapa nggak kasih tahu kedatangan lo sama suami lo Ra ? atau sama sekretaris Wisnu?"


tanya Ines bingung.


"Kejutan dong." kata Ara tersenyum bahagia.


"Terus gimana kalau suami lo gak ada di kantor ?"


"Aku yakin kakak ipar ada di kantor, sebab kalau pergi ke mana-mana dia pasti ngasih tau aku. Dan sejak pagi hingga sekarang ini kakak nggak kasih tau apa apa tentang kegiatannya di luar." katanya tersenyum dengan penuh keyakinan.


"Ra, Lo ngapain masih manggil suami lo dengan sebutan kakak ipar kayak gitu? dia kan udah suami sah lo ?" sela Cindy.


"Aku udah kebiasaan Cin." kata Ara kembali tersenyum.


Pintu lift terbuka, mereka segera keluar.


"Ra, gede amat kantor suami lo ? dan juga calon kantor kerja gue." celetuk Ines tertawa kecil, mereka tertawa kecil.


Beberapa karyawan menyapa Ara ketika bertemu.


Ara menuju ruang kerja suaminya sambil ngendap ngendap.


"Kita ngapain jalan ngendap kayak gini Ra ?kayak maling aja." kata Ines kembali sambil tertawa kecil dan menutup mulutnya. Cindy juga ikutan tertawa.


"Nggak semua orang di sini tahu aku istri kakak ipar ku, hanya beberapa orang saja." jawab Ara sambil meletakkan jarinya di bibir.


Dia segera memasukkan kode pin pintu, setelah di buka, ternyata kosong.


"Wah....bagus banget ruang kerja calon pimpinan gue," ucap Ines terpukau setelah mereka masuk ke dalam, Cindy juga melongo dengan mata membulat melihatnya.


Ara menuju ruang kamar tidur, kosong juga


dahi Ara mengerut.


"Kakak di mana?" gumannya pelan.


Dia mengambil ponselnya dan segera menelpon Moly.


"Assalamualaikum kak Moly."


"Waalaikumsalam nona muda."


"Kak, apa kakak ipar ada di kantor ?"


"Ada nona, tuan Rafa berada di ruang me...!"


Ara segera mematikan ponselnya karena dia tahu kelanjutan perkataan Moly.


"Ayo kita keluar." ucapnya cepat dan segera melangkah keluar dari ruangan.


"Tutup pintunya Nes..," ujarnya lagi seraya berlari terburu buru sambil mengambil kartu ATM nya di tas.


Moly tertegun di tempat duduknya mendapat telepon tiba tiba dari istri bosnya dan di tutup secara tiba-tiba pula.


Dia menatap Wisnu yang berdiri agak jauh di samping tuannya.


Wisnu kurang mengerti dengan arti tatapannya. Dia hanya dapat melihat bibir Moly yang mengeja kata No na Mu da.


"Nona muda?" batinnya.


Dia menoleh pada tuannya yang sedang berbicara di depan, tepatnya berada di belakang podium.


Saat ini mereka sedang mengadakan pertemuan penting, tentang hubungan kerjasama, serta lelang projects penting bersama tamu tamu penting serta para CEO dari beberapa perusahaan.


Wisnu segera beranjak dari tempatnya karena merasa tidak tenang, Moly juga beranjak dari tempat duduknya.


Pintu depan tiba tiba terbuka.


Ara melihat suaminya sedang berdiri di depan,


dengan cepat dia berlari menuju ke arah suaminya tanpa memperhatikan sekelilingnya.

__ADS_1


"Kakaaaak..." teriaknya agak keras sambil mengangkat kartu ATM nya ke atas dengan senang.


Rafa terkejut melihatnya dari depan, begtu juga dengan Wisnu dan Moly yang tidak mengetahui keberadaan nona mudanya di kantor ini.


"Kakak..," panggil Ara kembali terus berlari ke depan


"Sayang, jangan lari lari nanti jatuh ! tetaplah di situ." kata Rafa memperingatkan dirinya.


