Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 160


__ADS_3

Setelah singgah sebentar di mesjid dekat jalan raya bersama ke dua temannya, Ara bergegas pulang ke rumah.


Dion menawarkan diri untuk mengantar pulang, tapi Ara menolak.


Ketiganya memilih pulang dengan naik mobil online Narto.


Di depan pintu, pak Sam sedang menunggu Ara sambil mondar mandir. Pelayan tua itu senang setelah melihat nona mudanya muncul.


"Pak sam, maaf telah merepotkan bapak dengan menunggu saya seperti ini." ucap Ara.


Tadi Pak Sam menelepon memberitahu tahu kalau Rafa akan pulang makan malam di rumah. Dia meminta Ara untuk cepat kembali sebelum Rafa tiba di rumah.


Tapi nyatanya Rafa pulang lebih cepat dari Ara.


Hal itu membuat Ara takut, bahkan pak Sam juga khawatir.


Mereka segera masuk ke dalam.


Sementara di dalam, Rafa baru turun dari atas menuju meja makan dan langsung duduk. Sudah ada Maya dan Nesa.


Rafa menoleh samping kanannya, melihat tempat duduk Ara yang kosong.


"Sudah malam begini dia belum pulang. Sepertinya dia sangat menikmati kebebasannya setelah kematian Raka." ucap Maya sinis menatap kursi Ara.


Rafa menghembuskan nafasnya kasar.


"Baru 4 bulan kepergian Raka dia sudah keluyuran dengan bebasnya. Dengan alasan ke kampus." sambung Maya kembali.


"Nona muda sudah pulang tuan." ucap Wisnu melihat kedatangan Ara.


Rafa, Nesa dan Maya segera melihat pada Ara yang datang di tuntun oleh Sam.


Ara mendekat dengan takut.


"Selamat malam kakak ipar, selamat malam ma, selamat malam kak Nesa." sapanya suara pelan. Dia melihat ibu mertuanya yang menatap tajam dan sinis kepadanya. Hatinya ciut seketika.


Tak ada yang menjawab baik Rafa, Maya maupun Nesa. Mata mereka tak berpaling darinya.


Ara menelan ludah pahitnya dengan perasaan tidak tenang.


"Selamat malam nona muda, silahkan


duduk." ucap Wisnu sambil menarik kursi makan untuknya di dekat tuannya.


Ara melangkah mendekat ke arah kursinya, tapi dia batal duduk mendengar perkataan Maya.

__ADS_1


"Bagus kalau kau tahu sekarang sudah malam. Terus dari mana kau sudah malam begini? dari mana kamu jam begini baru pulang? Kita semua sudah berkumpul dari tadi di meja makan dan kau baru nongol memperlihatkan batang hidungmu." ucap Maya dengan suara agak keras mencibir.


Ara menelan ludah yang terasa semakin pahit. Mendengar kata-kata itu, dadanya serasa sesak, matanya mulai berkaca-kaca.


"Bagus kau ya, mulai menikmati kebebasan hidupmu. Sepertinya kematian Raka membuatmu senang sekarang. Kau berpikir dirimu masih muda dan bebas untuk bergaul dengan laki laki mana pun di luar sana untuk mencari pengganti Raka."


"Mama.....!" Ara kaget mendengar perkataan itu.


"Dia kau, Jangan menyela ucapan ku." sentak Maya keras, cukup membuat Ara tersentak.


"Saat Raka sakit, kau tidak memberitahukan penyakitnya pada kami. Kau menyembunyikan nya. Raka sakit keras tapi kau tidak memberi tahukan kepada kami. Raka memendam kesakitan sendiri atas penyakitnya, sehingga dia mengalami kematian terlalu cepat. Dan sekarang kau enak enakan menikmati hidupmu sementara Raka sendirian di alam sana." sentak Maya kembali sambil terisak di liputi kemarahan yang mendalam.


Ara mendesah sedih mendengar ucapan itu.


"Ma..." desisnya lirih dan sendu. Suaranya bergetar, air matanya jatuh cepat di kedua sudut matanya. Dia mulai terisak isak dengan nafas tak beraturan, dadanya bergemuruh kuat menahan tangis.


"Nyonya jangan berkata buruk seperti itu pada nona Ara. Nona muda tidak mungkin melakukan hal-hal buruk seperti itu. Kematian tuan muda juga sudah takdir dari Allah. Jangan menyalahkan Nona muda." kata Sam memberi pembelaan, karena tidak terima nona mudanya di tuduh seperti itu.


