Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 168


__ADS_3

...Happy Reading....


Ara langsung berdiri melihat kedatangan mereka. Moly memberikan senyum kepadanya."Maaf ya, membuatmu menunggu lama." katanya sambil menyentuh tangan Ara.


Rafa mendekati Ara. Ara kaget dan mundur.


"Diam di tempat mu." kata Rafa. Dia menatap ke arah leher Ara. Ingin memastikan tanda merah yang di katakan Moly tadi. Dan ternyata benar, setelah di lihat sedikit lama, ada 3 bekas tanda baru berwarna merah berada di leher putihnya. Dua berwarna keunguan, tanda yang di lakukan semalam.


Rafa tidak menyadari telah membuat tanda itu.


Suara adzan dzuhur menggema di hp Ara. Ara segera mengecilkan speaker ponselnya, lalu menoleh pada Rafa.


"Aku akan kembali ke kampus." kata Ara. Dia juga mau ke mesjid untuk shalat.


"Tetaplah di sini. Sudah waktunya shalat Zuhur. Shalat lah di sini." kata Rafa.


Ara jadi bingung. Tadi suruh kembali ke kampus, kini tidak lagi. Entah apa yang di pikirkan kakak iparnya. Hatinya selalu berubah ubah. Dia tidak mau membantah.


Ara menoleh pada buk Moly.


"Buk Moly apakah di sini ada mushallah?" tanyanya.


Moly menoleh pada Rafa. Yang di balas Rafa dengan tatapan.


"Ada Nona, mari saya antar anda." Moly berbalik menuju ke tempat tidur Rafa yang tadi.


Ara memperhatikan keadaan di dalam, terdapat sebuah ranjang mewah juga furniture mewah lainnya.


"Ini ruangan apa buk?" karena setahunya dia ingin ke musallah.


"Ini kamar tidur, biasa di gunakan untuk melepaskan lelah setelah bekerja! Musallah ada di lantai 40, tapi anda bisa shalat di sini." kata Moly seraya menunjuk ruang Shalat di sudut kamar ini.


Ara terpukau. Di ruang kantor terdapat juga kamar tidur yang luas, fasilitas lengkap. Juga ruang untuk shalat yang cukup luas.


"Nona bisa shalat di sini. Pimpinan saya juga selalu shalat dan istirahat disini."


Ara termangu, dahinya mengerut memikirkan sesuatu."Pimpinan Anda?"


Moly tersenyum, menangkap apa yang di pikirkan Ara."Iya, pimpinan, bos saya. Hanya untuk shalat dan beristirahat, bukan untuk yang lain lain."


Ara buru buru tersenyum, merasa nggak enak.


"Maaf bu, saya tidak bermaksud berpikiran aneh."


"Santai saja, Nona. Anda bisa menggunakan semua fasilitas yang ada di sini. Silahkan__! Saya tinggal dulu." kata Moly.


Ara mengangguk.


Moly segera keluar. Dia juga mau shalat di ruangannya. Ara meletakkan tasnya di sofa. Dia kembali menatap sekelilingnya. Rak kecil yang di atasnya terdapat sajadah dan Songko, serta pakaian shalat pria. Ada juga Alquran.


Ara masih ingin ke balkon, tapi mengingat waktu shalat yang terus berjalan, dia segera menuju kamar mandi untuk bersih bersih.


Kamar mandinya juga luas dan mewah, tersedia peralatan mandi. Bahkan di dalam ada ruang pakaian dan lemari kaca pakaian.


Terlihat beberapa setelan jas kantor tergantung di dalam.


Ara diam terpaku. Dia berpikir setelah melihat setelan jas jas tergantung di sana.


"Kata buk Moly ini adalah ruangannya, tapi kenapa hanya ada pakaian kantor lelaki semua?" batinnya.


Tapi karena mengingat waktu shalat akan habis, dia mengabaikannya pertanyaan itu.


Saat buang air kecil, Ara merasakan sesuatu di bawah sana pada area pribadinya. Dia mendesah sedih.


Ara segera melepaskan pakaiannya satu persatu untuk bersih bersih. Tidak menyadari kalau di ruang ini terdapat CCTV tersembunyi.


