
Cindy turun dari mobil tanpa menunggu Dion membuka pintu untuknya.
Dia masuk ke dalam rumah.
Di dapatinya Dinda dan pamannya sedang duduk di ruang keluarga.
"Baru pulang Cind?" tanya Dinda yang sedang memegang majalah.
"Iya ma.." jawab Cindy sambil mendekati mertuanya, lalu segera menyalami tangan mereka.
Dion yang baru masuk ikut mendekat.
"Kalian duduk dulu, papa ingin mengatakan sesuatu yang penting." kata Raymond Alkas menatap mereka bergantian.
Dion segera duduk.
Cindy juga ikut duduk tapi di kursi sebelah.
Dinda memerhatikan keduanya yang tampak berbeda.
Dion terlihat tegang, Cindy dengan wajah kesal.
"Apa semuanya baik baik saja?" tanyanya menatap keduanya silih berganti.
Keduanya kelabakan dan saling pandang sekilas.
"Iya ma..," jawa keduanya segera seperti di komando.
"Apa kata dokter?"
"Semuanya baik ma, tidak ada masalah. Oh ya, Apa yang ingin papa bicarakan?" Dion mengalihkan pembicaraan.
Cindy memilih Diam dan mendengarkan.
"Besok pagi papa dan mama akan mengajak kalian ke suatu tempat." kata Ray.
"Kemana?" dahi Dion mengernyit.
"Kita akan berkunjung ke kediaman tuan Ravendro Artawijaya."
Dion terkejut, Sedangkan Cindy langsung tersenyum senang.
"Ke rumahnya Ara?"
Raymond mengangguk.
"Aku ikut pa, aku mau ketemu Ara. Kebetulan tadi aku chattingan sama Ara dan Ines untuk bertemu besok. Aku udah rindu sama mereka berdua." kata Cindy antusias.
"Aku gak bisa ikut...aku nggak akan ikut." sela Dion lalu bangkit dari duduknya dan melangkah menuju tangga.
"Dion.. dengarkan papa dulu." teriak Raymond agak keras.
Dion tidak perduli dan terus menaiki tangga.
"Ya ampun anak itu, sampai kapan dia akan terus memusuhi tuan Artawijaya? seharusnya dia harus berterima kasih pada tuan dan Nyonya Artawijaya Karena telah menolong perusahaan kita dan juga telah menyelesaikan kesepakatan dan pembatalan pernikahannya dengan putri tuan Abimanyu." ujar Ray kesal menatap kepergiannya.
"Cind, kamu bujuk kakakmu agar bisa ikut besok bersama papa dan mama bertemu tuan Ravendro. Biasanya dia nurut sama kamu."
"Iya pa, akan ku usahakan."
Raymond segera bangkit berdiri dan melangkah menuju ruang kerjanya.
Cindy segera mendekat dan duduk di dekat Dinda.
__ADS_1
"Ma, maksud papa ngomong tadi apa? tentang bantuan suami Ara pada perusahaan dan pembatalan pernikahan kak Dion dan Sophia?"
Dinda menghela nafas panjang.
"Pernikahan kakakmu dan Sophia batal karena kedua sahabatmu, Ara dan Ines. Mereka datang di waktu yang tepat dan menceritakan tentang kehamilan kamu. Ara berusaha membatalkan pernikahan kakakmu sampai melawan tuan Abimanyu dan Sophia. Dan tentu saja tuan Ravendro mendukung Istrinya sebagai bentuk cintanya pada istrinya."
Dinda menceritakan kejadian yang terjadi di gedung pernikahan saat itu dari awal hingga akhir.
Bagaimana keberanian Ara mencoba menghentikan pernikahan Dion dan melawan Abimanyu. Kekerasan dan penyiksaan yang di lakukan Sophia dan Abimanyu pada Ara, serta pembalasan kejam yang diberikan Ravendro dan Wisnu pada ayah beranak itu karena telah menyakiti istrinya.
Dan juga bantuan yang diberikan RA Group untuk menyelesaikan segala kesepakatan antar DRA Group dan X Group agar tidak ada pihak yang di rugikan.
"Kau benar nak, Ara benar benar wanita yang sangat baik, lembut, dan punya jiwa yang perduli. Seusai keinginan Ara, tuan Ravendro membatalkan pernikahan Dion dan menyelesaikan kesepakatan antara perusahaan pamanmu dan Group X demi kebahagiaanmu dan juga janin yang ada dalam kandunganmu."
Dinda mengakhiri ceritanya.
Cindy terbelalak. Matanya langsung berkaca-kaca. Dia tidak menyangka sampai segitu sayangnya Ara pada dirinya.Bahkan dia pun tidak menceritakan soal kehamilannya pada sahabatnya itu.
"Ara..." ucapnya sedih dan teharu.
"Kalau bukan karena dirinya, kakakmu pasti sudah menikah dengan Sophia, dan kau akan hidup menderita hamil tanpa suami. Dan cucu mama akan lahir tanpa ayah dan akan di anggap sebagai anak haram oleh masyarakat." Dinda memegang tangan Cindy.