Ara tidak perduli dan tetap berlari.


"Berhenti sayang, nanti kau jatuh ! aku akan ke sana, stop di situ," suaranya terdengar keras di pengerak suara, menarik perhatian semua tamunya, mereka menatapi punggung Ara yang berlari ke depan.


Rafa segera turun dari podium dan melangkah cepat menyambut istrinya karena khawatir.


Ara tertawa kecil senang dan bahagia.


Ketika dekat dia langsung memeluk suaminya.


Bahkan naik dan menautkan kedua kakinya di belakang pinggang suaminya.


Rafa segera memeluk istrinya erat takut jatuh, dia mengecup kening dan bibir istrinya bergantian.


"Kenapa mesti lari lari sayang, nanti jatuh, pelan pelan saja jalannya," katanya kemudian, menatap bingung pada istrinya.


"Aku udah nggak sabar pengen memberi kakak sesuatu. Kakak lihat apa ini ?" ucap Ara dengan ekspresi senang dan gembira, memperlihatkan kartu ATM di depan mata suaminya.


"Kartu kredit ?" kata kata Rafa tersenyum dengan dahi mengerut, bingung ada apa dengan kartu itu.


Ara tersenyum mengangguk.


"Akhirnya aku bisa memenuhi janjiku pada kakak, aku senang sekali." Ara tertawa kecil dengan mata yang berkaca-kaca. Dia mengecup ngecup kening dan bibir suaminya bergantian. Melonjak lonjak kegirangan dalam gendongan suaminya masih belum sadar dengan keadaan yang mulai ribut di belakangnya memperhatikan mereka dengan berbagai pertanyaan.


Wisnu dan Moly berusaha menenangkan mereka.


Kilatan beberapa cahaya kamera mengagetkan Ara, dia langsung terdiam dengan mata melongo menatap pada suaminya, perlahan dia melirik kanan dan kiri.


"Kakak, apa di sini ada orang selain kita ?" bisiknya pelan yang sudah sadar Dane mendengar suara ribut-ribut di belakangnya.


"Banyak sayang," jawab Rafa tersenyum mengangguk pelan seraya memalingkan wajahnya pada semua orang yang berada di ruangan ini.


"Hah ?" Ara terbelalak seraya menutup wajahnya .


"Kenapa kakak nggak cepat ngingatin aku sih, bawa aku cepat dari sini," langsung menyembunyikan wajahnya di leher suaminya.


Terlalu senang dan tidak sabar untuk membagi kabar gembira pada suaminya sehingga tidak menyadari keberadaan orang orang di ruangan ini.


"Cepetan kak, aku malu," merengek rengek dengan wajah semakin memerah dan di tekan leher suaminya.


Rafa tertawa kecil mengecup puncak kepalanya.


"Baiklah sayang ...!"


Melihat ekspresi yang di tujukan nona mudanya, Wisnu dan Moly segera memberi isyarat pada juru kamera dan fotografer untuk berhenti mengambil foto dan menghapus setiap gambar yang mereka ambil.


Keadaan ruang rapat semakin ribut mempertanyakan tentang siapa Ara, yang datang tiba-tiba ke ruangan dan membuat jalannya acara pertemuan penting yang sedang berlangsung terhenti.


Lewat pintu samping, Rafa segera membawa keluar istrinya yang masih tetap dalam gendongannya keluar dari ruangan ini menuju cepat ruang kerjanya.


Setelah sampai dia langsung duduk dan memangku istrinya.


"Kita sudah di ruang kerja ku sayang ! angkat wajahmu sekarang." kata Rafa memegang kepala istrinya.


Pelan pelan Ara mengangkat wajahnya dari leher suaminya, dia langsung melihat wajah suaminya yang sedang tersenyum kecil menatapnya.


Wajahnya langsung berubah cemberut


"Kenapa kakak nggak cepat ngingatin aku sih," katanya kesal.


"Mereka pasti sedang membicarakan aku sekarang, juga berpikir buruk tentang aku."