Tapi pemilik ruang ini segera mematikan CCTV saat dia mulai melepaskan pakaiannya.


Guyuran air shower membuat tubuh Ara terasa segar. Aroma wangi sampo dan sabun mandi meresap di hidungnya. Beberapa saat kemudian dia mengakhiri ritual mandinya. Ara segera memakai bathrobe. Dia masih mencuci barang pribadinya dan di keringkan di dekat wastafel dekat lemari pakaian kaca.


Berharap benda segitiga itu cepat kering.


Ara keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil milik Rafa, lalu di bungkusnya.


Saat memasuki ruang kamar, dia terkejut melihat Rafa duduk di sofa. Kakak iparnya itu memakai peci songko warna hitam yang di lihatnya tadi, serta kemeja putih dan celana kantor.


"Kakak ipar?" tanyanya heran. Kenapa Rafa berada di sini.


"Kita shalat sama sama." ucap Rafa menatapnya. Memperhatikan Ara yang menggunakan mantel mandinya dan juga handuk yang melilit di kepala.


"Kamu mandi?" tanyanya melihat rambut Ara yang nampak basah.


"I-iya kak!" jawab Ara pelan dan canggung tanpa berani melihat wajah Rafa.


Rafa segera bangkit dan berjalan menuju sudut kamar. Tersungging sebuah senyuman di bibirnya mengetahui Ara mandi besar.


"Cepat pakai pakaian dan mukena mu. Kita akan shalat bersama." kata Rafa.


Ara tidak membantah meski sebenarnya dia hendak menanyakan sesuatu. Ara segera kembali ke kamar mandi dan memakai pakaian. Lalu keluar lagi. Untung air di rambutnya sudah tidak meleleh. Ara mengeluarkan mukena dari dalam tasnya. Lalu memakainya.


Dia ragu dan canggung untuk berdiri di belakang kakak iparnya.


"Cepatlah, nanti waktunya keburu habis." kata Sambil menggelar sajadah.


Ara segera meletakkan sajadahnya di belakang Rafa. Sejenak dia teringat suaminya. Selalu melakukan shalat lima waktu bersama.


"Kak Raka, aku merindukan mu." bisik nya pelan, sedih.


Rafa mendengarnya bisikan itu. Dia menenangkan diri dan fokus, lalu segera membaca niat.


15 menit berlalu, mereka selesai melaksanakan shalat. Ara mencium tangan kakak iparnya. Lalu melepaskan mukenanya dan di simpan kembali kedalam tas.


"Kau tidak perlu balik lagi ke kampus." ujar Rafa melihat ke arahnya.


Dahi Ara mengerut. Ingin bertanya alasannya tapi keburu ponselnya berdering. Ara segera mengambilnya dari dalam tas. Nomor baru di lihatnya.


Dahinya kembali mengerut


"Nomor telepon siapa ini?"


Dia segera mengangkatnya.


"Halo, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Nona Ara ini saya, bu Kusnadi."


"Ibu Kusnadi? Ada apa bu? Semuanya baik baik saja kan?" kata Ara khawatir setelah mendengar nama ibu kusnadi.


Ara mendengarkan penjelasan dari ibu Kusnadi kenapa dia menelpon Ara.


"Benarkah? Alhamdulillah, ya Allah." ucap Ara tersenyum senang.


Rafa memperhatikannya sambil meletakkan sajadah dan songko pada rak.


Tidak lama kemudian Ara segera mematikan ponselnya. Dia tertawa kecil bahagia sambil tak henti mengucap rasa syukur dan terimakasih pada Allah.


"Ada apa?" tanya Rafa penasaran.


"Pak Kusnadi kak. Beliau sudah di bawa ke rumah sakit. Dia akan segera menjalani pengobatan dan juga operasi. Istrinya barusan mengatakan mobil ambulance telah datang menjemputnya. Aku sangat senang, akhirnya penderitaan pak Kusnadi akan segera berakhir." tuturnya terharu.


Tiba tiba senyuman langsung meredup teringat sesuatu. Melihat peci songko yang di kenakan Rafa tadi di letakkan pada rak.


"Kakak ipar__" panggilnya pelan.


