Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 76


__ADS_3

...Happy Reading....


Waktu menunjukkan pukul 16.30. Setelah selesai shalat ashar bersama si kembar, Ara segera bersiap karena ada janji dengan kedua sahabatnya, Ines dan Cindy.


Sebelumnya, Ara juga sudah meminta izin kepada suaminya untuk keluar.


Ara menggunakan pakaian dengan perpaduan pencil skirt berwarna, tapi lebih dominan hitam dengan blouse berwarna krem. Di tambah dengan low top sneaker putih dan juga handle bag membuat penampilannya tambah modis dan manis.


Rambutnya yang hitam panjang terurai ke depan dengan gaya shaggy layer panjang membuatnya wajahnya semakin cantik meski tanpa polesan make up, hanya seulas lipbalm untuk melembabkan bibir. Tak lupa Ara menyelipkan mukena kedalam tas selempangnya.


Pak Sam datang terburu-buru mengetuk pintu memberi tahu kalau ojek langganannya sudah menunggu di depan.


"Iya pak Sam. Saya akan segera turun. Terimakasih." jawab Ara dari dalam.


Sam segera beranjak dari pintu kamar Ara. Saat hendak menuruni tangga, pintu Rafa terdengar di buka dari dalam.


Sam yang menyadari majikannya ke luar dari kamar segera menghentikan langkahnya. Dia berdiri menghadap sambil membungkukkan badan sejenak.


"Ada apa pak Sam?" tanya Wisnu menanyakan keberadaannya di lantai dua.


"Tidak ada apa apa sekretaris Wisnu. Saya hanya dari kamar Nona muda untuk memberitahu bahwa ojek pesanan Nona sudah berada di depan." jawab Sam.


"Ojek online?" Rafa memperjelas dengan dahi mengerut.


"Iya tuan, ojek online langganan yang biasa menjemput dan mengantar Nona muda ke kampus." jawab Sam memperjelas.


"Tuan, Nona muda biasa ke kampus menggunakan ojek online. Kadang juga menggunakan taksi online saat tuan Raka tidak sempat mengantarnya." Wisnu menjelaskan.


"Bukankah di sini banyak mobil untuk bisa di pakai kemanapun dia pergi?" kata Rafa menatap Sam dan Wisnu bergantian.


"Nona Ara lebih suka naik ojek dan taksi online. Kata Nona biar bisa berbagi rezeki kepada mereka." jawab Sam.


Rafa faham penjelasan Sam. Dia tahu jiwa sosial Ara yang suka berbagi dan membantu.


Terdengar pintu kamar Ara di buka. Mereka memalingkan wajah ke arah kamar Ara.


Ara menutup pintu kamarnya kembali. Saat berbalik dan hendak melangkah, dia terkejut melihat 6 pasang mata menatap ke arahnya. Ara batal melangkah. Dia merasa canggung dan kikuk karena di perhatikan.


Sam segera pamit turun.


Ara bersikap setenang mungkin, menghela nafas pelan, lalu perlahan melangkah.


Wisnu menundukkan kepalanya ketika dia dekat.


"Selamat sore Kakak Ipar." sapa Ara dengan sopan.


Rafa tak menjawab, hanya menatapnya dari rambut hingga kaki. Memperhatikan style yang digunakan.

__ADS_1


"Apa Nona mau keluar?" Wisnu menyela.


"Iya__." jawab Ara gugup.


Ara menoleh kembali pada Rafa.


"Kakak ipar, aku minta izin untuk keluar. Tadi aku juga sudah meminta izin pada kak Raka." katanya pelan.


Alih alih menjawab perkataan Ara, Rafa malah melangkah menuruni tangga.


"Kakak ipar, aku hanya keluar sebentar__!" kata Ara karena tidak mendapat jawaban.


"Kau mau kemana dan pergi dengan siapa?" tanya Rafa tanpa melihat Ara. Dia terus menuruni tangga. Ara segera turun mendengar pertanyaan itu. Dia ngikut di belakang Rafa. Wisnu mengikuti di belakang mereka.


Ara hendak menjawab pertanyaan Rafa tapi batal karena kakinya terpeleset saat menginjak tangga berikutnya. Ara terkejut dan memekik. Rafa yang berada di bawahnya cepat berbalik mendengar teriakannya. Bertepatan dengan tubuh Ara jatuh menempa dirinya. Satu tangan Rafa bergerak cepat memegang pinggiran tangga untuk menahan tubuh mereka agar tidak jatuh ke bawah. Dan satu tangannya menahan tubuh Ara dengan memeluk. Sedangkan Wisnu batal menolong Ara saat melihat wanita itu jatuh pada tuannya.


Suasana menjadi hening. Ketegangan melanda Rafa dan Ara karena sesuatu yang tidak di sengaja terjadi pada keduanya. Saat jatuh tadi, tanpa sengaja bibir Ara menyentuh bibir Rafa. Keduanya bertatapan dengan mata membulat sempurna. Deru nafas menerpa di wajah bela pihak, di iringi detak jantung yang memburu cepat. Hingga beberapa saat setelah menyadari keadaan, Ara buru buru menarik tubuhnya dengan di bantu Rafa mendorong ke belakang. Keduanya menyentuh bibir masing masing dan seperti orang yang salah tingkah.


Ara panik dan tidak tenang. Takut Rafa marah karena tak sengaja menyentuh, mencium bibirnya. Sudah pasti Rafa marah.


"Kakak ipar, Maaf __ aku tidak sengaja. Aku benar benar tidak sengaja." katanya tergagap.


