Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 12


__ADS_3

Bunyi alarm di hp membangunkan Ara. Dia segera meraih benda kecil itu di nakas dan mematikan nadanya. Alarm waktunya sholat subuh.


Di rasakan perutnya terasa berat karena tertimpa tangan Raka yang memeluknya. Ara memandang wajah tampan suaminya yang masih tertutup rapat. Dia mengusap kepala suaminya itu pelan, lalu mendaratkan satu kecupan di dahi suaminya.


Ara senyum senyum mengingat kejadian semalam.


"Kak, bangun, sudah subuh." ucapnya pelan sambil mengusap tangan Raka.


Raka perlahan bergerak dan membuka matanya merasakan sentuhan tangan Ara.


"Sudah subuh kak, ayo bangun."


Bukannya bangun, Raka malah mempererat pelukannya.


"Bangun dong nanti waktunya keburu habis lho." kata Ara kembali berusaha melepaskan pelukan tangan suaminya yang memeluk erat perutnya.


"Cium dulu." Raka menunjuk bibirnya.


Ara kaget. "Iiih kakak." mencubit kecil tangan suaminya. Wajahnya merona. Perlahan dia mendekatkan bibirnya ke bibir suaminya, agar suaminya ini segera bangun.


Cup....


Raka langsung menahan tengkuk Ara dan segera menciumi bibir istrinya itu, ********** lembut. Ciuman dalam dan panjang terjadi.


Ara segera menarik kuat tubuhnya, lalu segera turun dan berlari ke kamar mandi dengan wajah merah menahan malu.


Raka tertawa kecil melihat tingkah istrinya itu.


Kemudian ia pun segera menyusul untuk bersih bersih.


Azan subuh berkumandang, mereka melaksanakan shalat subuh bersama.


****


Ara keluar dari kamar menuju dapur. Ada beberapa pelayan terlihat sibuk memasak.


Dia juga melihat beberapa pelayan yang sedang melakukan pekerjaan bersih bersih rumah.


"Selamat pagi nona muda." sapa sala seorang pelayan laki laki begitu melihat kedatangannya. Pelayan itu menunduk kepalanya sesaat, begitu juga dengan tiga pelayan yang bertugas sebagai koki di dapur mewah itu.


"Pagi pak." balas Ara tersenyum.


Pelayan laki laki itu terkejut mendapat balasan sopan dari Ara.


"Saya kepala pelayan di rumah ini. Nama saya Sam. Jika nona butuh sesuatu beritahu saya." kata pria paruh baya itu ramah.


"Baik pak Sam. Oya saya ingin membantu pekerjaan di dapur, tolong beri tahu apa yang bisa saya kerjakan."


Sam kembali terkejut, bagaimana mungkin seorang nona muda, istri dari majikannya mengerjakan pekerjaan dapur, hal itu tidak pernah terjadi.


"Jangan Nona. Nona tidak perlu melakukannya. Ada kami yang akan mengerjakannya, itu sudah menjadi tugas kami."

__ADS_1


"Tapi saya benar benar ingin membantu. Saya sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah." Ara bersikeras.


"Anda tidak boleh melakukan pekerjaan apapun di rumah ini. Anda adalah istri tuan muda Raka, majikan kami. Kami para pelayan yang akan mengerjakan semuanya." Sam menjelaskan.


Ara hendak bicara, tapi terpotong oleh suara seseorang.


"Berhentilah berdebat, di sini banyak pelayan yang mengerjakan semua pekerjaan rumah sesuai dengan tugasnya masing-masing. Dan untuk itu mereka di gaji. Tugasmu di sini hanyalah melayani anakku dengan baik." kata maya yang muncul dari belakang mereka.


Ara segera membalikkan badannya


"Selamat pagi ma," sapanya sopan.


"Ingat, aku menerima mu sebagai menantu di rumah ini hanya karena ingin melihat Raka bahagia. Jangan sampai kau menyakitinya, mengerti?" kata Maya menatap tajam.


Ara menelan ludahnya, dada terasa sesak.


"Iya ma, saya janji akan melayani kak Raka dengan baik. Membuatnya selalu tersenyum dan bahagia." jawab nya pelan.


Pak Sam dan para pelayan lain merasa iba padanya. Tapi tidak ada yang berani buka suara untuk membantu Ara.


"Entah sihir apa yang kau gunakan untuk memikat hati anakku hingga dia begitu tergila-gila pada gadis miskin dan rendah sepertimu." sambung Maya kembali dengan dengan tatapan sinis.


Hati Ara teriris, dadanya bergemuruh kuat menahan tangis, matanya berkaca-kaca.


Ia berusaha untuk tetap diam, tenang dan tak membalas perkataan ibu mertuanya. Baginya penghinaan cacian serta makian seperti ini sudah biasa dia terima di luar sana.


"Cepat kembali ke atas. Panggil Raka, sebentar lagi sarapan pagi." ucap Maya kembali.


Sam melihatnya dengan Iba.


Sementara Maya sudah duduk santai dengan majalah di tangannya.