Hmmm? suara Rafa.


"Apa peci dan sajadah itu milik kakak?"


Rafa hanya mengangguk seraya membuka kancing tangannya.


"Apa kakak selalu melaksanakan shalat di sini?" tanya Ara curiga.


Rafa kembali mengangguk. Melangkah menuju kamar mandi.


"Kakak mau kemana?"


"Kamar mandi." jawab Rafa terus berjalan.


Hah? Ara terbelalak, dia segera berlari menghadang jalan Rafa.


"Tunggu sebentar, jangan dulu ke sana. Aku mohon ya?" sambil meletakkan kedua tangannya di depan dada.


Rafa menatapnya heran.


"Kamu kenapa sih?" dia kembali melangkah melewati Ara.


"Aku mohon, jangan dulu ke sana, please." Ara kembali menghadang jalannya dengan wajah memelas.


Rafa semakin bingung dan tidak mengerti.


"Minggir Ara, aku mau mengganti kemejaku. Sebentar lagi aku ada pertemuan penting." katanya melepaskan pegangan Ara.


Ara melongo mendengar perkataannya.


"Kakak mau apa?"


"Aku mau mengganti kemejaku. Lihat nih basah waktu ngambil air wudhu tadi. Cepat minggir, jangan halangi jalanku!"


"Jadi pakaian yang di lemari itu milik kakak?"

__ADS_1


"Ya iya, emang kenapa sih? Apa yang kamu lakukan dengan pakaian ku? Apa kamu mengotorinya? apa kamu melakukan sesuatu yang buruk di dalam sana? Sampe kamu menghalangi aku ke kamar mandi begini?"


Ara kembali melongo.


"Kata bu Moly, pimpinannya selalu beristirahat dan melaksanakan shalat di kamar ini. Aku sempat ragu kalau kamar ini milik buk Moly setelah melihat pakaian lelaki di lemari kamar mandi. Jadi artinya kamar ini bukan punya buk Mol, Tapi__!" Ara melihat wajah Rafa yang juga sedang menatapnya." Apa milik kakak?" lanjutnya bertanya.


Rafa kembali mengangguk.


"Ruang kerja ini juga milik kakak?"


"Iya," Rafa mengangguk kembali menatap wajahnya.


Mata Ara membulat."Berarti kakak?" menyadari sesuatu.


Rafa memegang dagu Ara sambil menatap dalam-dalam."Berarti aku pimpinan di perusahaan ini." katanya kemudian.


Mata Ara kembali membulat sempurna.


"Jadi perusahaan ini milik kakak?" tanyanya seakan tak percaya.


Rafa mendekatkan wajahnya sangat dekat.


"Kau benar nona Azahra Radya Almira. Perusahaan ini milikku. Aku bosnya." bisik nya pelan."Sekarang kamu sudah tahu kan?" ujar Rafa kembali sambil menepuk dahi Ara yang kebingungan.


Aow....Ara meringis sambil memegang dahinya yang sakit.


"Minggir, jangan menghalangi jalanku." ujar Rafa sambil mendorong pelan tubuh Ara ke samping. Kembali melangkah menuju kamar mandi.


"Jadi perusahaan besar ini milik kakak ipar?" batin Ara seakan tak percaya. Sudah dua kali dia datang ke tempat ini dan tidak mengetahui kalau gedung megah bertingkat banyak ini adalah kantor pusat perusahaan milik kakak iparnya sendiri.


Pantas saja Moly sangat menghormati dirinya saat di bawah tadi.


Ara menatap punggung Rafa. Sesaat kemudian dia tersadar dari lamunannya dan teringat pak kusnadi.


"Kakak ipar." panggilnya pelan.


Rafa menghentikan langkah mendengar panggilan itu. Dia segera berbalik.


"Berarti kakak yang telah memasukkan pak Kusnadi ke rumah sakit?" tanya Ara kembali dengan suara rendah.


Rafa diam tak menjawab, dia hanya menatap Ara sesaat, lalu segera membalikkan tubuhnya dan melanjutkan langkah.


Ara tersenyum terharu, dia melangkah cepat. Dan begitu dekat segera memeluk tubuh kakak iparnya dari belakang karena saking senangnya.


