
...Happy Reading....
Sampainya di rumah utama Ara tidak mendapati Raka di kamar mereka. Dia menelpon nomor Raka, tapi hp Raka berbunyi di dalam kamar.
"Kak Raka kemana?" gumamnya dengan penuh tanya. Apa pergi ke kantor? Tapi kan katanya tidak akan kemana mana dan mau istirahat di rumah saja.
Ara segera keluar menuju ruang kerja, tapi tak ada sosok suaminya di sana. Keluar lagi dan turun mencari pak Sam. Tapi kata sala seorang koki, pak sam sedang keluar untuk membeli keperluan dapur.
"Apa Nona Muda ada perlu sama pak Sam?" tanya koki laki laki itu.
"Tidak juga sih, saya hanya menanyakan sesuatu mengenai kak Raka. Apa bang Arsad melihat suami saya?" kata Ara do selingi bertanya.
"Oh Nona mencari Tuan muda?"
Ara mengangguk.
"Tuan muda ke taman paling belakang
Beliau sedang ziarah ke makam Tuan Besar dan Tuan Revan." kata Arsad.
"Terima kasih bang." ucap Ara.
"Ara ..." sebuah panggilan terdengar dari pintu samping.
Ara menoleh. Dia senang melihat suaminya.
"Kakak ..." dia segera mendekat pada suaminya yang melangkah masuk, dibelakang Raka muncul Nesa yang ikut masuk.
"Aku mencari kakak, aku khawatir." Ara langsung memeluk suaminya sebentar.
"Aku dari makam ayah tadi. Dan bertemu kak Nesa yang kebetulan sedang jalan-jalan ke taman belakang." Raka menjelaskan.
"Aku pikir kakak kemana, ku telpon tapi HP kakak ada di kamar. Aku jadi khawatir takut kakak kenapa-kenapa." Ara memperhatikan wajah suaminya yang basah dengan keringat dingin dan terlihat pucat. Raut wajah Ara langsung berubah mendung .
"Aku baik baik saja sayang, kamu jangan khawatir." Raka menenangkan melihat perubahan wajah sedih istrinya.
"Kakak anfal lagi?" bisik Ara sendu seraya menyapu keringat pelipis suaminya.
"Nggak, hanya kecapean saja tadi karena habis kejar kejaran dengan kak Nesa di taman belakang. Tiba tiba saja teringat kenangan masa kecil yang suka main kejar-kejaran dan petak umpet bersama ayah dan kak Rafa. Dan kami melakukan hal seru itu. Tapi sayangnya kak Rafa gak ada. Jadi kurang seru." kata Raka tersenyum, lalu menoleh pada Nesa yang sedang duduk memperhatikan mereka.
Ara ikut menoleh pada kakak ipar perempuannya itu.
Nesa melihat pada Ara sebagai isyarat membenarkan perkataan Rafa. Entah kenapa hatinya tidak tenang dengan Raka. Yang jelas dia mencemaskan adik bungsunya itu. Dia merasa adiknya itu sedang tidak baik baik saja. Selanjutnya Nesa bangkit berdiri dengan minuman soda di tangannya. Dia hendak menuju kamarnya. Tapi masih mengatakan sesuatu pada pasangan suami istri itu.
__ADS_1
"Wisnu sudah menyiapkan pesawat untuk kita ke Bali, jadi bersiaplah. Mama juga sudah bersiap tadi, tapi masih keluar ada urusan penting." katanya.
"Kalau kita pergi semua, lalu siapa dengan si kembar?" kata Ara m
"Pak Sam dan pelayan yang menjaganya." jawab Nesa, lalu segera menuju ke kamarnya.
Ara menatap wajah suaminya. Sebenarnya dia tidak ingin ikut ke bali, melihat kondisi Raka yang tidak sehat. Tapi dia tidak berani mengungkapkan keinginannya.
"Ayo ke atas." Raka mengapit tangan istrinya.
Keduanya menuju ke atas.
"Apa tidak apa apa kita ke bali? Aku khawatir dengan keadaan kakak."
"Sayang, aku baik baik saja, kamu gak usah khawatir. Aku malah ingin sekali ke sana bersama keluargaku, merayakan hari lahir kak Rafa dan dirimu. Aku ingin kita selalu berkumpul bersama seperti dulu lagi, aku sudah istrahat dan tertidur beberapa jam tadi, tenagaku sudah pulih kembali." kata Raka seraya menutup pintu kamar. Dia memang merasa tidak enak badan, tapi dia ingin ikut pergi ke Bali bersama keluarganya dan juga Ara. Apalagi Rafa akan ikut. Karena momen liburan bersama keluarga jarang di lakukan setelah ayah mereka tiada dan Rafa menetap di luar negeri.
Dia menekan dan mengurung tubuh istrinya bersandar ke pintu.
"Aku ingin kau mengabulkan permintaan ku di acara itu sayang, di depan banyak orang. Kau sudah membaca kertas permintaan ku kan?" Raka tersenyum menatap wajah istrinya.
