
"Lagi teleponan sama siapa sih? Happy amat wajahnya." tanya Cindy melihat ekspresi wajah Ines yang terlihat senyum senang.
"Ada deh, temanku...." kata Ines senyum senyum.
"Teman? Memangnya kamu punya teman selain kami?"
"Yah ada dong...teman baru dari Amerika." kata Ines mengangkat kedua alisnya sekilas masih tersenyum.
"Amerika? bule dong..! Calon pacar ya ?" kata Ara menggodanya.
"Nggak nyangka ternyata seleramu internasional ya? Cieee__kenalin dong sama kita pacar bulemu ituh." timpal Cindy tersenyum seraya menyenggol lengannya.
"Pacar apaan sih__ bukan! Mereka tuh anak anak umur 12 tahun ! Ketemunya juga baru beberapa hari kok pas di cafe dekat bandara. Mereka gak punya teman di sini selain aku. Mereka menyukai ku, aku juga menyukai mereka. Nah...mereka pengen ketemu aku, jadi ku katakan aku akan datang ke rumah mereka nanti setelah magrib. Gituuu ceritanya Nyonya Nyonya presdir yang terhormat." kata Ines seraya mencubit hidung keduanya gemas.
"Oh, aku kira selera mu udah pindah ke bule." Celetuk Ara. Cindy tertawa kecil mendengar ucapannya.
"Enak aja..aku lebih suka produk lokal dari pada luar negeri tauuu..." kata Ines mencibir pada mereka.
Cindy dan Ara kembali tertawa.
"Ya sudah... sekarang pulang yuuk...." kata Ara seraya mengeluarkan kartu kreditnya.
Dia melambaikan tangan pada manager.
Lalu menyerahkan benda tipis itu.
"Pak, tolong bawa semua barang ini ke kasir."
"Nona akan membayarnya?"
"Iya...nanti barangnya kirimkan ke rumah ya?"
"Baik Nona."
"Ra, biar aku saja yang bayar." kata Cindy menyerahkan kartu kreditnya pada seorang pelayan. Tapi Ara segera menahannya.
"Udah Cind.. gak usah, biar aku saja."
"Tapi barang yang kami ambil banyak Ra, harganya uga pasti banyak."
"Aku kan udah bilang aku yang traktir. Simpan kembali kartumu."
"Udah Cind, biarkan saja dia yang bayar. Jumlah segitu kecil baginya." timpal Ines seraya menjentikkan kukunya.
Hingga akhirnya manager selesai melakukan proses pembayaran dan mengembalikan kembali kartu kredit Ara. Ines bertanya berapa jumlah semuanya. Dia tersedak dengan mata membulat sempurna mendengar jawaban manager.
Hampir saja dia pingsan.
Membuat mereka semua yang melihat tingkahnya tertawa kecil.
"Yuk, kita pulang, aku capek." kata Cindy.
Mereka segera turun menuju lantai bawah.
Ponsel Florencia berdering. Dia segera mengangkatnya.
"Ya tuan."
"Berikan ponsel mu pada nona mudamu. Tuan Rafa ingin bicara." Suara Wisnu dari seberang.
"Baik tuan." Florencia segera mendekati Ara, menepuk pelan punggungnya.
Ara menoleh ke belakang, lalu berhenti setelah melihatnya.
"Maaf atas kelancangan saya Nona muda. Tuan Rafa ingin bicara." bisik Florencia menyerahkan ponsel.
Ara segera menerima ponsel dari tangannya.
Florencia kembali mengambil posisi lima meter di belakangnya.
Cindy dan Ines ikut menoleh ke belakang.
"Ada apa Ra?" tanya Ines.
"Gak ada apa apa. Tunggu sebentar ya, Aku mau bicara dengan suamiku dulu. Dia menelepon."
__ADS_1
Ines ingin bertanya pakai ponsel siapa? karena ponsel Ara kan mati, tapi Ara segera meletakkan jari telunjuknya di bibir sebelum dia bicara.