Rafa kaget dan menghentikan langkah. Pandangannya di alihkan kebawah melihat ke dua tangan yang melingkar erat di perutnya.


Dia tidak menyangka Ara akan memeluknya seperti ini.


"Terimakasih, terimakasih atas kebaikan kakak." ucap Ara terharu.


"Sudah sangat lama pak kusnadi terbaring lemah tak berdaya menahan penderitaan atas penyakitnya. Aku sungguh tidak tega melihat penderitaannya. Mereka orang yang sangat miskin tak punya apapun selain doa dan harapan. Dan Allah telah mengabulkan doa doa dan harapan mereka melalui kakak." kata Ara kembali dengan suara serak.


"Semoga Allah membalas kebaikan kakak dan melipatgandakan rezeki lebih banyak lagi. Aku sangat senang sekali, aku lega dan bisa tenang. Tidak lama lagi pak Kusnadi akan sembuh dan tidak akan merasakan sakit lagi. Beliau akan tersenyum kembali dan bisa mencari nafkah lagi untuk keluarganya setelah sembuh nanti. Terimakasih kakak ipar, terimakasih atas kebaikan dan kepedulian mu." ucapnya haru dan tulus.


Rafa tersenyum dan ikut terharu. Dia membalikkan tubuhnya perlahan. Dia menatap Ara, melihat mata teduh yang basah karena rasa haru dan bahagia. Keduanya saling menatap dengan tubuh sangat dekat karena Ara belum sadar dengan pelukannya pada pinggang Rafa yang belum di lepas.


"Aku juga senang bisa membantu. Dan melihat kamu tersenyum seperti ini, aku sangat senang dan bahagia. Jadi jangan menangis lagi. Aku paling tak tahan melihat kamu mengeluarkan air mata." ucapnya seraya menyapu kedua ujung mata Ara yang basah.


Ara mengangguk tersenyum.


"Sekarang lepaskan pelukan mu. Aku mau ke kamar mandi." ujar Rafa kembali, sambil melepaskan tangan Ara yang masih memegang pinggangnya.


Hah? Ara tersadar setelah menyadari tengah memeluk Rafa. Dia buru buru melepas pelukannya. Sekaligus kembali teringat dengan barang pribadinya yang berada di dalam.


"Sebentar. Aku mau ngambil sesuatu di dalam. Kakak jangan masuk dulu." tak ingin Rafa melihat pantiesnya.


"Kamu kenapa sih, dari tadi nahan aku ke kamar mandi." tanya Rafa heran.


Ara segera berlari ke kamar mandi tak mengindahkan pertanyaannya. Rafa semakin heran dan tidak mengerti. Dia segera melangkah cepat menyusul wanita itu.


Begitu sampai di kamar ganti pakaian, Ara langsung memungut barang pribadi miliknya dan di sembunyikan di belakangnya.


Bersamaan dengan masuknya Rafa.


"Apa itu?" tanya Rafa menyelidik melihat belakang Ara.


"Mmm__bukan apa-apa." Ara geleng geleng kepala.


"Bukan apa apa tapi kenapa di sembunyikan?


Cepat perlihatkan padaku." Rafa meraih tangannya.


Ara mundur berusaha menghindar. Rafa ikut maju dan berusaha merebut apa yang digenggam Ara di belakang.


"Jangan kak, aku mohon jangan di lihat, ini barang pribadi ku. Aku mau keluar, jangan menghalangi ku." Ara berusaha menghindar sambil memegang kuat barang pribadinya. Dia mendorong tubuh Rafa yang malah seperti memeluk dan mengurungnya dengan kedua tangan yang meraih apa yang ia pegang di belakang tubuhnya.


"Apa?" Ara kaget."Kakak asal nuduh aja, mana mungkin aku berani mengambil barang kakak. Ini punya ku. Awas dong kak, aku mau keluar." katanya mulai kesal karena di tuduh mengambil sesuatu.


Karena tidak melihat dan mendapatkan apa yang di sembunyikan Ara, Rafa menekan tubuh Ara kebelakang hingga membentur pinggiran wastafel, dia mengurung tubuh Ara di sana.