"Diam kau Sam, tutup mulutmu, jangan ikut campur. Kau ingin membelanya? Bahkan kau sendiri tidak tau dan tidak melihat apa yang dia lakukan di luar sana. Kalian berdua sama, menyembunyikan penyakit Raka dari kami." sentak Maya keras sambil menunjuk Sam dan Ara bergantian.


Sam ingin bicara tapi dengan cepat Ara menggelengkan kepala sebagai isyarat memintanya untuk diam dan tidak membalas ucapan Maya.


"Apalagi yang kau tunggu? cepat pergi dari sini. Jangan ikut campur, kau hanya babu di sini. Mengerti kau? hah ?" sentak Maya menatap Sam tajam.


Maya menatapnya menyeringai.


"Kenapa? Kau tidak suka aku menyebutnya seperti itu? Kau membalas perkataan ku karena kau tidak menyukai aku berkata seperti itu padanya? Beraninya kau." hardik Maya dengan keras menatap dengan penuh emosi.


"Maaf Ma, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tidak bermaksud kurang ajar untuk membalas ucapan Mama. Aku hanya ....," tapi ucapannya terpotong oleh Maya.


Maya bangkit berdiri, menatap Ara semakin tajam.


"Diam kau, jangan bicara lagi. Kau juga sama seperti ...,"


"Cukup." kata Rafa keras sambil memukul meja sebelum mamanya menghina Ara sama seperti Sam. Dia yang sejak tadi hanya diam mendengar.


"Cukup Ma, jangan di teruskan lagi. Hentikan perdebatan di antara kalian." menatap tajam mamanya dan Ara bergantian.


"Kita berada di meja makan sekarang. Aku ingin menikmati makanan dengan nyaman dan tenang, jangan ada lagi yang bersuara," katanya kembali.


"Mama, silahkan duduk kembali." menyuruh Maya duduk.


"Kau juga, duduk dan hentikan tangis mu." menoleh pada Ara.


Nesa bangkit dari duduknya sambil menyapu pipinya yang basah air mata.

__ADS_1


"Kalian membuat selera makan ku hilang." ucapnya sendu. Kematian Raka kembali membuatnya sedih. Nesa menangis terisak dan pergi menuju kamarnya.


Maya ikut keluar dari meja makan dan melangkah menuju kamarnya.


Rafa mendengus kesal.


"Pak Sam, antar makanan mama dan kak Nesa ke kamar mereka." perintahnya pada Sam.


"Baik tuan." jawab Sam patuh, dan segera kebelakang mempersiapkan makanan untuk kedua majikannya.


"Sampai kapan kau berdiri mematung seperti itu? Aku menyuruhmu untuk duduk." ucap Rafa agak keras melihat pada Ara.


Ara tersentak dari lamunannya. Perlahan dia segera duduk.


"Makanlah." kata Rafa kembali.


"Kak, Aku tidak lapar....!"


"Diam dan makanlah, jangan bersuara. Aku tidak ingin mendengar kata apa pun. Aku ingin menikmati makan dengan tenang, faham?"


Ara langsung terdiam. Dia menatap makanan yang ada di depannya sambil menelan ludah.


"Bagaimana bisa makan dengan suasana hati lagi buruk seperti ini?" batinnya dengan wajah masam.


Rafa memperhatikannya. Dia segera mengambil piring Ara, lalu menaruh nasi, sayur dan sup daging merah.


"Makanlah ...,"


Ara melongo dan menatap tak berkedip makanan ini.


"Ini terlalu banyak kak, aku tidak mampu menghabiskannya." ucap Ara dengan raut wajah kecut.


Rafa tak menjawab, dia kembali meletakkan yogurt dan air putih.


"Habiskan semuanya, jangan bicara lagi." katanya kemudian, lalu segera menyantap makanannya kembali.


Ara membuang nafas kesalnya.


Bukan kesal pada rezeki di depannya, tapi pada si pemberinya, yang tidak bisa membaca suasana hatinya yang lagi buruk.


Setelah berdoa di dalam hati dia mulai menyantap makanan perlahan.


*****


Jangan lupa ya mampir dalam karya kedua saya Arley & Ana πŸ˜ŠπŸ™

__ADS_1


__ADS_2