"Seharusnya kamu lebih hati-hati menuruni tangga!" Kata Rafa agak keras. Entah apa yang terjadi jika dia tidak dapat menahan tubuh Ara tadi. Kalau tidak, sudah dapat di pastikan tubuh wanita itu jatuh menggelinding ke bawah dan sesuatu yang buruk terjadi. Rafa merinding takut membayangkan hal buruk sampai terjadi pada wanita muda ini.


Ara semakin takut mendengar suara keras Rafa juga tatapan matanya yang tajam. Dia menunduk memegang kuat tali tasnya.


Melihat Ara yang takut, Rafa menekan emosi yang naik, dan menstabilkan debaran jantungnya yang berdebar.


"Aku baik kak. Sekali lagi aku minta maaf." kata Ara pelan masih takut. Teleponnya berbunyi. Ara kaget. Buru buru dia mengambil benda itu dari dalam tas. Di lihatnya panggilan dari Cindy. Kedua sahabatnya pasti sedang menunggu dirinya. Ara segera mematikan panggilan Cindy. Setelah insiden tadi, dia jadi takut untuk keluar. Bahkan untuk bertanya kembali pun dia takut.


"Pergilah. Hati hati di luar!" kata Rafa bisa membaca apa yang ada di dalam pikirannya.


Dia tidak berhak menahan Ara pergi, karena Ara sudah mendapat izin keluar dari Raka, suaminya.


Ara kaget. Refleks melihat wajah Rafa.


"Iya kak __ permisi!" katanya segera. Lalu melangkah pelan pelan menuruni tangga. Dia lega akhirnya bisa keluar dari situasi yang mencekam dan menegangkan. Sungguh berada dekat Rafa membuatnya takut.


Rafa menatap kepergiannya seraya turun. Sedangkan Wisnu memeriksa lantai tangga yang membuat Ara terpeleset. Lalu menghubungi pelayan yang bertugas membersihkan rumah.


Sam segera membuka kan pintu untuk Ara.


Di luar Mang saleh menunggunya sambil memegang helm.


"Maaf ya Mang, menuggu lama." kata Ara meraih helm dari tangan mang saleh, lalu segera memakainya.


"Gak apa-apa Non. Mang belum terlalu lama sampai." kata Saleh.

__ADS_1


Ara segera naik dengan posisi membonceng menyamping karena sedang memakai rok.


"Udah Non? pegangan ya?" kata Saleh.


"Iya mang, ayo jalan." jawab Ara menepuk pundak saleh pelan.


"Hati hati Non." kata Sam.


Ara mengangguk."Iya pak."


Saleh segera menarik gas perlahan hingga kendaraan roda dua itu bergerak maju.


Rafa memperhatikan dari tirai jendela, lalu segera keluar ketika ojek itu sudah menjauh.


"Mau kemana dia?" bertanya pada Sam yang masih melihat kepergian Ara dan Saleh yang terlihat semakin menjauh.


"Tuan__" Sam terkejut mengetahui tuannya berada di belakangnya.


"Nona bilang ada janji bertemu dengan Non Ines sama Non Cindy. Mereka adalah teman teman kampus nona muda." jawab Sam segera.


Rafa teringat pertanyaannya pada Ara. Yang menanyakan mau kemana dan pergi bersama siapa. Tapi tidak sempat di jawab Ara karena terpeleset. Dan ternyata Ara pergi dengan sahabat kampusnya.


Wisnu segera menuju mobil dan membuka pintu untuk tuannya. Rafa segera masuk.


Sam menunduk mengantar kepergian tuannya.


Para penjaga juga menundukkan kepalanya begitu mereka lewat hingga sampai pintu gerbang utama.


"Apa dia tidak tahu kalau naik ojek seperti itu sangat berbahaya untuk keselamatan dirinya?" Rafa memecah kesunyian di dalam mobil, pikirannya masih tertuju pada Ara yang menggunakan motor ojek.


"Apalagi dia menggunakan rok dan duduk seperti itu, bagaimana jika ia terjatuh." Rafa kembali bicara karena khawatir.


"Nona sudah biasa naik ojek tuan. Kalau anda khawatir, saya menelepon Nona supaya berhenti dan menyuruhnya naik taksi?" Wisnu memberi saran karena melihat kekhawatiran di wajah tuannya.


"Apa Raka tidak melarang dia naik ojek seperti itu?" Rafa malah balik bertanya.


"Tuan muda sudah melarang dan menyuruh Nona muda untuk naik mobil pribadi, tapi Nona bersikeras dan mengatakan akan berhati-hati."


"Sepertinya Ara terlihat dekat dengan pria itu, apa Raka tau tentang tukang ojek itu?"


"Iya tuan, tuan Raka sudah lama mengenalnya. Karena ojek online itu adalah langganan Nona Ara sejak masuk kuliah dulu. Dan bukan hanya ojek itu saja yang menjadi langganan mengantar jemput nona, tapi ada juga taksi online. Tuan Raka mengenal mereka. Dan meminta mereka agar berhati-hati saat Nona naik kendaraan mereka." Wisnu menjelaskan dari informasi yang di dapatkan dari Sam dan beberapa anak buahnya.


"Lalu kenapa dia tidak naik taksi online saja? Kemana taksi langganannya itu?" Rafa memburunya dengan berbagai pertanyaan.


Wisnu diam. Karena dia tidak tahu.


Rafa bersandar pada jok mobil. Perlahan dia memejamkan mata, membayangkan kejadian yang terjadi di tangga tadi. Tangannya bergerak menyentuh bibir. Dia ingat ciuman tanpa di sengaja seperti tadi juga pernah terjadi di apartemennya beberapa waktu lalu. Dan kini terjadi lagi. Seulas senyum tipis menghias bibirnya.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa dukungannya ya?


__ADS_2