Ara kaget."Ka-kak mau apa?" mulai cemas melihat wajah Rafa yang sangat dekat dengan wajahnya. Kedua tangan Rafa menopang pada wastafel mengurung tubuhnya. Jarak mereka yang sangat dekat semakin membuat Ara takut.


"Kakak mau apa? Jangan seperti ini. Minggir, Biarkan aku keluar." ucap Ara dengan nafas tak beraturan.


Rafa menatapnya lekat. Tersenyum tipis.


"Memangnya apa yang ada dalam pikiran mu?" menyentuh bibir Ara dengan jahilnya.


Ara segera menahan tangan Rafa dengan satu tangannya. Dia takut Rafa akan menciumnya lagi.


"Kakak mau apa? Jangan mencium ku lagi." mengatupkan bibirnya.


Rafa kembali tersenyum.


"Kenapa kamu takut aku mencium mu? sementara kamu sendiri berani mencium dan menyentuh tubuh ku?" bisik Rafa kembali mendekatkan wajah mereka.


Ara menelan ludahnya menarik mundur wajahnya kebelakang.


"Jangan terus menekan ku dengan pertanyaan itu. Aku juga menyesal telah melakukannya. Tolong menjauh dariku, aku takut kita seperti ini." katanya dengan suara serak. Sedih dan takut jika Rafa akan macam macam lagi.


Wajah Rafa mengernyit


"Takut? Apa yang kau takutkan? memangnya apa yang kita lakukan?" menyentuhkan hidungnya dengan hidung Ara. Satu tangannya terangkat dan menyentuh kembali bibir Ara.


Ara cepat menahan tangannya


"Jangan lagi kak, aku mohon." pintanya memelas.


Rafa tersenyum dalam hati


"Hanya di cium saja membuat nya sangat takut." batinnya.


"Tolong jangan seperti ini kak! Jangan lagi! Ini gak baik. Bolehkah aku meminta sesuatu?" Ara menatapnya dengan memelas.


Kening Rafa mengerut. Untuk pertama kalinya gadis ini meminta sesuatu darinya.


"Tentu saja boleh, apa pun yang kau minta akan kuberi, asalkan satu, jangan meminta ku untuk menjauh darimu," batinnya.


"Katakan." katanya kemudian menatap mata Ara.


Ara menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan pelan.


"Jika aku melakukan kesalahan atau sesuatu yang membuat kakak marah, bisakah kakak jangan menghukum aku seperti tadi di ruang kerja? Berikan aku hukuman lain, apa pun itu akan ku terima. Tapi jangan hukum dengan mencium ku." katanya serak.


Rafa terhenyak.


Ara menelan ludahnya.


"A_aku takut dengan apa yang kita lakukan.


Aku takut dengan apa yang terjadi di antara kita. Karena itu sesuatu yang tidak pantas kita lakukan. Aku takut_aku sangat takut. Ini sesuatu yang tidak baik. Kita melakukan sesuatu yang sudah sepantasnya di lakukan oleh___"


Cup, Rafa mengecup bibirnya tiba tiba memotong ucapannya. Dia mengerti apa yang di pikirkan adik iparnya ini.


Ara kaget sambil menyentuh bibirnya.


"Aku menyukaimu." ucap Rafa sambil menatap lekat pupil mata Ara. Dia sangat gemas melihat bibir mungil ini. Bicara tanpa jeda di sertai luapan emosi.


"Aku menyukaimu Ara." bisiknya lagi menegaskan perasaannya yang


di pendam selama ini. Perasaan cinta yang membuatnya sangat tersiksa dan menderita.


Rafa kembali mendaratkan kecupan, membuat Ara kembali terkejut.


"Kau dengar? ayku menyukaimu Azahra Radya Almira. Aku suka sama kamu." katanya Rafa kembali menatap dalam.


Ara kembali terbelalak mata membulat sempurna. Dia menatap kakak iparnya seakan tak percaya


"Kakak bicara apa? Kita ini adalah kakak dan adik ipar. I-ini tidak benar." ujarnya terbata bata. Perkataan Rafa membuatnya takut, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.


Keduanya saling bertatapan lekat.


Rafa memegang dagunya.