Dia dan Cindy menghentikan langkah.
Mereka melihat lihat barang pajangan di toko
di depannya.
"Assalamualaikum kak...."
"Waalaikumsalam sayang. Kalian masih di Mall?"
"Iya kak..!"
"Apa kamu baik baik saja? aku khawatir dengan keadaanmu sayang."
"Aku baik kak...kakak jangan khawatir. Aku hanya sedih... Cindy sedang mengalami masalah dalam rumah tangganya...aku tidak bermaksud untuk ikut campur dalam rumah tangga mereka....."
"Sayang...aku sudah bilang kamu tidak boleh memikirkan ini dan itu, capek, lelah apalagi sedih dan stress. Kau sedang hamil......" kata Rafa memotong ucapannya.
Ara mengeluh sedih
"Aku hanya tidak tega melihat dia banyak menangis, apalagi sedang hamil. Kalau kakak melihat keadaannya...kakak juga pasti akan sedih dan tergugah, Aku....!" Ara berhenti karena terisak.
"Sayang, jangan menangis...aku mohon jangan menangis.... tunggu di situ...aku akan datang sekarang juga untuk menjemputmu." kata Rafa lembut ikut sedih. Dia segera mematikan telepon seraya mendengus geram.
Lagi lagi karena masalah Dion berdampak juga
pada istrinya.
"Cepat Wisnu.... Istriku pasti sangat sedih.
Aku tidak tahan untuk memeluknya.
Hubungi Frans untuk menggantikan diriku ke perusahaan X." katanya seraya melangkah cepat menuju lift.
Wisnu sedikit berlari mengejarnya dari belakang seraya menghubungi Frans.
Cindy mendekati Ara.
"Ada apa Ra?"
Saat berbalik, tubuh mereka bertubrukan dengan dua tubuh wanita di depannya.
Tubuh mereka terasa seperti di dorong kuat kebelakang. Kejadiannya begitu cepat sehingga mereka tidak dapat menghindar.
Tak pelak lagi tubuh mereka terjungkal ke belakang dan jatuh ke bawah.
Tapi sebelum tubuh mereka mengenai lantai, dengan gerakan cepat Florencia berlari dan segera menjatuhkan tubuhnya di lantai tepat di bawah Ara dan Cindy. Sehingga tubuh keduanya langsung jatuh di atas tubuhnya dan tidak mengenai lantai.
Ara dan Cindy menjerit jerit takut dan terkejut dengan apa yang terjadi pada mereka.
Ines kaget mendengarnya, dia yang hanya asik melihat produk di toko di depannya tidak menyadari apa yang terjadi.
Dia segera berlari mendekat ke dua sahabatnya dengan panik.
Lalu segera membantu keduanya berdiri.
"Kalian tidak apa-apa? apa yang terjadi?" katanya cemas memeriksa tubuh mereka.
Florencia juga segera berdiri.
Dia segera memeriksa keadaan nona mudanya dengan panik dan sangat cemas.
Jika terjadi sesuatu yang buruk pada Ara, maka bisa tamat riwayatnya hari ini juga.
"Aku baik, kau tidak perlu cemas" kata Ara segera meski masih takut dan gemetar.
Begitu juga dengan Cindy.
"Syukurlah, Aku juga tidak apa-apa." katanya gemetar.
"Makanya kalau berdiri jangan menghalangi jalan orang. Dasar cupu dan dungu." sentak dua wanita yang menubruk tadi. Menatap pada Ara dan Cindy dengan tajam.
Ara Ines dan Cindy mengalihkan pandangan ke pada mereka.
__ADS_1
"Kalian lagi?" sentak Ines langsung emosi setelah melihat kedua wanita itu, Kyla dan Alin, temannya Bela. Hanya mereka berdua, tak ada Bela. Dia hendak bicara lagi tapi Ara segera menahan tangannya.
