
...Happy Reading....
Ara segera bergabung bersama mahasiswa lainnya di aula kampus.
Ketua badan eksekutif mahasiswa sedang memberikan pengarahan sebelum turun ke titik fasilitas umum penggalangan dana.
Ikatan keluarga besar mahasiswa yang terdiri dari mahasiswa, senat mahasiswa, unit kegiatan mahasiswa, serta organisasi mahasiswa membagi beberapa kelompok di 4 titik. Sala satunya di depan kampus.
Penggalangan dana yang di lakukan sejak kemarin untuk mengumpulkan donasi bagi saudara saudara yang terkena bencana banjir dan tanah longsor di 3 daerah tanah air.
Beberapa fakultas juga menggalang sumbangan dana dengan mengajukan proposal ke beberapa perusahaan. Termasuk fakultas Ara, dengan mencantumkan nama fakultas, ketua BEM dan universitas.
Selesai pengarahan, mereka segera berpencar ke beberapa titik yang telah di tentukan.
"Ra, aku sama Ines ikut kamu saja." kata Cindy lalu di anggukan oleh Ines.
"Mataharinya panas banget, kulit mulus ku bisa gosong nih." timpal Ines.
"Pakai jaket dong Nes, sama masker." ujar Ara tersenyum.
"Gimana dengan proposal pengajuan dana pribadimu?" tanya Cindy
"Udah jadi. Aku udah satukan sama proposal fakultas."
"Kamu ngajuinnya kemana?"
"Aku samain sama perusahaan yang di tulis oleh ketua BEM ku. Semoga saja proposal pribadi ku di terima. Aku sangat berharap itu!"
"Aamiin." ucap Cindy dan Ines mendoakan.
"Aamiin ya Allah. Ya udah, ayo kita pergi." ajak Ara.
"Bentar, ada telpon dari kak Dion." Cindy mengangkat teleponnya, lalu beberapa detik kemudian di matikan.
"Ayo, kak Dion nunggu kita di parkiran."
Mereka segera menuju tempat biasa Dion memarkir mobilnya.
"Halo nona nona manis, kalian mau kemana?" sapa Dion tersenyum pada mereka. Dia senang dapat melihat wajah manis Ara yang setia saat selalu di rindukan.
"Kita ke alamat ini kak." Ines menyerahkan selembar kertas bertuliskan alamat yang akan mereka tuju.
Dion memperhatikan tulisan yang tertera di kertas. Dahinya mengerut setelah melihat arah tujuan mereka.
"Kalian nggak tahu perusahaan ini?" menatap mereka secara bergantian, terutama pada Ara. Karena alamat ini adalah alamat perusahaan RA Group, milik Rafa Ravendro Artawijaya, kakak ipar Ara. Apa Ara gak tahu?
Ketiganya menggeleng kepala.
Dion tersenyum.
"Ayo naiklah, aku antar kalian."
"Tapi kak, sebelum ke alamat itu, aku mau mampir sebentar ke suatu tempat." kata Ara.
"Ya sudah sekalian aku antar."
"Apa nggak ngerepotin?"
"Nggak, ayo.... naik. Kelamaan di luar nanti kulit kalian gosong oleh matahari!"
__ADS_1
Ketiganya tertawa kecil, benar juga kata Dion. Mereka segera naik dan duduk di bangku ke dua.
Setengah jam perjalanan, Ara menghentikan mobil di sebuah warung makan.
"Bentar ya?" katanya
"Lo mau makan ya?" tanya Cindy.
"Nggak, aku mau beli makanan. Tunggu sebentar." kata Ara tersenyum, lalu segera masuk ke warung makan.
Tidak berapa lama dia kembali sambil membawa satu kresek tas berisi 6 dus makanan.
"Ini buat siapa?" tanya Dion.
"Kakak tolong antar kan saja kami
ke alamat ini." memberi secarik kertas yang tertulis sebuah alamat pada Dion.
Dion membaca alamat itu, lalu menjalankan mobil.
"Lo nggak khawatir beli makanan sembarangan? Kenapa nggak beli aja di restoran?" kata Ines melihat tas kresek makanan.
"Warung makannya bersih kok. Begitu juga makanannya, terjamin kualitas dan kebersihannya. Hitung hitung kita berbagi rezeki dengan membeli makanan di tempat sederhana itu untuk menambah rezeki mereka." kata Ara menatap kedua temannya.
"Ya ya Nona muda Artawijaya. Seharusnya kami sudah sangat tahu siapa dirimu, terutama jiwa sosial mu itu." celetuk Cindy.
Mereka tertawa kecil.
Dion senyum senyum bangga di depan. Bangga dengan kepedulian Ara.
Mobil berhenti di sebuah gang kecil. Di depan gang ada rumah kecil yang sudah tua. Rumah yang paling tua dan reyot dari rumah lainnya.
Melihat kedatangan Ara mereka langsung berlari menyongsong.