"Kalau kau tidak ingin aku menghukum mu seperti tadi, jangan berhubungan dengan laki laki lain di luar sana. Jauhi laki-laki yang memelukmu kemarin di salon. Aku sangat tidak menyukainya, jauhi dia. Jangan berhubungan lagi dengannya, mengerti?" kata Rafa tegas penuh penekanan.


Rafa membuang nafas kasar melihat wajah Ara yang takut dan gelisah.


"Sudahlah, jangan di pikirkan apa yang aku katakan. Jika kau butuh sesuatu untuk kau pakai, beritahu Moly. Sebentar lagi kita makan." ucapnya segera mengalihkan pembicaraan melihat kedua tangan Ara mulai gemetar.

__ADS_1


Dia menarik mundur tubuhnya, lalu segera menuju lemari mengambil pakaiannya seraya


membuka kancing dan segera melepaskan kemejanya.


Ara masih bengong di tempatnya sambil menatap lantai. Pikirannya tak menentu, memikirkan apa yang di katakan Rafa barusan dan juga ciuman yang di lakukan Rafa padanya. Ara sungguh takut.


Sebuah ketukan di dahinya kembali membuatnya meringis kesakitan dan tersadar dari lamunannya.


"Aduh, kenapa sih kakak selalu ku melakukan itu padaku?" sambil menekan dahinya.


"Bengong aja, aku sudah bilang tidak usah di pikirkan. Keluarlah, aku mau berganti pakaian. Atau kau ingin menemaniku berganti pakaian?" meraih pinggang Ara hingga menempel kembali ditubuhnya.


Ara terkejut, dan lebih terkejut melihat tubuh atas Rafa telanjang, dada kekarnya yang putih berotot dan ...


Ara segera menutup mata, tak ingin melihat.


"I iya, aku akan keluar. Lepaskan aku." memegang kuat barang pribadinya dan berusaha melepaskan pelukan Rafa dengan tangannya yang satu


Tapi pelukan Rafa terlalu kuat, sulit baginya untuk lepas.


"Lepas kak, aku mau keluar."


"Apa itu yang kau pegang? dari tadi kau menyembunyikannya. Cepat perlihatkan padaku. Kalau tidak, kau tidak boleh keluar." teringat kembali apa yang di sembunyikan Ara darinya.


Dahi Ara mengerut."Kakak tidak boleh melihat nya, karena ini barang pribadi ku." menjauhkan dari tangan Rafa yang berusaha menggapai tangannya.


Tanpa di sadari pergerakan tubuh mereka yang ingin merebut dan mempertahankan, membuat tubuh mereka bersentuhan tanpa celah. Termasuk dada mereka. Bergesekan berulang kali.


Rafa merasakan hal itu, gesture tubuh Ara pada tubuhnya. Dan Ara tidak menyadarinya.


Rafa tersenyum tipis.


"Cepat buka tangan mu, perlihatkan."


"Nggak, ini sesuatu yang memalukan, sungguh. Kenapa kakak tidak mengerti juga?" Ara menatap kesal.


"Kenapa kau sangat keras kepala, cepat perlihatkan atau aku cium." kata Rafa agak keras menatap tajam dan mengancam.


Ara terkejut.


"Kenapa kakak selalu memaksaku seperti itu?" katanya mendengar ancaman itu. Rafa selalu mengancamnya dengan kata kata itu.


sedih, wajah cemberut.


"Kau juga selalu membantah ucapan ku! Sekarang perlihatkan padaku. Atau kamu pilih yang mana?" kembali mengancam.


Ara terdiam dengan wajah cemberut.


Ingin sekali dia berteriak keras menyerukan penolaknya. Dia semakin kesal. Wajahnya berubah mendung. Dia memikirkan sesuatu, antara memperlihatkan barang pribadinya atau di cium. Sungguh dia benci dengan keadaan ini, tapi tidak dapat melawan. Karena konsekuensinya akan semakin besar.


Perlahan dia memejamkan mata.


"Cium saja." katanya pelan dengan lirih. Lebih memilih di cium dari pada harus memperlihatkan pantiesnya. Karena itu sangat memalukan. Toh di cium juga hanya sesaat.