Rafa kembali tersenyum dan mengecup ngecup gemas bibirnya yang mengerucut karena kesal .


"Nggak ada yang berani sayang, ada Wisnu di sana memastikan hal itu, sekarang katakan janji apa yang membawamu sampai senang dan segembira ini hingga tak sadar dengan keadaan di ruang meeting ?" ucapnya kemudian seraya melepaskan kacamata istrinya.


Mata Ara memicing, teringat kembali maksud kedatangannya menemui suaminya ini.


Dia kembali tersenyum senang.


"Aku ke sini memenuhi janjiku pada kakak !"


"Janji? janji apa sayang ?" tanya Rafa yang tidak mengerti dengan maksud perkataan istrinya . Apalagi melihat mata istrinya yang tampak di penuhi binar kegembiraan.


"Akhirnya setelah menabung dan mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, aku bisa mengumpulkan uang sebanyak ini dan dapat membayar semua hutang hutangku pada kakak," kata Ara kemabli tertawa senang.


Dia kembali menunjukkan kartu kredit di depan mata suaminya.


"Hutang ?" Rafa terkejut


Ara mengangguk "Iya ...!"


"Hutang apa sayang?"


"Kakak lupa? hutang ku 4M di tambah 650juta ! semuanya ada di sini, ini buat kakak." kata Ara kembali tersenyum senang menyodorkan kembali kartu kreditnya di depan mata Rafa.


Wajah Rafa langsung berubah. Dia sekarang ingat tentang uang itu, uang yang di pakai istrinya menolong Nesa dan membeli hadiah pernikahannya dengan Levina, serta janji istrinya akan mengembalikan semua uang itu sekuat dan semampu dia, dan janji itu di penuhinya sekarang ini, pantas saja Istrinya sangat senang.


Ternyata selama ini istrinya bekerja keras membantu pekerjaan Nesa, merancang dan mendesain berbagai model pakaian dan juga membuat hasil karya seni tangannya dan di jual ke internet dan website demi mengumpulkan uang membayar hutang itu.


"Sayang..." Rafa langsung memeluknya, terharu.


"Itu gak perlu sayang, kenapa kau harus kerja keras dengan diam diam hanya untuk mengembalikan uang itu, aku sama sekali gak menuntut mu untuk mengembalikannya, aku juga tidak membutuhkan uang itu ! untuk apa ? selama ini aku kerja keras cari duit hanya untukmu,"


"Tapi aku udah janji akan mengembalikannya ! nih kakak terima, aku senang sekali bisa menukarnya dengan hasil tangan, keringat dan keras kerasku." kata Ara meletakkan kartu itu di saku jas suaminya.


"Aku gak mau menerimanya, uangku banyak sayang, seharusnya kalau kau ingin mengembalikannya tak perlu kerja keras, cukup bayarnya dengan cara seperti ini saja...!" Rafa mengecup bibir istrinya 4 kali.


"Aku udah anggap lunas hutangmu sayang." lanjutnya kembali sambil tersenyum.


"Ihhh...kakak, aku gak mau bayarnya pakai cara gitu, nanti ujung ujungnya kakak macam macam lagi." Ara menatapnya kesal.


Rafa tertawa kecil.


"Aku nggak punya hutang lagi ya kak? janjiku udah ku penuhi, aku mau pulang, aku kesini sama teman temanku, mereka pasti sedang menungguku di luar, aku sampai melupakan mereka," Ara turun dari pangkuan suaminya. Tapi Rafa menahan tubuhnya.


"Bonusnya mana sayang ?"


"Bonus apa?"


"Persennya sayang."


"Tapi dulu kakak nggak ngomong pakai persennya, jadi aku nggak tahu. Dan aku nggak punya sekarang, emang berapa persennya ?" tanya Ara dengan wajah serius.


Rafa tersenyum kecil dengan kepolosan Istrinya ini.


"Nggak perlu di uangkan sayang, cukup beri 4 kali kecupan di sini, aku hanya perlu itu." katanya kemudian sambil menunjuk bibirnya.