"Kak Ara...kak Ara " teriak mereka dengan wajah ceria.
"Halo anak anak___." Ara menyapu kepala mereka. Ara mengeluarkan beberapa makanan ringan dari dalam ranselnya, lalu menyerahkan pada keduanya.
Kedua anak itu sangat senang dan mengucapkan terima kasih.
Cindy, Ines dan Dion melihat ke arahnya.
Seorang ibu tua keluar dari rumah tua itu ketika mendengar nama Ara di sebut.
"Nak Ara," ibu itu memeluk Ara sambil menangis.
Ara juga ikut memeluknya tanpa rasa jijik.
"Ibu turut berdukacita atas meninggalnya suami non Ara, den Raka. Almarhum orang yang sangat baik. Saya dan juga warga di sini selalu mendoakannya setiap saat."
Ara terharu mendengarnya.
"Terimakasih bu," ucapnya tersenyum.
"Nggak masuk dulu nak ?"
"Boleh bu, tapi saya hanya sebentar gak bisa lama. Soalnya saya datang sama temen teman." kata Ara menoleh pada teman-teman nya di belakang.
"Iya nak, mari silahkan masuk." menuntun Ara masuk ke dalam.
__ADS_1
"Oh ya bu.... ini ada makanan saya bawa buat anak anak." menyerahkan tas kresek yang di pegang.
"Alhamdulillah terima kasih ya nak, hanya Allah yang bisa membalas semua kebaikan non Ara," kata ibu itu senang dan terharu. Kebetulan mereka juga belum makan dari semalam.
"Iya buk, saya ikhlas kok,"
Dion sudah berdiri di belakang Ara tanpa di ketahui Ara. Dia melihat apa yang di lakukan Ara bersama ibu itu.
Lalu dia keluar memperhatikan keadaan tempat ini. Beberapa detik kemudian dia menghubungi Toni untuk datang membawa sesuatu buat warga miskin di tempat ini. Setelah itu dia masuk kembali ke mobil.
Ara masuk ke dalam ruang yang hanya berukuran 7x8m. Yang menjadi tempat tidur, makan, dan beristirahat satu keluarga yang terdiri dari 6 orang. Sudah beberapa kali dia berkunjung ke tempat ini dulu bersama Raka.
Di dalamnya nampak berbaring seorang lelaki tua dengan kondisi yang sangat lemah tak berdaya.
"Assalamualaikum pak," sapa Ara sopan.
"Waalaikumsalam Nak Ara," ucap bapak itu dengan suara lemah.
Ara tersenyum dan segera salim tangan si bapak.
"Bapak yang sabar ya? Saya sedang berusaha mengumpulkan dana untuk biaya operasi bapak." kata Ara menguatkan hati sang bapak.
"Bapak sudah ikhlas menerima cobaan ini, semuanya pemberian dari Allah."
"Iya, bapak benar, tapi kita tetap harus berikhtiar. Karena setiap penyakit yang di beri Allah pasti ada obatnya. Bapak jangan menyerah dan putus asa!" kata Ara kembali mengelus pelan tangan sang bapak.
Mereka terus berbincang seputar penyakit pak Kusnadi. 10 menit berlalu Ara pamit.
"Saya permisi dulu. Bapak istirahat dan jangan lupa minum obatnya. Nanti saya ke sini lagi."
"Iya nak, terimakasih untuk semua kebaikan Non Ara!"
Ara mengangguk tersenyum, dia segera bangkit dari duduknya.
"Buk, ini ada sedikit rezeki. Nanti tolong belikan obat buat bapak jika obatnya habis, dan juga buat beli makanan beberapa hari ke depan."
"Sekali lagi terima kasih nak," ibu itu kembali memeluk Ara. Lalu melepaskan.
"Saya sudah membuat proposal pengajuan dana untuk bapak. Dan setelah dari sini saya akan mengantarnya. Karena itulah saya tidak bisa berlama-lama menemani bapak. Tolong ibu doakan ya biar semuanya lancar."
"Iya nak, Aamiin ya Allah." jawab ibu kusnadi dengan raut wajah senang seraya menengadah ke atas.
Ara mengangguk, lalu segera keluar dari ruang itu.
"Adik adik... kakak pergi dulu. Bantu ibu jagain bapak! Harus dengar dan nurut perintah ibu." katanya pada anak anak.
"Iya kak ..," jawab anak anak sambil menyalim tangan Ara.
Ara melangkah menuju mobil dan segera masuk.
"Maaf ya, membuat kalian menunggu lama." ucapnya pada ketiganya.
"Siapa Ra?" tanya Cindy.
"Pak kusnadi sama keluarganya," jawab Ara sambil memegang erat proposal yang ada di tangannya. Dia berdoa dalam hati mengharap bantuan Allah.
...Bersambung....
Jangan lupa dukung ya....
__ADS_1