Rafa melongo mendengar pilihannya. Dia tertawa dalam hati. Menatap wajah di depannya yang cemberut sedih. Wajah cantik dan manis menenangkan bagi siapa saja yang melihatnya. Alis matanya yang lentik alami memanjang. Bibirnya yang mungil merah alami tanpa gincu. Membuatnya selalu tergoda dan ingin terus menikmatinya.


"Baiklah jika itu pilihanmu Nona Ara." menyentuh pelan bibir Ara, membuat Ara kaget dan bergidik.


"Tapi ingat, kau harus membalas ciuman ku juga. Bibirmu jangan hanya diam. Ikuti pergerakan bibirku." sambung Rafa kembali tersenyum jahil.


Dahi Ara mengerut.


"A_apa? Kakak yang mau cium kenapa aku harus membalasnya?" tidak mau.


Rafa semakin tersenyum lebar. Dia segera memegang tangan Ara yang memegang barang pribadinya, mengancam.


Ara terkejut.


"Ba_baiklah." katanya cepat semakin kesal.


"Tapi janji dulu hanya cium di bibir. Jangan mencium yang lain." ucapnya malu malu. Mengingat ciuman Rafa selalu merambah ke leher, bahu dan telinganya.


Senyuman Rafa semakin mengembang mendengar perkataan itu. Begitu polosnya wanita muda ini. Sifatnya yang masih ke kekanak-kanakan sesuai dengan umurnya yang masih sangat belia.


Perlahan Rafa mendekat kan wajahnya


"Buka mulutmu, jangan di katup begitu." katanya memperhatikan wajah yang takut takut dengan mata yang sedang terpejam.


Ara menelan ludah sambil membuka mulutnya sedikit. Hembusan nafasnya menerpa wajah Rafa. Rafa menelan saliva menatap bibir merah alami yang tampak terbuka ini.


"Sungguh sempurna tuhan menciptakan dirimu." batinnya terpukau melihat keindahan di depannya ini. Dia sudah tak tahan ingin menikmatinya kembali.


"Maafkan aku memperlakukanmu seperti ini Ara." batinnya kembali merasa bersalah. Semua karena cinta dan juga __nafsu yang menguasai diri dan tidak dapat di kendalikan.


Perlahan Rafa menyentuhkan bibirnya di bibir Ara. Membuat Ara kembali kaget dan bergidik.


"Kau pasti tahu kan bagaimana posisi orang yang berciuman?" kembali menjahili adik iparnya ini sambil tersenyum kecil.


Ara kembali mengeluh sedih dan semakin kesal. Perlahan dia mengalungkan kedua tangannya di bahu kekar Rafa.


"Bolehkah kakak pakai kemeja dulu?" risih saat menyentuh bahu dan leher Rafa tanpa penghalang karena tidak memakai kemeja.


Dahi Rafa mengerut mendengar ucapannya.


Dia kembali tersenyum.


"Kenapa? Sebelumnya kau sudah berulangkali melihat dan menyentuh tubuhku telanjang seperti ini bukan?" katanya seraya menekan tubuh Ara di lemari.


Ara terkejut.


"Jangan ungkit itu lagi kak," wajah manyun. Rafa terus menggunakan senjata itu untuk memojokkannya.


Rafa tersenyum lebar."Mari kita mulai ciumannya Nona Azahra." bisik Rafa di telinganya sambil tersenyum licik. Dia segera mendaratkan bibirnya di bibir Ara, mengecup lembut. Wajah Ara bergidik, Rafa melihatnya.


Kemudian mengecup dan di kecupnya lagi.


"Kenapa kau tak membalas?" tanyanya melihat Ara hanya diam.


Ara menelan ludahnya dengan wajah cemberut.


"Buka matamu, bagaimana kau bisa melihat bibir ku dengan mata terpejam seperti itu?"


Ara mengeluh berat dengan kekesalan yang semakin mendalam. Perlahan dia membuka mata, membuat mata mereka saling menatap satu sama lain.


Dia mendekatkan bibirnya dan mengecup bibir Rafa pelan. Di kecup lagi dan lagi dengan menjijit kan jari kakinya karena tingginya lelaki ini.