"Udah Nes, gak usah di ladeni. Jangan membuat keributan. Ini tempat umum. Ayo kita pergi." Dia segera memegang tangan kedua sahabatnya itu.
Cindy yang tidak tahu tentang Kyla dan Alin hanya menatap bingung dan menahan emosi.
Sedangkan Florencia mendengus geram penuh amarah mendengar ucapan Kyla dan Alin.
Dia yang melihat kedua wanita itu memang sengaja menabrak nona mudanya dan Cindy. Tapi kejadian yang begitu mendadak membuatnya tidak dapat menghentikan aksi mereka.
Dia mendekati Kyla dan Alin. Memelintir kasar dan kuat masing masing lengan mereka.
Kedua wanita itu menjerit jerit kesakitan.
Mereka berusaha melawan Florencia.
Tapi kekuatan mereka tidak sebanding dengan kekuatan wanita bule tinggi berotot di depan mereka ini.
"Hentikan Florencia." kata Ara segera agak keras.
Florencia menatap keduanya dengan bengis, lalu melepaskan lengan keduanya dengan kasar. Keduanya meringis sakit.
Seandainya saja kalau bukan karena mengingat perintah tuannya, Wisnu:
Jangan membuat kekerasan di depan nona muda. Dia sangat takut dengan kekerasan,
Sudah di patahkan tangan dan kaki kedua wanita ini sampai mereka tidak dapat lagi berjalan dengan sombong dan mencelakai orang.
Kyla dan Alin segera berlalu cepat melihat tatapan mata tajam dan bengis milik Florencia
seakan ingin menerkam mereka.
Mereka yang memang sengaja ingin mencelakai Ara dan Cindy setelah melihat tanpa sengaja dari jauh. Timbul pikiran buruk di kepala mereka saat melihat orang yang sangat di benci Bela, teman mereka.
Keduanya segera buru buru turun kebawah menggunakan eskalator.
"Sengaja lagi mereka... Benar benar wanita iblis. tidak akan pernah berhenti henti untuk mencelakai kita." dengus Ines geram.
"Siapa mereka Nes?" tanya Cindy kaget mendengar ucapannya.
Ines hendak bicara tapi Ara segera melototinya.
Dia tidak ingin Cindy mengetahui tentang Kyla dan Alin yang merupakan teman Bela.
Yang nantinya akan mempengaruhi emosi Cindy lagi.
"Aa..Bukan siapa-siapa Cind, mungkin saja mereka tidak sengaja menabrak kita ! gak usah pikirkan mereka, yang penting kita tidak apa apa. Sudahlah...ayo kita pulang, kamu capek kan?" kata Ara segera lalu menarik tangannya.
Mereka kembali melangkah.
Cindy menoleh ke belakang, melihat pada Florencia yang berjalan tidak jauh di belakang mereka. Kalau bukan wanita itu sudah di pastikan bokong dan punggung mereka jatuh mengenai lantai tadi. Dan entah apa yang terjadi pada kandungan mereka.
Dia memberi senyuman pada Florencia saat wanita bule itu menatapnya.
"Ra.." panggilnya pelan.
"Hmm, ada apa?"
"Florencia....siapa dia ?"
"Benar Ra, siapa wanita bule itu? untung saja ada dirinya. Sepertinya dia bukan orang sembarangan deh.." timpal Ines
Ke duanya menatap Ara dari samping.
"Orang yang di tugaskan untuk menjagaku." jawab Ara seadanya.
"Ohh.." ucap keduanya.
"Hebat kamu Ra.. kemana mana di jagain terus sama suamimu." puji Ines kembali.
"Suamimu benar benar sangat cinta kepadamu, sangat menjaga dirimu, gak ingin dirimu kenapa kenapa."
Ara mencubit pinggangnya kecil, membuat dia meringis. Dia segera menutup mulutnya setelah sadar keceplosan bicara lagi di depan Cindy.
...Bersambung....
__ADS_1