Sebelum masuk, Ara segera menyapu ke dua mata dan pipinya. Dia tidak ingin Raka melihat kesedihannya, apalagi sampai tahu kejadian yang menimpanya barusan.


Di dapatnya Raka sudah siap dengan pakaian kantornya, hanya tinggal memakai dasi saja.


"Sayang, kamu dari bawah ya? jika butuh sesuatu kamu tinggal bilang saja sama pak Sam, dia kepala pelayan di rumah ini." Raka menyisir rambutnya.


"Aku berniat ingin membantu memasak, tapi pak sam melarang." Ara mengambil dasi suaminya dan memasangkannya.


Raka tersenyum dan menautkan kedua tangannya ke pinggang Ara. Sesekali dia mengecup dahi dan bibir ranum istrinya.


"Pak sam benar sayang, kamu tidak perlu melakukan pekerjaan apa pun di rumah ini. Sudah ada pelayan yang mengerjakan semuanya! Kamu hanya fokus mengurus dan melayani aku saja." katanya dengan senyuman menggoda. Lalu mendaratkan bibirnya ke bibir istrinya, m*lum*tnya beberapa saat.


"Sudah kak, nanti terlambat ke kantor. Ayo kita turun, mama menyuruhku memanggilmu untuk sarapan." ucap Ara setelah menarik bibirnya. Dia mulai kekurangan oksigen.


"Hari ini kamu ke kampus ?"


"Iya, sebentar lagi ujian, dan akan ada tugas tugas tambahan."


"Nanti kakak suruh sopir untuk mengantarmu."

__ADS_1


"Gak usah, aku naik ojek atau taksi online saja seperti biasa. Oya, bolehkah aku tetap bekerja?"


"Aku gak akan larang kamu bekerja. Asal tidak menggangu kuliah kamu, kan katanya sebentar lagi ujian?"


Raka memegang kedua lengan Ara.


"Sudah lama aku ngasih kamu kartu kredit tapi sekali pun tidak pernah kamu gunakan. Sekarang kan kamu sudah jadi istri kakak dan tanggung jawab ku. Jadi pakailah jika kau butuh sesuatu! Sebenarnya aku sudah tidak ingin kamu bekerja dan lebih fokus ke kuliah saja, tapi aku tidak mau mengekang kamu, asal kamu bisa jaga diri, jangan sampe kecapean dan sakit. Dan yang lebih penting kamu bisa membagi waktumu untuk kuliah dan juga untuk aku." kata Raka tersenyum menggoda.


"Iya kak, aku janji akan membagi waktu ku dengan baik terutama untuk kakak. Terima kasih ya sudah mau mengerti aku." Ara memeluk suaminya.


"Jangan lupa ke dokter hari ini ya?" katanya kembali.


"Iya sayang, nanti kakak sempatkan, yuuk turun."


Raka mengandeng tangan istirnya keluar dari kamar.


Sesaat mata Ara memperhatikan keadaan di sekelilingnya yang mempunyai beberapa


ruangan.


"Kak, di atas ini ada ruangan apa saja?"


Raka mengikuti tatapan mata Ara.


"Selain kamar kita, disini juga ada kamar kak Nesa, kamar mama, kamar kak Rafa, ruang kerja kak Rafa dan perpustakaan."


"Perpustakaan?"


"Iya, kamu suka membaca kan? nanti kamu bisa ke situ jika ingin membaca sesuatu atau ingin mencari referensi tugas kuliah kamu." kata Raka.


Kemudian ia menunjuk satu ruang.


"Ruangan yang di ujung sana itu adalah kamar kak Nesa, tapi dia jarang tidur di situ karena dia juga punya kamar di bawah. Terus yang di dekatnya itu kamar mama. Tapi sudah tidak di tempati karena mama gak kuat lagi naik turun tangga, dan akhirnya memilih untuk menetap di kamar bawah." kata Raka.


"Nah, kalau ruangan yang dekat dengan kamar kita ini adalah ruang kerja kak Rafa. Aku sering menggunakannya. Di dalam ruang kerja itu ada perpustakaan. Terus di sebelah ruang kerja itu adalah kamar kak Rafa.Tapi sudah dua tahun kamar ini tidak di tempati." katanya menjelaskan.


"Memang kak Rafa ada di mana ?" tanya Ara.


"Kak Rafa tinggal di luar negeri. Dia selalu berpindah tempat, untuk memperbesar usaha bisnisnya. Dan sudah dua tahun ini gak pulang. Sekarang kamu sudah tau kan? ayo kita turun, mama sama kak Nesa pasti sudah menunggu kita untuk sarapan."


"Iya kak," Ara mengangguk.


Raka segera menggandeng tangan istirnya mengajak untuk turun ke bawah.


Saat menuruni tangga, Ara menoleh ke belakang, yaitu ruang Kerja Rafa, di mana di dalamnya ada perpustakaan.


"Sumber pengetahuan ada di dekatku." gumamnya dalam hati seraya tersenyum. Karena dia sangat suka membaca.


*****


Dukung ya โ˜บ๏ธ๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2