Tubuh Rafa bergetar. Darahnya terasa panas bergejolak menjalar di sekujur tubuhnya.


Tanpa pikir panjang dia segera membalas ciuman Ara. Ara membalasnya, membuat Rafa semakin bergairah dan terangsang. Dia semakin gencar menyerang bibir Ara. Memasukkan lidahnya kedalam mulut Ara.


Keduanya terlibat perang lidah karena Ara mengikuti gerakan bibir dan lidahnya.


Ara mengeluh tertahan, merasakan sensasi indah. Cumbuan yang sering Raka lakukan padanya. Tanpa sadar dia membalas dengan intens seolah sedang menanggapi ciuman Raka, suaminya.


Suara suara merdu keluar dari mulutnya. Rafa menyerangnya dengan liar, lembut dan kadang ganas. Membuat dia ikut kehilangan kesadaran dan membalas Rafa. Bahkan kedua tangannya tanpa sadar turun dan menyentuh lembut di dada Rafa. Membuat Rafa semakin menegang, gairahnya semakin menggebu-gebu. Ara di buat mendesah dengan jeritan tertahan.


Ara hilang kesadarannya, barang pribadinya terlepas dari genggaman dan jatuh di antara dada mereka yang menempel.


Keduanya saling membalas dan mengeksplor


kehangatan bibir satu sama lain.


Dalam pergerakan ciumannya Rafa melihat kain tipis berenda warna maroon itu, yang di rasakan basah jatuh di antara dadanya.


CiDi ? batinnya.


Berarti saat ini dia tidak memakai...? batin Rafa kembali. Dia tersenyum dalam hati, melirik mata yang sedang terpejam dan membalas ciumannya dengan nafas memburu cepat.


Rafa menarik penyatuan bibir mereka melihat Ara kesulitan bernafas, dan beralih melabuhkan wajahnya di leher Ara. Memberikan kecupan dan h***pan dan g**itan kecil. Lidahnya menjalar liar sampai telinga Ara. Membuat Ara semakin terbang melayang.


"Akh__" tanpa sadar meremas kuat Pd Rafa hingga kukunya mencakar bagian dada itu.


"Kakak... cukup...tolong hentikan. Aduh kak sakit." Ara tersadar merasakan gigitan di lehernya. Dia mendorong tubuh Rafa.


"Cukup, hentikan. Apa yang kakak lakukan? Kakak sudah berjanji hanya ciuman di bibir."


Ara cepat membenamkan wajahnya di dada Rafa, menekan kuat, agar Rafa tak lagi menciumnya. Ke-dua tangannya mengalun kuat di perut Rafa. Tapi malah tengkuknya yang kembali menjadi sasaran kecupan dan jilatan lidah Rafa.


Tubuh Ara kembali bergetar dan tegang.


"Sudah kak, hentikan. Ini sudah melampaui batas. Ini tidak wajar kak. Cukup, aku mohon." terisak-isak, tubuhnya bahkan gemetaran.


Rafa terhenyak dan menghentikan ciumannya. Mulai sadar dan menyadari keadaan. Lagi lagi dia hilang kendali. Sungguh wanita ini benar benar membuatnya hilang kesadaran dan kendali. Dia mengatur nafasnya pelan pelan, sembari tangannya menyapu lembut rambut Ara dan memperbaikinya.


Ara segera mundur merasakan pelukan Rafa yang renggang. Dengan gerakan cepat dia berbalik dan melangkah keluar dari kamar mandi dan melupakan barang pribadinya.


Rafa tertegun melihatnya berlari keluar.


Ada rasa bersalah di hatinya. Dia memungut pelan barang pribadi Ara yang jatuh ke lantai. Memperhatikan sejenak.


"Ini yang di pertahankan sejak tadi? Pantas saja dia lebih memilih untuk berciuman." gumamnya.


Rafa membawa kain tipis yang masih basah itu ke wajahnya. Di tekan pada hidungnya, di ciumnya dalam dalam.


"Maafkan aku, aku melakukan ini karena aku mencintaimu. Sungguh aku sangat mencintaimu sayang." ucap Rafa.


Dia mengambil ponselnya di saku, lalu mengetik sesuatu dan di kirim kan pada Moly.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2