"Mama tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan sahabat mu itu."
"Ma...Ara itu orang yang sangat baik. Bukan hanya padaku dan Ines, tapi juga pada orang yang tidak di kenalnya pun dia baik dan suka membantu. Dia menolong dengan tulus dan ikhlas tanpa mengharap balasan apapun."
Dinda mengangguk sedih.
"Untuk itu mama mau bertemu dengannya untuk mengucapkan terimakasih."
"Iya ma, nanti kita akan ke rumah Ara besok. Aku juga mau mengucapkan terimakasih padanya."
"Jangan lupa bujuk kakakmu ya, agar bisa ikut besok bersama papa Ray ke rumah tuan Artawijaya."
"Mama mau melihat papamu dulu diruang kerja." kata Dinda seraya bangkit dari duduknya.
Cindy bangkit menuju dapur setelah Dinda pergi.
Dia membuka kulkas, mengambil mangga dan apel hijau.
Sambil menikmati buahnya, dia menyiram susu hamilnya.
Saat berbalik, tubuhnya menabrak seseorang di depan. Gelas susunya jatuh dan pecah.
Dia meringis karena terkena susu panas.
Terdengar juga jeritan dari depannya.
Yang ditabraknya meringis sambil memegang kakinya yang juga kena susu panas.
"Bela?" ucap Cindy setelah melihat wajah di depannya.
"Kalau jalan lihat lihat dong." kata Bela kasar sambil menatap tajam ke arahnya.
Dia memegang punggung kakinya yang memerah.
"Maaf Bela, aku gak sengaja. Kamu nggak apa-apa?" Cindy melihat ke arah kaki bela.
"Nggak apa-apa gimana? kamu nggak lihat kakiku merah dan melepuh." kata bela ketus.
Cindy menghela nafas panjang
"Aku benar-benar nggak tahu kalau kau ada di belakangku. Aku juga kena susu panas. Lagian kenapa kamu manggil aku sih, biar aku tahu kamu ada di belakang ku."
__ADS_1
"Aku udah dari tadi di sini, ngambil air di kulkas. Kamu pasti sengaja kan mau nyelakain aku?"
"Ya ampun Bel, kamu kok ngomong-nya gitu? aku benar-benar nggak tahu kamu ada di belakangku, aki nggak sengaja."
Bela melihat kedatangan Dion dari jauh yang berada di belakang Cindy.
Dengan cepat dia menyentuh serpihan kaca hingga kulit tangannya terluka
"Aww.." dia menjerit keras.
Cindy kembali kaget.
" Kamu kenapa bel?' melihat tangan Cindy yang berdarah.
Dia segera memegang tangan Bela.
"Ada apa ini?" tanya Dion setelah dekat pada mereka. Dia sengaja turun ke bawah untuk melihat Cindy karena belum naik ke atas.
Bela memasang wajah sedih.
"Ini kak, sepertinya Cindy sengaja mau nyelakain aku." memperlihatkan tangannya yang di pegang Cindy.
"Dia tadi nabrak aku sambil pegang gelas susu
panas.Terus jatuh, pecah dan kena di kakiku. Lihat nih kakiku melepuh. Jariku kena pecahan gelas. Dan Cindy malah ngatain aku yang salah." katanya terisak kecil sambil meringis dengan wajah palsunya.
Dion menatap tajam pada Cindy.
Cindy terkejut mendengar ucapannya.
Wajahnya langsung berubah kecut.
Hatinya gelisah dan panas di tuduh yang tidak benar.
Dia ingin bicara tapi Dion segera menarik tubuh Bela untuk berdiri dan membawa ke wastafel.
Dia mencuci jari Bela yang darahnya mengalir terus.
Bela pura pura jalan tertatih-tatih sambil memegang tangan Dion. Bergelayut manja di lengan Dion sambil tersenyum sinis sekilas kearahnya.
Setelah di cuci bersih, Dion mendudukan Bela dan mengambil kotak obat. Luka Bela di beri Betadine lalu di tutupi kain kasa.
Sementara Cindy memperhatikan apa yang dia lakukan sambil membersihkan pecahan gelas di lantai dan mengepelnya. Lalu mengobati kakinya yang melepuh kena susu panas.
Setelah itu dia melangkah menuju lantai sambil membawa buah mangganya dan membiarkan Dion dan Bela.
"Kak Dion, tolong bantu aku ke kamarku ya? aku tidak akan kuat naik ke atas. Kakiku sakit." kata Bela manja dan agak keras sengaja di perdengarkan pada Cindy.
Cindy memejamkan mata dan menelan ludah pahitnya.
Giginya gemeletuk menahan amarah.
Nafasnya memburu tak beraturan.
Kemudian dia tersenyum kecut dengan air mata yang sudah jatuh di pipinya.
Dia berusaha menekan kesedihannya agar tidak menangis menimbulkan suara.
Lalu melanjutkan langkah dengan lamban menaiki tangga sambil berpegangan pada railing tangga agar tidak jatuh.
Dari jauh Bela menatapnya sambil tersenyum menyeringai penuh kemenangan.
******
__ADS_1