Ara mendesis kesal dan cemberut.


"Nggak mau ah, nanti macam macam lagi."


"Macam-macam gimana? hanya kecupan aja, tapi ya terserah. Tetap di sini, nggak boleh ke mana mana sebelum bayar bunganya." tersenyum jahil.


"Ih, kakak kayak rentenir pemakan riba deh."


Rafa kembali tertawa kecil.


"Tuhan nggak marah dan kasih dosa jika ribanya bibir kamu sayang," katanya kemudian, lalu segera melumati bibir istrinya, sejak dari tadi benda kenyal merah alami itu menggodanya.


Ara kaget mendapat serangan tiba-tiba, dia terdiam sesaat, lalu perlahan mulai membalas ciuman suaminya karena terbuai suasana.


Saling membalas dengan lembut dan hangat . menyesapi dan menikmati, hingga makin lama makin panas penuh gairah.


Ara segera menarik penyatuan bibir mereka . Dan juga mengeluarkan tangan suaminya dari dadanya, dia tersengal-sengal dan mengatur nafasnya pelan pelan.


"Cukup kak, aku harus keluar sekarang ! Ines dan Cindy sudah kelamaan menungguku."


"Baiklah sayang." ujar Rafa sedikit kecewa, dia segera mengunci kembali bra dan kancing blouse istrinya, memperbaiki rambut keritingnya dan memakaikan kacamatanya.


Ara segera turun dari pangkuan suaminya . Rafa ikut bangkit berdiri, mereka segera melangkah menuju pintu.


"Sayang, kau benar akan keluar ?" Rafa kembali memeluk tubuh istrinya dari belakang, mengecup tengkuk dan leher istrinya, tidak rela istrinya akan pergi, apalagi mengingat kejadian semalam, dia tidak bisa leluasa dan tidak bebas memeluk tubuh istrinya karena adanya si kembar yang tidur bersama dengan mereka.


Si kembar tidak mau lepas dari tubuh Ara dan terus memeluk tubuh istrinya itu hingga subuh datang, membuat dirinya tersiksa sepanjang malam.


Ara segera membalikkan badannya, memegang wajah suaminya lembut.


"Aku gak enak sama teman temanku kak ! kasihan mereka menunggu, aku sudah sering membuat mereka menunggu seperti ini ! dan lagi pula, kakak juga harus secepatnya kembali ke ruang meeting bukan?" katanya pelan, lalu mengecup kening dan bibir suaminya lembut.


"Maaf ya, sudah menganggu pertemuan penting kakak." ucapnya lagi.


Lalu segera membalikkan tubuhnya kembali dan menarik pintu.


"Lepas dong kak, aku mau keluar." pintanya lagi merasakan pelukan suaminya masih mengerat di perutnya.


"Dia tidak ingin kamu pergi sayang." berkata sedikit manja dan memelas seraya menekan miliknya yang mengeras pada bokong istrinya .


Ara menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan pelan.


"Mengertilah dong kak, aku mohon ! jangan membuat aku jadi istri yang berdosa pada suami." katanya memelas.


Rafa membuang nafas berat, kecewa lagi yang dirasakan, tapi dia tidak bisa memaksa kalau istrinya sudah memohon dan berkata seperti ini. Dia mengecup tengkuk dan leher istrinya berulang, lalu melepaskan pelukannya.


Ara berbalik sejenak, menatapnya dengan tersenyum.


"Maaf ya kak." mengecup pipi kiri suaminya lembut, lalu segera melangkah keluar.


Rafa menatap kepergiannya dengan senyuman manis, meski saat ini dia sangat tersiksa.


Dia benar benar sudah sangat kecanduan dengan tubuh indah istrinya sehingga tak ingin melepaskannya.


Berdiam diri beberapa saat dalam ruangannya menenangkan miliknya, lalu segera keluar menuju kembali ke ruang pertemuan.


*****

__ADS_1


__ADS_2