Ara tersipu, mengingat apa yang di tulis Raka. "Sayangku, Cium aku di depan banyak orang, Biar dunia tahu aku milikmu dan kau cintaku. Biar mereka tahu kita berdua pasangan serasi yang saling mencintai." kata Raka.
Wajah Ara memerah."Aku malu kak, ngebayangin saja aku jadi malu sendiri."
"Aku mau kau menciumnku di sana dan juga di sini." kata Raka dengan senyuman menggoda. Lalu mendaratkan kecupan tiba tiba di bibir Ara. Dia memegang wajah istrinya, mengecup mata dan kedua pipi Ara, lalu turun ke bibir istrinya, menciuminya lembut.
Ara mengalunkan kedua tangannya pada bahu suaminya dan membalas ciuman,
Ciuman lama berlangsung penuh gairah.
Dari bibir turun ke leher, naik lagi ke bibir, hingga keduanya berhenti dengan tersengal-sengal dan nafas tak beraturan.
Raka tersenyum dan segera menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
"Kak ...." bisik Ara dalam pelukan.
Hmmm ?? jawab Raka membelai rambut
istrinya
"Boleh aku Nanya sesuatu?"
"Apa sayang?"
__ADS_1
"Apa kak Rafa pemilik yayasan universitas tempat aku kuliah?" Ara menarik kepalanya dan menatap wajah suaminya.
"Iya sayang, yayasan itu lalu didirikan oleh beberapa orang dan menjadi milik bersama termasuk kak Rafa. Tapi karena sesuatu dan lain hal telah berubah status pemilik atas nama kak Rafa sejak 8 tahun yang lalu." kata Rafa menjelaskan.
"Kenapa kau menanyakan hal itu?"
Ara menceritakan acara di auditorium tadi, serta rasa terkejutnya melihat Rafa di ruangan itu menjadi tamu kehormatan duduk bersama pak rektor serta memberi penghargaan dan bonus.
"Istriku memang cerdas, aku sangat bangga padamu sayang." ucap Raka senang.
Ara mengeluarkan bonus amplop dari tas dan juga kado kecil dari Dion tadi.
"Oh ya kak, ini kado ulang tahun pemberian temanku, namanya kak Dion kakak tingkat ku. Dia kakak sepupu Cindy. Aku menolak tapi dia memaksa aku terpaksa nerima karena gak enak hati."
"Gak apa di terima selama niatnya baik." kata Raka, dia mengerti maksud istrinya yang suka menjaga perasaan orang lain.
Dia memperhatikan kotak kecil itu, lalu membukanya. Sebuh kalung dengan liontin kecil terbuat dari emas putih.
"Bagus hadiahnya." ucapnya, dia agak terkejut dengan kalung ini, yang harganya hampir mencapai satu M, Raka tahu hal itu. Dia kembali memasukkan benda itu ke kotak.
Ara juga terkejut melihat benda indah itu.
"Indah banget, harganya pasti mahal."
Raka jadi memikirkan sesuatu mengenai benda itu, terutama si pemberinya. Tapi dia tidak ingin menanyakan hal itu pada Ara. Tak ingin Ara tersinggung dan lebih dari itu dia sangat percaya pada istrinya.
"Ini harganya berapa ya?" tanya Ara.
"Indah begini sudah pasti mahal." kata Raka tersenyum.
Ara mengambil hadiah yang di beri Rafa tadi."Kak, ini bonusnya." Ara memberikan amplop putih pada suaminya. Raka segera membukanya, isinya fantastis, membuat Ara tercengang melihat angka nominal yang tertulis pada cek.
Wow 200 juta? desisnya seakan tidak percaya. Wajahnya berbinar senang.
"Bonus seperti ini biasa di berikan pada mahasiswa/i berprestasi yang selalu menorehkan prestasi, mengharumkan dan membuat bangga nama universitas di setiap perlombaan tingkat nasional dan internasional." Raka menjelaskan.
Ara manggut-manggut mengerti. Sebelumnya juga dia mendapatkan hadiah dan bonus seperti ini, tapi tidak sebanyak ini.
"Kak, bolehkah aku memakai sebagian uang ini untuk sesuatu?"
"Tentu saja sayang, ini hasil kerja keras dan prestasi mu. Kamu berhak menggunakan uang ini untuk apa saja yang kau mau, bahkan kau gunakan semuanya pun gak masalah, aku gak apa-apa sayang." kata Raka tersenyum mengusap kepala istrinya, Dia mengerti maksud Ara meminta izin padanya karena dia adalah suaminya. Lagi pula dia tahu, mau di pakai untuk apa uang itu, sudah pasti untuk hal hal yang baik. Raka meyakini itu karena dia sangat tahu karakter istrinya yang tidak suka menghamburkan uang pada sesuatu yang tidak bermanfaat.
"Terimakasih Kak." ucap Ara tersenyum memeluk suaminya karena sangat percaya dan mengerti akan dirinya, berulang kali dia mengecup kening dan bibir suaminya lembut. Hingga terjadi lagi ciuman panas menggairahkan.
__ADS_1
Bersambung.